Sampul Novel Pudarnya Pesona Janji

Pudarnya Pesona Janji

8.5 / 10.0
Hidup Iman berubah drastis saat Haji Junaedi datang melamarnya untuk sang putri, Intan. Ternyata, Intan telah menyimpan rasa kagum yang mendalam kepada Iman sejak masa SMP. Meski terpaut perbedaan usia lima tahun di mana Iman jauh lebih tua, pernikahan ini tetap dilaksanakan. Bagaimanakah kelanjutan nasib rumah tangga Iman setelah menerima pinangan mengejutkan dari sang juragan tersebut? Sebuah kisah romansa tentang janji dan pesona yang mulai diuji.

Pudarnya Pesona Janji Bab 1

Entah bagaimana mulanya, lelaki berambut sebahu itu bisa mengambil hati Intan. Tak dipungkiri, lelaki itu memang pintar. Rasa bersalah yang mengungkung Intan akhir-akhir ini dilenyapkannya dengan mudah. Bahkan ia tak canggung lagi mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari suaminya yang bejat itu.

‘Ayolah, lupakan suamimu!’

‘Untuk apa mengharapkan yang jauh kalau ada yang dekat?’

‘Berhenti mengharap sesuatu yang belum tentu! Sekarang saatnya melirik kepastian.’

Kalimat-kalimat Dodi terus memengaruhi pikiran Intan. Hingga lama-lama mereka jalin pertemanan dan tak canggung bertukar cerita. Intan pun bisa mengalihkan pikirannya.

Kedekatan yang tak lagi biasa membuat Intan berani mengajak Dodi ke rumah untuk dikenalkan pada Bapak dan Ibu. Dengan mobil yang dibawa Dodi, orang tuanya pasti senang. Setidaknya pilihan anak perempuannya kali ini benar dan tidak mengecewakan. Toh, mereka sendiri yang mengajarkan Intan untuk mencari lelaki kaya agar bisa memenuhi segala kebutuhan. Agar hidupnya tak perlu susah layaknya orang miskin.

Rupanya benar. Orang tua Intan menyambut baik. Tentu saja sebab Dodi adalah pengusaha sepatu yang memiliki cabang di beberapa kota. Muda. Kaya. Dua hal yang selama ini diharapkan Bapak dan Ibu.

***

“Segera urus perceraianmu!” Ibu berkata ketika Intan baru saja pulang main. Hari itu Sabtu sore menjelang malam.

Ibu tahu Intan diantar Dodi meskipun lelaki itu tidak mampir. Baru saja suara mobil berlalu. Sudah menjadi rahasia umum penduduk sini tidak punya mobil. Boro-boro mobil, motor saja baru hitungan jari.

“Kasihan Dodi. Jangan dibiarkan menunggu terlalu lama. Laki-laki tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka butuh kepastian. Kalau dibiarkan tanpa harapan, mereka akan berpikir dua kali,” ucap Ibu.

Intan tidak menjawab. Dia hanya melabuhkan badannya ke sofa.

“Ibu lihat Dodi itu lelaki baik. Kamu beruntung mendapatkannya. Di luar sana mungkin banyak perempuan antre ingin menikahinya.”

Intan lagi-lagi membiarkan Ibunya mencerocos. Malah hingga ibunya bosan dan Intan masuk kamar.

Tanpa pikir panjang lagi Intan langsung berbaring. Menatap langit-langit yang berwarna putih. Diam-diam hatinya menyuarakan kejujuran bahwa ia memang masih mencintai Iman dan berharap lelaki itu kembali.

[Selamat istirahat, cantik. Semoga mimpi indah.]

Dodi mengirim pesan itu beberapa menit kemudian. Intan membacanya meski tak antusias membalas. Intan tengah dirundung bimbang. Benarkah ini jalannya? Benarkah hadirnya orang baru bisa melupakan masa lalu? Benarkah rasa senangnya selama dengan lelaki baru ini? Atau Dodi hanya pelampiasan?

[Jangan lupa mimpiin aku. Aku sayang kamu.]

Diiringi emoticon senyum dan love, untuk kali kedua Intan hanya membaca.

Intan lalu membenarkan posisinya menjadi berbaring ke sisi kiri. Pandangannya tanpa sengaja melihat poto pernikahan. Senyum merekah sepasang pengantin itu jelas terlihat. Cantik dan anggun. Gaun hijau pas dengan warna kulit mereka.

Masih jelas dalam ingatan kebahagiaan itu. Intan yang dalam hati tak henti bersyukur karena penantiannya selama ini terwujud. Ia menjadi istri Iman. Lelaki yang selama ini ia cintai dalam diam.

Sayangnya euforia kebahagiaan itu kini memudar. Faktanya Intan malah memilih lelaki lain sekadar untuk melampiaskan kesepiannya. Dengan kesadaran penuh Intan mengakui dosa ini. Seharusnya memang tak boleh. Bagaimana pun, di mata hukum Intan masih sah istri Iman.

***

Pintu rumah akan selalu terbuka untuk seorang lelaki bernama Dodi. Menantu idaman Ibu Bapak itu bebas keluar masuk kapan pun ia mau. Menemui Intan hingga membiarkannya berlama-lama berduaan. Bahkan tak jarang sampai menginap.

Namun, rupanya kejadian malam itu akan menjadi sejarah yang tidak akan dilupakan semua orang. Ibu tiba-tiba membuka pintu kamar Intan, entah untuk keperluan apa. Intan spontan menggulingkan Dodi dari atas tubuhnya. Ibu, Intan, dan Dodi kaget. Untuk beberapa detik suasana hening. Tiga manusia itu hanya terpaku dan saling menatap. Lalu di detik berikutnya Ibu menjerit hingga bapak datang dengan terburu. Bapak yang menyaksikan kelakuan anaknya tak kalah kaget. Diumpatnya berkali-kali dengan kalimat pedas dan berbisa.

“Pergi, bedebah! Rumahku bukan untuk tempat manusia menjijikkan seperti kalian!” Bapak bersungut-sungut, sementara Ibu tertunduk lesu sambil menangis.

“Untuk kamu lelaki keparat! Aku tak sudi punya menantu macam kamu! Benar kata orang, Iman lebih baik. Biar pun dia miskin, harga dirinya lebih mahal. Dia bermartabat.”

“Bapak aneh!” ucap Intan sambil membenarkan bajunya yang berantakan. Digulungnya rambut yang acak-acakan. Lalu dengan santai meneruskan, “Dulu Bapak remehkan Iman. Sekarang memojokkan Dodi. Apa sebenarnya yang Bapak mau? Bukankah Bapak sendiri yang bilang harus pilih lelaki kaya?”

“Tapi tidak untuk yang tak bermartabat! Dia lelaki keparat! Tak bermoral!”

“Salahkan Intan untuk kejadian ini, Pak! Intan yang tak tahu diri. Intan sudah bersuami tapi malah selingkuh. Intan anak Bapak yang mengkhianati Iman.”

“Oh, tentu saja Bapak salahkan kamu. Tidak Bapak sangka kamu tega melemparkan kotoran ke muka kami. Sekarang, pergilah! Enyah dari sini! Kami tak punya anak yang berperilaku menjijikkan seperti ini!”

Merasa sakit hati, Intan menyerang Bapak ketika berbalik akan menuju kamarnya. Dipukulnya Bapak yang sedang memunggungi Intan dan Dodi.

Buk!

Dari belakang, benda tumpul mengenai punggung Bapak. Bapak tersungkur. Lalu sebuah bantal ditekan ke lubang pernapasannya. Ah, padahal kalau Intan sadar akan kasih sayang orang tuanya, mungkin hal ini akan dipikir ribuan kali.

Dalam situasi seperti ini, Bapak lupa. Nada-nada tinggi menjadi irama keramat yang hukumnya wajib dijauhi lisan Bapak dan Ibu. Sekarang, apa yang terjadi? Nada itu muncul. Keluar. Bahkan bukan hanya itu. Diiringi kalimat-kalimat pedas dan menusuk jantung. Jika dulu Bapak membentaknya gara-gara uang belanja dan Intan biasa saja, itu karena dia tak merasa bersalah. Iman sasarannya. Kali ini, dia memang bersalah. Sudah bersalah, disalahkan pula. Sudah jatuh, makin terperosok. Intan bukan ingin itu. Ia ingin ditanya baik-baik, bukan dimarahi dan dibentak. Tanyakan dulu pokok masalahnya.

“Apa-apaan kamu, Intan? Sadar!” ucap Ibu sambil menggulingkan Intan yang masih menekan bantal di wajah Bapak. Tapi, Bapak tak lagi bisa bicara. Ia sudah kehilangan nyawa.

“Biadab, kamu, Intan! Tega membunuh Bapakmu sendiri. Kurang apalagi Bapak menyayangimu?” Emosi Ibu ikut-ikutan tak terkontrol.

Sekarang malah Ibu yang jadi sasaran. Intan kalap. Kenapa bisa anak yang selama ini dimanja diusir hanya gara-gara satu kekhilafan? Bukankah Dodi lelaki yang mereka inginkan? Soal Iman, bukankah Bapak dan Ibu sendiri yang mengusir Iman? Jangan salahkan Intan akan perubahan itu! Toh, Bapak dan Ibu turut andil dalam kesalahannya.

Ibu melawan. Sekuat tenaga ia singkirkan tubuh Intan yang mencoba menindihnya. Intan tersungkur. Namun, Intan tak berhenti. Ia lebih brutal melawan. Syukurlah Dodi melerai hingga Intan tersungkur untuk kedua kalinya lalu pergi.

Ibu menangis sejadi-jadinya. Tak habis pikir, kenapa bisa anaknya bersikap seperti ini? Setan apa yang merasuki?

Dari luar, Intan tiba-tiba masuk sambil menodongkan pisau. Nahasnya Ibu tak siap melawan. Ibu ditusuk berkali-kali. Lantai berkeramik putih itu kini menjadi lantai darah. Ibu tak lagi bisa menahan rasa sakit. Akhirnya ia meregang nyawa saat itu juga, menyusul Bapak.

“Biadab!” Dodi mengutuk. “Aku tak sudi punya calon istri penjahat!” Lelaki itu berusaha pergi. Intan ketakutan. Lelaki itu satu-satunya saksi yang sudah pasti menjebloskannya ke jeruji besi.

Tanpa pikir panjang, berkali-kali ia menusukkan pisau ke punggung Dodi yang sudah berbalik dan pergi meninggalkannya.

Mau tak mau nasib sial menimpa lelaki berambut sebahu itu. Meski kekuatannya lebih besar dari Intan, ia tak bisa melawan. Ia pikir Intan tak akan nekad. Akhirnya kekasih gelapnya mati di tangannya sendiri. Mengenaskan.

Melihat pisau menancap di punggung dengan darah bercucuran, tubuh Intan ambruk. Tidak ada air mata. Dia hanya terpaku melihat tiga mayat tergeletak tak berdaya.

"Ini salah!" ucapnya sambil menggeleng-geleng kepala.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pudarnya Pesona Janji

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Ibu tiriku menikah dengan ayah 8 tahun lalu, dia dari keluarga yang sangat kaya, entah mengapa dia bisa menikah dengan Ayah yang pekerjaannya hanya bermain wanita dan menikahi yang dia sukai, tetapi Ayahku memang terlihat tampan, dengan badan yang kekar dan aura wajah yang sangar, mungkin itu menjadi daya pikatnya terhadap wanita-wanita, entahlah, aku tidak begitu jelas, dan Ayah pun jarang pulang. dia tidak berada di rumah selama berhari-hari dan tidak tahu cara mengurus keluarga. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu tiriku, aku di anggap anaknya sendiri, tetapi kebiasaan Ibu berpakaian Sexy sangat menggangguku. AKu menyukai seorang gadis, dia teman SMA ku dulu, Nama nya Rania. AKu sangat menyukainya, tetapi Ibu tiriku?...
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel Jebakan Cinta SANG MANTAN
9.0
Nada menyadari bahwa menjerat Ivander ke dalam pernikahan paksa adalah langkah yang keliru. Namun, baginya ini satu-satunya jalan untuk tetap berada di sisi pria yang hidupnya pernah ia hancurkan. Didorong rasa bersalah yang mendalam, Nada bertekad menebus dosa masa lalunya melalui pengabdian ini. Akankah segala pengorbanan Nada mampu mencairkan kebencian di hati Ivander, ataukah usahanya untuk mendapatkan maaf justru akan berakhir sia-sia?
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan