Sampul Novel BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU

BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU

8.0 / 10.0
Dalam BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU, seorang istri menghadapi pengkhianatan suaminya dengan pekerja rumah mereka sendiri. Fokus pada misi pembalasan di genre modern ini, ia harus mengambil keputusan besar. Baca kisah romance novel ini selengkapnya di web novel kami.
Ringkasan BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU
Kehadiran orang ketiga dalam sebuah rumah tangga sering kali muncul dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bahkan, sosok yang selama ini dipercaya untuk bekerja dan membantu urusan domestik di kediaman pribadi pun bisa menjadi ancaman nyata bagi keutuhan pernikahan. Kisah ini mengungkap pengkhianatan menyakitkan yang dilakukan oleh suami bersama orang terdekat di rumah sendiri, memicu sebuah pembalasan yang setimpal atas segala luka tersebut.
Baca Selengkapnya

BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU Bab 1

"Bu, hari ini Ibu libur kerja kan? Kalau Ibu libur, rencananya saya mau ke salon sebentar. Boleh kan, Bu?"

Yuni, Asisten Rumah Tangga sekaligus pengasuh Silla, anak perempuan semata wayang kami bertanya saat aku sedang konsentrasi mengupas kentang dan wortel yang rencananya akan dimasak bersama ayam yang sudah dipotong kecil-kecil untuk diolah menjadi sup ayam, kesukaan Silla dan Mas Arman, suamiku.

Di hari Sabtu dan Minggu seperti ini yang merupakan hari libur kerja, aku memang biasanya terjun sendiri ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Silla dan Mas Arman yang sekali-kali kadang ingin juga mencicipi masakan istri dan ibunya ini.

Jadilah, pagi ini selepas salat subuh aku bergerak menuju dapur dan berkutat dengan alat dapur sementara Yuni kusuruh bersih-bersih rumah.

Namun, belum selesai ia membersihkan bagian dapur di mana aku sedang beraktivitas saat ini, Yuni sudah minta diizinkan keluar.

"Kamu mau ngapain ke salon? Potong rambut?" tanyaku sembari menoleh padanya.

Kulihat rambut ART-ku itu memang sudah panjang hingga melewati batas bahu. Mungkin itu membuatnya gerah saat melakukan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya dan membuatnya ingin segera memotong rambut.

Namun, di luar dugaan, gadis itu justru menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Bu. Mau perawatan aja. Facial, creambath sama luluran. Mungkin agak lama makanya Yuni izin dulu," ucapnya sembari melempar pandangan ke samping seolah ingin menghindari kontak mata denganku.

Facial? Luluran? Ups, apa mungkin aku saja yang kurang suka pergi ke salon karena berpikir semua itu bisa dilakukan di rumah seperti yang selama ini kulakukan?

Ya. Aku memang lebih suka melakukan treatment sendiri di rumah. Setelah membeli produk kecantikan dan skin care yang diperlukan maka aku akan melakukan perawatan sendiri di kamar ketimbang jauh-jauh pergi ke salon. Lebih efisien soal waktu dan biayanya menurutku. Lumayan bisa menghemat uang juga karena tak perlu membayar jasa si mbak salon. Bukan hanya luluran, facial dan creambath pun semuanya dilakukan sendiri di waktu-waktu senggang, seperti hari libur begini.

Namun, mungkin diriku beda dengan Yuni yang sepertinya rela menguras uang gajinya demi bisa perawatan di salon.

Kulihat pakaian gadis berusia dua puluh dua tahun itu sudah rapi. Kaos ketat dipadu dengan rok pendek selutut membalut tubuhnya yang tinggi, langsing dan semampai, membuat penampilan ART-ku itu terlihat cantik dan seksi. Wajahnya yang lumayan manis juga dipoles make up tipis. Siap pergi.

"Izinin aja Ma. Yuni kan juga butuh refreshing. Capek di rumah terus jagain Silla dan beres-beres rumah. Sekali-kali mungkin pengen keluar," celetuk Mas Arman tiba-tiba dari balik sekat ruang tengah menuju dapur.

Senada dengan Yuni, penampilan Mas Arman pun terlihat rapi. Kaos brand ternama dipadu Jeans dari merek terkenal melekat di tubuhnya. Membuat penampilan lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu terlihat modis dan enerjik. Mas Arman memang tampan. Tak salah jika banyak wanita menyukainya meski sudah beristri.

Mendengar celetukan suamiku yang kelihatannya memaklumi keinginan Yuni, aku pun hanya mengangkat bahu dengan pasrah. Ya mungkin sekali-kali gadis itu juga perlu waktu untuk refreshing dari penatnya mengerjakan pekerjaan rumah.

Tak mengapa sekali-sekali kuizinkan gadis itu keluar asal tidak berlama-lama karena aku juga perlu istirahat siang nanti setelah lima hari capek berkutat dengan pekerjaan di kantor. Hari ini harusnya bisa istirahat setelah capek mengolah masakan di dapur, tetapi tak bisa karena Yuni hendak pergi.

"Ya sudah. Pergi aja, Yun. Tapi jangan lama-lama ya, kalau bisa jam 2 udah di rumah. Minta mbaknya jangan lama-lama ngelulurnya biar siang udah bisa pulang. Oke?" sahutku sembari memasukkan potongan kentang dan wortel ke dalam panci, siap untuk direbus bersama potongan daging ayam yang sudah lebih dulu direbus di atas kompor.

"Baik, Bu. Kalau gitu Yuni berangkat dulu ya, Bu. Permisi...." Yuni menyampirkan sling bag di pundaknya lalu berjalan keluar rumah dengan langkah pelan setelah melempar pandang sekilas pada Mas Arman. Entah apa maksudnya, tapi aku hanya menganggap itu ungkapan minta diri.

Sepeninggal Yuni, Mas Arman beranjak menuju kamar dan kembali lagi dengan penampilan rapi dan tubuh tercium bau wangi parfum yang khas, membuatku bertanya-tanya di dalam hati. Mas Arman mau kemana kok jadi ikut-ikutan mau pergi, bukannya memilih me time di rumah mengingat waktu kami berkumpul hanya bisa dilakukan pada saat hari libur kerja seperti ini?

Belum sempat bertanya, Mas Arman sudah duluan membuka mulutnya.

"Mas, juga mau keluar sebentar ya, Nis? Mau cari angin dulu di stadion. Silla juga lagi nonton teve. Jadi kamu bisa nerusin masak tanpa terganggu sama dia. Oke?" ucapnya dengan nada tenang seolah-olah tak tahu perasaanku yang mendadak bertanya-tanya sendiri kenapa saat Yuni baru saja pergi, Mas Arman juga minta izin keluar rumah? Ada apa ini?

Melihat Mas Arman meraih kunci mobil, aku hanya diam sembari menepis prasangka yang menyelusup dalam benak.

Ah, apa mungkin kepergian Mas Arman ada kaitannya dengan kepergian Yuni? Tapi tidak mungkin! Terlalu rendah dan tak dewasa rasanya jika menuduh Mas Arman berbuat yang tidak-tidak dengan pembantu itu. Terlalu paranoid rasanya.

"Ya, sudah. Pergi saja tapi jangan lama-lama ya, Mas. Soalnya aku mau istirahat siang, capek dan ngantuk. Jadi nanti gantian ya awasi Silla," ujarku yang disambut Mas Arman dengan anggukan kepala tanda setuju.

Usai mendapat persetujuan dariku, bergegas lelaki yang sudah mendampingi hidupku selama tujuh tahun itu melenggang menuju garasi dan mengeluarkan mobil sport kesayangannya menuju halaman rumah. Sesaat kemudian deru halus mesin mobil yang dikendarainya meninggalkan rumah menuju jalan raya di depan sana.

***

Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua siang, tetapi tanda-tanda Yuni atau pun Mas Arman kembali belum juga kelihatan.

Berkali-kali kuintip halaman dari gorden jendela yang kusibakkan, berharap mobil Mas Arman sudah kembali, tetapi nihil. Hingga lelah kepala ini berkali-kali mengintip ke luar, mobil suamiku belum juga kembali.

Kututup mulut yang sedari tadi menguap menahan kantuk. Hari libur begini selain berkutat di dapur, memasak untuk anak dan suami, siang hari biasanya kugunakan untuk tidur sekedar melepas penat dan letih setelah lima hari bekerja di luar rumah.

Namun, karena Yuni dan Mas Arman yang tadinya kuandalkan untuk bisa bergantian menjaga Silla yang baru saja bangun dari tidur siang, tak juga kembali dari luar, jadilah aku hanya bisa berbaring sembari menemani putri tunggalku itu menonton televisi.

Beberapa saat berlalu tanda-tanda Yuni ataupun Mas Arman pulang tak juga kelihatan. Penasaran kuambil ponsel dan menelpon suamiku. Tersambung tapi tak diangkat.

Akhirnya kukirim pesan wa menanyakan keberadaannya sekaligus meminta ia segera pulang ke rumah, tetapi pesan dariku tak dibaca. Wa nya pun terlihat terakhir aktif pada jam ia berangkat pagi tadi. Ah, kemana gerangan Mas Arman selama itu tidak online? Sudah hampir empat jam sejak ia pergi, ia tak menyentuh ponselnya. Hatiku kembali diganggu prasangka mendapati kenyataan itu.

Penasaran, kuhubungi pula nomor telepon Yuni. ART itu memang kufasilitasi sebuah telepon genggam agar saat aku di kantor, masih bisa berhubungan dengannya untuk menanyakan dan memantau keadaaan Silla, tetapi anehnya nomor telepon Yuni malah dalam keadaan mati. Wa nya pun terakhir aktif beberapa jam yang lalu. Berkali-kali dihubungi berkali-kali pula operator provider menyampaikan informasi bahwa nomor telepon yang dihubungi sedang tak bisa menerima panggilan.

Ah, ada apa sebenarnya ini? Kenapa nomor wa Mas Arman tidak aktif dan nomor telepon Yuni juga tidak bisa dihubungi? Ada apa dibalik semua ini? Tak urung seribu pertanyaan berkecamuk di benak ini.

***

"Assalamualaikum."

Suara salam dari luar menyadarkan aku yang sedang berbaring dengan seribu kecamuk di depan televisi.

Buru-buru aku melangkah menuju pintu dan membukanya dengan tak sabar. Di depan teras kulihat Yuni sedang berdiri menunggu pintu dibuka dengan rambut terlihat basah dan kedua tangannya mencengkram erat Sling bag yang melingkar di dadanya.

Gadis itu menatapku dengan pandangan datar seolah tak merasa bersalah meski sudah mangkir dua jam dari waktu semula yang kuberikan padanya. Benar-benar membuatku hilang kesabaran dibuatnya.

"Kok baru pulang, Yun? Kemana aja dari tadi?" tanyaku tak mampu menahan rasa jengkel dan emosi karena gadis itu terang-terangan melawan perintahku untuk segera pulang setelah selesai dari salon.

"Maaf, Bu. Tadi banyak yang antri di salon, jadi kelamaan," ucapnya sembari ngeloyor masuk tanpa menghiraukan kejengkelanku.

"Kalau sudah tahu rame, kenapa nggak pindah salon aja sih, Yun? Ditungguin sampai sepi kan lama jadinya. Lagipula kamu perawatan apa aja kok nggak ada bau lulur?" tanyaku sembari mengendus aroma tubuh Yuni yang tak mengeluarkan bau lulur melainkan aroma parfum biasa. Wangi tapi beda dengan bau harum lulur biasanya.

"Ng-tadi memang nggak luluran, Bu. Kan sudah Yuni bilang antri jadi batal luluran. Cuma facial sama creambath aja bisanya," ucap gadis itu lagi sembari menjauhkan tubuhnya dari jangkauan penciumanku.

Mendengar perkataanya kembali kuteliti raut wajah Yuni. Kelihatannya make up yang dipakai gadis itu seperti baru dipulaskan di wajahnya. Bedak dan lipstik yang digunakan kelihatan baru dipoles. Apa gadis ini memolesnya setelah facial? Ah, bisa jadi. Tapi tunggu dulu, dia bilang baru saja creambath, betulkah? Wangi yang menguar dari rambut gadis itu bukan seperti wangi krim atau pun masker rambut. Tapi wangi shampoo dan conditioner biasa. Lalu apa maksudnya dengan mengatakan dia habis ke salon? Hanya untuk mengelabuiku sematakah?

Tapi kalau tidak ke salon, kemana gadis itu selama lima jam kepergiannya?

Sedang aku menatap dengan pandangan tak percaya pada Yuni, pintu depan diketuk dari luar. Mas Arman membuka pintu sendiri dan masuk dengan wajah terlihat cerah dan segar seperti orang yang baru saja habis mandi.

Pikiran buruk pun serta merta tanpa mampu dicegah menyeruak ke dalam hati.

Ah, sebenarnya Mas Arman dan Yuni kemana sih? Pergi barengan, meskipun tidak satu kendaraan dan pulang pun berbarengan? Benarkah mereka tidak ada apa-apa di luar sana dan hanya kebetulan saja pergi dan pulang berbarengan?

Ya Tuhan, salahkan jika aku menaruh curiga pada suami dan pembantuku ini?

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi BALASAN SETIMPAL UNTUK PENGKHIANATAN SUAMIKU

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cinta Telah Padam, Jalan Kita Berpisah
9.6
Dipandang rendah oleh suami sendiri karena latar belakangnya sebagai wanita petani adalah kepedihan sehari-hari bagi sang protagonis. Keadaan kian menyakitkan karena suaminya juga bersikap dingin pada anak mereka yang masih bayi. Namun, segalanya berubah saat cinta pertama sang suami kembali ke Kota Jenang. Pria itu tiba-tiba menunjukkan kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya, bahkan bersikap manis di meja makan demi menyenangkan kekasih lamanya. Menyadari bahwa senyuman palsu suaminya bukan untuk mereka, sang ibu memeluk erat anaknya dan bersiap melangkah pergi demi memulai hidup baru.
Sampul Novel Gairah Liar Sang Mantan
8.2
Kejadian tak terduga menimpaku saat kakek melakukan tindakan nekat di dalam kamar. Di bawah ancaman agar tidak membangunkan adik, aku terjebak dalam situasi yang membingungkan sekaligus menggelisahkan. Sentuhan dan bisikannya membuatku kehilangan kendali hingga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Saat kakek melancarkan aksinya lebih jauh dengan melucuti pakaianku, tiba-tiba lampu kamar menyala. Sebuah rahasia besar terancam terbongkar dalam keheningan malam itu.
Sampul Novel Ibu Mertuaku, Godaanku
8.5
Nathan memulai lembaran baru bersama istrinya, Elira Devina, di tengah kemegahan kota. Namun, kehadiran Seraphine, ibu mertua yang janda dan penuh pesona, menciptakan ketegangan tak terduga. Meski awalnya hanya ada rasa hormat, Nathan mulai merasakan getaran terlarang melalui tatapan dan sentuhan yang tidak sengaja. Di balik kebahagiaan rumah tangganya, tumbuh rahasia gelap yang mengancam segalanya saat batasan antara menantu dan mertua perlahan memudar.
Sampul Novel KARMA_Memeluk Cinta Yang Terluka/ Penyesalan Mantan Suami
9.1
Danu mengkhianati kesetiaan Kirani melalui sebuah permainan api yang ia mulai sendiri. Tanpa disadari, pengkhianatan tersebut justru menghancurkan hidupnya dan menyisakan penyesalan mendalam selama bertahun-tahun. Meski waktu telah lama berlalu, hukum karma tetap mengintai dan menuntut balasan yang setimpal atas luka masa lalu. Bagaimanakah nasib kehidupan mereka selanjutnya saat konsekuensi dari perbuatan buruk itu mulai menghampiri kehidupan Danu sekarang?
Sampul Novel Moments And Memories
9.6
Evelina adalah siswi cerdas nan jelita yang sulit membuka hati. Ia kembali bertemu Nox Cyril, pemuda kaya raya yang menyimpan trauma masa kecil, namun Evelina justru melupakan sosoknya. Rumitnya romansa mereka kian pelik saat Lucas sang model ternama, Frans si pakar IT, dan Owen sang pewaris medis raksasa hadir di hidupnya. Akankah memori masa lalu Evelina pulih? Mampukah perasaan yang terpendam tersampaikan di tengah bayang-bayang rahasia lama mereka?
Sampul Novel Terbongkarnya Perselingkuhan Suamiku
8.9
Menghadapi kenyataan pahit bahwa pasangan hidupmu telah berkhianat di belakangmu, keputusan besar apa yang akan kau ambil? Apakah kau memiliki kelapangan hati untuk memberikan kesempatan kedua dan memaafkan segala kesalahannya? Ataukah kau memilih untuk mengakhiri segalanya dan menyelesaikan pengkhianatan ini secara hukum di pengadilan? Dilema antara cinta dan keadilan kini menjadi beban berat yang harus segera diputuskan demi masa depanmu sendiri.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan