
Luka Karena CINTA
Bab 3
Bab 3. Akan Selalu Terkenang
Siang itu, suasana kelas sangat riuh. Kebetulan Pak Danang , sang wali kelas berhalangan hadir. Murid-murid sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang lempar-lemparan bantal penghapus, ada yang berduan di pojok ruangan, ada yang kejar-kejaran, dan ada yang asyik bergosip.
“Diandra ada berita hangat,” teriak Ayu menghampiri Diandra.
Diandra masih tekun dengan novel di hadapannya.
“Aku mau cerita, tapi janji habis ini kamu traktir aku ya!”
Tak ada respon.
“hellooouu…! Kamu denger nggak, sih? Liat sini, dong. Ntar aja baca novelnya. Ini tentang Robert. Gebetanmu itu!”
Mendengar nama Robert di sebut, serta merta Diandra menutup novelnya. Ia menatap Ayu lekat-lekat. Me-nanti kelanjutan kalimatnya.
“Uuh! Kalo dengar Robert aja, baru melotot. Gini, se-lama ini, kamu, kan ngefans berat tuch, sama Robert. Kamu sampe uring-uringan dan nggak bisa tidur karena mikirin caranya deketin dia. Kamu juga bela-belain bolos pelajaran Cuma karena pengen lihat dia tanding basket. Kamu…”
Diandra tampaknya tak sabaran.
“Tenang… tenang. Nah, sebagai sahabatmu yang baik, aku nggak tega ngeliat kamu kaya gitu. Jadinya, akum au bantuin kamu. Aku juga mau… “
“Ayu…!”
“Iya… iYa. Selama ini, aku perhatiin kamu beneran cinta sama dia. Nah, yang namanya cinta itu harus diperjuangkan. Dia harus tau perasaanmu. Kamu nggak boleh diem aja nunggu keajaiban dating. Sekarang, bukan zamannya cewek pasif. Kalo kamu mencintai seseorang, kamu harus berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya, walaupun…”
“Kenapa?”
“Oke. Oke. Gini, tadi aku lewat di ruang sebaguna. Di sana, lagi ada pendaftaran anggota Palang Merah Remaja. Ekstakulikuler yang baru. Yang ikutan banyak banget. Nah, aku ngelihat Robert. Dia ikutan daftar. Minggu depan, diklatnya udah mulai. Jadi, ini kesempatan buat kamu.”
Diandra tertegun.
“O, ya, kayaknya si Sisil nggak ikutan, deh. Jadi, kali ini kamu nggak punya rival. Nah, asyik, kan? Kapan lagi bisa punya kesempatan banyak gini. Kan, kamu bisa berada dalam kegiatan yang sama. Aku bisa ngebayangin, nanti kamu dan Robert bisa bareng….”
Sebelum Ayu menuntaskan kalimatnya, Diandra sudah melesat ke ruangan serbaguna. Sambil menggerutu, Ayu menyusulnya.
“Waduh, jumlah pendaftarannya udah penuh. Lagian, kami udah buka pendaftaran sejak dua minggu yang lalu. Kenapa kamu baru daftar sekarang?”
“Soalnya, saya baru tau.”
“Kalo gitu, itu kesalahan kamu sendiri. Makanya, jadi siswa itu harus aktif dong. Harus tau perkembangan yang terjadi di sekitarannya. Jangan Cuma diem di dalem kelas terus.”
“Tapi kan….” Diandra terdiam. Dia tahu, ini memang kesalahannya. Dia jarang sekali menyempatkan diri membaca papan pengumuman. Dia ogah ikut kegiatan ekstrakulikuler kalau tidak terpaksa. Dunianya cuma kantin, novel, dan Robert. Termasuk saat ini. Dia nggak akan sudi buang-buang waktu adu mulut dengan panitia diklat, kalau bukan demi Robert!
“Tolong Kak,” Mita mulai ikut-ikutan, “Teman saya ini udah lama banget pengen jafi anggota PMR. Jadi, tolong kasih dia kesempatan. Kalo kali ini dia gagal lagi, dia bisa stress. Lagian, tambah satu lagi nggak apa-apa, kan? Sebenarnya, saya juga mau ikutan. Tapi, kan nggak mungkin nambah dua orang lagi. Asalkan teman saya bisa ikutan, saya mengalah nggak apa-apa kok.”
“Ya udah nambah satu lagi nggak apa-apa,” setelah melihat tampang Diandra dan Ayu yang memelas, panitia diklat itu akhirnya mengalah juga.
“Adik-adik, hari ini, diklat kita sudah memasuki hari terakhir. Pada sesi berikutnya, kalian harus mempraktikan semua teori yang telah diajarkan. Untuk itu, kami akan membagi kalian menjadi tujuh kelompok. Setiap kelompok terdiri atas lima orang. Nah, saya akan membacakan nama-nama kelompoknya,” kata Kak Galang sebagai pembina.
Diandra melirik Robert yang berdiri tak jauh darinya. Tubuh jangkungnya membuat Robert tampak lebih menonjol dari peserta yang lainnya. Wajahnya terlihat kelelahan. Peluh membasahi kaosnya. Sama seperti Diandra. Kegiatan ini benar-benar menguras tenaga.
Diandra menghela nafas. Diklat sudah memasuki hari terakhir, tetapi ia belum juga mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Robert. Jangankan untuk berbicara, berkenalan pun belum sempat. Badan Diandra mulai lemas. Hatinya juga. Diandra mulai putu asa. Rasanya, tak mungkin lagi bermimpi untuk bisa lebih dekat lagi dengan Robert.
Diandra memerhatikan Kakak pembina yang masih sibuk berkoar-koar dengan suara serak.
“Ternyata, jumlah kalian ganjil. Jadi, ada satu orang yang belum mendapatkan kelompok dan boleh ikut memilih kelompok yang mana saja.”
Pembina itu menatap peserta satu-persatu.
“Diandra?”
“Ya, Kak?”
“Kamu mau ikut kelompok yang mana?”
Yess! Diandra bersorak dalam hati. Tanpa pikir panjang, Diandra berujar lantang, “aku pilih kelompok Robert saja, Kak!”
Oups! Semua memandangnya. Diandra ikut terkejut sendiri dengan lontaran kalimatnya yang spontan.
Dia lupa jika dirinya dan Robert belum saling mengenal. Selama ini, Diandra selalu mencari informasi tentang Robert secara diam-diam. Semua hal menyangkut Robert sudah terekam di memorinya. Siapa nama lengkap Robert, di mana rumahnya, bagaimana keluarganya, jumlah saudaranya, apa kebiasaannya, di mana tempat nongkrongnya, hobinya, teman-teman dekatnya, termaksuk tentang Sisi… pacar Robert!
Diandra tahu, Robert punya Sisi. Sudah setahun lebih mereka bersama. Namun, Diandra tak patah arang. Seperti kata orang, selama janur kuning belum melengkung. Diandra masih bersemanagt mengintip Robertmain basket, meski di sana ada Sisi melompat-lompat kegirangan. Dia masih berse-mangat memerhatikan Robert bolak-balik kantin, meski di sana ada Sisi yang bergelayut manja. Diandra tak peduli Robert memiliki beberapa banyak Sisi, yang penting ia dapat melihat pujaan hatinya itu setiap hari.
Diandra melirik Robert sekali lagi. Cowok itu masih sibuk membenahi peralatan praktik. Diandra memberanikan diri mendekatinya. Peserta yang lain juga sibuk di kelompoknya masing-masing.
“Hai!” sapa Diandra riang, “ngg… kamu Robert, kan?”
Robert melihat sekilas. Tatapannya datar. Kemudian, ia menyibukkan diri lagi dengan peralatan yang berserakan di kakinya.
Uh! Sok cool banget, sih! Diandra geregetan.
“Tadi, kamu udah nyebut namaku, kan?”
Akhirnya, suara itu keluar juga. Berat dan lembut.
Diandra terpaku sejenak.
“Aku cuman mau memastikan saja. Takut salah. Kenalin, aku Diandra.”
Robert melirik sebentar. Masih dengan ekpresi yang sama.
“Kegiatan ini bikin capek, ya? Kamu capek, nggak?”
Tak ada jawaban. Diandra mendengarkan suara dengusan keras dari hidung cowok itu. Mungkin, dia mengaangap embusan nafasnya itu sudah dapat mewakili jawabannya.
“Aku kemarin lihat kamu tanding basket. Kamu mainnya keren banget. Kamu memang jago basket, ya!”
Robert berbalik menatap Diandra. Diandra suka melihat mata Robert. Hitam dan tajam setajam silet. Di balik tatapannya yang tajam itu, Diandra menemukan keteduhan. Yang membuat Diandra semakin jatuh cinta.
“Robert, aku datang. Gimana, capek ya, sayang? Nih, aku bawakan makanan.”
Diandra dan Robert berbalik ke arah datangnya suara tersebut.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





