Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!

Assalamu'alaikum, Mas CEO!

8.3 / 10.0
Dalam romance novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!, Hanif yang agamis harus memilih antara kewajiban bisnis dengan Soraya atau kebahagiaan putrinya yang terpikat sosok office girl bernama Aida. Ikuti billionaire romance books ini untuk melihat perjuangan Hanif di tengah konflik keluarga.
Ringkasan Assalamu'alaikum, Mas CEO!
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Baca Selengkapnya

Assalamu'alaikum, Mas CEO! Bab 1

Di sebuah meeting room perusahaan berskala international PT. Inanta Group, seorang pria berusia sekitar 30 tahunan berwajah serius sedang memimpin rapat akhir tahun. Dialah Mohammad Hanif As-Siddiq yang memegang jabatan sebagai Chief Excecutif Officer (CEO) di perusahaan yang bergerak di bidang agraria itu.

"Sampai saat ini perusahaan kita masih menjadi produsen lateks terbesar di indonesia. Meskipun kelapa sawit telah menyusul karet baru-baru ini dalam hal luas lahan, perusahaan tetap berkomitmen dalam segmen usaha karet dan melanjutkan pengembangan perkebunan karet melalui penanaman lahan baru," kata Hanif.

"Kapan kira-kira penanaman lahan itu akan dilaksanakan? Kita juga harus memperhitungkan waktunya agar pengalokasian dananya tidak saling bertabrakan dengan pengeluaran dana untuk maintenance (pemeliharaan) alat-alat dan fasilitas di perusahaan kita," sela salah satu peserta rapat.

"Perkebunan karet perusahaan saat ini dalam siklus penanaman ketiga. Penanaman kembali secara teratur akan dilakukan setelah pohon karet mencapai umur 25 tahun. Namun, perusahaan sedikit menunda penanaman kembali selama dua tahun belakangan untuk mengambil keuntungan dari tingginya harga karet yang berlaku. Dan hemat saya mengatakan sebaiknya kita mempercepat kembali program penanaman kembali pada awal Februari nanti karena pohon karet yang tua pasti akan berkurang produktifitas-nya," jawab Hanif.

"Jika penanaman kembali direncanakan awal Februari, bukankah itu terlalu cepat?"

"Terlalu cepat bagaimana? Dua bulan, apakah itu tidak cukup mempersiapkan segala sesuatunya?"

"Tapi ...."

"Abi!!!"

Jreeeeng!!!

Semua peserta rapat menoleh ke asal suara itu.

Seorang bocah perempuan berhijab berusia sekitar 4 tahunan memperlihatkan kepalanya dari balik pintu ruang rapat. Namun tatkala semua mata tertuju padanya, gadis kecil itu kembali bersembunyi.

Hanif berusaha mengabaikan bocah itu. Dan kembali melanjutkan rapat.

"Tapi apa tadi?" tanya Hanif lagi.

"Tapi kalau kita nekad melakukan penana ...."

"Abi!!!! Hihihi ...."

Suara mungil nan menggemaskan itu terdengar lagi. Kali ini dibarengi dengan tawa cekikikan. Kepalanya menyembul lagi dari balik pintu.

Hanif menghela napas dan bangkit dari duduknya.

"Tunggu sebentar!" pamitnya pada semua peserta rapat yang juga telah kehilangan fokus akibat ulah bocah kecil itu.

Hanif lantas keluar dari ruang rapat dan ingin menemui anak itu.

"Ah, Ais! Kamu mau apa? Abi lagi rapat nih!" tanya Hanif pada bocah itu.

Aisyah gadis perempuan cilik nan cantik lagi berhijap itu tertawa.

"Abi, pulang yuk! Ais bosyan di syini. Di syinni nda da eman," rengeknya.

Hanif menghela napas sambil mengelus kepala gadis itu.

"Sebentar lagi ya, Sayang. Abi selesaikan dulu rapatnya."

"Cebentalnya belapa banyak?" tanya Aisyah lagi.

Hanif pura-pura berpikir keras.

"Segini!" katanya sambil menunjukkan sepuluh jarinya.

"Haaa? Sephuluh? Itu lama syekali, Abi!"

"Hanya sepuluh menit. Bukan sepuluh jam, oke?"

Gadis kecil itu kembali berlagak seperti orang yang sedang berpikir keras. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di pelipisnya.

"Sepuluh menit, ya?" tanya Hanif lagi meminta persetujuan sang bocah.

"Hmmm, ote (oke)!" kata Aisyah pada akhirnya.

"Dian! tolong awasi Aisyah sebentar, ya! saya mau lanjutin rapat dulu. Paling hanya sepuluh menitan lagi," kata Hanif menyuruh salah seorang staf untuk mengawasi Aisyah.

"Oh iya, Pak!" jawab Dian. "Ais, ikut kakak yuk!"

"Tapi Abi janan boong, ya! Janan lama," kata si kecil Aisyah memperingatkan.

"He em. Nggak lama, kok!" jawab sang Abi.

Lalu Hanif pun kembali melanjutkan rapat.

Waktu 10 menit yang dijanjikan oleh Hanif ternyata tak dapat dia penuhi. Nyatanya rapat itu membutuhkan waktu yang lebih banyak dari yang dia perkirakan.

Aisyah mulai bosan.

"Akak, Ais lapaaal (lapar)," rengeknya.

Dian, staf yang disuruh menjaga Aisyah sedang fokus menginput data saat mendengar anak dari bosnya itu merengek.

"Bentar ya Ais. Kkak masih sibuk, nih. Kalau ini sudah selesai, nanti kita cari makanan, ya, ya, ya?" bujuk Dian sambil tangannya masing ketik-ketik di atas keyboard komputer.

***

Di sisi lain gedung Inanta Group, terdapat sebuah pantry. Seorang gadis berusia 21 tahun sedang sibuk membuatkan kopi untuk para karyawan perusahaan itu.

Tok!Tok!Tok!

Gadis itu menoleh. Seorang lelaki dengan kemeja biru sedang bersandar di pintu pantry.

"Ummi, antarin kopi ke ruang Pak Heru, ya!" kata lelaki itu.

"Satu ajakah, Mas?" tanya gadis bernama Ummi itu.

"He em. Kalau kamu nggak keberatan sih, bisa juga antar ke ruanganku sekalian," jawab Dirga.

Wanita yang ternyata bernama Ummi itu mengangguk sambil tersenyum.

"Baiklah, takarannya seperti biasa ya, Mas?" tanya gadis itu.

"Yoi!!! jangan lama-lama, ya!" kata pria itu seraya berlalu pergi dari pantry itu.

Usai menyiapkan kopi yang diminta oleh karyawan bernama Dirga tadi, Ummi pun mengantarkan kopi tersebut ke ruangan Pak Heru kemudian segera mengantar segelas kopi lagi ke meja kerja Dirga.

"Ini Mas kopinya!" kata Ummi sembari meletakkan kopi di atas meja.

"Kopi Pak Heru sudah?"tanyanya.

"Sudah," jawab Ummi.

"Kalau begitu, nanti tolong antarkan file ini ke ruangan pak Hanif," kata Dirga lagi.

"Pak Hanif siapa ya, mas? Di divisi apa?" tanya Ummi mengingat-ingat.

Dia baru tiga bulanan bekerja di perusahaan ini sebagai office girl, dan seingatnya dia tak kenal dengan seseorang bernama Hanif di sini.

"Pak Hanif CEO, di lantai 54," jawab Dirga seraya menyerahkan beberapa file ke tangan Ummi.

"Hah?"

Ummi termangu. Sekarang dia baru ingat kalau di sini ada seorang Hanif yang terkenal di lingkungan karyawati. Hanif CEO! Orang yang selalu jadi perbincangan karyawati wanita di kantor ini.

"Kenapa? Merasa dapat anugrah ya? hahaha ..." ledek Dirga.

Ummi tersentak dari ketermanguannya.

"Mas Dirga ini! Anugrah apanya? Saya kan cuma disuruh ngantarin ini, kan?" tanyanya.

"Hahaha, Ummi, Ummi! Kamu nggak tau aja sih ada berapa banyak cewek yang berharap aku nyuruh mereka ngantarin sesuatu ke Hanif kayak begini. Dan sekarang aku ngasih kamu kesempatan itu, terima kasih, donk!"

Ummi mengedip-ngedipkan matanya heran.

"Terima kasih buat apa, Mas?"

"Haisss, kamu itu susah nyambungnya, Mi! udah antarin gih sana!"

"Hmmm, oke deh."

Setelah mengantar nampannya ke pantry, Ummi pun langsung mengantar file itu menuju lantai 54 gedung itu. Setelah mencari-cari di mana ruang kerja CEO, akhirnya Ummi pun menemukannya.

"Mbak, saya mau ngantarin file untuk pak Hanif," kata Ummi sopan pada sekretarisnya Hanif yang meja kerjanya berada di luar ruangan CEO itu.

"Sini! Berikan sama saya aja. Pak Hanif lagi rapat," kata wanita itu.

Tak banyak yang bisa dilakukan disitu. Ummi sampai geleng-geleng kepala mengingat kata-kata Dirga yang menyuruh dia berterima kasih padanya. Terima kasih buat apa coba? Kan tenaganya yang keluar untuk mengantarkan file ini kesini? Ketemu orangnya aja dia tidak pernah, mau terima kasih bagaimana maksudnya?

Usai mengantarkan file itu, Ummi pun segera kembali ke bawah. Saat hendak masuk ke dalam lift, dia melihat seorang anak kecil berhijap bersama ibunya. Dalam hatinya merasa miris. Kenapa saat anaknya memakai hijap, ibunya malah berpakaian minim?

Tapi Ummi tidak ambil pusing, toh itu bukan urusannya. Ketika dia sampai di bawah, pekerjaannya telah menunggunya kembali.

"Ummi, kopi!!"

"Ummi, tolong ambilkan staples di depan!"

"Ummi, fotocopy!"

"Ummi ...!!!"

"Ummi ...."

Hingga menjelang sore, akhirnya pegawai yang menyuruh-nyuruhnya mulai berkurang satu persatu. Dan kini dia kembali ke pantry. Perutnya pun mulai lapar, dan Ummi baru ingat kalau dia lupa makan siang.

Tak sempat membeli makan siang lagi, akhirnya Ummi memutuskan untuk menyeduh mi instan dalam kemasan cup saja. Perutnya benar-benar lapar sekarang.

Tak menunggu lama mie instan itu terhidang, Ummi pun mulai menyuap mie instan itu ke dalam mulutnya.

"Ummi ...."

Dasar! Baru juga makan sesuap sudah ada saja yang memanggil-manggil dia.

"Hmmm ... ?"

Ummi buru-buru meraih air minum meneguknya dan .... tunggu dulu! Bukankah itu seperti suara anak kecil?

"Ummi ...."

Kini Ummi menoleh dan tak sempat dia berpikir jenih, seorang bocah kecil perempuan berhijap kini memeluknya.

****

Bersambung ....

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Assalamu'alaikum, Mas CEO!

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Gapai Mimpi di Usia Senja
8.8
Pulang di tengah hujan lebat, Elita terkejut menemukan rumahnya terkunci. Tetangganya mengungkap bahwa mantan suaminya, Ryan, justru menikah lagi di hari ulang tahunnya yang ke-70 dan sedang menginap di hotel bersama istri baru. Sebulan lalu, Elita menyetujui perceraian tanpa pisah rumah demi melindunginya dari utang saham Ryan, bahkan putranya meminta Elita mengungsi ke rumah lama. Kini, Elita menyadari bahwa pengasingan dan perceraian tersebut hanyalah kedok untuk menyingkirkannya.
Sampul Novel Ketika Hati Yang Tulus Dibalas Dengan Luka Yang Dalam
9.8
Rania terjebak dalam pernikahan penuh dusta demi melindungi kakeknya yang renta. Namun, jiwanya hancur saat menyaksikan pengkhianatan Arkana, suaminya sendiri. Di tengah luka mendalam tersebut, terungkaplah rahasia masa lalu dan perasaan yang selama ini terpendam. Ini adalah kisah tentang pengorbanan yang tak terlihat dan perjuangan seorang wanita untuk bangkit dari puing-puing kehancuran hatinya demi menemukan kekuatan baru yang sejati.
Sampul Novel Mahligai yang Ternodai
8.3
Kehidupan rumah tangga Nazwa yang semula terasa begitu sempurna mendadak hancur saat ia mengetahui perselingkuhan suaminya. Meski dikhianati, Nazwa memilih bersabar dan bertahan hanya demi ibadahnya kepada Allah. Namun, luka lama kembali terbuka ketika sang suami justru mengulangi kesalahan fatal yang sama. Di tengah rasa sakit yang mendalam, mampukah Nazwa tetap mempertahankan mahligai pernikahannya ataukah ia akhirnya menyerah pada keadaan?
Sampul Novel Sekretaris Rahasiaku
8.6
Rinka terjebak dalam dilema saat harus menjadi istri rahasia Rendi. Meski hidup bergelimang kemewahan, nyawanya terancam oleh musuh bebuyutan sang miliarder. Keadaan kian rumit ketika Rinka mengungkap masa lalu kelam yang disembunyikan Rendi darinya. Di tengah obsesi Rendi yang makin mendalam, kepercayaan Rinka mulai goyah. Mampukah hubungan mereka bertahan dari badai rahasia dan bahaya besar, ataukah kebohongan ini akan menjadi akhir dari segalanya bagi keduanya?
Sampul Novel SELINGKUH
8.9
Lima tahun membina rumah tangga, pernikahan Rosa terasa hampa karena belum dikaruniai buah hati. Keadaan kian memburuk akibat sikap kasar Indra, suaminya, yang membuat batinnya kian tersiksa. Di tengah keputusasaan itu, sosok Bian hadir membawa warna baru. Lelaki tersebut menawarkan kebahagiaan serta kenyamanan yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari sang suami. Rosa kini terjebak dalam dilema antara komitmen dan pelarian cinta yang manis.
Sampul Novel Terjebak Empati & Cinta Paksaan
9.5
Selina Aurelia Vianey adalah dokter berprestasi sekaligus pewaris rumah sakit yang dikenal sempurna. Namun, hidupnya berbalik total setelah ia menolong Rafael, pengusaha yang sedang mabuk akibat patah hati. Tak disangka, insiden itu membawanya ke perjodohan paksa yang diatur orang tua mereka. Terjebak dalam ikatan tanpa cinta, Selina harus menghadapi Rafael dengan rasa kecewa. Akankah empati berubah menjadi cinta sejati, ataukah ia hanya akan terkurung dalam nestapa?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan