Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pudarnya Pesona Janji

Pudarnya Pesona Janji

Hidup Iman berubah drastis saat Haji Junaedi datang melamarnya untuk sang putri, Intan. Ternyata, Intan telah menyimpan rasa kagum yang mendalam kepada Iman sejak masa SMP. Meski terpaut perbedaan usia lima tahun di mana Iman jauh lebih tua, pernikahan ini tetap dilaksanakan. Bagaimanakah kelanjutan nasib rumah tangga Iman setelah menerima pinangan mengejutkan dari sang juragan tersebut? Sebuah kisah romansa tentang janji dan pesona yang mulai diuji.
Bab
Bagikan

Bab 2

Keadaan ekonomi, satu-satunya hal yang Intan syukuri lahir dari rahim Ibunya. Takdir menuliskan ia menjadi anak tunggal dari pemilik sebuah pabrik tahu besar.

Sebagai anak satu-satunya, apa saja yang Intan mau akan terkabul dengan mudah. Kalau doraemon punya kantong ajaib, Intan punya lisan magic. Ingin ini, ingin itu, apa yang tidak bisa? Apa pun yang ia sebutkan dengan embel-embel “mau” sebisa mungkin orang tuanya mengabulkan. Harga dan tempat tak jadi soal.

Sejujurnya bukan perkara anak tunggal, sih. Ibu dan Bapak hanya ogah mendengar celotehan Intan yang panjangnya melebihi rel kereta. Sama halnya dengan bocah-bocah lugu yang menggunakan jurus tantrum, begitulah Intan melancarkan aksi. Hanya saja ia tak pakai acara ngamuk-ngamuk. Simpel. Hanya membicarakan keinginannya sampai terwujud. Kadang-kadang disampaikan lewat sindir menyindir. Membesarkan volume di hadapan siapa saja kalau ibu dan bapak tidak juga menuruti. Kan, memalukan.

Rupanya kebiasaan memanjakan dan menuruti harus pula terjadi pada kriteria pendamping Intan kelak alias jodoh yang sudah Ibu dan Bapak rencanakan jauh-jauh hari. Awalnya Bapak dan Ibu bersikap biasa ketika Intan dengan terang-terangan mengakui suka anak tetangganya. Paling-paling cinta sesaat, begitu mereka pikir. Siapa juga yang berani memacari anak konglomerat sejagad kampung? Hanya orang sinting yang memilih mengakhiri hidupnya.

Namun, dugaan Bapak dan Ibu salah. Rasa suka Intan bisa terpelihara tanpa terkontaminasi calon-calon yang Ibu berikan. Padahal calon-calon jodoh Intan kelak adalah anak-anak pengusaha yang memiliki cabang di berbagai kota. Raup keuntungannya pun bukan lagi puluhan juta, tapi sudah mencapai ratusan hingga milyaran.

“Dari dulu aku cuma suka Iman. Hanya Iman. Aku mohon Ibu dan Bapak mengerti. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Kalaupun Ibu dan Bapak memberikan calon seganteng Rezky Aditya, aku tetap akan memilih Iman.”

Itu kalimat Intan ketika orang tuanya mencoba membicarakan lelaki pilihan mereka.

Wajah Ibu sontak berubah. Padahal sudah lebih dari satu jam berusaha basa-basi.

Adalah Iman, seorang pemuda dari kasta rendah. Anak yatim dengan ibu seorang pekerja serabutan. Tidak ada yang istimewa ditilik dari latar belakangnya. Salahsatu alasan kenapa Intan tertarik karena kumis tipis yang membingkai bibirnya yang tipis dan minimalis.

Tidak ada waktu pasti kapan Intan mulai menyukai Iman. Seingat Intan, ia pernah ditolong saat jatuh di acara Agustusan. Saat itu, ketika usianya kurang lebih lima belas tahunan, ia menonton perlombaan Agustusan. Sendirian. Intan memang tak punya teman warga sini.

Ada berbagai perlombaan yang bisa warga tonton. Menarik, menghibur, dan ramai. Intan senang menontonnya. Selama ini Intan sering dilarang Ibu dan Bapak walaupun sekadar main ke rumah tetangga sebelah. Jadi, acara perlombaan ini menjadi hal baru untuknya.

Awalnya Intan tidak mau menonton. Tapi, karena di sekolah sudah ramai dari beberapa minggu sebelumnya, Intan tertarik. Akhirnya Intan nekad pergi tanpa sepengetahuan Ibu dan Bapak. Hhh … kalau saja Ibu dan Bapak tahu sudah pasti Intan kena omel.

‘Duh, Intan, lingkungan mereka itu kotor! Gak baik buat kesehatan.’

‘Jangan, deh, kamu punya teman kayak mereka. Miskin, kucel, kumel, bau pula.’

Atau yang lebih esktrem Ibu bilang begini :

‘Pokoknya Ibu dan Bapak melarang kamu bergaul dengan warga kampung sini. Gak sepadan. Kamu ini orang kaya. Anak semata wayang Ibu dan Bapak. Keluarga Haji Junaedi. Siapa, sih, yang gak tahu Haji Junaedi? Semut dan ulat saja tahu.’

Begitulah Ibu dan Bapak. Sebagai gantinya Intan diberi apa saja yang ia mau.

Oke, kembali ke perlombaan. Jadi, dalam perlombaan Agustusan saat itu ada lomba membuka kulit pisang pakai mulut. Mata peserta ditutup sedang tangannya diikat ke belakang. Nahas, setelah lomba itu selesai, Intan malah jatuh gara-gara menginjak kulit pisang sisa peserta. Jadilah Intan bahan tertawaan warga kampung. Sakitnya, sih, tidak seberapa, cuma malunya luar biasa.

Tanpa diduga seorang bocah kisaran 10 tahunan segera menghampiri Intan yang masih terduduk. Lelaki itu bernama Iman. Dengan sigap ia bertanya, “Sakit, Kak? Kakak baik-baik saja?” Setelah itu dia mengulurkan tangan untuk membantu Intan berdiri.

Memang tidak ada yang istimewa dari kerjadian tersebut. Hanya saja dia menjadi satu-satunya orang yang bertanya dan menolong. Itu cukup membuat Intan terkesan. Kebaikan Iman berhasil membuat hati Intan terpincut.

Seiring berjalannya waktu, ketika Intan sudah berseragam SMA, teman-teman Intan heboh membahas asmara. Intan rapat-rapat mengunci mulut. Kalau ditanya Intan hanya akan menggeleng disertai senyuman. Teman-teman Intan yang pengalamannya jauh lebih banyak justru mencium sebuah kecurigaan bahwa sesuatu tengah terjadi. Sikap itu memancing ingin tahu berlebih. Tentulah teman-teman Intan tidak tinggal diam. Apalagi entah keceplosan atau sengaja Intan memberi titik terang. Malu-malu Intan berkata, “Aku memang menyukai seseorang.”

“Andre?” Mia menebak. Tapi, itu salah. Bukan Andre.

“Oh, aku tahu. Fadli?” Intan masih tersenyum. Sepertinya ia masih ingin bermain-main. “Fahmi? Fakhri? Gian?”

“Iman.”

Akhirnya nama itu meluncur. Sayangnya, respons teman-teman hanya bengong. Bukan tanpa alasan, sebab belum ada nama itu dalam daftar pertemanan mereka.

Untuk menjelaskannya, Intan tidak langsung mengatakan secara rinci. Sekali lagi, Intan ingin teman-temannya dibalut rasa penasaran.

***

“Ayo, Intan!” tiba-tiba Mia berdiri di pinggir meja Intan sesaat bel pulang berbunyi. Siswa-siswa lain menunut keluar.

“Sebentar!” jawab Intan sambil memasukkan buku Bahasa Indonesia.

“Jadi, Mi?” tanya Indri yang baru saja membalikkan badannya ke belakang, menghadap bangku Intan.

“Iya, dong!” jawab Mia.

“Apanya yang jadi?” Intan yang tak tahu asal muasalnya langsung bertanya.

“Oh, iya. Jadi, hari ini kita akan main ke rumah kamu. Jangan ditolak pokoknya!” Indri langsung menjawab. Kepada Mia dan Indri, orang tua Intan sangat baik dan sopan. Mereka dibolehkan main kapanpun waktunya, bahkan kalau perlu sampai menginap. Bersama mereka, orang tua Intan sangat percaya, utamanya senang. Jelas saja, Ayah Indri pemilik toko elektronik termasyhur, sedang orang tua Mia memiliki toko sayur terbesar di pasar. Hubungannya dengan Haji Junaedi adalah karena dia menjadi satu-satunya pemasok tahu di toko orang tua Mia.

Melihat gelagat Indri dan Mia, Intan tahu ada sesuatu yang mereka inginkan.

“Kami cuma ingin tahu Iman. Itu aja.”

Intan tersenyum. Ah, dia berhasil membuat teman-temannya penasaran. Tentu saja, sebab dalam pertemanan yang sudah bertahun-tahun terjalin itu belum sekali pun Intan membicarakan soal lelaki, kecuali hari ini. Baiklah, untuk kali ini Intan tak bisa mengelak.

“Jadi kita bisa menemuinya dimana?” Mia tak sabar sesampainya di rumah Intan.

“Iya. Aku sudah tak sabar,” timpal Indri sambil menyeruput es jeruk.

“Sebentar lagi!” jawab Intan sambil melirik jam dinding berawarna emas. Intan sudah hapal jam berapa Iman akan lewat. Kesempatan itu menjadi ajang untuk Intan leluasa melihat sang pujaan hati.

Dua teman Intan langsung bersiap. Matanya tak lepas dari jalanan di depan rumah.

Tak berapa lama, sekitar tujuh menit, lewatlah lelaki yang mereka tunggu.

“Itu! Dia Iman.”

Intan akhirnya menunjuk lelaki pilihannya yang lengkap memakai seragam putih biru. Jalan di depan rumah Intan memang jalur yang biasa Iman lewati. Siswa lelaki itu yang memakai tas hitam itu masih tampak rapi meskipun jam sudah siang. Biasanya kebanyakan siswa hanya rapi pada jam-jam pertama sekolah. Kalau sudah pulang, penampilan mereka sudah acak-acakan. Rupanya hal itu tidak berlaku bagi Iman. Bukatinya penampilan Iman oke-oke saja, tuh, meskipun wajahnya jelas tidak bisa menipu. Ada kelelahan yang nampak.

Seketika, suasana mendadak hening. Teman-teman Intan yang berjumlah dua orang itu saling menatap.

“Anak kecil? Serius?” Indri masih menatap Intan dengan mata agak melotot. “Kamu salah orang, kan?”

Malu-malu Intan tersenyum.

“Kalian tidak sedang salah dengar dan lihat. Dia memang Iman. Lelaki yang kuceritakan tadi di sekolah.”

“Tapi dia anak kecil, Tan!” Mia kali ini unjuk gigi.

“Cinta tak memandang usia. Iya, sih, usiaku tujuh belas. Selisih kami juga jauh. Bahkan dia pantas jadi adik ketimbang pacar.”

“Kamu gila, Intan! Dia masih bau kencur. Apa yang kamu harapkan dari anak SMP?”

“Apa salahnya? Oke, kamu mungkin aneh karena umur dia masih dua belas. Tunggulah delapan tahun kemudian. Umur dia dua puluh.”

“Dan kamu dua puluh lima.”

“Ya, terus? Ada yang salah?”

Mia dan Indri memilih diam. Kalau sudah urusan cinta, apa yang bisa diperbuat? Seringnya akal kalah sama perasaan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
8.8
Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Sampul Novel BERKAH SECANTING BERAS
9.6
Mira merupakan sosok ibu rumah tangga yang memiliki hati sangat mulia meski hidup dalam kondisi ekonomi serba terbatas. Di tengah himpitan kesulitan tersebut, ia tetap tulus mengulurkan tangan bagi sesama, terutama kepada Abah Karjo, seorang pria tua yang kini hidup sendirian. Akankah keikhlasan Mira mampu membantunya melewati berbagai rintangan hidup yang menghadang? Simak perjuangan penuh kasih dan keteguhan hati Mira dalam menghadapi lika-liku takdirnya.
Sampul Novel Bukan Istri Yang Lemah
7.8
Elara tidak akan menyerah pada kemewahan hidupnya dan bertekad mempertahankan status pernikahannya. Di sisi lain, Vesper justru menyusun rencana licik agar sang istri segera meminta cerai demi menikahi kekasih rahasianya. Setelah tujuh bulan membina rumah tangga, perselisihan hebat antara pasangan ini pun pecah. Mereka terjebak dalam pusaran pengkhianatan, ambisi besar, dan konflik cinta yang menguji ketahanan Elara di tengah tekanan sang suami.
Sampul Novel Dikejar Mantan Suami Arogan
9.1
Fay memohon dengan pilu agar Janus tidak menceraikannya, merasa cukup dengan hubungan yang ada tanpa menuntut lebih. Namun, permintaan itu justru membuat tatapan Janus mendingin. Dengan suara serak namun tegas, ia mengingatkan Fay akan kesepakatan awal mereka. Komitmen mereka harus berakhir saat Uke kembali. Meski suaranya sedikit bergetar, Janus menekankan bahwa janji lama itu adalah batas akhir bagi pernikahan mereka yang kini berada di ambang perpisahan.
Sampul Novel Gairah Nakal Ayah Temanku
8.8
Kisah romansa modern ini secara khusus ditujukan bagi pembaca dewasa yang mencari narasi dengan tema yang lebih matang. Mengangkat jalinan emosi yang kompleks, alur ceritanya menuntut kedewasaan sikap dalam memahami setiap konflik yang terjadi. Pastikan Anda telah cukup umur dan bersikap bijak sebelum menelusuri lebih jauh dinamika hubungan yang penuh gejolak ini. Sebuah bacaan yang eksplisit serta berani bagi para penikmat literasi romantis dewasa.
Sampul Novel Ibu cantik, Ayah licik
8.7
Akibat jebakan keji dari ibu tiri dan kakaknya, pernikahan yang telah direncanakan dengan matang terpaksa dibatalkan karena sebuah alasan mustahil. Bertahun-tahun kemudian, ia akhirnya memutuskan kembali ke kota kelahirannya. Dengan tekad yang sangat kuat, ia berjuang keras melalui berbagai rintangan demi merebut kembali segala hal yang pernah menjadi miliknya. Kini, ia siap menghadapi masa lalu untuk memulihkan haknya yang telah dirampas secara tidak adil.