
Luka Karena CINTA
Bab 2
Bab 2. Orang Tua Tersayang
“Orang tua membesarkan anak-anaknya dengan satu harapan, suatu saat nanti anak-anaknya menjadi orang yang berguna. Bukan lantas pergi meninggalkan orang tuanya yang sudah peot ronta seperti ini. Seperti kacang lupa dengan kulitnya, itu namanya anak durhaka. Anak yang nggak tau balas budi,” Bunda masih saja mengomel dan terus menangis.
Bunda memang belum banyak berubah. Meski kali ini sikapnya, sudah lebih lunak. Tidak berlaku keras dan kasar lagi. Mungkin, kepergian Mas Delon sedikit menyadarkannya.
“Jadi Mas Dellon nggak pernah ke sini lagi?”
“Masih, sesekali pulang kerja, dia mampir ke sini. Kadang, weekend juga menginap di sini.”
Diandra menyendokkan nasinya dengan sangat antusias sekali. Memu di meja makan sangat mengundang seleranya. Apalagi, ketika disantap pada saat perutnya sedang keroncongan seperti ini. Selama perjalanan tadi, perut Diandra memang belum terisi apa pun.
“Hmm….enak. Gurih.”
Bunda terttegun, “Harusnya, Kakakmu juga ikut pulang dengan kamu."
“Mbak Dina masih sibuk kerja. Ia baru saja dipromosikan ke posisi yang lebih menjanjikan.”
Bunda tak menyahut. Ekpesinya datar.
“Udah lama banget ya, aku nggak makan masakan Bunda yang lezat dan menggugah selera ini.”
“Selama kamu di sini, Bunda akan memasak makanan kesukaan kamu. Coba lihat badan kamu sekarang kurus banget, padahal dulu badan kamu gembrot kaya bola.”
Ya, Diandra ingat. Dulu-semasa SMA- badannya sangat tambun. Lemak di tubuhnya berlipat-lipat, hobinya memang sangat sering memakan makanan mengandung jung food dan mie instan. Diandra juga suka mengemil dan minum susu. Akibatnya, ia sedikit mengalami obsesitas. Namun, semenjak kejadian itu-peristiwa Robert-berat badannya menurun dratis.
Mungkin, itu karena terlalu banyak pikiran dan kesedihan yang mendalam.
Teringat kejadian itu… teringat Robert, nafsu makan Diandra lenyap seketika.
“Kamu kenapa?”
“Nggak pa-pa, Bunda. Aku agak pusing. Mungkin aku kecapean.”
“Ya udah. Sana istirahat aja di kamar.”
“Diandra….”
Suara seseorang di ambang pintu membuat Diandra membalikkan tubuh ke arah suara itu.
“Ayah….” Teriak Diandra. Tanpa ragu, Diandra berlari ke arahnya.
Membiarkan tubuhnya tenggelam pelukan laki-laki tua itu. Diandra merasakan kulit itu tampak kurus. Kulitnya yang keriput terlihat lebih gelap. Ke mana Ayah dulu yang gemuk dan kekar? Ayah yang pernah menggendongnya di lengan kirinya dan Dilla, adiknya di lengan kanannya? Dibandingkan dengan Bunda, Diandra lebih dengan Ayahnya. Ayah seorang pria berhati lembut sehingga membuatnya terlihat penurut dan lemah di hadapan Bunda yang dominan.
Bersama Ayah, Diandra dapat bermanja se-puasnya.
“Akhirnya kamu pulang juga, Nak,” gumam Ayah terharu, “Kok, wajahmu pucat. Kenapa?”
“Kecapean, Yah. Kepala Diandra agak pusing. Diandra juga ngantuk.”
“Ya udah . istirahat saja dulu.”
Ayah menggandeng Diandra ke kamarnya.
“Coba lihat, kamarmu masih sama seperti yang dulu, kan? Nggak ada satu pun perabotnya yang pindah tempat. Ayah mau balik ke kantor dulu, masih ada urusan yang belum selesai. Nanti malam, kita ngobrol lagi.”
Setelah mengecup kening putrinya, Ayah berlalu. Diandra mengamati setiap sudut kamarnya. Semuanya memang belum berubah. Kamar itu merupakan bagian dari masa kecilnya. Ia tidak dapat melupakannya. Meskipun itu hanya melupakan hal kecil.
Cat dinding berwarna pink yang mulai memudar. Pernak-pernik Hello-kitty yang menghiasi tembok kamar. Diandra memang suka sekali kepada kucing Hello-kitty tersebut. Hampir setiap pernak-pernik tersebut menghiasi tembok kamarnya.
Langit-langit kamar yang tinggi. Kaca rias yang besar berbingkai ukiran di sudut kamar. Di sampingnya, ada lemari pakaian dari kayu jati berwarna cokelat muda. Lemari itu bersebelahan dengan sebuah meja tulis, juga dengan warna yang senada. Foto Diandra dengan pipi tembemnya, berseragam putih abu-abu, terlihat di atas meja tulis itu. Juga buku-bukunya yang berderet rapi. Sebagian buku-buku sekolah dan sebagian lagi komik.
Namun, yang menarik perhatian Diandra adalah sebuah pigura berukuran kecil dengan kaca buram yang retak. Letaknya menjorok ke dalam , tersembunyi di antara buku-buku. Foto Robert!
Perlahan, tangan Diandra terjulur meraih pigura itu. Jemarinya bergetar. Foto Robert yang telah memamerkan senyumannya. Separuh wajahnya tertutupi kaca yang retak. Cowok jangkung berkulit putih. Rambut hitam berombak dan sedikit awut-awutan. Punya hidung bangir dan bibirnya yang tipis. Alis tebal dengan sepasang mata teduh yang agak menyipit di sudut melengkapi wajah ovalnya. Juga senyuman yang riskan dengan tawa renyah.
Diandra masih mengingat semuanya dengan baik. Foto itu diambil saat ia dan Robert masih SMU. Dulu Diandra sendiri yang memecahkan frame tersebut. Ia pikir hal tersebut dapat menuntaskan kebenciannya kepada Robert.
Sudah lima tahun berlalu, tetapi semua serasa baru kemarin. Luka di hatinya belum sebelum sembuh benar. Kepiluan membelit dadanya. Setetes bening mulai mengalir di pipinya.
“Robert…” Ada perih merayap saat nama itu terucap.
Kenapa gambar ini ada di sini? Mungkin, Bunda yang menaruhnya. Atau mungkin Santi , pembantunya yang lugu itu nggak tahu apa-apa tentang sejarah pigura itu. Mungkin, ia yang menatanya tanpa praduga apa-apa.
Diandra menghela napas. Dibukanya laci meja untuk menaruh pigura retak itu. Di sana, ia menemukan se-buah diari using. Diandra mengambil dan memulai mem-bacanya buka lembarannya satu-satu. Dulu, Diandra sering menuliskan perasaannya pada diari itu. Hubungannya yang jauh dari Bunda membuatnya tidak punya teman untuk mencurahkan isi hatinya.
Bunda terlalu keras untuk dijadikan sahabat. Bunda terlalu kukuh untuk diajak bertukar pikiran tentang cinta. Sementara untuk berbagi cerita dengan Ayah, rasanya sangat sungkan sekala. Apalagi, Ayah terlalu serius untuk diajak untuk bertukar pendapat tentang laki-laki. Ayah terlalu religius untuk digiring berbicara tentang hubungan mesra laki-laki dan perempuan. Diandra membaca diari tua itu. Sampulnya sudah kusam tertutup debu. Di dalamnya, terlukis suka duka cerita remaja Diandra. Di sana, ada cerita singkat, ada puisi, ada bait-bait lagu. Namun, hampir semua lembar bercerita tentang Robert. Robert adalah cinta pertamanya. Orang pertama yang mengajari Diandra mengenal cinta. Robert jugalah orang yang pertama menghempaskan Diandra pada duka yang tak berkesudahan. Mengenalkan Diandra tentang sakitnya luka karena cinta.
Air mata jatuh lagi, mengalir di pipi Diandra. Lima tahun telah berlalu, ternyata dia juga belum bisa melupakan kenangan tentang Robert. Hatinya masih teririsdan meneteskan perih bila mengingat segala hal tentang Robert. Buru-buru, ditutupnya diari using itu dan dimasukkannya ke laci meja. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Diandra merasa dirinya sangat lemah. Ia tak berdaya mengikis kegelapan masa lalunya.
Diandra menghempaskan tubuhnya di atas Kasur. Seprei pink bermotif Hello-kitty itu masih terasa lembut, meski warnanya sudah memudar. Diandra memiliki kebiasaan tidak memperlihatkan air matanya di hadapan siapa pun. Semua orang mengira Diandra adalah seorang gadis yang tegar dan tak pernah menangis.
Padahal, Diandra menyembunyikan kesedihannya. Ia menumpahkan semuanya pada diari. Tak jarang, pada saat semua orang terlelap Diandra akan menangis diam-diam di kamarnya, di atas tempat tidurnya. Berulang kali, ia berusaha menyembunyikan air matanya. Setiap menangis Diandra menututupinya dengan guling. Diandra tak ingin menyusahkan orang lain dengan masalahnya. Namun, akibatnya malahan menjadi menyusahkan dirinya sendiri. Jiwanya menjadi rapuh.
Malam itu, perasaan Diandra kembali galau. Ingatan-ingatannya meloncat-loncat. Keletihan yang tadi merayapi sekujur tubuhnya, tak lagi dirasakan. Kini, yang ia rasakan adalah perasaan haru yang luar biasa bercampur perasaan-perasaan yang tak dapat dijelaskan.
Diandra masih mengingat dengan jelas semuanya. Lagi-lagi, hempasan kenangan masa itu menyerangnya. Kenangan masa-masa indah bersama Robert, juga kenangan peristiwa pahit yang akhirnya menjerumuskan Diandra dalam jurang kesedihan yang tak berujung. Diandra memejamkan matanya yang basah. Ia membiarkan khayalannya kembali pada peristiwa lampau…
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





