Sampul Novel Lupakan Aku

Lupakan Aku

8.0 / 10.0
Dalam novel Lupakan Aku, Sita harus menghadapi realita perbedaan status sosial dengan Raka, putra pengusaha kaya. Hubungan modern novel ini menguji kesetiaan mereka di tengah tekanan keluarga. Ikuti perjuangan cinta mereka dalam billionaire romance novels yang penuh rintangan ini.
Ringkasan Lupakan Aku
Sita terjebak dalam romansa indah bersama Raka, pria yang menjadi cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hubungan mereka awalnya terasa sempurna dan penuh kebahagiaan. Namun, kenyataan pahit mulai muncul saat Sita menyadari jurang status sosial di antara mereka. Sebagai gadis dari keluarga sederhana, ia merasa terancam oleh posisi Raka sebagai putra pengusaha ternama. Akankah restu berpihak pada mereka, ataukah perbedaan kasta ini mengakhiri segalanya?
Baca Selengkapnya

Lupakan Aku Bab 1

Hari itu, langit begitu cerah seolah ikut menyambut langkah-langkah gugupku memasuki dunia baru bernama kuliah. Aku mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam seperti yang disarankan panitia ospek. Rambutku diikat sederhana, wajahku berusaha tampak tenang meski jantungku berdebar tak karuan.

Hari pertama kuliah.

Sebuah kalimat yang sederhana, tapi bagiku bermakna dalam. Hari itu bukan hanya tentang mengenal kampus, teman baru, atau jurusan yang kupilih dengan penuh harap. Tapi hari itu juga tentang harapan kecil yang kusembunyikan rapat sejak SMA.

Raka.

Namanya muncul seperti suara lembut yang berputar di pikiranku. Lelaki yang diam-diam kusukai sejak bangku SMA. Tak pernah satu kelas, apalagi dekat, tapi entah kenapa, setiap kali melihatnya lewat, ada sesuatu yang bergetar di dadaku.

Kupikir, setelah kelulusan SMA, aku tak akan pernah melihatnya lagi. Tapi takdir ternyata menyimpan kejutan manis.

"Raka?" bisikku pelan ketika melihat sosok tinggi itu berdiri di barisan registrasi kampus. Rambutnya sedikit lebih pendek dari terakhir kali kulihat, tapi senyumnya-senyum yang selalu membuatku terdiam di ujung lorong sekolah dulu-masih sama hangatnya.

Aku berdiri terpaku, tak tahu harus bersikap seperti apa. Menghampiri? Menyapa? Atau cukup menikmati pemandangan dari jauh seperti dulu?

Tiba-tiba, matanya bertemu dengan mataku.

Jantungku nyaris loncat.

Dan yang membuatku nyaris tak percaya, dia tersenyum. Kepadaku.

"Heh, kamu juga kuliah di sini?" tanyanya santai saat kami akhirnya berdiri dalam satu barisan kelompok ospek.

Aku mengangguk kaku. "Iya... nggak nyangka kita satu kampus."

"Seru juga, ya. Jadi ada yang dikenal," katanya.

Dan sejak saat itu, hari pertamaku yang semula dipenuhi kegugupan berubah menjadi hari yang penuh warna. Bukan karena kampus yang megah atau sambutan dosen yang ramah, tapi karena satu nama yang diam-diam kupuja kini berada di tempat yang sama, dengan kemungkinan yang terbuka lebih lebar daripada sebelumnya.

Raka.

Mungkin ini awal yang baru... bukan hanya untuk kuliahku, tapi juga untuk harapan kecil di hatiku.

Hari-hari pertama kuliah berlalu, dan setiap langkahku di kampus terasa lebih ringan sejak hari itu-sejak Raka tersenyum padaku. Kami memang tidak dekat, tidak juga sering berbicara. Tapi entah kenapa, cukup dengan tahu dia ada, rasanya hatiku hangat.

Setiap pagi, aku selalu datang lebih awal, duduk di taman dekat fakultas, berpura-pura membaca buku. Padahal diam-diam aku menanti, berharap bisa melihat Raka lewat dengan ransel di punggung dan langkah santainya yang khas. Kadang, saat aku cukup beruntung, dia akan menyapaku, sekadar melambaikan tangan atau mengangguk kecil.

Itu cukup bagiku.

Aku tahu, perasaan ini belum saatnya disuarakan. Aku terlalu takut merusak kenyamanan yang mulai tumbuh. Jadi aku memilih tetap diam, menyimpan semuanya sendiri. Mengaguminya dari jauh, mendoakannya diam-diam.

Ada hari di mana aku merasa begitu dekat dengannya. Seperti saat kami satu kelompok dalam tugas presentasi. Duduk bersebelahan, berdiskusi, bahkan tertawa bersama. Di momen-momen seperti itu, aku ingin waktu berhenti. Aku ingin dia tahu, betapa aku menghargai setiap detik bersamanya. Tapi setiap kali kata itu ingin keluar, "Aku suka kamu," aku menelannya kembali.

Karena aku tahu, harapan bisa seindah langit senja, tapi juga bisa segetir hujan yang tak kunjung reda.

Lalu malam-malam kulalui dengan memutar ulang kejadian-kejadian kecil bersamanya dengan cara dia memanggil namaku, tawa renyahnya saat bercanda, atau bahkan diamnya saat serius mendengarkan dosen. Semua terekam jelas di memoriku. Seperti film tanpa akhir.

Dan dalam doaku yang paling lirih, aku hanya ingin satu hal.

Semoga, dalam setiap langkahnya, ada ruang kecil yang pelan-pelan bisa ku isi. Bukan hari ini, mungkin bukan besok. Tapi suatu saat nanti... jika takdir mengizinkan.

Karena saat ini, biarlah aku mencintainya dalam diam dengan sabar, dengan tulus.

***

Hari itu, langit tampak sedikit mendung. Angin bertiup pelan, membawa aroma tanah yang khas. Aku duduk sendiri di kantin, menunggu giliran presentasi selanjutnya. Mataku menatap kosong ke arah buku catatan yang terbuka, tapi pikiranku melayang jauh.

Pagi tadi aku melihat Raka. Ia berjalan bersama seorang perempuan.

Mereka terlihat akrab. Terlalu akrab.

Perempuan itu cantik, kulitnya cerah, rambut panjangnya di kuncir kuda, dan tawanya lepas seperti tidak ada beban di dunia. Aku mengenalnya sepintas, dia teman sekelas ku juga. Namanya Laras.

Entah mengapa, melihat mereka berdua membuat dadaku terasa sesak. Aku tahu aku tidak punya hak untuk cemburu. Aku bukan siapa-siapanya Raka. Hanya seorang gadis yang mengaguminya dalam diam. Tapi tetap saja... ada bagian dari hatiku yang terasa retak.

Sepulang kuliah, aku pulang lebih awal dari biasanya. Tidak mampir ke taman seperti biasa, tidak menunggu kemungkinan bertemu Raka seperti yang sering kulakukan. Aku hanya ingin cepat sampai kamar, menarik selimut, dan menyembunyikan diri dari dunia.

Namun, malam itu, sebuah pesan masuk ke ponselku.

Raka:

"Kamu nggak nongkrong di taman sore ini? Tumben."

Aku menatap layar ponsel cukup lama. Jari-jariku gemetar. Ia memperhatikan aku?

"Capek. Jadi langsung pulang. Kenapa?"

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

"Nggak papa. Biasanya aku lihat kamu di sana, jadi aneh aja kalau kosong."

Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada harapan yang kembali menyala. Walau kecil. Walau samar. Tapi cukup untuk membuatku tersenyum di tengah kesedihan yang sempat datang.

Mungkin... mungkin perasaanku tak sepenuhnya sia-sia. Mungkin diamku bukan berarti tak terlihat. Dan jika benar, aku bersedia menunggu. Aku tak butuh jawaban cepat. Asal dia tetap jadi alasan aku tersenyum setiap pagi, itu sudah cukup bagiku.

Karena mencintai dalam diam bukan berarti menyerah. Tapi percaya... bahwa jika waktunya tiba, semesta akan menyusun jalannya sendiri.

Hari-hari terus berjalan seperti biasanya. Kuliah, tugas, presentasi, dan momen-momen kecil yang selalu aku simpan rapi dalam ingatan. Raka masih menjadi sosok yang hangat dan ramah kepada semua orang, mudah tertawa, dan selalu punya energi untuk membuat orang nyaman di sekitarnya.

Termasuk aku.

Tapi hanya sebatas itu. Sejauh itu.

Aku masih menjadi gadis yang berdiri di pinggir keramaian, memperhatikannya dari balik jendela kelas, dari deretan bangku paling belakang, dari sisi taman yang tak terlalu mencolok. Ia tetap menjadi pusat cahaya dalam dunianya sendiri, dan aku? Aku hanya bayangan kecil yang setia mengikuti dari jauh.

Kadang aku berpikir, mungkin aku memang tak akan pernah berani mengucapkan perasaanku. Bukan karena aku tak yakin, tapi karena aku terlalu takut, takut jika setelah semua kata itu keluar, semuanya akan berubah. Takut kehilangan kesempatan untuk tetap berada di dekatnya, walau hanya sebagai teman.

Raka kini sering terlihat bersama Laras. Mereka tampak semakin dekat. Bahkan beberapa teman mulai menggoda mereka, menyebut-nyebut nama keduanya dalam satu kalimat seolah sudah sah jadi sepasang.

Aku hanya bisa tersenyum setiap kali mendengarnya. Senyum yang tak benar-benar sampai ke hati.

Aku tetap mencintainya... meski dalam diam, meski dalam kesakitan yang tak terlihat.

Satu-satunya tempat aku bisa jujur adalah di dalam buku harianku. Di sana, aku menuliskan semua rasa yang tak bisa kusampaikan. Tentang betapa bahagianya aku saat ia menyapaku. Tentang bagaimana ia menolongku saat file presentasiku tiba-tiba hilang. Tentang senyumnya yang muncul saat dia melihat hasil tugas kelompok kami dipuji dosen.

Dan tentu saja, tentang bagaimana hatiku perlahan patah melihatnya bersama gadis lain.

Tapi anehnya... aku tidak bisa berhenti. Tidak bisa berhenti mencintainya. Bahkan saat aku tahu cinta ini mungkin tak akan berbalas, aku tetap menyimpan harapan kecil itu. Bukan karena aku bodoh, tapi karena bagiku, mencintainya membuatku tetap merasa hidup.

Malam itu, aku duduk di balkon kamar kosku. Langit penuh bintang, dan udara dingin menelusup ke dalam jaket. Aku menatap ke atas, lalu berbisik lirih pada semesta.

"Kalau aku memang tak bisa bersamanya, tak apa. Tapi tolong... biarkan aku mencintainya sedikit lebih lama lagi. Dalam diamku, dalam doaku."

Karena kadang, cinta tak butuh jawaban. Ia hanya butuh tempat untuk tetap bertahan. Walau tanpa suara.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Lupakan Aku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel A Lover (Alec & Alea)
8.6
Hasrat Alec Cage memuncak saat melihat kecantikan Azalea Mahendra. Peluang muncul ketika Arsen, kakak Alea, menyerahkan adiknya demi kursi CEO. Terpaksa tunduk, Alea menjalani pernikahan formal meski hatinya milik Arza, kakak angkatnya. Namun, badai datang saat Alec mengungkap masa lalu mereka. Sebagai pria pencemburu yang benci pengkhianatan, Alec tak akan memberi ampun. Ia bertekad menyiksa Alea dengan balasan yang jauh lebih menyakitkan dari kematian.
Sampul Novel Dibuang Suami Saat Hamil
8.5
Azura Paramitha, yatim piatu yang ceria, mengira hidupnya sempurna saat dinikahi pengusaha dingin, Revan Aksara. Awalnya, Revan berubah menjadi sosok penyayang yang memberikan kehangatan keluarga bagi Azura. Namun, segalanya hancur saat Azura hamil. Revan mendadak berubah kejam, menuduhnya tidak bermoral, dan mengusirnya dalam keadaan mengandung. Kini, Azura harus berjuang sendirian membawa luka hati dan calon bayinya setelah dibuang tanpa belas kasihan.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Ikatan Hati
8.9
Kediaman Bimantara mendadak kacau saat sesosok bayi ditemukan di depan pintu rumah mereka. Sebuah pesan misterius yang menyertai bayi tersebut mengklaim bahwa ia adalah darah daging Adrian Bimantara. Penemuan tak terduga ini memicu kepanikan luar biasa bagi seluruh anggota keluarga. Siapakah sebenarnya orang tua bayi tersebut? Kini, Adrian harus menghadapi tuduhan serius ini sementara misteri tentang asal-usul Abian mulai mengancam ketenangan hidupnya.
Sampul Novel Kasih Ibu, Dosa Ibu
9.4
Seorang influencer parenting mendidik putranya dengan sangat keras. Hanya karena sang putra mendorong anak dari mantan kekasihnya, wanita itu tega menghukumnya di balkon lantai 18. Sementara putranya ditinggalkan sendirian untuk merenung, ia justru pergi bermain bersama putri cinta pertamanya. Naas, tubuh mungil bocah itu menyusup melewati jeruji pembatas dan jatuh hingga tewas mengenaskan. Meski sang anak sempat berteriak histeris meminta pertolongan saat terjatuh, sang ibu sama sekali tidak menoleh ke belakang.
Sampul Novel Suara Bayi di Ponsel Suamiku
9.0
Kehidupan rumah tangga Suci mulai terusik sejak ia mendengar suara tangisan bayi yang misterius saat sedang menelepon suaminya. Meski awalnya mencoba untuk tetap berpikir positif dan menepis segala kecurigaan, Suci justru mulai menemukan berbagai kejanggalan lain yang semakin memperkuat keraguannya. Satu per satu rahasia yang tersembunyi mulai terkuak, membawanya pada kenyataan pahit yang tak terduga di balik sikap tenang sang suami selama ini.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan