Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita yang tidak diinginkan

Wanita yang tidak diinginkan

Nadine Aulia terjebak dalam pernikahan menyakitkan sebagai istri yang tak diinginkan Arman Ridwan Putra. Di usia muda, ia harus tabah menghadapi kekejaman suami serta gangguan Clara, kekasih gelap Arman. Sebenarnya, Nadine adalah korban tragedi malam kelam saat Arman mabuk, yang membuatnya kini mengandung. Di tengah penindasan dan tuduhan sebagai penghalang cinta mereka, mampukah Nadine bertahan demi janinnya atau menemukan jalan keluar dari lingkaran luka ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu terasa berat bagi Nadine. Setiap langkahnya terasa lambat dan penuh dengan beban yang tak terlihat. Setelah menyelesaikan semua tugas yang diberikan Clara, ia kembali ke kamarnya, merasakan kesepian yang semakin menggigit. Hatinya hampa, dan pikirannya berlarian, tak tahu ke mana harus berpaling.

Ia duduk di tepi ranjang, memandangi foto pernikahan yang masih tersimpan di samping tempat tidurnya. Foto itu memancarkan kebahagiaan yang kini terasa seperti ilusi. Di sana, ada dirinya dan Arman-terlihat bahagia, meski itu hanya sekejap. Semua itu kini hanya kenangan yang semakin memudar, ditutupi oleh kebencian dan kekecewaan yang menyelubungi hubungan mereka.

Nadine merasakan perutnya berdenyut nyeri. Ia memegang perutnya dengan lembut, mencoba menenangkan diri. Bayi itu, satu-satunya alasan dia bertahan, membuatnya tetap berjuang meski tubuhnya terasa lelah dan emosinya terpecah.

Saat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Clara masuk dengan wajah yang tidak menyenangkan. "Kenapa kau masih di sini? Aku sudah bilang, cepat keluar dan bersihkan rumah! Aku tidak ingin melihatmu berdiam diri seperti ini!" suara Clara terdengar tajam, menghujam ke telinga Nadine.

Nadine menundukkan kepala. "Saya akan segera keluar, Clara. Saya hanya ingin istirahat sejenak." Suaranya pelan, hampir tak terdengar. Ia tahu, apapun yang dia katakan takkan mengubah sikap Clara yang semakin membencinya.

Clara menatapnya dengan jijik. "Istirahat? Jangan bermimpi. Kau harus kerja, bekerja, dan terus bekerja. Jangan sampai aku melihatmu tidak berbuat apa-apa!" Clara berbalik dan meninggalkan kamar tanpa memberi kesempatan untuk Nadine menjawab.

---

Di Ruang Tamu

Nadine menarik napas panjang sebelum pergi ke ruang tamu. Ia mencoba menenangkan diri dengan melakukan hal-hal kecil yang bisa sedikit meringankan pikirannya. Namun, saat memasuki ruang tamu, ada Arman yang sedang duduk di sofa dengan wajah lesu, menatap kosong ke depan. Wajahnya tampak murung, seperti seseorang yang baru saja menghadapi badai.

Nadine berhenti sejenak di pintu. "Pak... apakah Anda ingin saya siapkan sesuatu?" tanyanya dengan suara lembut, berusaha untuk tidak menambah ketegangan.

Arman mengangkat wajahnya perlahan, menatap Nadine dengan mata yang masih sedikit terpejam. "Kau masih di sini?" katanya dengan suara datar, hampir tanpa emosi. "Aku pikir kau sudah pergi... ke tempat yang lebih baik."

Kata-kata itu kembali menusuk hati Nadine. Meski tidak diucapkan dengan penuh kebencian, namun nada yang terlintas dalam suara Arman seperti sebuah penghinaan.

Nadine menunduk. "Saya tetap di sini, Pak, karena... karena saya harus bertanggung jawab. Saya ingin anak ini lahir dengan selamat," jawabnya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.

Arman mendengus, matanya kembali tertutup, seperti sedang berusaha menenangkan dirinya. "Tidak ada yang peduli dengan itu," gumamnya. "Kau hanyalah penghalang. Semua orang tahu itu."

Kata-kata itu semakin dalam menggores luka di hati Nadine. Namun, ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia tahu, dalam dunia Arman, ia tak pernah menjadi bagian yang penting. Hanya bayangan yang mengganggu, yang membuat segala sesuatunya menjadi rumit.

---

Di Malam Hari

Malam itu terasa lebih lama dari biasanya. Nadine duduk sendirian di kamar tidurnya, matanya memandangi langit malam yang gelap di luar jendela. Tak ada bintang, hanya kesunyian yang memenuhi ruang. Pikirannya terus berputar, mencoba mencari jalan keluar dari semua kebuntuan ini. Tapi ia tahu, tak ada tempat lain baginya. Hanya ada dirinya dan bayi itu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan suara keras, dan Arman masuk dengan langkah sempoyongan. Nadine terkejut dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Arman berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, tampak sedikit terhuyung karena pengaruh alkohol yang masih tersisa.

"Nadine..." suara Arman terdengar serak. "Kau masih di sini, ya? Tak pernah pergi, bukan?" Ia tersenyum sinis, seolah merendahkan Nadine.

Nadine menahan napas, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya mulai kacau. "Pak, apa yang Anda inginkan?" tanyanya dengan suara tenang, berusaha menghindari konfrontasi.

Arman tersenyum miring. "Apa yang aku inginkan? Aku ingin semuanya berakhir, Nadine. Aku ingin hidupku tenang tanpa ada kamu di sini." Arman berjalan menuju tempat tidur dan duduk dengan kasar. Ia menatap Nadine dengan mata yang mulai kehilangan fokus. "Kau hanya mengganggu, tidak lebih dari itu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Baby Daddy
8.2
Bastian Cokro, CEO F&B berusia 30 tahun, diterpa isu miring mengenai kemandulan yang membuatnya tetap melajang. Sementara itu, Eva Sania adalah penyiar berita sukses yang menikmati hidup bebas bersama pasangan FWB-nya. Namun, dunianya jungkir balik saat sang ibu memberikan perintah tak terduga. Alih-alih mendesak Eva untuk menikah, ibunya justru meminta Eva segera memiliki anak tanpa perlu mencari suami. Kini, pencarian pria sehat untuk membuahinya pun dimulai.
Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra CEO kaya, terperosok dalam gaya hidup kelam dan gemar mempermainkan wanita. Namun, hidupnya berubah saat ia terobsesi pada Melati, kekasih sahabatnya sendiri. Tindakan Bisma justru membawa penderitaan bagi gadis yang ia harap mampu mengubahnya menjadi pria lebih baik. Kini, ia dihantui peringatan masa lalu bahwa kebahagiaan takkan pernah ia raih. Apakah ini kutukan atas segala dosanya? Bisma harus memilih antara melepaskan atau terus mengejar cinta.
Sampul Novel Cinta Yang Kau Balas Dengan Surat Cerai!
9.1
Amara terkejut saat suaminya, Damien Crowhurst, meminta cerai tepat saat ia menyiapkan makan malam. Meski mencintai Damien sejak awal perjodohan mereka pasca kebangkrutan keluarganya, Amara setuju berpisah dan menerima kompensasi besar. Sikap tenangnya mengejutkan Damien serta Selene Marquette, wanita baru yang menghinanya. Setelah empat tahun terbelenggu dalam pernikahan dingin, Amara memilih pergi ke apartemen kecil demi menghirup udara kebebasan yang sesungguhnya.
Sampul Novel Godaan Sang Mantan Pacar
8.6
Nisa kembali bertemu dengan Leon, pria yang dahulu menjadi pusat dunianya. Namun, sebuah perubahan besar terjadi karena kini Nisa sama sekali tidak mengingat sosok Leon. Alih-alih cinta, Nisa justru merasakan kebencian mendalam dan berusaha menjauh dari pria tersebut. Di tengah situasi yang rumit ini, Leon harus berjuang keras untuk memenangkan kembali hati Nisa. Mampukah Leon membangun kembali puing-puing asmara saat sang wanita telah melupakan segalanya?
Sampul Novel Ipar Posesifku
8.3
Terjebak dalam takdir yang tak terduga, aku terpaksa menikahi adik dari suamiku sendiri. Pria itu selalu bersikap dingin dan menunjukkan kebencian yang mendalam terhadap kehadiranku selama ini. Namun, saat perjodohan ini direncanakan, ia justru tidak memberikan penolakan sama sekali. Apa sebenarnya alasan di balik sikap diamnya? Mengapa ia bersedia terikat denganku dalam pernikahan ini meskipun hubungan kami penuh dengan ketegangan yang misterius?
Sampul Novel Makasih Patah Hati
9.5
Amelia, wanita berusia 25 tahun, telah memilih untuk melajang selama empat tahun karena jengah dengan pria yang hanya ingin main-main. Baginya, kesendirian adalah perlindungan terbaik hingga ia bertemu Fred. Pria berusia 27 tahun itu merupakan seorang CEO muda kaya raya dengan kekuasaan besar. Ketertarikan Fred yang mendalam membawanya pada sebuah tawaran yang tak terduga. Ia meminta Amelia menjadi istrinya. Kini, Amelia harus menentukan pilihan hidupnya.