
Beri Aku Kesempatan Kedua
Bab 2
Perjalanan menuju kota tempat dimana Sagara dan keluarganya tinggal memakan waktu kurang lebih tiga jam. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, Ishvara tidak banyak bicara. Ia sesekali hanya menyimak apa yang Sagara ceritakan.
Pria berambut gondrong itu mengungkit kenangan masa lalu melalui cerita-cerita yang dirinya bahas. Berusaha membangkitkan ingatan gadis itu. Mencoba membuat Ishvara merindukan masa sewaktu kecil dulu.
Dulu, ketika keluarga Ranjaya memilih hidup di pedesaan, ketiga anak laki-lakinya mengakrabkan diri dengan Ishvara — gadis kecil yang umurnya jauh lebih muda dari mereka bertiga. Meski begitu, mereka mudah untuk bergaul.
Tapi tidak dengan Kalandra. Seperti yang sudah Sagara katakan, kakak sulungnya itu sejak kecil memang sulit berbaur. Sesekali saja ikut bermain, itu pun mesti dipaksa. Wajar jika Ishvara tidak begitu mengingat sosok Kalandra.
“Oh, ya. Bagaimana kabar Nagendra? Kau terlalu banyak menceritakan Kalandra sampai-sampai kakak keduamu tidak kamu ceritakan.” Ishvara mengalihkan topik, rasanya gumoh mendengar cerita Sagara yang terus menyanjung Kalandra.
Sebagai pengusaha sukses karena memiliki restoran mewah dengan cabang di mana-mana, serta pernah menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan peninggalan sang ayah, Ishvara rasa itu sudah cukup menjelaskan bagaimana kehidupan Kalandra saat ini.
“Hm, Nagendra? Sudah lima tahun ini dia tinggal di luar negeri. Dia punya kehidupan sendiri. Aku jarang mendengar kabarnya sebab dia selalu sibuk. Jadi aku sendiri bingung harus menjelaskan apa padamu. Tapi yang jelas, dia baik-baik saja. Dan dengar-dengar akan menikah tahun ini,” jawab Sagara apa adanya.
Ishvara angguk-angguk. Mendengar cerita ketiga kakak beradik itu membuat dirinya merasa seperti tertinggal amat jauh. Padahal sewaktu kecil, selama bertahun-tahun mereka bertiga tumbuh bersama. Tapi Ishvara merasa hanya dirinya saja yang tidak memiliki kehidupan baik seperti mereka.
“Syukurlah. Aku turut senang mendengarnya. Lalu, kau sendiri bagaimana? Jika Kalandra menikah, lalu Nagendra juga menyusul untuk menikah. Apa kau punya rencana menikah dalam waktu dekat ini?” tanya Ishvara tanpa menoleh padanya.
Sagara mengulas senyum. “Ya, sepertinya. Tapi yang terpenting sekarang Kalandra saja dulu. Aku tak apa. Karena kasihan melihatnya sendirian, dia selalu diberi sindiran oleh orang-orang sebab tak kunjung menikah. Aku yakin, dia akan senang saat melihatmu kembali nanti.”
Saat Ishvara berumur 15 tahun, keluarga Ranjaya pindah ke kota besar karena pekerjaan sang kepala keluarga yang dipindahkan. Saat itu umur Kalandra 22 tahun, Nagendra 19 tahun, sementara Sagara 17 tahun.
Mereka cukup dewasa untuk mengingat apa yang sudah mereka lakukan bersama Ishvara semasa tinggal di desa. Tapi setelah belasan tahun berlalu, Ishvara tak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan mereka.
Terlebih lagi Ishvara diminta untuk menikah dengan salah satu dari ketiga laki-laki—teman-temannya di masa lalu. Dan sialnya, kenapa harus dengan Kalandra? Cowok dingin minim bicara itu tidak banyak meninggalkan kenangan indah dalam ingatannya.
***
“Biarkan baju-bajumu yang ada di dalam koper dibawa oleh satpam. Kita masuk saja ke dalam. Kalandra pasti sudah menunggu,” ajak Sagara sambil berjalan memandu Ishvara.
Mereka berdua berjalan beriringan melewati pintu utama dari rumah mewah dua tingkat dengan cat putih bersih yang mendominasi penglihatan. Bagi Ishvara yang sudah serupa katak dalam tempurung, tentu saja ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki pada rumah seperti ini.
“Dia pasti ada di lantai dua. Dia tinggal sendirian, hanya ditemani oleh asisten rumah tangga saja,” ujar Sagara memberitahu.
Atensi Ishvara yang semula sibuk menggulirkan pandangan untuk mengabsen seluruh penjuru tempat di rumah ini, mendadak maniknya itu membola ketika mendengar penjelasan Sagara. “Tinggal sendirian di rumah sebesar ini? A-aku pikir kalian tinggal bersama.”
Sagara tertawa tanpa suara, menunduk sebentar. “Mana bisa. Dia itu tidak suka ada orang lain yang mengusik privasinya. Sekali pun itu aku yang notabenenya adalah adiknya sendiri, dia tetap tidak mau.”
Ishvara hanya bisa diam sambil memikirkan berbagai macam pertanyaan yang satu per satu mulai muncul dalam benaknya ; apa sesulit itu Kalandra membuka diri pada orang lain?
Setelah menaiki tangga untuk sampai ke ruangan dimana Kalandra berada, akhirnya mereka sampai juga. Sagara dengan santai dan tenang membuka pintu, mempersilakan Ishvara masuk terlebih dahulu.
Ruangan yang lumayan luas itu di desain seperti ruang pribadi untuk bekerja. Ada satu rak lemari khusus untuk buku-buku yang disusun rapih. Beberapa furniture ruangan seperti sofa dan lain-lainnya pun begitu lengkap.
Meja dekat kaca jendela besar yang tertutup gorden putih transparan diisi oleh tumpukan dokumen-dokumen, serta satu buah laptop dibiarkan menyala menghadap seorang pria berkacamata yang sedang asik menggerakan jarinya pada keyboard.
Ishvara meneguk ludah. Belum beradu pandang dengannya saja tubuhnya sudah terasa panas dingin. Menyadari betapa jauh jarak atau sekat yang membentang antara dirinya dengan Kalandra — pria berwajah datar itu.
“Kak Kalandra,” panggil Sagara tenang.
Pria yang sedang sibuk sendiri itu akhirnya mulai menyadari kedatangan dua orang yang kini sudah berdiri menghadapnya. Karena terlalu fokus pada pekerjaan, Kalandra tak menyadari ada yang datang.
Kacamata yang bertengger pada batang hidungnya ia lepaskan. Mengamati dengan lekat sosok wanita berwajah kusam lengkap dengan pakaian lusuhnya itu dengan perasaan jijik. Dalam pikiran Kalandra bertanya-tanya, apa mungkin dia Ishvara? Gadis yang ia temui 18 tahun lalu?
Kalandra benar-benar tidak bisa mempercayainya.
“Ha-halo.” Ishvara tersenyum kikuk untuk menyapa, berusaha meniadakan ketegangan yang tercipta di sini.
Sagara mendempetkan tubuhnya dengan Ishvara, merangkul bahu gadis berambut panjang itu. “Dia Ishvara. Teman kita sewaktu di desa. Bukankah dia tidak berbeda jauh dengan yang dulu?” Sebelah matanya mengedip, memberi kode pada kakak sulungnya itu.
Kalandra mengangguk singkat. “Ya. Terima kasih sudah mengantarkannya ke sini. Sekarang kau boleh pergi. Giliran aku yang mengobrol dengannya di sini. Hanya empat mata dan pastikan tidak ada orang lain yang akan datang ke sini,” perintahnya tegas.
“Baik. Aku akan keluar. Silakan mengobrol dengan leluasa. Aku tidak akan mengganggu.” Sagara perlahan memundurkan tubuhnya, meninggalkan Ishvara yang terlihat kebingungan.
“Eh, ta-tapi...”
“Duduklah,” suruh Kalandra pada Ishvara, ia tidak mau basa-basi.
Masih dengan perasaan canggung, Ishvara mendudukan tubuhnya pada kursi yang lebih mendekatkan pandangannya untuk bertatapan dengan Kalandra. Tatapan dingin dari pria itu terasa menghunus, membuat Ishvara tidak nyaman.
Kalandra menegapkan punggungnya, menautkan seluruh jemari tangannya di atas meja. Pandangannya tidak dialihkan sama sekali dari Ishvara yang terus menggulir kedua bola matanya dengan gelisah.
“Kau tahu, 'kan, kenapa kau ada di sini?”
Ishvara mengangguk, tetapi maniknya masih enggan bertemu dengan Kalandra. Jadi sebisa mungkin ia menatap sembarang arah atau pun menundukkan kepala.
“Sebelum itu, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu. Senang bisa bertemu denganmu lagi pada kesempatan ini,” ucap Kalandra, sedikit membuat perasaan canggung Ishvara perlahan memudar.
“Terima kasih juga sudah mau bekerja sama denganku,” sambung Kalandra, tapi mendengar ini malah membuat Ishvara ambigu.
“Bekerja sama? Dalam hal apa?” Ishvara memberanikan diri untuk bertanya, kini ia bisa melihat dengan jelas jelaga hitam milik pria itu.
Kalandra ikut bingung. Keningnya terlihat mengerenyit. “Lho, apa Sagara tidak memberitahumu?”
Kalandra bingung, Ishvara lebih bingung. Memangnya apa yang seharusnya Sagara beritahu pada Ishvara? Kenapa ini terdengar janggal? Sungguh, di sini Ishvara mulai tak enak perasaan.
“Pernikahan yang akan kita jalani ... Hanya sebatas kontrak semata,” imbuh Kalandra untuk menjelaskan, tak mau kalau Ishvara dibuat bertanya-tanya lebih lama.
“Eh? Apa? Kenapa seperti itu?” Ishvara tidak tahu harus berekspresi seperti apa, yang jelas saat ini hatinya seperti jatuh ke dasar paling dalam, rasa terkejutnya menimbulkan sakit.
“Kau bertanya? Sudah jelas karena di sini aku memiliki seorang kekasih,” balas Kalandra sedikit sewot.
Melihat ekspresi yang dibuat Ishvara mengundang rasa kasihan, ia bisa menduga apa yang sebenarnya sudah Sagara lakukan pada gadis malang itu. Entah bujuk rayu seperti apa yang dikatakannya, tapi di sini Kalandra tidak akan melepaskan Ishvara jika semisal dia tiba-tiba menolak.
“Ke-kekasih? Tapi ... Bagaimana dengan surat wasiat yang dikatakan Sagara? Dia bilang—”
“Pftt! Hahaha!” Kalandra menggelak tawa puas, tangannya memukul-mukul meja karena merasa geli melihat mimik Ishvara yang terlihat sangat menyedihkan.
“Surat wasiat?” Kalandra pura-pura menyeka air mata, aura iblisnya mulai nampak. “Aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan sampai bisa membawamu ke sini. Tapi akan kuperjelas, bahwa tidak ada surat wasiat atau apa pun hal bodoh yang sudah dia katakan padamu.”
Sial, ternyata Ishvara sudah ditipu oleh Sagara. Namun apa tujuan mereka melakukan semua ini padanya? Bukankah pertemuan setelah 18 tahun ini tidak lucu jika mereka hanya ingin bermain-main?
Tes!
Ishvara tak sadar menjatuhkan air matanya, wajahnya sudah memerah karena menahan isak tangis dan rasa sesak yang kian bergumul dalam dada. Tangannya yang mengepal di atas paha pun membuat kuku-kuku jemarinya memutih sebab terlalu kuat meremat.
“Oh, ayolah. Apa yang harus kau tangisi? Bukankah ini hubungan simbiosis mutualisme? Dengan menikah denganku, kau akan diberi kehidupan yang layak. Aku dengar kehidupanmu di desa jauh lebih menyedihkan dibanding dulu.”
“... Seharusnya kau berterimakasih padaku, jika orang-orang di desa mengetahui kabar bahwa kamu menikah dengan pria sekaya diriku, mereka pasti tidak akan lagi memandang rendah dirimu,” tambah Kalandra, terus saja melontarkan kalimat menyakitkan.
“Aku punya satu pertanyaan,” ungkap Ishvara dengan rahang yang mengetat, terlihat sedang berusaha menahan emosi yang siap akan meledak.
“Katakan.” Kalandra masih tetap sama, wajahnya tenang namun siapa pun bisa mengendus aura angkuhnya.
“Jika kau memiliki kekasih, kenapa kau membuat pernikahan kontrak denganku?!” teriak Ishvara, sebelum akhirnya tangisannya meledak dan dadanya naik turun tak beraturan.
Kalandra menyunggingkan senyum, sebelah tangannya dipakai untuk bertopang dagu. “Jika bisa, aku akan menikahinya. Tapi karena situasinya sedikit rumit, maka aku memilih jalan ini. Jalan di mana kita harus terlibat dalam pernikahan sandiwara.”
Ishvara geleng-geleng kepala, semakin tidak mengerti dengan situasi ini. “Kenapa harus aku? Kenapa kau tidak mencari wanita lain?” Suaranya terdengar bergetar, air matanya semakin jatuh bercucuran.
Bagai psikopat tak memiliki hati, Kalandra santai-santai saja melihat Ishvara yang menangis tersedu-sedu karenanya. Dirinya bahkan semakin berbesar kepala. Merasa itu adalah tontonan yang menyenangkan.
Sambil menarik sudut bibir dan menunjukkan tatapan mengejek, Kalandra berkata, “Karena hanya kau yang mudah dibawa ke sini dengan sebuah alasan embel-embel ‘surat wasiat’ dan aku yakin, satu rupiah pun Sagara tidak memberimu uang kan? Jika aku mencari wanita lain, aku harus siap menggelontorkan banyak uang.”
“Dasar gila!” umpat Ishvara dengan dada kembang kempis. “Bajingan kau!” tambahnya kian berapi-api.
Kalandra membuat downward smile seraya mengangkat kedua bahu. “Begitulah orang-orang menanggilku.” Dia menganggap apa yang dikatakan wanita itu seperti pujian.
Ishvara kembali tertampar kenyataan pahit. Sempat berkhayal tentang kehidupan normal penuh kebahagiaan yang diidam-idamkan para wanita di luaran sana, mengapa dirinya malah terjebak dalam situasi seperti ini?
“Aku tidak seharusnya ada di sini!” Ishvara berdiri dari kursi. Kadung tersulut emosi, dirinya tak bisa lagi diam dan hanya mendengarkan ocehan tak bermutu Kalandra.
“Aku akan pulang kembali ke kampung,” putus Ishvara tegas yang sudah berancang-ancang melangkah pergi, siap meninggalkan ruangan. Dengan gesit kedua kakinya berderap, suara langkahnya terdengar grasak-grusuk.
“Mau ke mana? Kau pikir bisa pergi begitu saja?” Kalandra dengan wajah tenangnya berjalan mendekati Ishvara yang sedang kesulitan membuka pintu.
“Buka! Siapapun yang ada di luar tolong buka pintu ini!” Ishvara berteriak hingga urat-urat di lehernya nampak, tangannya yang gemetaran masih berusaha membuka knop pintu.
“Usahamu itu sia-sia, kau tidak akan bisa pergi ke mana-mana setelah ada di sini. Jadi, hapus air matamu itu. Berhentilah menangis.” Kalandra sudah berdiri tepat di belakang tubuh Ishvara yang lunglai dekat pintu.
“... Lebih baik tanda tangani surat perjanjian ini.” Kalandra mengeluarkan selembar kertas dari balik jas nya. “Aku ingin pernikahan kita dilakukan secepatnya.”
***
Anda Mungkin Juga Suka





