Sampul Novel Bukan Sekadar Figuran

Bukan Sekadar Figuran

7.9 / 10.0
CEO Narendra Hasan terancam batal menikah dengan Bella setelah kecelakaan membuatnya lumpuh. Tak sudi bersuamikan pria cacat, Bella kabur di hari pernikahan. Sebagai gantinya, Narendra menunjuk Sheilla, keponakan Bella, untuk menjadi pengantin pengganti. Sheilla yang terikat utang budi pada pamannya terpaksa setuju. Namun, pernikahan ini mengungkap misteri besar terkait kecelakaan orang tua Sheilla dan hilangnya penulis ternama. Siapa dalang sebenarnya?

Bukan Sekadar Figuran Bab 1

"Apa, Tan? Aku? Aku yang nikah sama Kak Naren?" Masih dalam suasana menegangkan pasca diketahui, Bella sang mempelai wanita tak ditemukan di kamarnya. Jangankan Sheilla yang masih speecless mendengar perkataan tantenya barusan, seluruh penghuni rumah tidak ada yang tahu ke mana perginya Bella.

"Iya! Kamu gak salah dengar. Gantikan Bella demi tante, Sayang. Mau, ya?" Wanita paruh baya itu memegang kedua tangan Sheilla, seraya mengangguk meyakinkan keponakannya. "Cuma kamu yang bisa, Shei. Kamu sayang sama keluarga ini, kan? kamu gak mau, kan, kalau om sama tante harus menanggung malu karena ulah kakakmu, Bella?"

Sheilla masih mematung. Bibirnya bergetar tak kuasa untuk berucap. Keringat dingin mulai mengucur di pelipis, bahkan juga tangannya yang digenggam Alma-sang tante. Entah ini permintaan atau perintah, sebab sejak Sheilla tinggal dan diurus di rumah ini, Alma tidak pernah bicara selembut sekarang. Mata Alma yang mulai berkaca-kaca membuat Sheilla semakin bimbang.

"Om ...."

"Kamu gak punya kekasih, kan, Shei? Bisa penuhi permintaan tante kamu?" potong pria berkaca mata yang berdiri menghadap jendela itu.

Tidak disangka-sangka oleh Sheilla, jika om-nya juga mengharapkan hal yang sama darinya. Tarikan napas Sheilla semakin cepat. Dia menahan tangis, tidak menyangka sedikitpun alasan dia dibawa ke ruang make-up ternyata untuk hal seperti ini? Gadis itu memejamkan mata, mengumpulkan keberanian 'tuk berbicara.

"A-aku ... Om ... She-Sheilla gak bisa, Om. Maaf," lirihnya.

"Kenapa, sih, Shei?! Susah banget buat kamu bantu tante." Alma mulai terlihat emosional. "Kamu itu kami yang urus dari kecil, seenggaknya lakukan ini untuk balas budi, bisa, kan?"

Benar kata orang, utang uang bisa dibayar, tapi utang budi ... sakit rasanya bila diungkit. "Sheilla bisa lakukan apa pun untuk Om dan Tante. Tapi, tidak untuk menikah. Sheilla masih belum menyelesaikan kuliah, dan lagi, Kak Naren itu, kan ...."

"Kenapa Naren, Shei? Bukannya kamu juga sudah sangat mengenal pemuda itu. Setiap dia datang ke sini, kamu pun tampak akrab."

"Itu karena dia tunangan Kak Bella, calon suami anak Om dan Tante. Sheilla menganggapnya sebagai kakak sendiri. Mana mungkin Sheilla menikah dengannya."

"Kamu gak lihat, kan, di mana Bella?! Anak kurang ajar itu pergi dan sekarang tidak bisa dihubungi. Dia sudah melumuri kotoran di wajah keluarga ini."

"Papa ...." Alma menyela. Bagaimana pun sebagai seorang ibu, dia tidak rela jika sang anak dikutuk untuk kesalahan ini. Alma yakin, Bella punya alasan kenapa memilih pergi dari pernikahan yang tinggal beberapa menit lagi akan dilangsungkan.

