
Beri Aku Kesempatan Kedua
Bab 3
“Tanda tangani katamu?!” geram Ishvara sambil membalikkan badannya, tak takut lagi menatap pria angkuh di depannya. Menghunus Kalandra dengan sepasang mata melotot, penuh gurat kemerahan.
BRAK!
Ishvara menggebrak pintu yang masih terkunci, lalu merampas kertas yang berisi surat perjanjian di tangan Kalandra, lantas ia remat-remat. Siap dilemparkan pada wajah Kalandra yang tanpa dosa malah tersenyum merendahkan.
“Persetan dengan surat perjanjian yang kau berikan!”
Pluk!
Kepalan kertas yang sudah ia remat mendarat sempurna di wajah Kalandra. Ishvara benar-benar tak bisa mengontrol diri, emosi membuatnya menggila. Masih tidak menyangka dirinya akan dipermainkan seperti ini.
Ishvara berdiri dari kursi. Nafasnya yang memburu membuat dadanya berdebar kembang kempis. Perlahan dari setiap tarikan nafas yang dilakukannya, ia merasa tidak ada oksigen yang masuk. Amat menyesakkan.
“Orang gila mana yang mau menjalani pernikahan kontrak seperti ini? Menurutmu aku ini perempuan seperti apa? Jangan karena aku miskin, kau memandangku seolah-olah aku adalah seseorang yang mau mengobarkan apa pun hanya demi uang!” teriak Ishvara, wajah merahnya menandakan kalau emosi sudah mencapai ubun-ubun.
“Cari saja wanita lain. Aku akan pulang kembali ke desa! Dan lupakan bahwa saat dulu kita pernah berteman.” Ishvara mengatakannya dengan tegas, setelahnya selama seperkian detik Ishvara menahan napas.
Lalu mengumpat dengan penuh penekanan, “Dasar bajingan! Cepat keluarkan aku dari sini!” Kedua matanya membulat sempurna untuk menyorot wajah Kalandra yang tampaknya sama sekali tak terusik.
Melihat Ishvara yang sudah naik pitam dan kehabisan kesabaran, tanpa mengatakan apa-apa Kalandra berjalan maju ke depan untuk membuka pintu yang terkunci. Lalu membiarkan pintu itu terbuka lebar-lebar, seperti mempersilakan jika memang Ishvara ingin keluar.
Ketika Ishvara keluar ruangan dengan langkah tergesa, menghentak-hentak lantai seraya mengeluarkan umpatan-umpatan kasar, Kalandra masih bergeming di tempatnya tanpa menunjukkan akan memulai pergerakan untuk menghentikan Ishvara.
Menuruni tangga begitu terburu-buru, Ishavara semakin menangis tersedu-sedu. Tangannya tak letih mengusapi cairan bening yang terus membasahi pipinya.
Mencari kemana perginya Sagara, Ishvara sudah siap untuk memaki-maki pria berambut gondrong itu karena sudah berani menipunya. Tapi setelah mencari-cari ke berbagai sudut tempat, hasilnya nihil.
Mencoba berjalan keluar rumah, Ishvara tidak melihat mobil Sagara terparkir di pekarangan rumah. Dadanya memanas, terasa bergemuruh. Rasa kalut sudah menyelimutinya.
Untuk memastikan, Ishvara mencoba bertanya pada satpam yang berjaga. Menanyakan apakah Sagara pergi dengan mobilnya atau tidak.
“Sekitar lima menit yang lalu Tuan Sagara pergi dengan mobilnya.”
Mendengar jawaban itu, pertahanan tubuh Ishvara akan meluruh. Pria itu melarikan diri sebelum sempat Ishvara meminta pertanggung jawaban. Ia pergi bersama Sagara, jika ingin pulang Ishvara tidak tahu harus apa dan belum tahu bagaimana kehidupan di kota besar.
“Kau tidak akan bisa pulang sendiri, 'kan?”
Suara itu ... Milik si brengsek yang mencoba memperdaya Ishvara.
Derap langkah kaki yang terdengar kian mendekat, mampu membangkitkan bulu kuduk Ishvara yang meremang takut. Bisa dirasakan betapa kuatnya hawa menakutkan yang menguar dari aura pria itu.
“Masuk! Kau harus istirahat setelah melakukan perjalanan jauh,” perintah Kalandra sambil memegang bahu Ishvara.
Tapi Ishvara menepisnya dengan kasar. “Jangan sentuh aku! Meski tidak tahu seperti apa kehidupan di kota besar, aku akan tetap nekat pergi dari rumah ini. Setidaknya itu lebih baik dari pada aku harus tinggal di rumah sebagai peran istri kontrak darimu.”
Ketika hendak melangkah pergi, lengan Ishvara ditahan oleh Kalandra dengan cekalan yang kuat. Tanpa mengatakan apa-apa, Kalandra menyeretnya masuk dengan kasar. Tak peduli dengan raungan Ishvara yang meminta dilepaskan.
“Hei, apa yang kau lakukan?! Lepaskan! Sampai kapan pun aku tidak mau menjalani pernikahan kontrak denganmu!”
“Lepaskan aku, brengsek!”
“Kalandra Ranjaya, aku bilang lepaskan!”
Percuma, mau sekuat apapun Ishvara meronta sambil berteriak memaki-maki pria itu, Kalandra tak mau peduli. Bahkan yang terjadi malah Kalandra semakin bersemangat untuk melakukan apa yang dirinya inginkan.
Setelah memasuki rumah, Kalandra memberi perintah pada beberapa pelayan yang sudah menunggu didekat pintu. Sekitar lima orang pelayan menghadap padanya, kepala mereka menunduk entah sebagai tanda hormat atau memang ketakutan dengan sosok Kalandra.
“Kunci semua pintu di rumah ini. Pastikan wanita ini tidak kabur,” titahnya sambil melempar tubuh Ishvara pada beberapa pelayan yang berbaris.
“Bersihkan tubuhnya yang bau itu. Beri dia pakaian yang bagus. Dandani dia. Dan siapkan dia kamar. Jangan lupa juga beri dia makan. Pastikan peliharaan baruku mendapatkan tempat yang layak.” Sebelah sudut bibir Kalandra menyungging, menatap remeh Ishvara yang masih sesenggukan.
“Baik, Tuan.”
Lima orang pelayan yang bekerja di rumah ini begitu tunduk pada semua perintah yang diberikan Kalandra. Bagaikan robot, mereka tak berperasaan. Tidak sekali pun berani membantah.
Mereka menuntun Ishvara untuk dibersihkan, sesuai apa yang diminta oleh Kalandra —Tuan mereka. Walau Ishvara terus meronta dalam pegangan, tapi mereka tak menggubrisnya sama sekali.
Kalandra didatangi oleh satpam, sebuah koper berukuran besar disodorkan padanya, membuat Kalandra bertanya kebingungan.
“Milik siapa?”
“Ini milik wanita tadi. Mungkin isinya beberapa pakaian dan barang-barang penting. Tuan Sagara meminta saya untuk mengantarnya masuk,” balasnya memberitahu.
Kalandra berdecih jijik saat menatap koper berwarna abu-abu itu, sebelah kakinya menendang koper tersebut hingga tergeletak di atas lantai.
“Buang saja. Bila perlu bakar. Aku tidak mau barang miliknya ada di rumahku,” titahnya dengan kasar, kemudian melangkah pergi begitu saja.
Kalandra memutuskan untuk kembali ke ruang pribadinya. Duduk sebentar di atas sofa yang empuk, memijat pelipisnya sambil memejamkan mata. Memori yang sudah lama terkubur, mendadak berputar begitu saja tanpa diminta.
Tidak tahu apakah rencananya akan berjalan baik jika melibatkan Ishvara pada situasi seperti ini, tapi sejujurnya hanya ini pilihan terakhir yang bisa dilakukan olehnya.
Sebenarnya jika bisa, Kalandra ingin melakukan hal ini dengan wanita lain. Namun nyatanya, itu tak semudah yang dirinya pikirkan. Wanita di luar sana banyak menuntut dan pastinya mereka tak kalah licik dengan Kalandra. Jadi mau tak mau ia menggunakan Ishvara dalam situasi ini.
Drrtt ... Drrtt ... Drrtt ...
Kalandra beringsut dari sofa untuk meraih ponsel miliknya yang bergetar di atas meja kerja. Nama Sagara muncul di layar. Sebelum mengangkat telepon, Kalandra mendengus.
“Ya? Uang yang kujanjikan akan segera kukirim. Tolong sabar sebentar, jangan merengek seperti anak kecil,” ketus Kalandra, ia melonggarkan dasi lalu kembali mendudukan tubuhnya pada sofa.
“Kau kan tahu sendiri aku sangat-sangat membutuhkan uang itu,” sahut Sagara dari balik telepon.
“Ya, ya. Itu sebabnya kan kenapa kau mau membantuku? Jika kau tidak butuh uang, mana mau kau repot-repot berbohong untuk membujuk wanita itu datang kepadaku,” kekeh Kalandra sedikit meledek.
“Sebenarnya aku kasihan padanya. Kau tahu? Orang tuanya sudah meninggal. Dia hidup sendirian dengan kondisi sulit. Tapi ada untungnya juga, karena kalau tidak begitu mungkin dia akan sulit kubujuk. Tapi apa pun itu, tolong segera kirimkan uang bayaranku!”
Tut.
Sambungan telepon terputus sepihak.
Kalandra menghela nafas, kepalanya ia sandarkan ke belakang. Sedikit menanggah, menatap atap-atap ruangan dengan pikiran yang terasa campur aduk.
“Masalah Ishvara akan segera kuselesaikan, tapi bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Liora? Apa dia mau menerima dan memahami keputusan ini? Toh, aku dengan Ishvara hanya menjalani pernikahan kontrak untuk menutupi kabar hubunganku dengan Liora.”
Memikirkan hal tersebut membuat Kalandra bingung setengah mati. Banyak resiko yang harus dirinya tanggung nantinya. Kalandra menyadari ada perbedaan prinsip antara dirinya dengan Liora —kekasih yang amat dicintainya itu. Dengan begitu, hal ini pastinya akan terasa sulit.
Kalandra tak sadar memikirkannya sudah lebih dari setengah jam. Dia sesekali merenung dengan tatapan kosong. Atau pun terjebak pada ingatan dimana dirinya mengenal Ishvara di lima belas tahun yang lalu.
Saat mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang, atensi Kalandra jadi teralihkan.
“Masuk.”
Datanglah satu pelayan wanita yang sudah berumur namun masih terlihat energik. Dia menghadap pada Kalandra untuk menyampaikan sesuatu.
“Tuan, wanita yang anda minta untuk dibersihkan dan didandani, sudah kami lakukan sesuai perintah. Perlukah kami membawanya padamu sekarang, Tuan?”
Kalandra mengangguk. “Ya, bawa dia ke sini. Aku ingin melihatnya.”
“Baik, Tuan.”
Tak lama, dua orang pelayan membawa Ishvara masuk ke dalam secara paksa. Dia memakai dress berwarna krem seatas lutut. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang terlihat lembut. Wajahnya juga nampak segar dan bersih.
Penampilan Ishvara sekarang menarik perhatian Kalandra. Dia tidak menyangka perempuan kumal dengan pakaian kuno yang menjijikkan untuk dipandang bisa berubah secantik itu.
Tapi meski begitu, bukan berarti Kalandra tertarik dalam konteks seksual. Pria itu hanya takjub dengan perubahan Ishvara yang hanya dipoles sedikit namun menghasilkan penampilan luar biasa.
“Lumayan. Tapi aku ingin rambut panjangnya itu dipotong. Ya kira-kira sebahu,” ujar Kalandra berkomentar dengan santai.
“Apa?! Dasar gila! Cukup dan hentikan ini semua!” teriak Ishvara tidak terima, “Lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari rumah ini!”
“Jangan bercanda! Kita akan segera menikah pada minggu ini. Aku harus memastikan bahwa calon pengantinku yang terbaik. Orang-orang akan menilai dan melihat, jadi aku tidak mau dibuat malu,” sergah Kalandra tidak menerima tentangan apa pun.
“Menikah? Minggu ini?” Ishvara geleng-geleng kepala, memancarkan sorot kecewa. “Aku tidak butuh kemewahan yang kau berikan. Jadi tolong, biarkan aku pergi. Jangan menahanku seolah-olah aku memiliki hutang atau kesalahan yang mesti aku tebus.”
Kalandra menyilangkan kedua kakinya, tangannya ia lipat di depan dada. “Kau memang tidak pernah membuat kesalahan apa pun. Aku hanya ingin saja memilihmu. Lagi pula apa enaknya tinggal sendirian di desa dengan orang-orang yang selalu menjulukimu sebagai perawan tua?”
“... Jangan sok jual mahal, Ishvara. Jika tidak denganku, aku yakin tidak akan ada pria lain yang mau menikahimu. Kau tidak dituntut memberikan keturunan, kau juga tidak perlu melakukan peran istri untukku. Lalu apa susahnya?”
Ishvara kembali meneteskan air mata, urat-urat di lehernya menegang. Ekspresinya mengeras, terdengar suara gemulutuk dari rahangnya yang merapat.
“Susahnya adalah mengerti kemauanmu yang tidak masuk akal! Menggunakan ikatan pernikahan untuk permainan yang bisa kau atur semaumu. Dasar pria gila!”
***
Anda Mungkin Juga Suka





