Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Belenggu Pernikahan Sang Mafia

Gabriel Alaric menjadikan Aveline Harper alat balas dendam terhadap ayahnya, Leonard. Gadis berusia 21 tahun itu dipaksa menikah demi menebus dosa masa lalu keluarganya. Di tengah kebencian Gabriel yang dingin, terdapat rahasia kelam yang menyiksa batinnya. Aveline pun berusaha bertahan sambil memahami luka suaminya. Akankah dendam ini berakhir dengan kehancuran, atau justru cinta yang tak terduga muncul menyatukan mereka di tengah badai emosi?
Bab
Bagikan

Bab 3

Keesokan harinya, matahari baru saja terbit, tetapi mansion Alaric sudah tampak sibuk. Para pelayan berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka, sementara suasana tetap dingin seperti penghuninya.

Aveline terbangun dengan mata sembab akibat tangisan semalam. Ia memandang cermin besar di kamar yang menunjukkan pantulan dirinya. Gadis di sana tampak asing-pucat, lemah, dan penuh ketakutan.

Namun, hari ini ia memutuskan untuk tidak membiarkan dirinya larut dalam penderitaan. Ia membersihkan wajahnya, mengganti gaunnya dengan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan.

Di ruang makan, Gabriel sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan setelan hitam yang rapi. Ia tampak seperti sosok sempurna seorang pria kaya dan berkuasa, tetapi dinginnya tatapan matanya segera mengingatkan Aveline pada kenyataan pahit yang harus ia jalani.

"Pagi," sapa Aveline pelan, mencoba mencairkan suasana.

Gabriel mengangkat pandangannya, menatap Aveline dengan ekspresi datar. "Kau tidak perlu berbasa-basi, Aveline. Duduk dan makan."

Aveline menghela napas, lalu duduk di kursi yang cukup jauh darinya. Sepiring roti panggang dan secangkir teh telah disiapkan untuknya.

Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Aveline ingin sekali bertanya tentang apa yang ia dengar semalam, tetapi ia tahu Gabriel tidak akan menjawab dengan jujur.

"Aku ingin keluar," ucap Aveline tiba-tiba.

Gabriel berhenti menyantap makanannya, menatapnya tajam. "Untuk apa?"

"Aku hanya ingin berjalan-jalan. Aku tidak bisa terus-menerus terkunci di dalam rumah ini," jawab Aveline dengan hati-hati.

Gabriel tersenyum sinis. "Kau tidak terkunci. Tapi ingat ini, Aveline, dunia luar tidak aman untukmu. Banyak orang yang mungkin mengincarmu sekarang karena kau adalah istriku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Sudah kubilang, jangan banyak bertanya," potong Gabriel tajam. "Kalau kau ingin keluar, kau harus pergi dengan pengawal. Tidak ada tawar-menawar."

Aveline merasa kesal dengan sikap otoriter Gabriel, tetapi ia tidak ingin memperpanjang argumen. "Baiklah. Aku akan pergi dengan pengawal."

Gabriel melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu. "Eric, kau temani dia. Pastikan dia tidak pergi ke tempat yang mencurigakan."

Eric, pria berpenampilan tegap dengan rambut hitam pendek, mengangguk hormat. "Baik, Tuan."

Beberapa jam kemudian, Aveline dan Eric berada di sebuah taman kecil di pusat kota. Aveline menghirup udara segar, mencoba menikmati kebebasan singkatnya. Namun, ia tahu Eric mengawasinya dengan ketat.

"Kau tidak perlu mengikutiku terlalu dekat," kata Aveline sambil memutar badannya ke arah Eric.

Eric tersenyum tipis. "Tugas saya menjaga Anda, Nyonya. Jika sesuatu terjadi, Tuan Gabriel tidak akan memaafkan saya."

Mendengar nama Gabriel membuat hati Aveline kembali berat. "Dia selalu seperti itu?" tanyanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang pria yang kini menjadi suaminya.

Eric terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan Gabriel adalah pria yang sangat protektif... dalam caranya sendiri."