"Memang kenyataannya begitu, kan, Ma?" Om Wira mulai tersulut emosi. "Gara-gara mama terlalu sering memanjakan, anak itu jadi ngelunjak."

"Udah, dong, Om, Tante. Kenapa kalian malah jadi berantem, sih?" Sheilla frustasi. Dia mengusap wajah yang sudah berpoles riasan tipis. Baju kebaya berwarna cream melekat di tubuhnya, sesuai dresscode yang disiapkan di acara pernikahan sang kakak sepupu.

"Karena itu kamu harus setuju, kalau kamu gak mau ada perdebatan di sini." Kembali Alma menegaskan. Kata 'harus' bagai belati yang menusuk jantung Sheilla saat ini. Rasanya dia ingin mati saja.

"Kamu gak boleh nolak, apalagi hanya karena kamu masih kuliah. Lagi pula, toh, yang biayaain kamu sekolah tinggi itu kami-kami juga," lanjut Alma.

Lagi-lagi, Sheilla menghela napas. "Kasih Sheilla waktu untuk pikirin ini dulu, ya, Tan. Sebentar aja," mohon Sheilla.

"Ok. Jangan lama-lama! Keluarga Naren menunggu keputusanmu."

Alma beranjak meninggalkan ruangan lebih dulu. Wira menyusul setelahnya. Ayah Bella itu mengusap puncak kepala Sheilla sebelum pergi. "Maaf kalau Om, terutama tante kamu terkesan memaksa," ucap Wira.

Sheilla menghela napas kasar. Degup jantungnya seakan berhenti saat itu juga. Tidak pernah dia membayangkan jika semua ini akan terjadi pada dirinya. Tangan Sheilla yang masih gemetar merogoh ponsel di dalam saku. Mengetikkan pesan pada laman chatting.

Sepuluh menit dia menunggu balasan dari pesannya. Centang sudah berwarna biru, tapi pemuda yang merupakan kekasihnya itu tidak membalas. Lebih membingungkan lagi ketika Sheilla berusaha menelepon, nomor itu sudah tidak aktif.

"Kamu di mana, sih, Jef?" gumam Sheilla. Pintu kembali terbuka, gadis itu menoleh. Sheilla tahu ini sudah waktunya dia memberi jawaban.

"Gimana, Shei? Mau, ya, Nak?" Alma menatap Sheilla lekat.

Tatapan penuh harap itu tak kuasa Sheilla tolak. "Demi Om dan Tante ... hanya demi reputasi kalian. Sheilla mungkin tidak bisa mengembalikan apa yang sudah Sheilla terima dari keluarga ini."

Serta-merta Alma memeluk keponakan suaminya itu. "Terima kasih, Sayang. Tante janji setelah ini, tante akan bicara pada Naren supaya membiarkanmu tetap melanjutkan kuliah."

Sheilla mengangguk seraya mengulas senyum tipis. Kemudian setelah itu, sang tante memintanya untuk segera bersiap-siap. Dua orang penata rias membawa Sheilla ke tempat duduk yang sudah disediakan.

"Bisa kita mulai?" tanya salah satu dari mereka.

"Saya minta waktu sebentar," jawab Sheilla. Dia melangkah menuju bilik toilet. Kembali, Sheilla menghubungi nomor Jefri. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Gadis itu memutuskan untuk mengirim pesan.

'Kamu harus tau apa yang terjadi sama aku, Jef. Kak Bella kabur dari rumah dan sekarang aku diminta menggantikannya di pelaminan. Kalau kamu benar sayang sama aku ... tolong datang secepatnya ke rumah om-ku.'

***

Alarm berbunyi nyaring, mengusik ketenangan tidur Jefri. Dia lantas terjaga. Buru-buru mengambil jam wekernya dan mematikan bunyi alarm yang bising itu. Pukul 08.30, Jefri melotot. Siapa yang menyetel waktu alarm di jam segini, pikirnya. Dia menoleh ke samping tempat tidur. Pemuda 24 tahun tersebut menepuk dahi.

Lupa, Jefri tidak sedang berada di kamarnya, melainkan di kamar apartemen milik Priska. Wanita malang itu bahkan masih tertidur pulas dengan tubuh nyaris tanpa busana.

"Pris ... ah!" Jefri menyingkap selimut. "Gue jadi terlambat gara-gara lo," umpatnya.

Priska menggeliat. Bibirnya menyunggingkan senyum smirk. "Kenapa, sih, Sayang. Heum ... minta tambah? Ayo!"

"Gila apa! Gue ada janji. Hari ini, hari pernikahan sepupunya Sheilla. Gue udah bilang ke dia bakal hadir. Coba lihat! Jam berapa ini? Bego banget lo nyetel alarm jam segini," oceh Jefri. Tangannya sibuk mengaitkan satu persatu kancing kemeja.

Selesai berpakaian, Jefri tak lupa meraih benda pipih miliknya di atas meja. Senyap, tidak satupun notifikasi. "Aneh, biasanya Sheilla bakal terus neleponin kalo telat. Ini, kok, nggak?" Curiga, Jefri memeriksa ponselnya. "Kok, mati? Gak mungkin lowbat, kan? Perasaan semalem sebelum tidur di-cas sampe full. Aduh, Sheilla gak bakal ngampunin gue kalo gini ceritanya."

"Ck! Sheilla, Sheilla, Sheilla terus yang ada di kepala lo. Lo lupa apa yang udah kita lewatin semalam, hah?! Atau jangan-jangan lo main sambil bayangin kalo gue ini Sheilla, iya, Jef?" sewot Priska. Wanita itu sudah berdiri dengan tubuh berbalut selimut.

"Kalaupun iya, apa masalah lo. Yang penting lo puas, kan?!" ketus Jefri. Dia sejenak terdiam merasai pening di kepalanya akibat efek alkohol semalam belum sepenuhnya hilang. Sambil berusaha menyalakan ponsel, Jefri bergegas membasuh wajah. Air kran mengalir yang dia gunakan membuat keadaannya sedikit lebih baik.

"Chat dari Sheilla udah dibaca?" Seketika Jefri kembali menghampiri Priska. "Ini perbuatan lo, iya, kan?!" bentaknya.

"Apa, sih!" Priska masih pura-pura tidak mengerti. Dia asyik menikmati sebatang nikotin tanpa peduli amarah di mata Jefri.

"Lo baca pesan dari Sheilla, lo juga matiin ponsel. Sheilla nelepon gue berkali-kali."

"Santai aja lagi. Sepupunya, kan, yang nikah, bukan si Sheilla lo itu. Telat dikit wajar lah namanya juga tamu undangan takut banget gak kebagian makanan perasmanan." Priska mulai ikut tersulut seperti sebatang rokok yang terselip di antara dua jemarinya. Benda bulat yang baru separuh habis itu dia letakkan di atas asbak.

"Itu dia masalahnya," lirih Jefri. "Ah, gak guna ngomong sama lo!"

Jefri berlalu setelah membentak Priska. Namun, belum sampai memegang gagang pintu, Priska memanggilnya.

"Tuh, ambil. Butuh, kan, lo buat beli bensin. Asal lo tau, kalo lo sama Sheilla, lo gak bakal dapet semua itu. Uang dan juga kenikmatan. Pacaran berapa lama lo sama Sheilla, pernah gak dia ngajak lo kayak gue ngajak lo begini? Gak pernah, kan?! Dah, pergi sana! Kejar cewek lo yang gak berguna itu. Jangan sampe lo balik lagi ke sini mohon-mohon ke gue."

Hilang harga diri, Jefri sudah mengakui hal itu sejak lama. Tepatnya sejak mengenal wanita bernama Priska yang tak lain bosnya sendiri. Sekarang, bukan waktunya memikirkan nasib sialnya yang harus terjebak dengan buaya betina di hadapannya itu. Masalahnya, Sheilla dipaksa menikah. "Apa dia itu lagi ngerjain gue kali, ya? Gara-gara gue gak datang-datang plus susah dihubungi?" Batin Jefri. Dia sudah berada di baseman apartemen. Merogoh kantung celana dan mengambil kunci motornya. Tak lupa sebelum pergi, Jefri memindahkan uang yang diberikan Priska, dari saku ke dalam dompet.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Bukan Sekadar Figuran

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan