Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.

Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik? pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.

Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.

"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.

Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."

Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."

Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.

Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.

Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.

"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.

Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."

Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."

Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."

Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."

"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.

Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.

Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.

Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini? pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.

Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.

"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."

Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?

"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.

Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."

Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.

Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini? pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.

"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."

Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.

"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.

Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.Aveline mencoba mengumpulkan dirinya, tetapi rasa dingin yang terpancar dari kamar besar itu membuatnya merasa semakin kecil. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya kini terasa berat, seolah-olah menjadi beban nyata atas penderitaan yang baru saja dimulai. Ia memandang keluar jendela besar yang memperlihatkan taman belakang mansion, tapi keindahan itu tak sedikit pun mampu mengusir kepedihan yang dirasakannya.

**Apakah aku akan selamanya seperti ini? Hidup dalam kebencian seseorang yang bahkan tidak kukenal dengan baik?** pikirnya sambil memeluk dirinya sendiri.

Ketukan keras di pintu membuatnya tersentak. Aveline buru-buru menyeka air matanya dan mencoba berdiri tegak. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan masuk membawa nampan berisi makanan.

"Nyonya, ini makan malam Anda," kata wanita itu dengan suara datar.

Aveline hanya mengangguk lemah. "Terima kasih."

Namun, pelayan itu tidak beranjak. Ia berdiri diam, memandangi Aveline dengan raut wajah penuh simpati. "Maafkan saya jika terlalu lancang, Nyonya. Tapi... jika Anda butuh sesuatu, saya ada di dapur. Nama saya Marlene."

Ada sedikit kehangatan dalam suara Marlene yang membuat Aveline merasa tidak terlalu sendiri. "Terima kasih, Marlene. Aku sangat menghargai itu," jawabnya pelan.

Setelah Marlene pergi, Aveline duduk di sofa kecil di dekat jendela dan mencoba makan, meskipun selera makannya hilang sepenuhnya. Ia tahu ia harus tetap kuat. Jika tidak, ia mungkin tidak akan bertahan di bawah kendali Gabriel.

---

Di sisi lain mansion, Gabriel duduk di ruang kerjanya yang megah, ditemani sebotol anggur dan dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya. Namun pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan. Ia terus memikirkan wajah Aveline yang basah oleh air mata di dalam mobil tadi.

"Dia sama sekali tidak tahu apa-apa," gumamnya sendiri. Namun, tidak ada penyesalan dalam suaranya. Hanya kebencian.

Sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. "Masuk," katanya singkat.

Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan sikap hormat. "Bos, semua sudah berjalan sesuai rencana. Leonard Harper mulai bertanya-tanya kenapa Anda menikahi putrinya begitu mendadak."

Gabriel menyeringai dingin. "Bagus. Biarkan dia terus bertanya-tanya. Pada akhirnya, dia akan tahu bahwa ini semua untuk menghancurkannya."

Pria itu mengangguk sebelum bertanya ragu, "Dan Nyonya... bagaimana dengan dia, Bos? Dia terlihat sangat ketakutan."

Gabriel mendongak, tatapannya tajam. "Dia bukan urusanmu. Dia hanya alat dalam permainan ini. Tidak lebih."

"Baik, Bos." Pria itu keluar dengan cepat, meninggalkan Gabriel sendirian dengan rencana jahatnya.

---

Malam itu, Aveline tidak bisa tidur. Ia terus berguling-guling di atas ranjang besar yang terasa seperti gua kosong. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah Gabriel yang penuh kebencian kembali menghantuinya.

Ketika ia akhirnya bangkit untuk mencari segelas air, ia mendengar suara langkah kaki di lorong. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melihat Gabriel berjalan menuju ruang kerja, masih mengenakan setelan jas.

**Apa yang dia lakukan larut malam seperti ini?** pikir Aveline. Ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.

Ia memutuskan untuk mengikuti Gabriel dengan langkah pelan, memastikan dirinya tidak terdengar. Sesampainya di depan ruang kerja, ia mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka.

Gabriel sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Suaranya rendah, tetapi penuh amarah.

"Dia akan membayarnya dengan nyawanya," kata Gabriel tegas. "Aku tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Leonard Harper akan jatuh, dan aku akan memastikan dia kehilangan segalanya."

Aveline menahan napas. Ia tahu ayahnya bukan pria sempurna, tetapi apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh Leonard hingga Gabriel begitu membenci keluarganya?

"Dan gadis itu?" tanya suara di telepon.

Gabriel terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada dingin. "Dia hanya bagian dari rencana ini. Tidak lebih. Jangan terlalu memikirkannya."

Kalimat itu menghantam Aveline seperti tamparan keras. Air matanya kembali mengalir tanpa bisa ditahan. Ia mundur perlahan, kembali ke kamarnya tanpa membuat suara.

Setelah menutup pintu, ia duduk di lantai sambil memeluk lututnya. **Aku tidak lebih dari alat untuk pria itu. Apa aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini?** pikirnya dengan putus asa. Namun di sudut hatinya, muncul tekad kecil yang perlahan tumbuh.

"Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," gumamnya dengan suara bergetar. "Aku harus tahu kenapa dia begitu membenci ayahku."

Aveline memandang keluar jendela yang kini gelap gulita. Ia tahu jalannya tidak akan mudah, tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja.

Di ruang kerjanya, Gabriel duduk diam setelah menutup telepon. Ia memijat pelipisnya dengan frustasi. Ia tahu rencananya berjalan dengan baik, tetapi untuk alasan yang tidak ia mengerti, wajah Aveline terus muncul di pikirannya.

"Dia bukan siapa-siapa," bisiknya pada diri sendiri. Namun, hatinya berkata sebaliknya. Di balik semua kebenciannya, ada sesuatu dalam diri Aveline yang mulai menggoyahkan pertahanannya.

Dan itu membuat Gabriel semakin marah pada dirinya sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beautiful ESCAPE
8.3
Akibat rasa penasaran, Louisa Gonzales menyaksikan pembunuhan oleh gangster Italia di hotel tempatnya bekerja. Wanita 24 tahun ini dipaksa menjadi pengikut setia sang pemimpin mafia, Dominic Theodoretti, yang memanfaatkan keahlian Louisa sebagai mantan hacker. Saat terjebak di Sisilia, Louisa harus menghadapi ancaman yang lebih kejam. Di tengah konflik maut, ia mengungkap rahasia kehamilannya kepada Dominic demi bertahan hidup dan memulai misi pelarian mereka.
Sampul Novel Bidadari Untuk Tuan Mafia
9.3
Don Vincent Corleane, pemimpin mafia yang dikenal bengis dan tak berperasaan, terpaksa menjalani perjodohan dengan cucu bangsawan bernama Silvana Aramazd. Silvana adalah gadis lembut bercadar yang hidup dalam ketenangan. Pernikahan ini menjadi jalan bagi Vincent untuk keluar dari kegelapan dunia hitam, sekaligus upaya mengungkap misteri kematian orang tua Silvana. Bisakah Silvana bertahan mendampingi Vincent di tengah perbedaan dunia mereka yang sangat kontras?
Sampul Novel Cinta Berubah Menjadi Abu
8.6
Nicola Dixon dan Asher tumbuh bersama, terikat utang budi masa lalu yang menyakitkan. Sebagai putri keluarga mafia, Nicola yakin dialah prioritas Asher. Namun, kepulangan Asher dari Segitiga Emas membawa kejutan pahit: seorang wanita hamil yang mengenakan cincin miliknya. Di tengah ketegangan senjata yang mengancam nyawa wanita itu, Nicola memberi pilihan mutlak. Asher harus memilih antara tanggung jawab pada kekasih barunya atau tetap menjadi bagian dari keluarga Dixon.
Sampul Novel Dijual Ibu Tiri Dijadikan Tuan Putri
9.7
Zhea Logari, seorang siswi SMA, harus menghadapi kenyataan pahit saat ibu tirinya tega menjualnya kepada seorang germo sekaligus bos Mafia penguasa Malta. Namun, takdir berkata lain ketika sang Mafia justru memperlakukannya layaknya seorang putri terhormat. Perubahan nasib Zhea yang drastis ini memicu kecemburuan mendalam pada kakak tirinya. Kini, sang kakak mulai menyusun rencana licik dan melakukan segala cara demi merebut posisi istimewa tersebut dari tangan Zhea.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko harus berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut di tengah penderitaan akibat kekerasan fisik orang tuanya sejak kecil. Nasibnya kian terpuruk saat ia jatuh ke tangan Glen Xander Mckenzie, seorang pemimpin mafia kejam yang bertekad menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, dinamika antara tawanan dan penculik ini berubah total seiring berjalannya waktu. Glen yang semula dingin justru mulai menaruh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel Gairah Jantan Mafia Kampus
8.3
Kisah ini dirancang khusus bagi para pembaca yang pernah menjalin hubungan asmara dengan lawan jenis. Namun, mereka yang memiliki ketertarikan sesama jenis pun tetap dipersilakan untuk menyelami alur ceritanya. Siapa yang tahu jika setelah membaca narasi ini, akan muncul sebuah perspektif baru atau perubahan minat terhadap lawan jenis. Nikmati jalinan romansa modern yang penuh gairah di tengah dunia mafia kampus yang menantang dan sangat memikat.