
Jiwa Yang Tertukar
Bab 2
Herdi bertemu rose di sisi pantai sambil membawa koper bersama swift setelan pakaian minim dengan gaya rambut bergelombang.
Saat itu cuaca cukup mendung ia pun terburu-buru berbincang bersama herdi. Swift yang tak suka pria lokal selalu menjaga jarak duduk berjauhan.
"Jangan pulang sekarang apakah bisa di undur besok saja" ujar herdi sambil tersenyum lalu memberikan satu permen berbentuk hati.
"Aku ada keperluan dengan kakak dia akan tinggal di jakarta bersamaku. Tentunya dia membutuhkan kunci apartemen selain itu ada kepentingan yang harus segera di selesaikan. Sahut rose sambil membuka plastik berisi permen lalu menjilatnya.
"Baiklah aku tak memaksa tapi jujur saja. Merindukanmu setiap saat kita bertemu lagi kan?"
"Ya kita pasti bertemu lagi bukankan dari jakarta ke bogor itu dekat. Jangan khawatir aku akan segera menghubungimu dan terima kasih permen ini." Sebelum pergi mengecup keningnya rose meninggalkan tempat itu masuk ke dalam mobil.
Ovi yang melihatnya dari atas loteng tempat resto langsung turun menuju saung.
"Wah cantik juga kekasihmu her, ngomong-ngomong teman bule itu namanya siapa."
"Tentu saja cantik sebentar lagi akan aku lamar. Namanya swift." Sambil membawa tas kecil kembali ke hotel.
"Jangan lupa undang aku ya kalau jadi nikah sama bule itu" sedikit menyenggolkan ujung pundak kepada herdi.
"Ya akan aku undang untuk bantu cuci piring" canda herdi lalu lari masuk ke dalam hotel.
Ovi yang kesal langsung mengejar sambil melepas sandal jepit untuk menepuk kepalanya.
Beberapa hari kemudian herdi kembali ke bogor, ia mempunyai rumah hasil jerih payahnya sendiri di salah satu perumahan. Namun, lingkungan itu penuh dengan ibu-ibu yang suka bergosip.
Saat itu herdi pulang kerja menggunakan motor lalu turun di depan pintu pagar, mendorong secara perlahan. Seorang perempuan yang lebih tua darinya mendekat sambil mendeham.
"Eh herdi baru pulang ya, kasihan sendiri terus apa tidak bosan semua di lakukan sendiri. Nikah saja denganku lagipula sudah lama menjadi janda." Lirik janda genit sambil membuka maskernya.
Herdi yang kaget melihat lipstik yang berantakan hingga ke dagu dan hidung membuatnya salah tingkah, hanya tersenyum lalu masuk mengunci rumah.
"Hampir saja aku di mangsa singa laut" bergidik.
Herdi yang sendirian berada di rumah selalu menjadi pusat perhatian ibu-ibu di sekitar membuat para suami cemburu, karena selain tampan mempunyai pekerjaan yang mapan di perusahaan swasta sebagai arsitek.
Sementara rose yang bekerja sebagai guru les bahasa inggris di jakarta akan segera di lamar oleh hendri.
Seminggu kemudian ibunya menyiapkan acara resepsi di gedung. Biaya pernikahan di tanggung oleh herdi dari hasil tabungan selama 4 tahun bekerja. Ia tak mau seperti temannya yang menghabiskan uang 100 juta hasil pinjam ke bank hanya untuk pernikahan selama 5 tahun menderita, membayar angsuran hingga sulit telat membeli rumah karena hutang.
Ovi yang berada di rumah herdi membantu mengurus undangan bertanya-tanya tentangnya bagaimana cara menabung hingga ratusan juta yang ia dapatkan dari gaji bulanan sebesar 15 juta.
"Aku masih cukup jauh mendapatkan gaji sebesar itu her, ya cukup apa sih gaji 3 juta untuk desainer grafis sepertiku. Bahkan kenaikan gaji hanya 350 ribu per tahun." Keluh ovi yang bekerja di salah satu perusahaan namun sibuk kerja lembur.
"Ya sabar saja semua butuh proses. Aku sih kalau mau menikah ya siapkan dulu biaya untuk menikah jangan sampai meminjam uang ke koperasi atau bank ya tentunya biaya untuk membeli rumah sangat sulit. Teman SMA ku berhutang cukup banyak untuk resepsi pernikahan di hotel bintang 5 tetapi sesudah menikah numpang di rumah mertua." Ujar herdi menasihati temannya yang belum menikah.
"Nah itu aku sering mendengar kerabatku terlilit hutang setelah menikah, apalagi keponakanku jadi bahan omongan keluarga pria. Dia tak tahu apa-apa tentang hutang suaminya. Terlagi punya kredit motor selain berhutang pada bank karena acara resepsi pernikahan."
"Banyak yang seperti itu. Di tuntut cepat kaya padahal hanya pegawai bukan pengusaha. Untuk menyelesaikan hutang pernikahan saja 5 tahun, untuk mengajukan kredit rumah tentunya menunggu setelah lunas angsuran. Jadi, giatlah menabung jangan sampai di hambur-hamburkan hanya untuk bersenang-senang."
"Baik her, terima kasih." Ovi yang agak tengil mulai sedikit dewasa selama berjam-jam membahas tentang rumah yang ia beli secara tunai dan mengadakan resepsi pernikahan tanpa berhutang.
Ibunya yang bernama yeni sudah pulang sambil membawa berkas untuk di tanda tangani oleh herdi.
"Kalian rajin sekali ayo lanjutkan. Her, teman ibu memuji calon isterimu katanya cantik sekali." Herdi tertawa tipis hanya menganggukkan kepala.
"Ya cantiklah bu apalagi menggunakan kebaya terlihat lebih cantik lagi" sahut ovi memuji rose.
Malam tiba...
Herdi tidur di kamar sambil memeluk guling berharap pernikahannya dengan rose berjalan lancar, kemudian menatap foto rose di layar ponsel lalu mengecupnya berkali-kali.
Ibunya mengintip di balik pintu tak kuasa menahan tawa lalu berjalan kembali ke ruang makan.
Rose tampak gugup malam itu hitungan hari akan menikah dengan pria pujaan hatinya. Namun, ia di tuntut menjadi ibu rumah tangga karena herdi ingin menghabiskan banyak waktu bersama isterinya nanti apalagi jika di karuniai anak.
"Apakah aku bisa sabar berada di rumah sepanjang hari?? Ya sepertinya bisa" ujarnya mengajak berbicara ke salah satu temannya yang bernama swift sambil bercermin.
"Pasti akan terasa jenuh, tapi kalau kamu punya keahlian sebagai pekerja lepas bisa saja waktumu tidak terbuang sia-sia selama belum di karuniai anak."
Sahut swift yang sedang rebahan di atas ranjang sambil membaca buku novel.
"Sepertinya menjadi guru les online saja temanku mendapatkan uang sebanyak 4 juta per bulan. Lumayan sih untuk menabung nanti kan herdi yang menjadi pemimpin bukan aku. Di indonesia memang budayanya berbeda dengan negara kita."
"Ya ku rasa begitu tetapi aku tak tertarik menikah dengan pria asia. Membuatku lelah ketika berhadapan dengan tanggung jawab sebagai seorang isteri." Ledek swift.
"Tak ada yang memaksamu dia pria yang berbeda ku rasa akan menjadi pedamping hidupku hingga akhir hayat" rose tampak bahagia sambil mengikat rambutnya.
"Mungkin saja. Aku hanya bisa mendoakan." Singkatnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Serius amat sih baca novel apakah tentang kisah percintaan" ujar rose berjalan mendekat sambil sedikit membungkuk ketika duduk di samping swift.
"Ya kisah percintaan, aku suka sekali penulis novel angelica sangat menghayati. Hingga menulisnya dengan alur cerita yang luar biasa, terkadang tanpa di sadarai melakukan cocoklogi dalam hidupku sendiri. Karena sesuai dengan perasaanku malam ini." Swift langsung duduk memberikan novel itu pada rose agar di baca dari awal.
"Baiklah jangan menggangguku, akan ku baca. Dengan syarat jangan berisik." Swift langsung menarik selimut lalu tidur membelakangi rose yang sedang asyik membaca novel.
Beberapa jam kemudian rose tampak menguap, menaruh ikat rambut di atas meja dan buku novel yang sudah ia tandai. Kemudian mematikan lampu tertidur pulas bersama temannya swift yang sudah lebih dulu tertidur. Selama 5 menit wajah herdi selalu terbayang-bayang dalam benaknya. Akhirnya ia bisa tertidur pulas.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





