Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta

Dosa Berbalut Cinta

8.6 / 10.0
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?

Dosa Berbalut Cinta Bab 1

Teng ! Teng! Teng!

Terdengar bunyi lonceng tanda pelajaran terakhir SD Rajawali. Seluruh siswa mulai berhamburan keluar kelas diiringi guru masing-masing. Tawa-tawa ceria dan celoteh menggemaskan mereka terdengar begitu menyenangkan. Khas milik anak-anak usia sekolah dasar.

Senyum lebar para guru pun tak kalah menariknya. Di pelupuk mata mereka sudah terlihat bayangan keluarga yang menunggu dengan bahagia. Membayangkan keluarga saja, mereka sudah bahagia apalagi begitu tiba di rumah. Sambutan luar biasa akan mereka dapatkan. Entah dari anak, istri, suami atau orang tua mereka.

Ucapan say good bye, sampai ketemu besok atau pelajari lagi di rumah mengiringi akhir pembelajaran yang indah. Karena apapun yang terjadi di kelas bagi guru tetaplah kegiatan terbaik dan terindahnya. Meraka akan menuliskannya di buku catatan anekdot atau harian untuk mengenang hari-hari yang dilalui bersama anak didiknya.

Namun, kecerian mereka tidak berlaku pada Quinne Saschya. Kepala Sekolah SD Rajawali.

Di sudut ruangan yang tertulis ruang kepala sekolah, seorang wanita muda, berparas cantik terlihat resah. Berkali-kali ia menatap jam dinding dengan gelisah.

Hatinya begitu berat meninggalkan ruangan dan sekolahnya tempatnya mengabdi. Sachi, begitu panggilan wanita cantik ini. Ia begitu cemas dan panik setiap kali lonceng jam pembelajaran berakhir. Sebab, dengan berakhirnya jam pembelajaran berakhir juga surganya. Ia akan kembali ke neraka.

Begitulah, ia menyebut rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung dan bernaung.

Selama tujuh tahun ini, ia menyimpan semua resah dan gelisah sendiri. Menyimpan duka dan lukanya tanpa satu pun orang yang tahu. Bahkan sahabatnya pun tidak tahu. Apalagi guru-gurunya di sekolah, Sachi begitu pandai menyembunyikan perasaannya dari siapa pun.

Di hadapan semua orang, Sachi selalu tersenyum. Namun, saat sendiri terkadang air mata yang menemaninya.

Semua itu terjadi sejak menikah dengan Adnan. Suami yang ia cintai ternyata melukainya sedalam-dalamnya. Bukan hanya fisiknya yang terluka, tetapi juga hati dan perasaannya.

Sejak menikah, Adnan acapkali mengumpati, menghina dan mengatainya dengan berbagai cara. Padahal ia berusaha mengalah dan melakukan yang terbaik untuk suaminya. Namun, usahanya seakan tidak pernah dianggap.

Semua yang ia lakukan untuk menjadi yang terbaik versi Adnan tidak pernah membuahkan hasil. Adnan tetap memperlakukannya dengan buruk entah apa yang ada di otak suaminya. Sachi sampai tidak habis pikir.

Sachi mendengkus lirih, membayangkan apa yang akan terjadi nanti di rumah nerakanya. Disingkapnya rok coklat tua selutut yang membalut kaki jenjangnya. Di kedua pahanya tercetak bekas luka dan lebam hasil karya Adnan.

Semalam Adnan kembali memukulinya dengan keras, sesat sebelum Sachi melakukan kewajibannya sebagai istri. Rasanya begitu perih dan menyakitkan. belum lag umpatan yang sering Adnan lontarkan kapan saja kepada Sachi.

Bahkan teriakan kesakitannya tidak dihiraukan, Adnan malah semakin beringas dan terus melukainya. Entah terbuat dari apa hati suaminya? Sachi hanya bisa pasrah kepada kuasa Tuhan tanpa bisa berbuat banyak.

Ingin rasanya ia berteriak dan meminta bantuan, tetapi ia bahkan tidak tahu akan meminta bantuan kepada siapa?

Bercerita kepada teman, ia tidak yakin temannya bisa memberikan solusi. Bercerita kepada orang tua, ia terlalu takut membebani keduanya. Mendatangi psikiater, ia tidak ada keberanian bertemu dengan ahli tersebut. Seakan ada tembok besar yang menghalangi setiap ada niat untuk membebaskan dirinya sendiri.

Walaupun sesungguhnya ia sudah tidak kuat mengahadapi semua perlakuan Adnan yang ia anggap sangat menyimpang dan tidak bisa ia terima.

Sachi begitu iri dan cemburu setiap menyaksikan keharmonisan, keakraban atau kebahagiaan keluarga yang ia temui di manapun.

Sachi begitu terluka dengan pernikahannya. Dengan suaminya. Sosok yang pernah ia puja dan kagumi. Namun, kini semua lenyap tak bersisa.

Sachi merapikan roknya hati-hati, ia tidak ingin karena luka tersebut membuat jalan atau bahasa tubuhnya berubah hingga menimbulkan kecurigaan di hati setiap orang yang ia temui.

Selain di paha masih ada bekas luka lebam di lengan yang belum hilang, akibat ulah Adnan dua hari yang lalu. Hanya karena dirinya ketiduran sampai terlambat menyiapkan makan malam. Sakitnya menyerang dan merasuk ke seluruh tubuh, sebab masih ada lagi luka lain yang entah di sebelah mana lagi, Sachi sampai lupa saking banyaknya bekas di tubuh.

Namun, yang Sachi heran, dari sekian perlakuan kasar Adnan, tidak pernah sekalipun ia memukul atau menampar wajahnya. Sengaja atau tidak, hal tersebut membuat semua lukanya tidak terlihat oleh siapapun.

Semua mata bahkan menganggap rumah tangganya adem ayem, tentram, damai tanpa ada riak atau gelombang besar yang menguji. Walaupun hingga kini belum dikarunia keturunan. Semua menganggap, Sachi dan suami bahagia.

Sungguh miris hati Sachi setiap mendengar setiap pujian yang ia terima terkait rumah tangganya. Jika sudah demikian, Sachi hanya tersenyum tanpa berkomentar apapun.

Surga Sachi adalah ketika berada di luar rumah. Berkegiatan apapun untuk mengalihkan semua rasa sakit dan dukanya.

Detak jantung Sachi berdenyut semakin kencang, begitu jarum jam semakin mendekat ke angka dua dan dua belas. Karena jam kerjanya berakhir di pukul 14.00. Namun, tak jarang Sachi sengaja berlama-lama di sekolah untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Pukul 13.00, Sachi keluar ruangannya menuju ruang makan untuk makan siang. Beberapa guru sudah duduk tenang menyelesaikan makannya. Begitu melihat sang pimpinan mereka menoleh sekedar memberikan senyum, menyapa Sachi.

Sachi pun membalas dengan senyuman dan anggukan menyenangkan hati anak buahnya. Selain itu memberikan senyum termasuk sedekah. Lumayan, kan sedekah tanpa materi. Modal senyum saja. Asal tidak senyum-senyum sendiri.

Setelah mengambil menu, Sachi memilih duduk di kursi yang kosong. Selain dari guru SD, di ruangan tersebut juga digunakan ruang makan smeua jenjang dari Lembaga dibawah naungan Yayasan Rajawali, mulai pendidikan anak usia dini, SD, SMP hingga SMA.

"Bu Sachi, bagaimana kabarnya?" Seru salah satu guru yang mengenal Sachi.

"Pak Andre," balas Sachi menatap guru pria dari jenjang SMA yang meminta izin duduk di kursi kosong depannya.

"Bagaimana, akreditasinya?" Tanya Andre berbasa basi.

"Sudah ready, dan siap diajukan. Bagaimana SMA?" Balas Sachi.

"Sama. Sepertinya assesor akan datang menilai semua jenjang di hari yang sama," kata Pak Andre.

"Serius, Pak?" Sachi menatap Andre.

"Hee eemm, itu bocoran dari Mei," jawab Pak Andre berbisik.

Auto keduanya terkekeh.

"Awas saya laporkan Bu Mei, loh," goda Sachi.

"Hahaa, canda, Bu." Sachi masih saja tertawa renyah mendengar kelakar Andre, guru PJOK Sama Rajawali.

Begitulah, kepribadian sesungguhnya Sachi. Ceria, pandai membawa diri dan simpel. Banyak rekan-rekan yang menyukai Sachi secara pribadi.

Pemandangan seperti itu, sudah biasa terjadi di ruang makan guru. Keakraban antar sesama guru terjalin saat makan siang. Bahkan kepribadian Sachi sudah tidak asing lagi bagi mereka. Siapapun yang mengenal Sachi

akan langsung menyukai. Bahkan ada yang langsung akrab dan nyaman.

Sosok unik saat di hadapan orang lain. Namun, tidak bagi Adnan. Bagi Adnan, Sachi tak lebih dari luapan kekecewaan dan kemarahannya. Usianya yang sudah lebih dari setengah abad tidak membuatnya semakin mendekatkan diri pada Yang Kuasa.

Adnan malah sengaja membuat neraka bagi Sachi di rumahnya sendiri. Bagi Adnan, kesakitan Sachi adalah kebahagiaannya.

Adnan seolah terlupa, Jika ia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Sachi saat mengucapkan ijab Qabul di hadapan papa mertuanya. Ia terlupa, sejak saat itu ia berkewajiban Sepenuhnya kepada Sachi. Saat mereka saling berjabat tangan, saat itu pula kewajiban orang tua Sachi gugur berpindah pada Adnan.

Harus Adnan membuat Sachi tersenyum dan bahagia seperti kedua orang tuanya yang melimpahkan banyak cinta dan kasih. Namun, nyatanya ia menyakiti wanita yang mendampinginya.

**

bersambung

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Dosa Berbalut Cinta

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Sampul Novel Misteri matinya teman-temanku
8.6
Satu demi satu nyawa teman, keluarga, hingga mereka yang pernah menyakitiku terenggut secara brutal. Kematian tragis ini menyisakan kengerian mendalam karena sang pelaku sangat lihai menghapus jejak, membuat identitasnya mustahil terungkap. Di tengah kepungan teka-teki gelap yang penuh misteri, korban terus berjatuhan tanpa henti. Naasnya, aku yang menjadi tokoh utama dalam kisah kelam ini pun tak luput dari incaran maut yang mengintai dari balik bayangan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan