
Jiwa Yang Tertukar
Bab 3
Awal kehidupan berumah tangga dengan herdi, rose menata semua ayam di atas piring besar beserta sambal terasi kesukaan herdi. Hanya satu menu saja karena itu makanan kesukaan rose ia tak menyukai menu lainnya karena berbeda kebiasaan.
Rose yang terbiasa makan sapi panggang, kentang goreng, burger dan beberapa menu ala barat yang sudah menjadi asupan makanan sehari-hari, sementara ia sudah menikah memaksakan dirinya beradaptasi.
Beberapa hari kemudian...
Herdi pulang kerja jam 7 malam menu yang sama masih tak berubah tetap ayam goreng atau ayam krispi membuat herdi jenuh. Terkadang ia membeli makanan dari luar yang ia bungkus untuk makan di rumah.
Rose tampak biasa saja tanpa menghiraukan keluhan herdi, ia nonton televisi sambil menyantap satu buah pir. Herdi menatap sinis di ruang makan yang tak jauh dari ruang televisi.
"Pekerjaanmu setiap hari begitu saja. Apakah tak sebaiknya meluangkan waktu belajar memasak." Bergumam dalam hatinya sambil menggelengkan kepala.
"Gimana makan ayamnya enakkan, kemarin kita sudah makan ayam krispi sekarang ayam bakar besok kita makan ayam goreng saja ya." Duduk di samping herdi.
"Sekalian ayam hidup" sambil menaruh gelas dengan kasar lalu masuk ke dalam kamar.
Rose mengelus dada sambil menatap ke pintu kamar, ia mengetuk pintu berkali-kali tetapi herdi tak menghiraukan ucapannya.
Sambil berjalan ia mematikan televisi lalu masuk ke dalam kamar. Duduk di meja rias sambil menatap ke cermin. Mencubit pipinya berkali-kali.
"Ku harap ini hanya mimpi, herdi yang ku kenal romantis seketika berubah jahat padaku hanya karena makanan." Keluh rose yang kecewa.
"Baiklah, aku akan membeli makanan kesukaanmu ya menu indonesia seperti perkedel, jengkol dan sebagainya walaupun aku tak suka makan jengkol. Bau...!!" Sambil menutup hidung.
Pagi hari...
Rose berjalan sendirian berjalan kaki salah satu ibu-ibu menghalangi jalannya sambil berteriak "Bule kw mau kemana" membuat rose geram. "Maksudmu apa?? Aku bukan bule kw, asli dari jerman." Tegas rose melanjutkan perjalanan.
"Paling juga ngaku-ngaku saja, aku juga bisa sepertimu suntik putih rambut di cat blonde." Sambil menjemur pakaian suaminya yang mata keranjang mengintip di balik tembok tersenyum lirih.
Isterinya yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah langsung melemparkan ember, melotot seperti setan.
"Aku lagi lihat kucing kawin bukan lihat bule itu" langsung lari terbirit-birit segera pergi bekerja.
"Awas saja kalau ketahuan mengintip lagi memangnya kurang cantik apa aku ini" teriak olla.
Rose berjalan masuk ke dalam rumah makan memilih menu, penjual masakan sedikit ingin tahu.
"Tumben mba tidak borong ayam lagi, sudah bosan ya." Ujar perempuan itu sambil melayani.
"Ya aku bosan, ini apa." Sahut rose menunjukkan jarinya dari balik kaca etalase ke salah satu makanan berbentuk bulat berwarna hijau.
"Ini leunca enak mba pakai oncom rasanya pedas manis, mau berapa porsi." Sambil mengaduk makanan.
"Dua porsi saja" kemudian memilih rendang jengkol, tempe goreng dan ikan kembung." Karena mengantri salah satu tetangga berada di barisan belakang berbisik pada temannya.
"Ini bule kw tak pernah masak tiap hari beli saja. Dasar pemalas, kemarin aku kehabisan ayam di borong sama dia kurang ajar bukan"
"Sudahlah dia tidak merepotkan hidup kita kok ibu yang repot sendiri. Memangnya ibu yang jadi kepala keluarga." Sindir perempuan berparas cantik menggunakan kacamata minus.
"Iya juga sih tapi aku tak suka saja sama bule ini" sambil melipat kedua tangannya di perut"
Rose membalikkan tubuhnya lalu berjalan mendekati abang ojek online, kemudian pergi menggunakan sepeda motor.
"Masa sih segitu dekatnya pakai motor, malas jalan kaki." Cerocos perempuan berambut merah.
Rose yang sudah membeli lauk pauk lupa membeli beras ia langsung belajar nanak nasi melalui konten youtube. 20 menit berlalu nasi matang ia segera mengaduknya. Untuk pertama kalinya ia bisa menanak nasi dan goreng telur.
Karena kelelahan setelah mencuci pakaian tak sempat menggunakan kosmetik atau mengganti pakaian. Herdi yang berada di meja makan langsung menyantap makanan dengan senang hati. Karena menu yang berbeda dari hari sebelumnya. Tetapi merasakan ada yang aneh dengan nasi dan telur.
"Terima kasih rose, besok aku ingin makan soto kuning tapi di rumah makan seberang dekat kampus." Rose menganggukkan kepala sambil mengelap keringat di kening.
"Kamu tampak capek hari ini istirahatlah. Nanti malam jangan lupa pakai-pakaian itu sambil mengedipkan mata."
"Aku seperti penghibur saja, bisakah berbicara di waktu yang tepat bukan di dapur seperti ini." Bergumam dalam hatinya.
Karena tubuhnya yang kelelahan ia tertidur pulas di atas ranjang sambil mendengkur, sontak herdi terkejut. Untuk pertama kalinya mendengar dengkuran sekeras itu langsung tidur di kamar sebelah menutup pintu.
"Kamu tak memuaskan aku rose, pulang kerja itu membutuhkan hiburan, kepuasaan dan pelayanan yang baik." Sambil melemparkan ponselnya ke meja.
Kring....
"Ya halo ibu ada apa" ujar herdi
"Nak, bagaimana kabarmu." Sahut ibu yeni.
"Kacau bu. Aku bosan berumah tangga dengan rose. Membuat nasi yang masih setengah matang banyak kutunya dan telur goreng yang gosong asin." Mengeluh selama satu jam hingga kuping ibunya panas karena terlalu banyak keluhan akhirnya telepon itupun terputus.
Nut..nut..
"Ah aku ingin tidur sepuasnya sampai besok siang, nikmati hari libur. Kerja itu melelahkan pelayananmu mana." Cerocos herdi seperti mulut perempuan.
Sekitar jam 2 malam terdengar suara piring jatuh di dapur, kemudian ia terbangun karena berisik. Akhirnya membuka pintu pemandangan yang tak mengenakkan. Melihat tikus sebesar anak kucing berlari masuk ke dalam lubang cuci piring yang terbuka.
"Rose..!!" Teriak herdi.
"Ya ada apa bisakah memelankan suaramu" lalu menoleh ke bawah di mana ekor tikus terlihat di lubang tempat cuci piring yang sulit masuk ke dalam.
"Kamu jorok sekali sih jadi isteri. Kan sudah ku katakan berapa kali tutup pintu karena banyak tikus di perumahan ini bisa menyelinap masuk tanpa kamu sadari. Ayo bersihkan dapur." Sambil menghentakkan kakinya lalu masuk ke dalam kamar.
Rose yang sedari tadi menganggukkan kepala mengikuti aturannya, padahal tak pantas seorang suami menggerutu seperti itu kepada isterinya.
"Apakah aku mendapatkan bayaran untuk ini?? Bahkan kamu tak mampu membelikan aku perhiasan. Alasannya membayar kredit rumah tetapi mengatakan pada teman-temanmu di beli secara tunai. Luar biasa." Ketus rose yang mulai geram.
"Aku tak tahu sifat aslimu beginilah jadinya aku seperti babu dari jerman. Lihat kulitku kusam seperti ini kurang vitamin. Setidaknya memberikan aku uang untuk perawatan kulit." Sambil memungut pecahan piring.
Jam 5 pagi rose tertidur di meja makan, herdi yang ke luar kamar membiarkan rose hanya membawa segelas air lalu minum perlahan. Sambil menghina dengan kata-kata kasar. Padahal rose mendengarnya hanya mata saja yang tertutup.
"Bule macam begini sih di pasar bali juga banyak. Aku rugi menikahimu" sedikit meninggikan suaranya.
Rose mulai merasakan sedih air matanya menetes ke meja, lalu berjalan perlahan ke atas melewati anak tangga. Ia segera menjemur pakaian yang sedikit kering sambil menekukkan wajahnya seakan penuh kecewa. Berharap herdi menyesali ucapannya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