Aveline mengerutkan kening. "Protektif? Sepertinya itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti tiran."

Eric tidak membalas. Ia tahu lebih baik untuk tidak terlalu banyak berbicara.

Aveline akhirnya menyerah. Ia melanjutkan berjalan sambil memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Namun, ketika ia sedang duduk di bangku taman, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar.

Seorang pria dengan jas abu-abu berdiri di seberang jalan, menatapnya dengan tatapan tajam. Aveline tidak mengenalnya, tetapi ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Eric," panggilnya dengan suara kecil.

Eric segera mendekat. "Ada apa, Nyonya?"

"Lihat pria di sana," bisik Aveline, menunjuk ke arah pria itu. "Dia terus menatapku."

Eric menoleh, dan wajahnya langsung berubah serius. "Tetap di sini," katanya sebelum berjalan ke arah pria itu.

Namun, sebelum Eric bisa mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil hitam dan melaju pergi.

Eric kembali dengan wajah tegang. "Kita harus kembali ke mansion sekarang," katanya tegas.

"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aveline bingung.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo."

Sesampainya di mansion, Gabriel sudah menunggu mereka di ruang tamu. Tatapannya penuh kemarahan saat melihat Eric dan Aveline masuk.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara dingin.

"Seorang pria mencurigakan mengawasi Nyonya di taman," lapor Eric. "Saya tidak sempat menangkapnya. Dia kabur."

Wajah Gabriel mengeras. Ia menoleh ke arah Aveline. "Apa kau baik-baik saja?"

Aveline terkejut mendengar nada khawatir di suara Gabriel, meskipun itu hanya sesaat. "Aku baik-baik saja. Tapi siapa pria itu?"

"Itu bukan urusanmu," jawab Gabriel cepat. "Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar lagi tanpa izinku."

"Apa? Tapi-"

"Tidak ada tapi, Aveline!" potong Gabriel. "Kau istriku sekarang, dan aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jangan membuatku marah."

Aveline merasa frustrasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Gabriel. Ia hanya bisa kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh pertanyaan.

Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Gabriel? Pikir Aveline sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya.

Sementara itu, Gabriel berdiri di ruang kerjanya, menatap foto keluarga Aveline yang ia letakkan di mejanya. Rahangnya mengeras.

"Leonard Harper," gumamnya dengan suara rendah. "Permainan ini belum selesai."**Bab 1 (Lanjutan): Jejak Kebencian**

Keesokan harinya, matahari baru saja terbit, tetapi mansion Alaric sudah tampak sibuk. Para pelayan berlalu-lalang mengerjakan tugas mereka, sementara suasana tetap dingin seperti penghuninya.

Aveline terbangun dengan mata sembab akibat tangisan semalam. Ia memandang cermin besar di kamar yang menunjukkan pantulan dirinya. Gadis di sana tampak asing-pucat, lemah, dan penuh ketakutan.

Namun, hari ini ia memutuskan untuk tidak membiarkan dirinya larut dalam penderitaan. Ia membersihkan wajahnya, mengganti gaunnya dengan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari, lalu turun ke ruang makan untuk sarapan.

Di ruang makan, Gabriel sudah duduk di ujung meja panjang, mengenakan setelan hitam yang rapi. Ia tampak seperti sosok sempurna seorang pria kaya dan berkuasa, tetapi dinginnya tatapan matanya segera mengingatkan Aveline pada kenyataan pahit yang harus ia jalani.

"Pagi," sapa Aveline pelan, mencoba mencairkan suasana.

Gabriel mengangkat pandangannya, menatap Aveline dengan ekspresi datar. "Kau tidak perlu berbasa-basi, Aveline. Duduk dan makan."

Aveline menghela napas, lalu duduk di kursi yang cukup jauh darinya. Sepiring roti panggang dan secangkir teh telah disiapkan untuknya.

Mereka makan dalam keheningan yang canggung. Aveline ingin sekali bertanya tentang apa yang ia dengar semalam, tetapi ia tahu Gabriel tidak akan menjawab dengan jujur.

"Aku ingin keluar," ucap Aveline tiba-tiba.

Gabriel berhenti menyantap makanannya, menatapnya tajam. "Untuk apa?"

"Aku hanya ingin berjalan-jalan. Aku tidak bisa terus-menerus terkunci di dalam rumah ini," jawab Aveline dengan hati-hati.

Gabriel tersenyum sinis. "Kau tidak terkunci. Tapi ingat ini, Aveline, dunia luar tidak aman untukmu. Banyak orang yang mungkin mengincarmu sekarang karena kau adalah istriku."

Aveline mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

"Sudah kubilang, jangan banyak bertanya," potong Gabriel tajam. "Kalau kau ingin keluar, kau harus pergi dengan pengawal. Tidak ada tawar-menawar."

Aveline merasa kesal dengan sikap otoriter Gabriel, tetapi ia tidak ingin memperpanjang argumen. "Baiklah. Aku akan pergi dengan pengawal."

Gabriel melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya yang berdiri di dekat pintu. "Eric, kau temani dia. Pastikan dia tidak pergi ke tempat yang mencurigakan."

Eric, pria berpenampilan tegap dengan rambut hitam pendek, mengangguk hormat. "Baik, Tuan."

---

Beberapa jam kemudian, Aveline dan Eric berada di sebuah taman kecil di pusat kota. Aveline menghirup udara segar, mencoba menikmati kebebasan singkatnya. Namun, ia tahu Eric mengawasinya dengan ketat.

"Kau tidak perlu mengikutiku terlalu dekat," kata Aveline sambil memutar badannya ke arah Eric.

Eric tersenyum tipis. "Tugas saya menjaga Anda, Nyonya. Jika sesuatu terjadi, Tuan Gabriel tidak akan memaafkan saya."

Mendengar nama Gabriel membuat hati Aveline kembali berat. "Dia selalu seperti itu?" tanyanya, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang pria yang kini menjadi suaminya.

Eric terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan Gabriel adalah pria yang sangat protektif... dalam caranya sendiri."

Aveline mengerutkan kening. "Protektif? Sepertinya itu bukan kata yang tepat. Dia lebih seperti tiran."

Eric tidak membalas. Ia tahu lebih baik untuk tidak terlalu banyak berbicara.

Aveline akhirnya menyerah. Ia melanjutkan berjalan sambil memikirkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Namun, ketika ia sedang duduk di bangku taman, ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar.

Seorang pria dengan jas abu-abu berdiri di seberang jalan, menatapnya dengan tatapan tajam. Aveline tidak mengenalnya, tetapi ada sesuatu tentang pria itu yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Eric," panggilnya dengan suara kecil.

Eric segera mendekat. "Ada apa, Nyonya?"

"Lihat pria di sana," bisik Aveline, menunjuk ke arah pria itu. "Dia terus menatapku."

Eric menoleh, dan wajahnya langsung berubah serius. "Tetap di sini," katanya sebelum berjalan ke arah pria itu.

Namun, sebelum Eric bisa mendekat, pria itu masuk ke dalam mobil hitam dan melaju pergi.

Eric kembali dengan wajah tegang. "Kita harus kembali ke mansion sekarang," katanya tegas.

"Tapi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aveline bingung.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo."

---

Sesampainya di mansion, Gabriel sudah menunggu mereka di ruang tamu. Tatapannya penuh kemarahan saat melihat Eric dan Aveline masuk.

"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara dingin.

"Seorang pria mencurigakan mengawasi Nyonya di taman," lapor Eric. "Saya tidak sempat menangkapnya. Dia kabur."

Wajah Gabriel mengeras. Ia menoleh ke arah Aveline. "Apa kau baik-baik saja?"

Aveline terkejut mendengar nada khawatir di suara Gabriel, meskipun itu hanya sesaat. "Aku baik-baik saja. Tapi siapa pria itu?"

"Itu bukan urusanmu," jawab Gabriel cepat. "Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar lagi tanpa izinku."

"Apa? Tapi-"

"Tidak ada tapi, Aveline!" potong Gabriel. "Kau istriku sekarang, dan aku bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jangan membuatku marah."

Aveline merasa frustrasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Gabriel. Ia hanya bisa kembali ke kamarnya dengan hati yang penuh pertanyaan.

**Siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Gabriel?** Pikir Aveline sambil menatap langit malam dari jendela kamarnya.

Sementara itu, Gabriel berdiri di ruang kerjanya, menatap foto keluarga Aveline yang ia letakkan di mejanya. Rahangnya mengeras.

"Leonard Harper," gumamnya dengan suara rendah. "Permainan ini belum selesai."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FRU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FRU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ann The Innocent
7.8
Ann Arthurian adalah gadis jenius yang malang. Ia sering dicap sebagai anak pembunuh karena ayahnya menghabisi nyawa ibu angkatnya. Setelah kehilangan nenek, Ann menderita akibat perundungan di asrama. Namun, takdir berubah saat ia bertemu putra mafia yang menemukan buku miliknya. Kehidupan Ann berbalik total ketika ia bergabung dengan tim ilmuwan untuk memecahkan kode rahasia negara. Di tengah misi besar itu, kebenaran tentang asal-usul keluarganya yang kelam mulai terungkap.
Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Terjebak di pusaran mafia yang kelam, aku merindukan kehidupan damai di balik layar. Namun, segalanya berubah saat ibuku menikahi mantan bos mafia. Kaelion Verez Montefalco, pewaris takhta kejam dari Italia Selatan, kini menjadi saudara tiriku yang obsesif. Dia mengontrol setiap gerak-gerik dan napas yang kuhela. Di saat aku berjuang mempertahankan kebebasan, Kaelion justru menggunakan kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi yang dingin dan tak terelakkan.
Sampul Novel Istri Mafia, Tak Pantas untuk Pewaris
9.7
Suamiku, Wakil Bos Mafia, mencampakkanku karena aku divonis mandul. Ia membawa ibu pengganti ke rumah dan memperlakukannya bak kekasih, mengkhianati janji suci kami. Puncaknya, ia membiarkanku terluka parah demi melindungi wanita itu. Di dunia kelam ini, seorang istri mustahil bercerai secara normal. Maka, aku merancang skenario kematianku sendiri untuk menghancurkan hidupnya, membiarkannya membusuk di atas puing-puing kejayaan yang ia bangun.
Sampul Novel MAFIA DI KEJAR GADIS OBSESI
9.2
Dunia berlutut di hadapan bos mafia kejam yang dikenal sangat agresif dan tak kenal ampun. Namun, otoritasnya mendadak goyah saat menghadapi seorang gadis pemberani berjiwa pejuang. Berbeda dari orang lain, pebisnis tangguh ini justru berani membangkang, berdebat, hingga menggoda sang mafia tanpa rasa takut. Meski sang bos mencoba segala cara untuk mengintimidasi, keberanian gadis itu justru membalikkan keadaan. Akankah kekejaman sang mafia luluh oleh obsesi unik ini?
Sampul Novel Manis di Bibir, Pahit di Takdir
9.7
Devan Atmadja dikenal sebagai suami sempurna, namun Viona harus menerima kenyataan bahwa pria itu telah mengkhianatinya tiga kali. Devan menikahi Keira Maheswari, kekasih mendiang sahabatnya, dengan alasan tanggung jawab dan aliansi kekuasaan keluarga mafia. Meski Viona berulang kali memaafkannya, pengkhianatan terakhir berupa kehamilan Keira menyadarkannya bahwa janji suaminya palsu. Viona kini memutuskan untuk pergi dan meninggalkan hubungan tanpa masa depan tersebut.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa menyelamatkanku dari maut, namun sepuluh tahun kemudian, dia mengkhianatiku demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya menghinaku meski tahu nyawaku terancam. Sadar hanya dianggap properti, cintaku musnah seketika. Di hari perayaannya, aku memutuskan kabur dari sangkar emas ini. Sebuah jet pribadi siap membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok pria yang ternyata adalah musuh bebuyutan sang bos mafia tersebut.