
Pudarnya Pesona Janji
Bab 3
Tidak ada yang berubah dengan perjalanan cinta Intan, kecuali rasa sayangnya yang makin membesar. Terpaut usia lima tahun menjadi tantangan tersendiri ketika orang tuanya terus mendesak soal pernikahan.
“Dia anak kecil, Intan! Masih dua puluh tahun. Apa yang kamu harapkan darinya?” Begitu Bapak menjawab ketika Intan berusaha jujur.
Ini tahun ke sekian dari pertanyaan serupa yang Bapak lontarkan. Bapak pikir dugaannya dulu tepat. Bahwa cinta yang anak gadisnya rasakan adalah sesaat. Ternyata tidak.
Selama ini Intan sengaja tidak terlalu mengumbar rasa cintanya. Ia gunakan cara ala-ala pendekar yang memilih menyisir tanah. Sembunyi-sembunyi. Diam-diam.
Lima tahun!
Bayangkan saja menunggu waktu selama itu dengan keputusan belum pasti. Bukan tidak mungkin Iman menolak.
Ah, tapi Intan tak berpikir pendek. Yang ia tahu hanyalah kesabaran dan perjuangan. Dengan begitu, tidak ada alasan bagi Bapak dan Ibu menyudutkan Iman dengan usia yang masih muda.
“Aku menyukainya sejak lama. Aku berharap Bapak dan Ibu tidak menghalangi,” ucap Intan.
Hanya kalimat itu yang Intan keluarkan. Sekarang Ibu dan Bapak pasrah. Sulit mengubah keinginan anak gadisnya mengingat rentang waktu menyukai lelaki itu cukup lama. Berarti Intan sudah masuk dalam tahap sangat sangat sangat mencintai Iman. Ditambah sifat Intan yang akan terus mengupayakan keinginannya selama belum tercapai.
Ibu Bapak sudah hapal. Kalau pun dipaksakan menikah dengan orang lain alias dijodohkan, Ibu dan Bapak khawatir akan kondisi mentalnya. Bagaimana kalau Intan stres? Atau bahkan sampai gila?
Tidak! Ibu Bapak tidak mau itu. Intan anak semata wayangnya. Apapun akan dilakukan Ibu dan Bapak untuk kebahagiaan Intan, termasuk mungkin menrima lelaki pilihan sang putri. Apa boleh buat.
Ibu memang susah memiliki keturunan kendati puluhan dokter spesialis didatangi. Katanya tidak adanya masalah dengan kesehatan reproduksi Ibu dan Bapak.
Rahim Ibu subur. Menstruasi pun terjadwal setiap bulan. Bapak juga bukan perokok. Ditilik dari gen keluarga, tidak ada yang mandul atau mempunyai riwayat sulit punya keturunan. Sebaliknya malah mereka lahir dari keturunan banyak anak.
Namun, itulah takdir. Tidak ada yang bisa melangkahinya. Semua sudah ketetapan Tuhan.
Bisa menjadi bijak, Ibu Bapak bukanlah malaikat yang memiliki hati suci dan mulia karena bisa menerima takdir menyakitkan begitu saja. Semua diterima karena telah melewati proses panjang dan rumit, yang akhirnya memaksa mereka menyerah.
Pasrah tepatnya. Apapun yang diberikan Tuhan akan diterima. Toh, sudah ada Intan. Cukup sudah satu anak kalau memang itu takdirnya. Sekarang tinggal menyayangi Intan sepenuh hati dan membesarkannya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang.
“Ibu tahu. Tapi, ada baiknya kamu mencoba dulu kenalan sama Faisal. Dia anak kepala dinas. Beberapa kali Faisal menanyakan kamu. Ibu sudah bingung jawabnya,” keluh Ibu.
“Pokoknya Intan cuma mau Iman.” Intan malah keukeuh dengan keinginannya.
“Ini, kan, cuma kenalan, Tan! Kalau cocok lanjut kalaupun enggak ya menjadi teman. Kita tidak memaksa kamu harus nikah sama Faisal,” jawab Bapak bijak. Padahal dalam hati Ibu dan Bapak jelas doa yang sama diulang-ulang, semoga kali ini Intan luluh dan mau menikah dengan pilihan mereka.
Ada beberapa keuntungan jika Ibu dan Bapak berhasil menjadi besan orang tua Faisal. Derajat Haji Junaedi akan lebih terangkat. Ayah Ibu Faisal bekerja di pemerintahan.
“Oke, Bapak akan turuti kemauan kamu. Tapi, Bapak minta satu saja kamu sebutkan apa kelebihan Iman,” ujar Bapak setelah semua cara dilakukan.
Intan mendadak diam. Dia sadar tidak ada yang bisa dibanggakan dari Iman. Dia tidak tahu keseharian Iman. Selama ini Intan hanya tahu sosoknya saja. Selebihnya tidak.
Sudah dijelaskan dari awal bahwa Intan tidak bergaul dengan warga kampungnya. Adapun media sosial tidak banyak membantu. Intan tidak menemukan informasi apapun tentang lelaki pujaannya. Sama sekali tidak ada informasi apapun di sana, apalagi foto.
“Tuh, kamu diam. Itu artinya tidak ada yang istimewa dari Iman 'kan? Dia hanya anak kemarin sore yang bahkan tidak memiliki kelebihan sama sekali.”
“Ada, Pak!” Intan tak tahan mendengar ucapan Bapak. Telinganya panas. Gatal rasanya ingin menjawab. "Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan.”
“Iya, tapi apa? Coba Bapak mau dengar.”
Hening lagi.
“Kalau Faisal 'kan sudah jelas. Dia pegawai negeri. Dia juga dari keluarga terhormat. Hidup kamu akan dihormati orang lain. Percaya sama Bapak." Bapak terus meyakinkan anak semata wayangnya itu.
“Terserah Ibu dan Bapak saja! Intan pokoknya cuma mau Iman, bukan yang lain. Kalaupun Faisal bisa menjanjikan kehidupan nyaman buat aku, coba, dong Bapak juga bisa menjamin kehidupan Iman. Bapak 'kan punya pabrik. Ajak saja dia bantu-bantu di pabrik. Sama saja 'kan? Justru dengan bekerja di pabrik kita dia bisa memajukan usaha Bapak,” ucap Intan yang akhirnya malah lebih memilih meninggalkan orang tuanya. Lama-lama ngobrol sama Ibu Bapak malah menambah ribet urusan Intan.
“Dengar dulu, Tan! Kamu anak kami satu-satunya. Sebagai orang tua kita gak mau kalau kamu memiliki masa depan suram. Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan anaknya lebih baik. Jadi, menurut kami kamu layak dan sangat cocok menikah dengan Faisal. Kehidupan kamu akan terjamin. Kalau si Iman, kamu tahu sendiri. Warga kampung sini hidupnya miskin. Apa yang kamu harapkan dari keluarga miskin? Kamu mau jadi orang susah? Harus beradaptasi dari kehidupan serba cukup ke kehidupan kekurangan itu tidak enak, Tan!” Bapak meninggikan ucapannya agar Intan mendengar. Intan santai saja melenggang. Dibiarkannya kalimat-kalimat itu menguap ke udara. Biar menyatu dengan gas karbondioksida.
Brug!
Pintu kamar dibanting keras.
Masuk ke kamar dan menyendiri adalah jalan terbaik, begitu Intan meyakini.
***
“Anak itu!” ucap Bapak dengan nada agak tinggi, “Kalau sudah ada maunya begitu, tuh! Persis kamu, Bu!”
Ibu yang tak menerima disalahkan jelas menjawab sambil merengut.
"Enak aja! Bapak juga sama.”
Bapak tersenyum meski hatinya dongkol luar biasa. Meski begitu, menggoda Ibu adalah kebahagiaan kecil bagi Bapak. Makin Ibu kesal, Bapak makin suka. Makin manis, katanya.
“Salah kita, Pak! Kita terlalu memanjakannya. Apa yang Intan mau pasti kita kasih. Intan keenakan. Jadi, kita susah mendikte dia," ucap Ibu.
Bapak diam, pertanda setuju. Dulu Bapak dan Ibu pikir menuruti segala keinginan anaknya adalah cara mendidik paling baik. Ibu Bapak mencari uang buat siapa kalau bukan buat anak. Nahasnya, kejadian ini tidak bisa diprediksi sebelumnya.
“Jadi, bagaimana ini? Sepertinya tidak ada yang bisa kita lakukan, Pak! Mau tak mau kita harus menikahkan Intan dengan anak kecil itu. Ibu gak mau kalau Intan jadi perawan tua. Apa kata orang lain? Ibu malu. Disangkanya Intan gak laku. Duh, anak secantik Intan masa iya gak laku?”
“Ya, sepertinya kita memang begitu. Usia Intan sudah cukup dewasa,” kata Bapak. “Bapak akan mengundang anak itu besok.”
“Secepat itu, Pak?”
“Umur anak kita sudah dua puluh lima. Kalau kelamaan bisa jadi perawan tua. Katanya Ibu malu.”
“Terus Bapak mau ngomong apa?”
Bapak menggeleng.
“Bagaimana besok saja, lah, Bu! Bapak pusing!”
Bu Haji sebenarnya kesal bukan main. Gondok. Ada keinginan untuk memaksa Intan. Ada juga bayangan untuk menjebak Intan dan Faisal. Maksudnya, Ibu akan mengundang Faisal ke rumah. Biar Intan tahu sosok lelaki pilihan ibunya. Ibu akan memberi kesempatan Intan dan Faisal mengobrol dan mengenal lebih jauh. Siapa tahu cocok.
Ah, tapi … Ibu takut Intan marah dan murung.
Anda Mungkin Juga Suka





