Sampul Novel Love Over Everything

Love Over Everything

9.2 / 10.0
Dalam novel Love Over Everything, Zanara melarikan diri dari rahasia kelam suaminya. Di tengah ancaman masa lalu, ia harus memilih antara hidup menyendiri atau menerima cinta baru demi melindungi putrinya. Baca mystery story dan romance novel ini untuk melihat perjuangannya dalam fiksi modern.
Ringkasan Love Over Everything
Zanara melarikan diri demi menghindari rahasia kelam suaminya, lalu bertemu Jayme yang tulus mencintainya. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri, ia justru terjebak dalam romansa rumit saat orang-orang dari masa lalunya kembali mengusik. Kini, keselamatan putri semata wayangnya, Marion, menjadi taruhan utama. Zanara dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menyendiri dan kehilangan Marion, atau menerima pinangan pria demi melindungi sang buah hati.
Baca Selengkapnya

Love Over Everything Bab 1

"Selamat datang. Mau pesan kue ap—?" Kalimat Zanara terhenti seketika, kala melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Pria itu mengulas senyum paling memesona yang ia miliki, kemudian mengulurkan selembar uang pada Zanara yang berdiri di meja kasir.

"Apa maumu?" desisnya, tajam. Tatapan matanya memancarkan rasa kesal yang membuncah. Pria itu seperti kurang kerjaan karena datang hampir setiap hari di jam makan siang dan memesan seporsi shortcake dan tiramissu untuk ia nikmati bersama Marion. Dan kesalahan terbesar Zanara adalah membawa Marion bekerja lagi hari ini.

"Tenang, Zee ... aku hanya ingin bertemu Marion, kau tak perlu marah seperti itu. Strawberry shortcake untuk teman kencanku, dan tiramisu untukku. Terima kasih."

Zanara meraih uang di tangan Jayme dengan kesal. "Jangan lupa kalau Marion adalah putriku, Dokter Demir."

"Ah, kau tega sekali padaku. Bahkan sampai sekarang kau masih memanggilku seformal itu." Jayme menghela napas keras. "Aku tak tahu harus bagaimana lagi meluluhkan hatimu."

"Jangan melantur. Customerku akan enggan membeli kue di tokoku kalau kau terus saja datang seperti orang sakit jiwa. Makanlah, kemudian pergi dari sini."

Zanara menyodorkan nampan berisi dua pieces kue ke hadapan Jayme, lalu hendak berbalik, tetapi tangan Jayme mencekal lengan Zanara.

"Kau ... tidak ingin ikut makan denganku? Apakah kau sudah makan? Kau harus menjaga kesehatanmu demi Marion, jika tidak—"

"PAPA ...."

Jayme langsung menoleh seketika saat mendengar panggilan Marion yang layaknya alarm bagi Jayme. Ia sungguh menyukai gadis kecil itu, selain menyukai ibunya yang ketus. Anggap saja Marion adalah penghiburan baginya, setelah mendapatkan kalimat-kalimat pedas dari Zanara.

Jayme berjongkok demi menyejajarkan tingginya dengan gadis kecil yang mengenakan rok tutu dengan rambut kemerahan yang diikat seluruhnya ke atas. Ada pita kecil menghias di sana, ia memang sangat cantik seperti ibunya.

"Hai ... ini dia gadis kesayanganku. Bagaimana kabarmu? Apakah kau dan mamamu sudah makan siang? Bagaimana kalau kau ajak mama makan bersama?" Jayme mendekat ke telinga Marion sembari menyipitkan mata, kemudian berbisik. "Mamamu tidak mau kuajak makan siang."

"Jangan mempengaruhi anakku dengan bualanmu, Dokter Demir!" ketus Zanara, sembari sibuk menata kue di etalase. Siang ini toko sedang sepi, kue dagangannya juga hampir habis. Mungkin sore hari ia sudah bisa menutup tokonya dan pulang ke apartemen mereka.

Jayme bangkit, kemudian berdiri di depan meja kasir, menghadap Zanara dan menatap manik hazel cantik milik wanita itu.

"Makan sianglah bersamaku. Aku tahu kau pasti akan meluangkan waktu untuk hal itu, maksudku makan dan beristirahat. Namun, aku hanya ingin memastikan kalian sudah melakukannya. Kumohon."

Zanara tak menjawab, melainkan semakin menenggelamkan diri pada kesibukan yang sengaja dibuat-buat karena ia gugup akan kedatangan Jayme ke tokonya. Bukan karena ia menyukai pria itu, melainkan sekian lama ia menutup diri dan hidupnya dari lelaki, tetapi pria satu ini terus saja menempel padanya seperti permen karet bekas.

"Jangan memaksa, Jayme. Aku dan Marion baik-baik saja."

Jayme mendesah, ia berjalan keluar dari toko, kemudian menekan nomor di ponselnya. Tak berselang lama, sebuah motor dengan kotak besar bertuliskan 'PizzaPaw' berhenti di hadapan Jayme yang masih berdiri di tempat semula.

Ia menerima dua kotak pizza dan membawanya masuk, menyodorkan ke hadapan Zanara yang masih tak habis pikir dengan pria satu itu.

"Kau tak ingin makan di luar, berarti kau mau jika makan di sini, kan? Ayo temani aku dan Marion makan. Kita makan bersama."

Sungguh, Zanara ingin sekali menolak, tetapi akan percuma melakukan itu jika sudah berurusan dengan pria ini. Pria keras kepala yang tak berhenti mendekatinya selama dua setengah tahun ini, sampai-sampai Marion mengira dia sebagai ayahnya. Namun, tak rugi juga bagi Zanara, karena Jayme nyatanya sangat menyayangi Marion seperti putrinya sendiri.

Buktinya, kini dirinya menikmati makanannya sembari memangku Marion dan menyuapkan sepotong pizza, sementara gadis kecil itu menata rambut bonekanya.

"Marion, kau bisa makan sendiri, kan? Duduk di tempatmu dan makan dengan benar, oke? Biarkan papa—maksudku biarkan paman Jayme makan dengan tenang," tegurnya, kemudian ikut duduk di hadapan Marion dan Jayme yang kini tengah mengulas senyum.

Mendengar Zanara yang meski hanya kelepasan menyebutnya papa, sudah membuatnya seolah terbang ke langit ketujuh.

Ia sangat norak dan memalukan sekarang. Namun, tak masalah. Hal itu membuatnya bisa menikmati makan siang dan menghabiskan beberapa potong pizza di hadapannya. Sesungguhnya ia tak seberapa menyukai pizza, ia lebih baik hanya makan kebab, atau ayam saus mentega buatan Zanara. Namun, Zanara dan Marion menyukai pizza.

"Makanlah yang banyak," ucap Jayme, sembari mengusap lembut pucuk kepala Marion.

Ia kemudian bangkit, mengembuskan napas, lega karena akhirnya Zanara—meski dengan setengah hati—bersedia duduk dan makan bersamanya.

"Baiklah, Marion. Papa pergi bekerja dulu, kau baik-baiklah di sini bersama Mama. Jika ada yang kau butuhkan, kau tahu harus menghubungi ke mana, kan?" bisik Jayme pada gadis kecil itu. Marion mengangguk, kemudian tersenyum menampakkan giginya yang rapi.

Jayme kemudian mengalihkan perhatiannya pada Zanara yang masih menyantap pizzanya. Ia tak ingin mengganggu wanita itu, tetapi rasanya tak lega jika ia pergi begitu saja. Meski pada akhirnya, salam pamit yang ia ucapkan hanya akan dijawab ketus atau dingin, tetapi ia sudah terbiasa dengan itu. Seperti itulah Zanara yang ia kenal, dan ia tak mengapa akan hal itu.

"Zee ... aku pamit dulu. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan, dan kuharap kau tak segan untuk menghubungiku jika kau atau Marion membutuhkan sesuatu. Terima kasih untuk kuenya."

Jayme tersenyum, tanpa menunggu respons dari Zanara, ia kemudian menenteng tas kerjanya dan memutar tubuh meninggalkan toko kue milik wanita itu.

Untuk hari ini tugasnya selesai, tetapi masih ada hari esok dan seterusnya yang harus ia hadapi. Mungkin akan sama dengan hari ini, tak mendapat angin segar, hanya sikap ketus dan tak bersahabat dari wanita itu. Namun, ia tak masalah akan hal itu. Ia menyukai Zanara seperti apa pun dirinya.

Meski kehidupan Jayme sangat rumit, bahkan terlalu rumit—karena bagaimana pun ia adalah lelaki yang juga membutuhkan tempat pelampiasan, tetapi hanya sebatas itu. Ia tetap tak bisa menampik bahwa dirinya tak bisa mengusir bayang-bayang Zanara sejak pertama kali bertemu dengannya.

Ponsel Zanara berdering keras, saat Jayme hendak melangkah keluar. Pria itu urung pergi, berbalik dan langsung berdiri di belakang Zanara.

