Sampul Novel Godaan Sang Mantan Pacar

Godaan Sang Mantan Pacar

8.6 / 10.0
Dalam romance novel Godaan Sang Mantan Pacar, Nisa kehilangan ingatan tentang Leon, pria yang dulu menjadi dunianya. Kini Leon harus menghadapi kebencian Nisa sambil berjuang memulihkan cinta mereka. Simak kisah modern novel ini untuk melihat upaya Leon mendapatkan kembali hati Nisa.
Ringkasan Godaan Sang Mantan Pacar
Nisa kembali bertemu dengan Leon, pria yang dahulu menjadi pusat dunianya. Namun, sebuah perubahan besar terjadi karena kini Nisa sama sekali tidak mengingat sosok Leon. Alih-alih cinta, Nisa justru merasakan kebencian mendalam dan berusaha menjauh dari pria tersebut. Di tengah situasi yang rumit ini, Leon harus berjuang keras untuk memenangkan kembali hati Nisa. Mampukah Leon membangun kembali puing-puing asmara saat sang wanita telah melupakan segalanya?
Baca Selengkapnya

Godaan Sang Mantan Pacar Bab 1

Sebuah taksi berhenti di area pemakaman, langkah kakinya terasa berat. Dia membawa dua karangan bunga yang sudah di pelukannya dengan erat.

Dua batu nisan terpampang jelas di pelupuk matanya. Ada rasa sesal dan sesak dalam dada, rasa sakit yang disimpan selama lima tahun itu tertumpah begitu saja diatas batu-batu nisan tersebut.

"Aku pulang Pah, Lana. Maaf membuat kalian menungguku terlalu lama. Maaf karena aku telah banyak menyusahkan kalian. Aku berjanji akan menjaga dan merawat mama menggantikan kalian." 

Deraian air mata berjatuhan membasahi wajah nan cantik jelita. Mengingat semua kejadian lima tahun lalu meninggalkan luka yang teramat dalam.

Setelah menaruh karangan bunga, dia pun pergi meninggalkan area pemakaman. Taksi kembali melanjutkan perjalanan pada sebuah rumah sakit. 

Dia membawa satu karangan bunga lili putih juga sekotak makanan kesukaan. Wanita paruh baya itu terbaring lemah dengan selang infus di lengan dan hidungnya. Alat bantu yang membuatnya bertahan untuk hidup.

Wanita nan cantik jelita tadi meletakan bunga lili putih kesayangan menggantikan bunga yang sudah layu di atas meja pasien.

"Ma, aku sudah pulang, aku sudah sehat. Semua ini berkat Lana yang sangat menyayangiku. Sekarang giliran aku yang menjaga dan merawatmu," ucap wanita nan cantik jelita itu sambil mengusap lembut pipi wanita kesayangan yang sudah terlihat keriput.

Suara dorongan pintu dibuka, seorang pria berkacamata menghampiri wanita nan cantik jelita tadi, "Kau sudah datang, Nis? Bagaimana perjalananmu?" suara tadi menepuk perlahan pundak wanita itu.

"Uhm, lumayan melelahkan Adam, tapi aku sudah bertemu papa dan Lana sebelum kesini," ucapnya sambil tangan mungil itu memijat perlahan lengan wanita kesayangan tadi.

"Sebaiknya kau pulang dan istirahat, dua hari lagi kau kan sudah mulai bekerja dan maaf jika tempat tinggal yang kupilihkan tidak sesuai dengan keinginanmu. Aku harap kau tak keberatan,"  tambah lelaki yang bernama Adam tadi.

"Terima kasih sudah membantuku mencarikan pekerjaan dan tempat tinggal buatku, Dam!" suaranya nan lembut dengan lesung pipi yang kembang kempis juga tersenyum saat berbicara.

"Jangan bicara seperti itu Nis, selama ini paman dan bibi sudah banyak membantuku. Kalau bukan mereka yang membantu, mungkin aku masih bergelandangan di jalan," ucap Adam menatap Nisa  yang sedang mengkhawatirkan kondisi ibunya.

"Bagaimana dengan kondisi terakhir mamaku, Dam? Apa yang dokter katakan?" Nisa mencoba mengalihkan dengan pertanyaan.

"Bibi memerlukan transplantasi jantung dan yang paling penting biaya untuk operasi juga pemulihannya membutuhkan biaya yang tak sedikit," jelas Adam.

Meski mencoba tersenyum, Adam sangatlah tahu beban yang sedang dirasakan Nisa. 

"Uhm, aku paham!"

Nisa hanya mengangguk perlahan, dia mencoba memahami semua ucapan yang dikatakan Adam.

Ya ... inilah awal baru untuk seorang Faranisa Aznii setelah orangtuanya bangkrut. Ayah dan adiknya, Lana meninggal karena kecelakaan dan jantung Lana didonorkan kepadanya. Sedangkan dirinya terpaksa memulihkan diri di negeri orang dengan sia-sia ekonomi terakhir mereka.

Ibunya memiliki riwayat yang sama seperti Nisa, terpaksa hanya bisa mengandalkan peralatan bantu untuk mendominasi tubuhnya tiga tahun belakangan ini. Kali ini Nisa harus berjuang mengandalkan diri sendiri dan kemampuannya yang tak seberapa untuk mencari biaya perawatan, operasi ibu juga dirinya sendiri.

Nisa berjalan keluar rumah sakit berbarengan dengan satu mobil yang diparkir dengan tergesa, terlihat salah seorang membuka pintu penumpang dan memapah seseorang yang terluka. Mereka hanya terhalang satu orang sehingga tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.

"Nis, aku akan mengantarkanmu."  Adam berlari menyusul Nisa.

"Kau pasti lelah seharian bekerja, Dam. Apa masih ada waktu untuk mengantarkanku?" 

Nisa merasa sungkan karena selama dia tak ada, Adamlah yang menjaga juga merawat ibunya.

"Tidak apa-apa, Nis. Kau juga pasti belum makan, kita mampir makan sekalian ya," ucap Adam, Nisa tak bisa menolak lagi menerima ajakan dari Adam.

"Aku ambil motorku sebentar. Kau tunggu disini ya, Nis," lanjut Adam meninggalkan Nisa berjalan ke arah parkiran.

"Cih ... aku bilang, aku baik-baik saja. Kau sampai repot membawaku ke rumah sakit!" Gerutu seorang pria yang lengannya sudah di balut perban.

"Maaf, Tuan, tapi ini adalah perintah dari tuan Prawira langsung, kakek Tuan, beliau menyuruh saya menjaga Tuan apapun yang terjadi. Jadi mana saya berani melanggarnya." kilahnya.

"Kau masih saja memakai alasan kakekku, Bisma. Dia itu sudah meninggal, sudahlah, aku bukan anak kecil lagi," sahutnya dengan suara setengah bariton yang dikeluarkan.

"Ta–ta–pi, Tuan Leon, ini adalah amanat beliau yang harus saya jaga." Bisma masih saja bersikeras.

"Sssttt, sudah jangan berisik lagi. Ambilkan mobil! Mau sampai kapan aku berdiri seperti ini," delik Leon memberi perintah. Dia terdengar tak sabar ingin segera meninggalkan rumah sakit.

"Ba–ba—baik, saya ambil sekarang, mohon tunggu sebentar, Tuan!" Bisma berlari meninggalkan tuannya mengambil mobil. 

Mata Leon berkeliling sesaat, matanya menangkap sosok yang dia kenali. Namun, dia segera meremas wajahnya sendiri dengan kasar.

"Ughh. Aku masih juga belum bisa melupakan dia, padahal sudah lima tahun berlalu. Rasanya itu tidak mungkin dia.  Aku sudah sering salah mengenali orang. Dasar sial, semua karena ulah Marko mengajakku minum malam ini." 

Leon bergerutu dalam hati saat melihat sosok wanita yang di bonceng motor bebek butut.

"Maaf ya, Nis. Aku hanya bisa mengantarmu pakai motor jelek begini," ucap Adam disela perjalanan mereka.

"Nggak apa-apa, Dam. Kalau kamu nggak kasih aku tebengan malam ini, aku akan keluar uang lagi buat bayar taksi," kekeh Nisa. Adam hanya tersenyum mendengar celotehannya.

Motor bebek butut Adam berhenti di salah satu warung tenda pecel ayam.

"Nah Nis, ini  pecel ayam favorit disini, aku jamin sekali coba bikin nagih!" Adam mempromosikan santapan pecel ayam dengan penuh semangat.

"Wah ...  aku makan banyak loh, Dam, kalau bikin nagih aku bisa makan dua atau tiga porsi sekaligus," sahut Nisa sambil tersenyum meledeknya.

"Boleh, boleh, kamu mau makan tiga porsi pun, boleh. Malam ini spesial, aku traktir!" Adam tak bisa menghindari pesona dari wajah cantik Nisa.

"Oke, satu porsi aku bungkus ya, buat cadangan kalau nanti malam aku kelaparan. Soalnya aku belum punya stok apa-apa di rumah, barang-barang pun belum ada yang aku bongkar!" Nisa melepas rasa sungkannya sambil tertawa bersama di meja makan pecel ayam.

***

"Anda ada janji makan malam dengan nona Wina, Tuan," Bisma mengingatkan tuannya.

"Dia lagi! Huft, sungguh tidak pernah menyerah!" Leon langsung kesal ketika Bisma menyebutkan nama Wina.

"Setidaknya dia salah satu kandidat yang cocok untuk, Tuan," tambah Bisma lagi.

"Aku sudah bilang, apapun kau boleh atur, tapi untuk urusan kandidat apa dia cocok denganku atau tidak, aku yang sendiri yang menentukan. Itu perjanjianku dengan almarhum kedua orangtua dan kakekku!" tegas Leon, mengingatkan perjanjian mereka.

"Saya mengerti, Tuan. Tapi tidak salah jika anda mencobanya dengan nona Wina. Dia sangat cantik, anggun dan juga seorang model," kembali Bisma mulai berkhotbah mempromosikan Wina.

"Kalau begitu, kau saja yang menggantikan aku menemui dia. Kau juga harusnya sudah punya calon kandidat, kan?" cibir Leon tak mau kalah jika berdebat soal kandidat.

Bisma menelan pil pahit ketika dia terus membujuk tuannya untuk menerima acara kencan buta yang sudah dirancang, tapi tuannya langsung menolak mentah-mentah.

"Ah, Tuan sampai kapan anda akan menutup diri anda. Setelah kepulangan anda lima tahun lalu, sikap anda telah banyak berubah."

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Godaan Sang Mantan Pacar

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Punya Ragamu Tapi Tidak Hatimu
8.4
Silva dan Silvi adalah kembar identik yang berbagi segalanya, termasuk perasaan cinta pada Kenzo. Namun, takdir berkata lain saat Silva yang sakit-sakitan meninggal dunia di usia dua puluh tahun. Sebelum wafat, Silva meminta Silvi menggantikan posisinya untuk menikah dengan Kenzo. Meski Silvi menerima wasiat itu demi cintanya, kehidupan pernikahan mereka tidak seindah bayangan. Mampukah Silvi memenangkan hati suaminya yang masih terikat bayang-bayang kakaknya?
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Ingatan terakhirku adalah kematian tragis di tangan tunanganku sendiri. Namun, aku justru terbangun dalam balutan hanfu putih kuno. Rasa nyeri akibat guncangan hebat di dalam kotak kayu ini membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Bagaimana mungkin orang mati masih bisa merasakan sakit? Saat mencoba duduk, aku terperanjat menyadari bahwa tempat tidurku adalah sebuah peti mati. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa kembali bernapas setelah dikhianati?
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel Kesalahan di Malam Sebelum Akad
8.4
Hidup Ardi berubah drastis setelah sebuah insiden fatal akibat pengaruh alkohol. Ia tidak sengaja memasuki kamar yang salah dan menodai Citra, pengasuh anak kembar milik adik angkatnya. Padahal, tepat esok hari Ardi dijadwalkan untuk menikahi Maya, tunangannya. Kini ia terjebak dalam dilema moral yang besar. Ardi harus memilih antara melanjutkan rencana pernikahan dengan Maya atau justru mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan menikahi Citra.
Sampul Novel Perselingkuhan Liar Istriku
8.0
Bayu sedang memacu gairah Dokter Mirza dengan keahliannya. Setelah berhasil melepas pakaian bawah sang dokter, Bayu mulai menelusuri sensitivitas tubuh wanita itu menggunakan lidah dan jarinya. Meski sempat kesulitan karena posisi yang membuatnya sesak napas, Bayu tetap berusaha memberikan kenikmatan maksimal. Dokter Mirza terus mengerang hebat hingga tak mampu lagi menahan gejolak hasratnya. Bayu pun mempercepat gerakannya demi mengejar puncak kepuasan sang dokter.
Sampul Novel Suamiku Selingkuh Di Kala Aku Mengandung
8.4
Memasuki usia kandungan sembilan bulan, kehidupan rumah tangga sang protagonis diguncang oleh kehadiran Stella, wanita idaman suaminya yang mendadak menumpang tinggal bersama mereka. Setiap kali berpapasan, Stella selalu berlagak tersiksa oleh kenangan masa lalu yang menyakitkan. Alih-alih melindungi sang istri yang sedang hamil tua, sang suami justru menuduhnya sengaja memamerkan kandungan untuk menyakiti perasaan Stella. Konflik modern yang penuh misteri ini menguji batas kesabaran di tengah pengkhianatan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan