Sampul Novel KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO

KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO

8.4 / 10.0
Lamaran Aditya ditolak mentah-mentah oleh Yuni karena hanya sanggup memberi hantaran lima puluh juta. Tak hanya dihina, Belinda sang kekasih pun ikut merendahkannya. Dalam kemarahan, Aditya justru melamar Dahlia, asisten rumah tangga Belinda, dengan cincin berlian mewah. Tak ada yang tahu bahwa staf administrasi biasa ini sebenarnya adalah putra mahkota pemilik perusahaan. Saat identitas aslinya sebagai CEO terungkap, mampukah Aditya dan Dahlia merajut cinta tulus dari awal yang penuh emosi ini?

KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO Bab 1

"Kami sudah sepakat. Hantaran yang harus dibawa itu dua ratus juta juga perlengkapan buat Belinda. Sebenarnya itu pun masih kurang. Segala jenis makanan juga perlengkapan rumah tangga itu sangat perlu. Tapi kalau memang gak bisa, ya kami akan coba maklumi," ucap Bu Yuni, ibu pacarku yang bernama Belinda.

"Kalau perlengkapan rumah tangga, itu sudah menjadi kewajiban saya, Bu. Tentang aneka makanan, saya akan usahakan dengan maksimal," jawabku sekenanya.

"Perlengkapan rumah tangga buat kalian dengan yang dibawa ke sini beda, dong. Kami sudah membesarkan Belinda sampai jadi sarjana dan bekerja di perusahaan besar itu butuh waktu dan tenaga yang gak sedikit. Dia sudah kami kasih perlengkapan hidup yang mewah. Soal begitu saja perhitungan," tanggap calon ibu mertuaku itu kecut.

Aku menelan salivaku. Bagaimana ada seorang ibu yang tega menghitung-hitung jasanya sebagai orang tua?

"Soal uang hantaran, saya hanya sanggup lima puluh juta tunai, Bu."

"Loh, kok bisa sedikit sekali? Kami bisa malu sebagai keluarga terhormat di komplek ini."

Dua orang pasangan paruh baya yang menemaniku terlihat saling pandang. Mungkin mereka ingin bicara tapi mereka sudah kuperingati agar tetap diam selama acara pra lamaran ini. Aku ingin lihat, bagaimana watak keluarga besar calon istriku?

"Tetangga sebelah aja, anaknya cuma lulusan D3, seabrek-abrek hantarannya. Belum lagi emasnya, penuh sebadan. Ini gimana sih, Bel? Calon suami kamu pelit gini," ketus wanita tua itu membuang wajah.

Belinda yang sedari tadi agak gelisah hanya menggigit bibirnya. Aku yakin, dia tak bisa membohongi perasaannya padaku.

"Maaf ya, Bu. Saya hanya mampu segitu. Lagi pula, saya sudah menyanggupi mahar emas dua puluh gram sesuai permintaan Belinda. Untuk resepsinya, saya sudah siapkan dananya," ujarku menambahkan dan berharap wanita itu jadi yakin.

Biar bagaimana pun, aku sungguh-sungguh mencintai Belinda. Aku akan mencoba terus menawar pada calon mertuaku ini, tapi bukan berarti menuruti semua permintaannya.

"Bel! Kamu kok minta sedikit sekali?!" berang calon ibu mertuaku. Kedua bola matanya melotot pada anak gadisnya.

"Memangnya itu sedikit ya, Ma?" tanya Belinda polos.

"Iiih ... kamu ya. Zaman sekarang, itu cuma harga sapi doang."

"Ma ... kontrol mulutmu itu," bisik Pak Imron, ayah Belinda. Suaranya masih jelas terdengar olehku.

Pria yang sudah dipenuhi uban di kepalanya itu mencubit paha istrinya karena gemas. Benar kata orang suruhanku, mulut istrinya itu memang terkenal pedas dan asal bicara, sesuai isi hati dan pikirannya tanpa menimbang perasaan orang lain.

"Maaf ya, Pak, Bu, istri saya memang orangnya nyablak," kekeh Pak Imron membuang rasa malunya.

"Tak apa-apa, Pak Imron. Kami maklum, Belinda anak gadis satu-satunya," jawab Parjo yang dianggukan oleh Romlah. Mereka berdua adalah kedua pelayan setiaku, yang sudah kuanggap seperti orang tuaku.

"Jadi bagaimana ya? Apa bisa Minggu depan, saya kembali membawa keluarga besar ke sini?" tanyaku meminta kejelasan.

Semakin lama aku mulai muak dengan gerak-gerik dan ucapan calon ibu mertuaku itu.

"Kami serahkan semuanya pada Belinda," ujar Pak Imron mencoba mengambil keputusan sebagai kepala keluarga.

Namun tiba-tiba, Bu Yuni memukul bahu suaminya yang tua itu.

"Jangan gegabah kamu, Pak! Aku gak mau ya, anak gadisku menikah dengan laki-laki yang gak jelas bobotnya."

Hatiku rasanya seperti disengat, namun melihat sosok wanita yang kucintai seperti berusaha menenangkan ibunya, aku mencoba sabar.

"Gak apa-apa, ya, Ma. Please, terima aja Mas Aditya, ya."

"Kalau cuman bawa lima puluh juta, buat apa Bel? Kemarin pas arisan, Mama ketemu Si Roy, anaknya tante Sindi, yang lulusan luar negeri itu. Kamu inget gak? Itu temen satu kelasmu pas SMP."

Belinda mengangguk samar.

"Mereka mau datang lamar kamu, lo! Iseng Mama bilang hantaran lima ratus juta. Roy sama Mamanya langsung oke tuh tanpa babibu. Apalagi kalau cuman dua ratus juta. Gak ada tuh tawar menawar kek gini. Mama berasa lagi jual kacang aja. Kamu ikuti ngomong Mama, zaman sekarang, duit itu sumber kebahagiaan."

"Tapi gimana dong, Ma? Aku cinta sama Mas Adit," timpal Belinda nampak ragu.

"Terserah kalau kamu mau hidup miskin."

Belinda langsung menggeleng-geleng keras. Gadis berambut blonde yang terawat itu melipat bibirnya seperti berpikir. Otaknya mungkin sedang berputar menimbang-nimbang semua ucapan ibunya itu. Yang gadis itu tahu, aku hanya karyawan biasa, sebagai admin pemasaran di perusahaan tempat kami bekerja. Sedangkan dia adalah sekretaris yang memiliki gaji yang jauh berbeda denganku. Apalagi ibunya baru saja mengingatkannya tentang sosok Roy yang anak orang kaya. Hatinya pasti mulai goyah. Aku akan tunggu, apa keputusanmu, Bel?!

Kliiink!

Suara cangkir yang sedikit beradu dengan meja kaca di depannya membuyarkan pikiran Belinda. Pacarku itu menatapku lalu menunduk.

"Silahkan diminum," ucap sosok yang bersuara lembut yang sedari tadi nenyebarkan cangkir-cangkir teh. Sepintas ekor mataku melirik. Wanita berhijab yang manis.

"Bel, kamu mau kan terima lamaranku?" tanyaku menatap sendu wanita yang kucintai itu. Aku suka Belinda, gadis cantik yang energik dan cerdas.

"Gimana ya? Aku berat Mas. Apa kamu beneran gak bisa memenuhi permintaan ibuku?" tanya Belinda seperti berbisik.

"Aku cuma mampu segitu, Bel. Kamu tahu kan posisiku di kantor, baru sebagai admin pemasaran."

Aku menggenggam kedua tangganku. Nafasku sedikit tersedat. Akan sulit jika benar sesuai firasatku, Belinda akan menolakku hanya karena kurang harta.

"Kamu jangan pelit-pelit dong, Mas. Jual apa kek. Katanya kamu cinta sama aku. Kok gak ada usahamu sedikit pun. "

"Ini aku sedang usaha, Bel. Aku cinta sama kamu. Tapi kamu juga harus percaya sama aku. Aku janji, akan rajin kerja dan bahagiain kamu. Kamu percaya deh, aku pasti naik pangkat," ujarku mencoba meyakinkan calon istriku ini. Belinda hanya belum tahu siapa aku yang sebenarnya dan belum saatnya dia tahu.

"Kamu baru kerja enam bulan, mau naik pangkat dari Hongkong, Mas. Kamu minjem online ajalah Mas," usul Belinda.

Aku menghela nafasku kuat-kuat. Aku tak suka nada bicara Belinda juga usul gilanya itu. Hidup tenang itu sederhana. Salah satunya, jangan banyak gaya lalu membebani diri dengan hutang hanya untuk sebuah pengakuan.

"Jadilah intinya gimana?" tanyaku dengan nada tegas.

"Kok masih bisa nanya intinya sagala," ketus Yuni dengan mata memincing sinis.

"Anak gadisku gak ditakdirkan buat hidup miskin apalagi sama laki-laki kere. Dengar-dengar, kamu hanya admin di sana. Gimana ceritanya, bisa suka sama anakku yang sudah jadi sekretaris? Lucu."

Setiap ucapan Bu Yuni bagai sembilu bagiku. Namun aku masih menahan diri. Jawaban Belinda adalah kunci setiap tindakanku ke depan.

"Maaf, Bu. Saya ingin dengar ucapan Belinda secara langsung. Gimana Bel? Apa ucapanmu mau menemaniku berjuang itu masih berlaku?"

Belinda mengigit bibirnya. Gadis itu menatapku. Sepertinya dia sudah memiliki keputusan.

"Kamu memang tampan tapi tak modal, Mas. Mulai hari ini kita putus. Kamu cari perempuan lain ajalah."

Sejenak hanya hening di ruang itu. Kecuali suara tangan gadis pembawa teh tadi yang sedang meletakkan tisu makan di atas meja. Gadis itu seolah abai dengan segala pembicaraan di ruangan itu. Kini dia bersiap kembali lagi ke dapur.

"Baiklah. Aku akan menikahi wanita itu," ucapku menoleh padanya yang sedang melangkah menjauh.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi KUKIRA MISKIN, RUPANYA CEO

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel IPARKU, CANDU SUAMIKU
9.8
Dua tahun menikah, Nadia Antika bertahan menghadapi hinaan ibu mertuanya karena cinta tulus Askara Brahma. Namun, kebahagiaan itu sirna saat suaminya berubah menjadi tertutup dan dingin. Nadia mulai mencium rahasia besar yang disembunyikan sang suami di balik perubahan sikapnya. Mampukah ia mengungkap kebenaran yang menyakitkan? Bagaimana reaksi Nadia saat mengetahui Askara ternyata menjalin hubungan terlarang dengan adik iparnya sendiri di rumah mereka?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan