
Belenggu Pernikahan Sang Mafia
Bab 2
Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.
Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik? pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.
Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.
"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.
Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."
Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."
Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.
Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.
Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.
"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.
Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."
Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."
Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."
Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."
"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.
Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.
Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.
Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini? pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.
"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."
Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?
"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.
Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."
Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.
Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini? pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.
"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."
Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.
Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.
"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.
Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.
**Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik?** pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.
Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.
"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.
Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."
Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."
Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.
Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.
---
Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.
"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.
Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."
Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."
Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."
Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."
"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.
---
Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.
Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.
**Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini?** pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.
"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."
Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?
"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.
Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."
Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.
Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. **Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini?** pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.
"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."
Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.
Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.
"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.
Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





