Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Belenggu Pernikahan Sang Mafia

8.6 / 10.0
Dalam Belenggu Pernikahan Sang Mafia, Gabriel Alaric memaksa Aveline Harper menikah demi misi balas dendam terhadap ayahnya. Mafia novel ini mengisahkan perjuangan Aveline bertahan di tengah kebencian Gabriel. Baca kisah romance novel modern ini untuk mengungkap rahasia kelam mereka.
Ringkasan Belenggu Pernikahan Sang Mafia
Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Baca Selengkapnya

Belenggu Pernikahan Sang Mafia Bab 1

Aveline berdiri dengan tubuh gemetar di depan altar. Gaun pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan malah terasa seperti penjara baginya. Di sebelahnya, Gabriel Alaric berdiri dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya. Lelaki itu tampak sempurna dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, tetapi dinginnya tatapan mata birunya cukup untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi.

"Dengan ini, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri." Suara pendeta terdengar lantang di gereja yang sepi.

Gabriel mengulurkan tangannya ke arah Aveline, bukan dengan kelembutan seorang pengantin pria, melainkan seperti memerintahkan seorang bawahan. Aveline menelan ludah, merasa tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya. Sentuhan dingin itu membuat tubuhnya merinding.

"Jangan terlalu senang, Aveline," bisik Gabriel dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Aveline. "Ini bukan akhir dari penderitaanmu. Ini baru permulaan."

Aveline menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti ini? pikirnya dengan putus asa.

Ketika upacara selesai, Gabriel menarik Aveline keluar dari gereja tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu yang menunggu untuk memberi ucapan selamat.

"Gabriel, kita harus..." Aveline mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terhenti ketika Gabriel menoleh tajam.

"Kita harus apa? Berpura-pura menjadi pasangan bahagia? Jangan bodoh, Aveline," ucapnya dingin. "Pernikahan ini hanya untukku, bukan untukmu."

Aveline tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Gabriel selalu dilapisi racun. Mobil limousine hitam sudah menunggu mereka di depan gereja. Gabriel membuka pintu dengan kasar dan memerintahkan Aveline masuk.

Di dalam mobil, suasana sunyi terasa mencekam. Aveline duduk dengan tangan yang meremas gaunnya, sementara Gabriel sibuk dengan ponselnya. Wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Kenapa aku?" Suara Aveline akhirnya pecah di tengah keheningan. Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya.

Gabriel mendongak dari ponselnya, menatap Aveline dengan tatapan menghina. "Kenapa kau? Karena kau adalah putri Leonard Harper, pria yang menghancurkan keluargaku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Ayahku..."

"Jangan menyebutnya ayahmu di depanku!" bentak Gabriel, suaranya bergema di dalam mobil. "Dia bukan seorang ayah. Dia monster. Dan sekarang, kau akan menanggung semua akibat dari perbuatannya."

Air mata Aveline akhirnya jatuh. Ia tidak mengerti apa kesalahannya hingga harus menjadi korban kebencian Gabriel. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya melawan pria itu.

Sesampainya di rumah megah Gabriel, yang lebih mirip istana, Aveline hampir tidak bisa percaya bahwa ia harus tinggal di tempat sebesar ini. Namun, suasana mencekam dari mansion itu membuatnya merasa seperti sedang berjalan menuju penjara.

Gabriel tidak menunggu lama untuk menunjukkan sikap dinginnya. "Ini kamarmu," ucapnya sambil membuka sebuah pintu. Kamar itu besar dan mewah, tetapi dingin, tanpa sentuhan kehangatan.

"Dan kau?" tanya Aveline dengan suara kecil.

Gabriel tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak mengandung kebahagiaan. "Aku? Aku akan tinggal di kamarku sendiri, tentu saja. Jangan berpikir aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, Aveline. Aku tidak akan menyentuh sesuatu yang kubenci."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Aveline. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di dadanya.

"Mulai sekarang, kau hanya akan melakukan apa yang kuperintahkan," lanjut Gabriel tanpa belas kasihan. "Jangan harap ada cinta atau perhatian dariku. Kau ada di sini hanya karena aku ingin menghancurkan ayahmu. Itu saja."

Gabriel meninggalkan Aveline di kamar itu tanpa memberi kesempatan untuk membalas. Pintu tertutup dengan suara keras, meninggalkan Aveline sendirian dengan rasa hancur yang tak terlukiskan.

Aveline duduk di tepi ranjang besar itu, air matanya mengalir deras. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hari-harinya sebagai istri Gabriel Alaric, seorang pria yang penuh kebencian dan dendam.

Namun di balik semua rasa sakit itu, Aveline berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia harus bertahan di neraka ini, ia akan menemukan alasan di balik kebencian Gabriel. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya dengan penuh tekad, meski hatinya masih gemetar.

Di luar kamar, Gabriel berdiri di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Ia mendengar isak tangis Aveline, tetapi ia memaksa dirinya untuk tidak peduli.

"Ini hanya permulaan, Leonard Harper," gumamnya dengan dingin. "Aku akan membuatmu menyesali semua yang telah kau lakukan pada keluargaku."**Bab 1: Dendam yang Membara**

Aveline berdiri dengan tubuh gemetar di depan altar. Gaun pengantin putih yang seharusnya melambangkan kebahagiaan malah terasa seperti penjara baginya. Di sebelahnya, Gabriel Alaric berdiri dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun senyuman di wajahnya. Lelaki itu tampak sempurna dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh tegapnya, tetapi dinginnya tatapan mata birunya cukup untuk membuat siapa pun merasa terintimidasi.

"Dengan ini, aku nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri." Suara pendeta terdengar lantang di gereja yang sepi.

Gabriel mengulurkan tangannya ke arah Aveline, bukan dengan kelembutan seorang pengantin pria, melainkan seperti memerintahkan seorang bawahan. Aveline menelan ludah, merasa tak punya pilihan lain selain menggenggam tangannya. Sentuhan dingin itu membuat tubuhnya merinding.

"Jangan terlalu senang, Aveline," bisik Gabriel dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Aveline. "Ini bukan akhir dari penderitaanmu. Ini baru permulaan."

Aveline menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. **Kenapa aku harus menikah dengan pria seperti ini?** pikirnya dengan putus asa.

Ketika upacara selesai, Gabriel menarik Aveline keluar dari gereja tanpa basa-basi. Ia bahkan tidak menghiraukan tamu-tamu yang menunggu untuk memberi ucapan selamat.

"Gabriel, kita harus..." Aveline mencoba berbicara, tetapi kata-katanya terhenti ketika Gabriel menoleh tajam.

"Kita harus apa? Berpura-pura menjadi pasangan bahagia? Jangan bodoh, Aveline," ucapnya dingin. "Pernikahan ini hanya untukku, bukan untukmu."

Aveline tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar dari mulut Gabriel selalu dilapisi racun. Mobil limousine hitam sudah menunggu mereka di depan gereja. Gabriel membuka pintu dengan kasar dan memerintahkan Aveline masuk.

Di dalam mobil, suasana sunyi terasa mencekam. Aveline duduk dengan tangan yang meremas gaunnya, sementara Gabriel sibuk dengan ponselnya. Wajah pria itu tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Kenapa aku?" Suara Aveline akhirnya pecah di tengah keheningan. Ia memberanikan diri untuk menatap suaminya.

Gabriel mendongak dari ponselnya, menatap Aveline dengan tatapan menghina. "Kenapa kau? Karena kau adalah putri Leonard Harper, pria yang menghancurkan keluargaku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Ayahku..."

"Jangan menyebutnya ayahmu di depanku!" bentak Gabriel, suaranya bergema di dalam mobil. "Dia bukan seorang ayah. Dia monster. Dan sekarang, kau akan menanggung semua akibat dari perbuatannya."

Air mata Aveline akhirnya jatuh. Ia tidak mengerti apa kesalahannya hingga harus menjadi korban kebencian Gabriel. Tetapi ia tahu, tidak ada gunanya melawan pria itu.

Sesampainya di rumah megah Gabriel, yang lebih mirip istana, Aveline hampir tidak bisa percaya bahwa ia harus tinggal di tempat sebesar ini. Namun, suasana mencekam dari mansion itu membuatnya merasa seperti sedang berjalan menuju penjara.

Gabriel tidak menunggu lama untuk menunjukkan sikap dinginnya. "Ini kamarmu," ucapnya sambil membuka sebuah pintu. Kamar itu besar dan mewah, tetapi dingin, tanpa sentuhan kehangatan.

"Dan kau?" tanya Aveline dengan suara kecil.

Gabriel tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak mengandung kebahagiaan. "Aku? Aku akan tinggal di kamarku sendiri, tentu saja. Jangan berpikir aku akan tidur di ranjang yang sama denganmu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu, Aveline. Aku tidak akan menyentuh sesuatu yang kubenci."

Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hati Aveline. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit di dadanya.

"Mulai sekarang, kau hanya akan melakukan apa yang kuperintahkan," lanjut Gabriel tanpa belas kasihan. "Jangan harap ada cinta atau perhatian dariku. Kau ada di sini hanya karena aku ingin menghancurkan ayahmu. Itu saja."

Gabriel meninggalkan Aveline di kamar itu tanpa memberi kesempatan untuk membalas. Pintu tertutup dengan suara keras, meninggalkan Aveline sendirian dengan rasa hancur yang tak terlukiskan.

Aveline duduk di tepi ranjang besar itu, air matanya mengalir deras. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hari-harinya sebagai istri Gabriel Alaric, seorang pria yang penuh kebencian dan dendam.

Namun di balik semua rasa sakit itu, Aveline berjanji pada dirinya sendiri. Jika ia harus bertahan di neraka ini, ia akan menemukan alasan di balik kebencian Gabriel. **Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,** pikirnya dengan penuh tekad, meski hatinya masih gemetar.

Di luar kamar, Gabriel berdiri di depan pintu dengan rahang yang mengeras. Ia mendengar isak tangis Aveline, tetapi ia memaksa dirinya untuk tidak peduli.

"Ini hanya permulaan, Leonard Harper," gumamnya dengan dingin. "Aku akan membuatmu menyesali semua yang telah kau lakukan pada keluargaku."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Kalau Cinta, Pasti Sayang
8.3
Lima tahun pernikahan tanpa cinta membuat sang istri menderita karena diabaikan suaminya. Begitu sang istri meninggal, sang suami justru segera menemui cinta pertamanya. Ketika istrinya menghilang, dia hanya mencemooh dan menganggapnya sebagai taktik mencari perhatian. Demi membuktikan kebohongan tersebut, ia berniat memastikan kabar kematian istrinya secara langsung. Namun, dia sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang diabaikannya itu memang telah tiada sejak beberapa hari yang lalu.
Sampul Novel Mimpi Yang Retak
7.9
Kehidupan harmonis keluarga Johnson hanyalah topeng belaka. Di balik kemegahan rumah mereka, Alice menyembunyikan duka di balik senyum rapuh, sementara Daniel terobsesi menjaga citra kesuksesan. Saat rahasia kelam mulai terkuak dan kepercayaan hancur, mereka harus memilih antara memperbaiki mimpi yang retak atau tenggelam dalam kebohongan. Sebuah drama emosional penuh pengkhianatan yang menguji apakah kebahagiaan sejati masih bisa ditemukan di tengah kehancuran.
Sampul Novel PlayGirl Kelas Teri
8.2
Suci Nabila adalah siswi SMP yang gemar mempermainkan perasaan lawan jenis. Bersama Regina, sahabat setianya, mereka memanfaatkan paras cantik untuk memikat para pria demi keuntungan pribadi. Meski sering menggoda, mereka tetap memegang prinsip teguh untuk tidak pernah memberikan sentuhan fisik kepada siapa pun. Bagi mereka, pria hanyalah sekadar mainan yang bisa dikendalikan. Namun, mampukah mereka terus menghindar dari jeratan karma akibat ulah jahat tersebut?
Sampul Novel Simfoni Pembalasan
8.4
Hidup pianis berbakat Athena hancur seketika saat kecelakaan misterius melumpuhkan tangannya. Di tengah keputusasaan, ia justru menghadapi kenyataan pahit berupa pengkhianatan keji dari suami dan sahabatnya sendiri. Saat terpuruk, muncul Arthur, pria penuh misteri yang menawarkan bantuan untuk menuntut balas. Kini, Athena harus meniti jalan pembalasan yang penuh risiko. Akankah simfoni ini berakhir dengan keadilan, atau ia justru tenggelam dalam kelicikan?
Sampul Novel Terbelenggu Obsesi Sang CEO
9.1
Lima tahun berlalu, namun Xavier masih menyimpan dendam mendalam terhadap Clara yang dulu menghancurkan hatinya. Takdir berkata lain saat krisis keluarga memaksa Xavier menjadi pelindung bagi wanita tersebut. Terjebak dalam situasi penuh ancaman, kebencian Xavier perlahan berubah menjadi obsesi yang tak terkendali. Di balik bahaya yang mengintai, mereka berdua justru semakin terjerat dalam hubungan yang rumit, di mana batas antara rasa benci dan cinta kian menipis.
Sampul Novel You Make Me High
8.3
Bertahun-tahun hidup mandiri membuat Bianca skeptis saat Ravindra, seorang pria kaya yang lebih muda, mencoba mendekatinya. Meski terus ditolak, Ravindra tak menyerah menghadapi sikap dingin Bianca. Ia justru menawarkan kesepakatan yang sulit diabaikan. Dengan memberikan sebuah Black Card, Ravindra berjanji akan membiayai segala keinginan Bianca asal ia bersedia menjadi miliknya. Kini, Bianca terjebak antara prinsipnya atau tawaran materi yang sangat menggiurkan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan