Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Karena CINTA

Luka Karena CINTA

Diandra, gadis desa yang cantik, terjebak dalam obsesi cinta pada Robert meski hubungan LDR mereka hancur akibat kekasaran dan perselingkuhan. Walau sempat depresi dan mencoba segala cara untuk kembali, Robert tetap meninggalkannya hingga ia menuai karma tragis. Di tengah luka, muncul Louis, pemuda Jerman lembut yang sabar mengejar hati Diandra. Akankah Diandra mampu melepaskan bayang masa lalu demi memulai hidup baru yang bahagia dalam dekapan tulus Louis?
Bab
Bagikan

Bab 1

Ketika pertama kali menampaki kampung halaman, hati gadis cantik ini gamang. Seribu satu macam perasaan campur aduk. Sudah benarkah langkah yang ditempuhnya saat ini? Ia kembali ke masa lalunya. Bandung. Yang merupakan tempat kelahirannya, tempat dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan dewasa. Tempat yang membawa duka yang tak berkesudahan. Lima tahun berlalu. Tiba-tiba Diandra merasa deras waktu menyeretnya kembali.

Pesawat telah sedari tadi lepas landas. Aktifitas di bandara juga sudah semakin berkurang. Dua, tiga orang terlihat masih mondar-mandir mendorong kereta barang. Diandra masih termanggu di ruang tunggu. Entah apa yang gadis cantik ini pikirkan? Air matanya tiba-tiba menetes, Ia berusaha menghapus bulir air matanya yang masih membasahi wajah cantiknya.

Sejak tadi matanya berkeliling, mengamati setiap sudut bandara. Sudah banyak yang berubah. Diandra meneliti setiap orang yang berlalu-lalang. Tak ada satu pun orang yang ia kenali atau mengenalinya. Semua terasa sangat asing.

“Taksi, Mbak?” tegur Bapak supir taksi tersebut dengan sangat ramahnya.

Diandra memandangi sekilas supir taksi tersebut, mungkin Bapak supir taksi ini merupakan supir taksi yang keduapuluh yang menghampirinya. Karena Diandra yang tak tega, akhirnya dia mengangukan kepalanya. Supir taksi tersebut berkumis tebal, memiliki postur tubuh yang kurus. Apa lagi Bapak supir taksi tersebut sudah tua.

Ia lalu mengekori langkah kaki Bapak tersebut yang Nampak sekali kerepotan mengangkat barang belanjaannya. Diandra sengaja tak memberitahukan kepulangannya yang secara mendadak dari Bundanya.

Dia ingin membuat kejutan kecil. Sudah lama sang Bunda memintanya untuk pulang, tetapi Diandra selalu menolak dengan berbagai macam alasan. Padahal, semuanya hanya bermuara pada satu alasan saja : yaitu adalah Robert! Setelah peristiwa itu, Diandra masih belum mampu melupakan apa pun kenangan yang menyakitkan. Tiba-tiba hatinya merasakan sesak.

Taksi berjalan agak lambat. Gerimis jatuh satu persatu. Lewat kaca mobil yang buram, Diandra menikmati suasana di luar sana. Semua sudah Nampak berubah. Satu, dua gedung pencakar langkit tampak meramaikan kota. Jalanan yang dulu lengang, kini terlihat sangat padat. Macet mulai mengisi dimana-mana.

“Di depan belok kanan atau kiri mbak?” tanya supir taksi tersebut dengan ramahnya. Melirik Diandra melalui kaca spionnya.

“Kiri,Pak. Rumah yang gradasi hijau itu!”

Taksi berhenti di depan rumah bergadasi hijau dengan perkarangan yang sangat luas.

“Ini, Pak. Makasih, Diandra menyodorkan uang limapuluh ribuan.

Diandara melangkahi anak tangga dari batu. Dulu, ratusan kali sudah ia melangkahi anak tangga tiga tingkat itu. Bahkan, pernah saat dia buru-buru mau berangkat sekolah, dia hampir terjatuh di tangga itu. Semua begitu jelas, walau pun sudah lima tahun berlalu.

Diandra terpaku tepat di depan teras. Rumah di ha-dapannya juga sudah berubah. Di sampingnya, ada tamanan kecil penuh dengan bunga mawar aneka warna.

Teras itu sendiri menghadap ke halaman luas. Di halaman itu, Nampak ada pohon manga, pohon pisang dan pohon salak. Beberapa rumpun bunga kana menghiasi tepi pagar. Rimbunnya pepohonan yang menutupi teras, membuat suasana menjadi teduh dan nyaman.

“Nyari siapa, Mbak?” tanya seorang perempuan yang jauh lebih mu-da, kira-kira lebih muda darinya.

Dengan tersenyum, gadis muda tersebut menghampirinya.

Diandra mengerutkan keningnya. “ini rumahnya Ibu Nita, kan?”

“Mbak ini,….”

“Aku Diandra, putrinya.”

“Ohh, Mbak Diandra. Saya Santi pembantu baru di sini.”

“Bu…. Ibu…..!” teriak Santi, “Mbak Diandra pulang!”

Seorang wanita tua tergopoh-gopoh keluar. Diandra terpaku menatap wanita tua di hadapannya. Garis-garis tampak jelas di wajahnya. Membuatnya terlihat sangat tua. Diandra berlari menyongsong wanita itu. Mengecup punggung tangannya dan memeluknya erat.

“Kenapa nggak ngomong dulu Nak, kalo kamu mau pulang?” tanya wanita itu ketika pelukan terlepas.

“Kalau ngomong bukan surprise namanya.”

“Akhirnya, kamu pulang juga, Nak.”

Mata tuanya berkaca-kaca, “kalo tau bakalan pulang hari ini, kan, bisa di jemput.”

“Nggak apa-apa, Bunda.”

“Itu bawaanmu?” Bunda menunjuk koper dan barang-barang lain yang masih berserakan di teras, “banyak banget.”

“Saya bawa masuk ya, Mbak.” Santi yang tadi diam, kini bergerak menuju barang-barang Diandra.

“Berat, loh. Biarin aja. Nanti kita angkat sama-sama,” sahut Diandra.

“Jangan, Mbak,” Santi buru-buru mencegahnya, “Kebetulan, ada Mas Jamil. Biar dia saja yang mengakat bawaan Mbak Diandra.”

“Jamil?”

“Dia suami saya, Mbak” jelas Santi yang terlihat agak malu.

Diandra sedikit kaget. Perempuan muda seperti Santi rupanya sudah menikah. Padahal, jika di bandingkan dirinya usia Santi terbilang sangat belia. Namun, Diandra memaklumi semua itu. Para perempuan desa biasanys tidak terlalu banyak pertimbangan dalam memilih calon suami untuk kemudian menikah.

Di kalangan perempuan desa, biasanya ada mitos turun temurun yang diyakini. Misalnya jika perempuan tersebut menolak lamaran laki-laki yang datang melamarnya, dia akan menjadi perawan tua. Jadi, seperti apa pun laki-laki yang datang melamarnya, gadis tersebut wajib menerimanya. Perempuan tak berhak memilih atau mengambil keputusan sendiri pa-sangan hidupnya. Bagi perempuan desa, saat mengalami haid pertama, itu tandanya mereka harus menikah sesegera mungkin. Berbeda sekali dengan perempuan kota. Banyak pertimbangan sebelum memutus-kan mengikat diri dalam ikatan pernikahan. Masa penjajakan yang cukup, materi yang matang kecocokan latar belakang keluarga, dan tetek bengek lainnya. Belum lagi, ketakutan-ketakutan yang sangat beralasan dan terkesan dibuat-buat.

Seorang pemuda tanggung datang menghampiri mereka.

“ini suamimu?” Diandra memandangi Santi yang menganguk sungkan.

“ini barangnya, Mbak?” tanya Jamil sambil menunjuk barang-barang bawaan Diandra, “dibawa ke mana Mbak?”

“Ohh…, bawa ke kamarku yang dahulu saja.”

“Kamarnya Diandra yang di pojok ruang tengah itu,”jelas Bunda.

Diandra memperhatikan pemuda yang tampak gesit membawa barang-barangnya itu. Kira-kira usianya masih sangat belia sekali. Pasangan belia. Diandra merasa sangat tua sekali jika berhadapan dengan mereka berdua.

“Ayah di mana?”

“Masih di kantor. Mungkin, sebentar lagi pulang. Udah nggak usah nunggu Ayahmu. Kamu makan saja dulu Nak. Kebetulan, tadi Bunda memasak tumis pare dan oseng tempe. Kamu masih doyan kan?”

“Bunda, kok, rumahnya sepi? Mas Dellon mana?”

Tiba-tiba, wajah Bunda menjadi mendung.

“Kakak kamu nggak tinggal di sini lagi.”

“Kenapa?”

“Perusahaanya sudah berkembang, dia sudah membeli rumah sendiri Nak.Terus, baru seminggu ini dia pindah dari rumah. Di tambah lagi dia menjalin hubungan dengan gadis yang berbeda agama dengan kita. Karena Bunda marahi dia nggak terima. Dasar anak nggak tau diri, sudah dididik dan dibesarkan. Setelah jadi orang sukses, malah seperti ini balasannya,” gerutu Bunda .

Diandra terdiam, ternyata Bunda masih sama seperti dulu. Masih suka mengomel untuk menumpahkan kekesalannya. Sangat emosional sekali. Diandra ingat, Bunda memang sangat keras dalam hal mendidik anak-anaknya sehingga sangat terkesan otoriter.

Sejak dulu bukan hanya Mas Dellon, Mbak Dina, dan Dilla sering kali ingin minggat dari rumah.

Tiba-tiba Bunda menitikan air matanya, Diandra langsung memeluk dan menenangkan Bundanya.

“Bunda kenapa menangis?” tanya Diandra menatap Bundanya dengan penuh keheranan.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bosku Kenikmatanku
9.4
Dino bertekad menaklukkan Ci Jeny melalui godaan yang intens. Di atas sofa, suasana memanas saat Dino mulai menjamah tubuh atas Ci Jeny hingga membuatnya mendesah pasrah. Meski awalnya malu-malu, Ci Jeny akhirnya menyerah pada gairah dan menantang Dino mewujudkan fantasinya. Keduanya pun menanggalkan pakaian, memperlihatkan ketertarikan yang liar. Dino yang terpaku melihat kemolekan tubuh bosnya segera bertindak lebih jauh demi memuaskan hasrat terpendam mereka.
Sampul Novel Bukan Ipar Penggoda
8.0
Kehidupan Maura Anabella berubah drastis dalam semalam akibat sebuah tragedi yang tak terduga. Kesuciannya terenggut secara paksa karena tindakan ceroboh kakak iparnya sendiri yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Kejadian kelam tersebut meninggalkan luka mendalam bagi Maura, menciptakan konflik batin dan drama keluarga yang rumit. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit di tengah situasi yang mengancam kehormatan dan masa depannya sendiri.
Sampul Novel Cinta Palsu Dalam Pernikahan Kontrak
7.8
Aruna Larasati terjebak dalam pernikahan kontrak demi menyelamatkan keluarga. Lima tahun ia berkorban, namun Gavin Nugraha hanya menganggapnya bayangan. Kehadiran Elvira, cinta masa lalu Gavin, merenggut perhatian suami dan anak yang Aruna besarkan. Di tengah pengkhianatan dan harapan yang hancur, Aruna akhirnya memilih untuk bebas. Akankah ia mampu bangkit merebut kembali hidupnya, atau justru terpuruk dalam takdir yang kejam? Sebuah kisah haru tentang harga diri.
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesonamu (Enigma: Teka-teki)
8.9
Numa dan Afkar terikat dalam perjodohan penuh misteri yang dirancang demi menutupi rahasia besar keluarga. Tanpa kontrak formal seperti di fiksi, mereka harus bekerja sama menghadapi kerumitan hubungan yang ambigu. Afkar menekankan pentingnya aliansi nyata demi ketenangan hidup dari campur tangan pihak lain. Di tengah sikap Numa yang haus perhatian, keduanya harus menguak teka-teki mendalam yang menyelimuti takdir mereka dalam kisah romansa modern yang intens ini.
Sampul Novel Kumpulan Kisah Hot Membara
8.0
Hadirkan deretan narasi romansa dewasa yang penuh dengan gairah mendalam melalui Kumpulan Kisah Hot Membara. Setiap bagiannya menyuguhkan dinamika hubungan modern yang intens, di mana emosi dan hasrat berpadu dalam momen-momen paling intim bagi para tokohnya. Penonton akan dibawa menelusuri berbagai skenario percintaan yang berani serta menggoda, menggambarkan sisi lain dari hubungan asmara yang penuh dengan percikan api cinta yang membara.
Sampul Novel Mantan yang Tak Terlupakan
8.9
Tepat di hari jadi ketujuh, Divya menemukan rahasia menyakitkan di media sosial Liam. Ternyata, selama ini suaminya memendam cinta untuk wanita bernama Destinee. Inisial di cincin nikah mereka pun bukan untuk Divya, melainkan bukti kerinduan Liam pada sang mantan. Bahkan, tanggal pernikahan mereka dipilih hanya untuk meniru hari bahagia Destinee. Saat Liam meremehkan temuannya, Divya dengan tenang memilih mengakhiri segalanya dan meminta berpisah.