Meski wanita itu tak pernah menceritakan padanya mengenai teror nomor tak dikenal itu, tetapi Jayme mengetahui semuanya. Ia berasumsi itu adalah perbuatan siapa pun dari masa lalu Zanara.

"Nomor yang sama?" tanya pria itu, yang membuat Zanara nyaris menjatuhkan benda pipih di tangannya. Wanita itu menoleh pada Jayme yang ternyata sejak tadi sudah berada di balik punggung Zanara.

"Bagaimana kau bisa tahu?" balas wanita itu, penasaran. Karena ia tak pernah sekali pun memberikan informasi apa pun mengenai masalah pribadinya pada Jayme.

"Berikan ponselmu."

"A-apa yang akan kau lakukan?" Zanara berusaha merebut kembali ponselnya, tetapi usahanya sia-sia dan justru membuat dirinya kini berada sangat dekat dengan pria itu.

Keduanya bertatapan dan seolah waktu terhenti di detik itu.

"Ponselku ...." Zanara mengulurkan tangan sembari memunduk, pada akhirnya. Namun, tidak dengan Jayme.

Pria itu masih mengunci tatapannya di satu objek. Hanya pada Zanara. Dan tak lama kemudian, ia serahkan benda yang sejak tadi diminta wanita itu.

"Zee ...," panggilnya, tanpa mengalihkan pandangan. Wanita itu menjawab singkat. "Ada sesuatu di wajahmu."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Love Over Everything

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.
Sampul Novel Penipuan Lima Tahun, Pembalasan Seumur Hidup
9.4
Alina Wijaya mengira hidupnya sempurna setelah kembali ke pelukan keluarga dan suami tercinta, Bram. Namun, sebuah kejutan di hari ulang tahunnya mengungkap realitas pahit. Bram ternyata memiliki keluarga rahasia bersama musuh Alina, Kiara. Selama lima tahun, cinta dan kasih sayang orang tuanya hanyalah sandiwara demi mendanai kehidupan ganda sang suami. Kini, Alina yang dianggap lemah siap membalas dendam pada mereka yang telah menjadikannya pion dalam kebohongan besar ini.
Sampul Novel RAHIM YANG DIPINJAM SAHABATKU
9.5
Tasya menghadapi dilema besar saat Siska, sahabat karibnya sendiri, meminta dirinya untuk menjadi istri kedua bagi Kenzo. Demi pengabdian kepada orang-orang yang paling ia cintai, Tasya akhirnya setuju untuk masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka sebagai madu. Kini, ia harus menjalani peran yang tak pernah ia duga sebelumnya. Akankah keputusan sulit ini membawa Tasya pada kebahagiaan sejati atau justru luka yang mendalam di masa depannya?
Sampul Novel Sang Luna yang Ditolak Alpha: Mengandung Anak Musuhnya
9.6
Alpha Kaelan mengkhianatiku demi Lyra. Aku dipaksa mengaku dinodai dan membesarkan anak haram wanita itu sebagai milikku. Saat aku mengandung buah hati kami, Kaelan justru menyuruhku menggugurkannya agar tidak membebani Lyra. Kekejaman memuncak saat ibunya mengurungku hingga aku keguguran. Di titik nadir ini, cintaku musnah. Aku pun mengeluarkan lolongan suci, memanggil keluarga kerajaanku dari Klan Taring Putih untuk menjemput putri mereka yang hancur.
Sampul Novel Terungkapnya Kebiasaan Buruk Suamiku
9.5
Indira tak menyangka Agung tega mengkhianati pernikahan mereka dengan menjalin hubungan gelap di belakangnya. Menghadapi pengkhianatan suami yang membagi hati dengan Zahra, Indira sadar bahwa memberi pelajaran saja tidak cukup. Ia harus berani mengambil langkah tegas untuk meninggalkan pria tak tahu malu itu demi harga dirinya. Ikuti perjuangan emosional Indira dalam menghadapi kemelut rumah tangga dan keputusannya untuk mencari keadilan serta kebahagiaan baru.
Sampul Novel Thief Girl
9.7
Pelarian Arabella setelah mencopet dompet di angkot berujung sial saat ia terjatuh di tengah kejaran warga. Di ambang bahaya, seorang remaja asing datang menawarkan tumpangan motor untuk menyelamatkannya. Abel terpaksa menerima bantuan itu demi menghindari amukan massa. Sebagai gadis yang tumbuh di lingkungan kriminal, ia terpaksa mencuri hanya untuk bertahan hidup. Kisah ini mengikuti perjuangan Abel yang harus dewasa sebelum waktunya di tengah kerasnya dunia.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan