Sampul Novel ASI untuk Pak Guru

ASI untuk Pak Guru

8.5 / 10.0
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.

ASI untuk Pak Guru Bab 1

"Tolong panggilkan siswi bernama Jenara, suruh menghadap ke ruangan saya!" perintah pak Edward, selaku wali kelas XII IPA 1.

"Baik pak," jawab Dani, selaku ketua kelas XII IPA 1.

Sementara menunggu Jenara datang, Edward memeriksa ponselnya.

Ada banyak pesan dari mamanya untuk memintanya pulang.

Edward memijit pelipisnya kala membaca pesan mamanya tentang perjodohan dan makan malam yang tengah disiapkan.

"Sampai kapan kontes perjodohan ini berakhir?" gumam Edward dengan heran.

Tiba- tiba pintu diketuk membuat Edward menoleh.

"Masuk," pintu terbuka dan menampilkan Jenara.

"Bapak manggil saya?" Edward hanya mengangguk, mematikan ponselnya.

"Kamu kemarin sudah konsultasi dengan BK untuk memilih jurusan?" tanya Edward seraya mencari berkas Jenara.

"Sudah pak," jawab Jenara dengan cepat. Ia sedang menahan sesuatu yang sangat sakit saat ini. Rasa nyeri berdenyut ini membuatnya sangat tidak nyaman untuk diajak mengobrol saat ini.

"Lalu apa pilihanmu? Apa kata guru BK?" tanya Edward menanyakan tentang hasilnya.

Jenara meremas erat roknya sembari menunduk menggigit bibir bawahnya, menahan sesuatu yang berdenyut dan sakit.

Edward mengangkat kepalanya menatap Jenara yang malah menunduk, "Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Edward dengan dingin.

Jenara langsung mengangkat kepalanya, menatap Edward dengan mengetatkan giginya, menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Kata bu Deli saya diminta untuk memilih Universitas Milan saja, sepertinya akan lebih baik karena sesuai dengan jurusan yang saya pilih, namun saya keberatan untuk biayanya pak, karena itu saya memilih Universitas pilihan kedua, kata bu Deli itu terserah saya, karena saya memilih jurusan yang saya kuasai, saya bisa memilih universitas manapun," jelas Jenara tentang hasil konsultasinya kemarin.

Edward mengangguk membuka biodata Jenara, melihat transkip nilai serta catatan dari guru BK.

"Lalu kamu akan tetap memilih universitas Milan atau pilihan kedua? Bukankah kamu sangat gencar untuk memilih Universitas Milan?" Jenara menelan salivanya kala benda kenyalnya begitu berkedut keras dan semakin nyeri.

"Saya tetap memilih universitas pilihan kedua pak, kemungkinan untuk mendapatkan beasiswa tidak terlalu sulit," jawab Jenara dengan spontan.

Edward manggut- manggut dengan paham, menutup berkas milik Jenara.

Ia menatap Jenara yang sejak tadi menunduk meremas roknya. Hingga tatapannya menangkap sesuatu pada seragam putih Jenara.

"Kenapa seragammu basah?" tanya Edward dengan lancang dan spontan.

Jenara mengangkat kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya meringis kesakitan.

"Maaf pak, tapi bisa tolong hisa....., Saya sudah tidak kuat.... ini sangat sakit sekali," kata Jenara dengan spontan tanpa berpikir panjang.

Edward menelan salivanya dengan terkejut melihat tingkah Jenara yang menahan rasa sakit seraya meremas dadanya.

"Apa maksudmu? Jangan berkata tidak sopan, kamu sedang berada di sekolah, kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan?" tanya Edward dengan marah.

Jenara yang sudah tidak kuat, sontak langsung menghampiri Edward.

"Maaf pak, saya lupa bawa pumping, biasanya saya tidak pernah begini, tapi hari ini saya benar- benar tidak bisa menahannya, bisa tolong bantu saya?" kata Jenara yang mana ia sudah berdiri di samping Edward saat ini.

Edward dibuat canggung dan bingung harus bagaimana, namun melihat sesuatu merembes dari balik seragam putih Jenara membuat Edward bingung harus bersikap.

Jenara sontak langsung melepas kancing seragamnya, membuat Edward memalingkan wajahnya.

"Maaf pak, bisa cepat lakukan, saya tidak kuat lagi, ini sangat sakit dan berdenyut, rasanya sungguh sakit saat tidak bisa keluar," kata Jenara dengan panik sembari meremas meja menahan rasa sakitnya.

Edward yang tidak ingin lebih lama lagi melihat Jenara kesakitan, sontak mengangkat tubuh Jenara ke atas mejanya, menatap dengan canggung Jenara.

"Akhhh terus pak hisap," lenguh Jenara panjang kala Edward mulai menghisap ASInya.

Edward melepas hisapannya menatap mata Jenara yang sendu, "Pelankan suaramu sebelum orang- orang membakar ruanganku."

Jenara mengangguk, menggigit bibir bawahnya.

Edward kembali menghisap ASI Jenara, sesekali ia meremasnya dengan kuat.

Jenara mendongakkan kepalanya ke atas, menikmati sensasi puas dan lega dengan hisapan Edward.

Tanpa Jenara sadari, ia meremas rambut Edward.

Edward yang sedikit terbuai, seolah lupa dengan posisinya saat ini. Hingga keduanya teralihkan dengan ketukan pintu.

"Cepat sembunyi," kata Edward seraya mencecap sekilas bibirnya.

Jenara mengancingkan kembali seragamnya, langsung bersembunyi di bawah meja Edward.

"Masuk," kata Edward sembari duduk kembali di kursinya, memasang wajah sesantai mungkin.

Jenara yang kini duduk di antara kaki Edward benar- benar dibuat salah fokus dengan apa yang berada di depannya.

Ia benar- benar di posisi yang salah saat ini.

'Aku sudah gila, aku benar- benar sudah gila, bagaimana bisa aku meminta guruku untuk menghisap ASIku,' batin Jenara dalam hati.

"Pak Edward ini biodata anak- anak kelas bapak yang kemarin konsultasi dengan saya," ujar bu Deli seraya menyerahkan berkasnya.

"Terima kasih bu," kata pak Edward seraya menerima berkasnya.

Bu Deli hanya mengangguk namun ia tak kunjung pergi dari sana.

"Ada yang lain bu?" tanya Edward kala bu Deli masih berdiri di sana.

"Saya ada tiket nonton malam ini, bagaimana jika kita berdua pergi bersama?" tawari bu Deli pada Edward.

Edward dengan senyum canggung menggelengkan kepalanya pelan, "Maaf bu Deli, saya benar- benar sibuk untuk menyiapkan berkas anak- anak, dan nanti malam kebetulan sekali saya ada acara keluarga."

Bu Deli hanya bisa mengangguk dan pamit keluar begitu saja. Edward dengan napas lega memundurkan kursinya ke belakang.

"Keluarlah!" kata Edward pada Jenara.

Dengan canggung dan malu, Jenara keluar dari persembunyiannya.

Jenara menunduk di depan Edward dengan malu, meremas kuat roknya.

"Sejak kapan?" tanya Edward membuat Jenara mengangkat kepalanya.

Jenara yang paham kemana arah pembicaraan Edward sontak kembali menunduk dan menjawab, "Sejak kelas dua pak. Biasanya saya selalu menampungnya di pumping untuk disalurkan ke bank ASI. Karena hari ini lupa, jadi saya tidak bisa menahannya."

Edward memalingkan wajahnya seraya menelan salivanya.

"Jika kamu tidak bisa menahannya, apa yang akan kamu lakukan? Tidak mungkin kan kamu meminta teman laki- lakimu untuk melakukannya?" Jenara langsung mendelik kesal dan menggelengkan kepalanya.

"Mana mungkin saja melakukan itu, lebih baik saja mati kesakitan di toilet," kata Jenara dengan tegas membuat Edward menaikkan sebelah alisnya.

"Lalu tadi?" Jenara langsung menundukkan kepalanya kembali.

"Itu karena anda sudah mengetahuinya lebih dulu dan saya tidak bisa keluar dengan seragam basah begini," jawab Jenara dengan jujur membuat Edward langsung berdiri dari kursinya dan mendekat pada Jenara.

Jenara mengangkat kepalanya menatap Edward dengan takut.

"Bapak boleh hukum saja apapun itu, tapi saya mohon, jangan beritahukan hal ini pada siapapun pak, saya benar- benar bodoh dan ceroboh tadi, saya juga sudah tidak sopan pada bapak, saya pantas dihukum, saya memang murahan namun itu juga bukan keinginan saya pak," kata Jenara dengan pasrah.

"Saya tahu, itu karena kamu kelebihan hormon galaktorea," kata Edward yang paham tentang hal itu.

Jenara menelan salivanya, menunggu apa yang akan Edward lakukan padanya.

"Mulai sekarang, biarkan saya menghisap ASImu sebagai gantinya saya akan tutup mulut!" Jenara mengangkat kepalanya dengan terkejut.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi ASI untuk Pak Guru

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel LEMBAYUNG CINTA
9.2
Rangga terjebak dalam obsesi mendalam terhadap Davina. Pria itu rela melakukan segala cara demi mencuri perhatian sang wanita impian. Setiap tindakan yang Rangga ambil dirancang khusus untuk memikat hati Davina agar mau membalas perasaannya. Di tengah ambisi tersebut, ia terus berjuang memancing simpati Davina demi mendapatkan cinta yang ia dambakan. Inilah kisah perjuangan seorang pria yang tak kenal lelah mengejar wanita pilihannya dalam balutan romansa modern.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Pengorbanannya, Kebencian Butanya
8.0
Baskara memaksaku mendonorkan sumsum tulang demi tunangannya, Rania. Meski tumbuh bersama, dia kini membenciku. Rania menjebakku hingga Baskara menyiksaku dengan kejam, bahkan menculik orang tuaku akibat fitnah video asusila. Aku dipaksa menonton mereka jatuh dari gedung tinggi hingga tewas. Di tengah sakit parah yang kurahasiakan, Baskara justru menyuruhku mengakhiri hidup. Tanpa ragu, aku menyanggupi permintaannya dan melompat menuju kehampaan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan