Sampul Novel Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

9.7 / 10.0
Dalam novel modern Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam, seorang istri yang divonis kanker otak menghadapi pengkhianatan suaminya, Zafran, yang menukar catatan medisnya demi Halida. Baca novel online gratis bergenre romance misteri ini tentang perjuangan terakhirnya melepaskan segalanya.
Ringkasan Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
Divonis kanker otak dengan sisa hidup 72 jam, protagonis novel modern misteri Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam ini harus menyaksikan suaminya, Zafran, dan keluarganya merebut kesempatan hidupnya demi adik angkatnya, Halida. Di sisa waktunya, ia melepaskan naskah novelnya, menandatangani surat cerai, bahkan merelakan putrinya memanggil Halida ibu. Namun, saat kebohongan kejam Halida akhirnya terbongkar, mereka semua kembali bersujud memohon pengampunannya di saat semuanya sudah terlambat.
Baca Selengkapnya

Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam Bab 1

Hari ketika aku memutuskan untuk mendonorkan tubuhku untuk kajian ilmiah, keluargaku justru berkumpul mengelilingi adik angkatku, Halida, merayakan diterimanya dia dalam sebuah program perawatan eksperimental paling canggih.

Seharusnya akulah yang menderita kanker otak. Tapi Halida menggunakan posisi suamiku, Zafran, di rumah sakit untuk menukar catatan medisnya yang sehat dengan diagnosis terminalku, merebut satu-satunya kesempatan yang kupunya untuk bertahan hidup.

Dan bagian terburuknya, semua orang bersorak mendukungnya.

Rasanya sakit sekali. Aku berusaha tetap kuat, sampai tanpa sengaja mendengar para perawat berbisik, "Bagus sekali Dokter Zafran bisa mengamankan tempat itu untuk Halida. Mereka bilang dia hanya punya tiga hari lagi."

Jadi, dalam 72 jam terakhir hidupku, aku perlahan melepaskan segalanya.

Ketika aku memberikan naskah asli novel-novelku yang sudah kutuang seluruh hati dan jiwaku kepada Halida, ayah dan saudaraku menatapku dengan senyum puas.

Ketika Zafran memutuskan untuk memenuhi permintaan terakhir Halida dengan menikahinya, dia menyerahkan surat cerai padaku. Aku menandatanganinya tanpa ragu sedikit pun. Dia menghela napas dan memuji aku karena akhirnya bisa berpikir begitu rasional.

Dan ketika akulah yang membujuk putri kami, Olivia untuk memanggil Halida Ibu, Olivia justru berseri-seri mengatakan bahwa ibu barunya adalah yang terbaik.

"Jangan khawatir." Zafran menenangkanku. "Kami hanya menjaganya untuk sementara. Setelah dia tiada, semuanya akan kembali padamu."

Aku memberikan pada Halida segalanya yang kupunya, persis seperti yang mereka mau. Lalu kenapa, ketika mereka akhirnya tahu semua ini hanyalah kebohongan kejam Halida, mereka datang padaku sambil menangis, berkata akulah yang mereka inginkan sejak awal?

Tubuhku seperti hancur perlahan, rasa sakitnya ada di mana-mana sekaligus tak bisa kutunjuk.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil keluar sisa terakhir obat penghilang rasa sakit dari tas kecilku.

Tiga hari untuk hidup. Bagus. Harusnya cukup.

Pil itu larut di bawah lidahku, memberiku secuil kekuatan. Aku memanggil taksi menuju vila pinggir laut.

Begitu kudorong pintu dan masuk, aku tertegun. Halida sedang berbaring di sofa putih ruang tamu. Ayah duduk di sampingnya mengupas apel, sementara kakakku merapikan bantalnya.

Aku berdiri di ambang pintu, tiba-tiba sadar betapa asingnya posisiku di rumah ini.

Saat itu juga, ponselku berdering. Pusat donasi menelepon untuk mengonfirmasi pengaturan. Zafran yang mendengar ikut menoleh, keningnya berkerut.

"Donor organ? Untuk siapa?"

Aku memaksakan senyum lemah dan getir. "Untuk aku."

Kata-kata itu belum selesai keluar sepenuhnya, ketika tawa kering penuh ejekan memotong udara. Itu suara kakakku, Adrian.

"Clara, kamu sudah selesai berpura-pura jadi korban?"

"Kalau kamu mau terus berpura-pura begini, seharusnya kamu tidak usah pulang sama sekali."

Ayah menatapku dingin lalu melemparkan sapu ke kakiku.

"Jangan membongkar aib keluarga di depan orang lain," katanya tajam. "Entah dari mana sifat dengki ini muncul, sejak kecil kamu iri sama Halida. Dan sekarang? Masih tega melawan dia demi tempat di uji klinis yang bisa menyelamatkan nyawanya?"

"Kalau kamu masih punya tenaga untuk pura-pura sakit, berarti kamu juga punya tenaga untuk melakukan hal berguna. Sapu lantai sana."

"Apa dosaku hingga punya adik seperti kamu?" Kakakku mencibir sambil menunjukku. "Harusnya kamu pergi bersama Ibu dulu waktu ada kesempatan."

Halida sambil berpura-pura lemah, sempat melemparkan senyum mengejek penuh kemenangan tepat ketika ayah dan kakakku memalingkan muka.

Aku hanya menundukkan kepala tak mengatakan apa pun.

Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Dari ayah dan kakakku sejak kecil, dan kemudian dari Zafran.

Di mata mereka, akulah yang cemburu, akulah yang kejam.

Kali ini, Zafran bahkan sampai membawa Halida ke sini, ke vila pinggir laut tempat kisah cinta kami dulu dimulai.

Aku yang dulu pasti sudah menangis histeris. Aku akan berteriak, berusaha membuka topeng Halida di depan semua orang.

Meski sebenarnya tidak ada satu pun yang pernah percaya dengan kata-kataku.

Tapi sekarang, aku sudah tidak punya tenaga lagi. Lagi pula, bagi seorang wanita yang sekarat, semua itu sudah tidak ada artinya.

"Tapi karena kamu di sini, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan," kata ayahku.

Aku tersenyum getir. "Ayah, aku juga punya sesuatu untuk disampaikan."

"Halida mau hak penerbitanku, kan? Aku sudah pikirkan. Akan kuberi padanya."

Ayah dan kakakku menatapku kaget.

Tepat saat itu Zafran masuk, tertegun mendengar kata-kataku. "Clara, kamu serius? Kamu benar-benar setuju dengan ini?"

Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

Aku bisa mengerti kenapa mereka begitu terkejut dan terus-menerus bertanya.

Halida sudah lama menginginkan hak penerbitanku. Ayah dan kakakku sudah mencoba segala cara, membujuk, mengancam, supaya aku menyerahkan bisnis yang susah payah kubangun.

Lebih tepatnya, mereka selalu berharap aku menyerahkan semua milikku kepada adik tersayangku, Halida, tanpa imbalan apa pun.

Tapi novel-novel itu adalah sesuatu yang sudah kucurahkan darah, keringat, dan air mata bersama ibuku, dan aku tidak pernah goyah, apa pun yang mereka katakan.

Sekarang semuanya tidak lagi penting.

Yang tersisa hanya rasa bersalah karena aku telah mengecewakan Ibu.

Melihat aku sungguh-sungguh, kerutan di kening Zafran mengendur. Dia melangkah mendekat lalu memelukku. "Luar biasa, Clara!"

"Terima kasih sudah melakukan ini untuk Halida."

"Meskipun dia masih dalam perawatan, aku tahu dia akan mengelolanya dengan baik."

Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menyerahkan surat perjanjian pengalihan pada Halida.

Setelah Halida menandatanganinya, ayah dan kakakku berseri-seri, menggenggam tanganku dan terus memujiku sebagai anak yang baik.

Aku diliputi oleh rasa tak masuk akal.

Suamiku, ayahku, dan kakakku, orang-orang yang paling kucintai hanya mau tersenyum padaku ketika aku menyerahkan segalanya pada Halida.

Tapi aku juga penasaran. Nanti, ketika mereka akhirnya melihat siapa Halida sebenarnya, dan ketika mereka sadar akulah yang benar-benar sudah tiada... apakah mereka akan menyesal?

Obatnya sudah tidak mampu menahan sakit itu lagi, dan keringat dingin mulai membasahi dahiku.

Aku berbalik dan masuk ke kamar tidur.

Saat terbangun, putriku, Olivia sudah pulang dari sekolah. Dia duduk diam di samping ayahnya di ruang tamu.

Tubuhku yang sudah tinggal kulit dan tulang membuat langkahku tak bersuara di lantai. Mereka begitu asyik sampai tidak menyadari kehadiranku.

Zafran sedang melakukan panggilan video dengan Halida, menjelaskan beberapa tindakan pencegahan operasi dan detail medis terkait. Olivia mendengarkan dengan serius di sisinya, matanya fokus dan patuh.

"Sebelum operasi, jangan coba-coba makan tengah malam atau minum apa pun, ya? Kamu harus benar-benar kosong supaya operasinya berjalan maksimal. Kuharap kamu dalam kondisi terbaik."

Ironis sekali. Aku sudah hampir mati, dan baru sekarang aku melihat sisi suamiku yang sabar dan penuh perhatian pada seorang pasien.

Aku teringat dulu pernah sekali meminta dia berbagi pengetahuan medis profesional untuk sebuah detail di novel baruku.

Dan apa yang dia katakan waktu itu?

"Clara, novel cengeng yang kamu tulis itu tidak butuh akurasi ilmiah sampai segitunya." Dia bahkan tidak menoleh dari pekerjaannya.

Dia tidak pernah membaca satu kata pun dari tulisanku, selalu menyepelekannya sebagai hobi yang tidak berharga.

Awalnya, aku berusaha tidak terlalu memikirkannya. Aku bilang pada diriku sendiri, aku hanya perlu percaya pada karyaku.

Tapi kemudian tibalah hari ketika aku melihat Olivia berdiri di atas tumpukan bukuku yang sudah diterbitkan, berusaha meraih sebuah kotak musik di rak yang tinggi. "Aku mengambilnya untuk Tante Halida," katanya dengan polos.

Saat itu, rasa tidak berharganya begitu menghancurkan.

Aku sudah mencurahkan hati dan jiwaku untuk keluarga ini, tapi tidak mendapat secuil pun rasa hormat.

Dulu mungkin aku akan jadi histeris, tapi sekarang, aku hanya berjalan tenang melewati mereka dan duduk di sofa, merapikan berkas-berkas di tasku.

Melihat aku diam saja, Zafran berhenti bicara. Dia terhenti sejenak, lalu berjalan mendekat.

"Clara, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu hari ini."

Zafran mengusap hidungnya, itu kebiasaannya kalau gugup. DIa ragu-ragu sebelum bicara.

"Ini tentang adikmu, Halida."

Jantungku langsung merosot, firasat buruk menusukku.

Dan detik berikutnya, kata-kata Zafran membuatku terpaku.

"Beberapa hari terakhir Halida sangat rapuh. Ayah dan kakakmu berpikir... yah, mereka berharap aku menikahinya. Untuk mewujudkan keinginannya jadi seorang pengantin sebelum ajal."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi mimpi buruk saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandungku demi operasi plastik Vanya, adik angkat kami. Mereka mengusirku dan menuduhku egois, lalu asyik berlibur ke Bali tanpaku. Di tengah kehancuran, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun datang sebagai pelarian sempurna. Aku pergi meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja, memutus ikatan keluarga demi masa depan baru tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sampul Novel Godaan Teknisi AC
9.1
Sebuah kunjungan perbaikan pendingin ruangan di larut malam berubah menjadi awal dari pengkhianatan yang menegangkan. Sentuhan sang teknisi membangkitkan gairah tak terduga yang belum pernah dirasakan sang istri sebelumnya. Di bawah tekanan intimidasi, ia dipaksa untuk menelepon suaminya sendiri agar perselingkuhan panas ini terbongkar. Meski ia memohon demi menyelamatkan pernikahannya, panggilan telepon itu terlanjur tersambung, mengancam akan menghancurkan segalanya dalam sekejap.
Sampul Novel JENUH
8.0
Kehidupan pernikahan Lisa dan Toni tampak sempurna dengan kekayaan dan ketenangan tanpa konflik. Namun, kedamaian itu justru memicu rasa jenuh yang mendalam bagi Lisa. Meski Toni adalah suami idaman yang tampan dan royal, Lisa merasa hambar. Kehadiran seorang pria lajang baru kemudian menggoda kesetiaannya hingga ia terjerumus dalam perselingkuhan. Akankah pengkhianatan ini menghancurkan rumah tangga mereka atau menjadi akhir dari kejenuhan yang ia rasakan?
Sampul Novel Pernikahan Rahasia: Ajay dan Fatimah
9.7
Kisah cinta dalam Pernikahan Rahasia: Ajay dan Fatimah menghadirkan narasi romansa modern yang penuh dengan misteri. Hubungan tersembunyi antara kedua tokoh utama ini menjadi inti cerita yang emosional. Pembaca akan dibawa menelusuri dinamika janji suci yang dijaga ketat dari publik, di mana setiap keputusan membawa konsekuensi besar bagi masa depan mereka. Sebuah perjalanan tentang komitmen, kepercayaan, dan perjuangan cinta di tengah kehidupan masa kini.
Sampul Novel Rindu di Tahun 1992
9.7
Bandung 1992 menjadi saksi pertemuan Alya, siswi cerdas, dengan murid baru misterius bernama Reza. Meski awalnya canggung, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan ini terancam oleh Lina, sahabat Alya yang juga mencintai Reza, hingga menguji loyalitas mereka. Selain konflik persahabatan, Alya tertekan oleh ekspektasi besar keluarganya. Ia kini terjebak dalam pilihan sulit antara ambisi masa depan dan perasaan tulusnya demi memperjuangkan cinta sejati.
Sampul Novel Tunangan Ganda
9.5
Mia, aktris yang terjerat utang, terpaksa menyamar sebagai pewaris kaya bernama Lara demi menikahi jutawan dingin, Hector. Rencana singkat ini berubah menjadi jebakan berbahaya saat hari berganti bulan. Di tengah ancaman pemerasan dan pengkhianatan, Mia harus menghadapi Hector yang mulai curiga namun juga terpikat oleh jati diri aslinya. Kini, ia terjepit antara melarikan diri dari kebohongan besar ini atau bertahan menghadapi kebenaran yang mengancam nyawanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan