Sampul Novel Feng Na Na

Feng Na Na

9.4 / 10.0
Terbangun dalam balutan hanfu di dalam peti mati, Feng Na Na harus mengungkap misteri di balik kematiannya di tangan sang tunangan. Ikuti kisah fantasy penuh teka-teki ini dalam web novel yang menyajikan petualangan lintas nyawa. Baca online novel seru ini sekarang juga.
Ringkasan Feng Na Na
Ingatan terakhirku adalah kematian tragis di tangan tunanganku sendiri. Namun, aku justru terbangun dalam balutan hanfu putih kuno. Rasa nyeri akibat guncangan hebat di dalam kotak kayu ini membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Bagaimana mungkin orang mati masih bisa merasakan sakit? Saat mencoba duduk, aku terperanjat menyadari bahwa tempat tidurku adalah sebuah peti mati. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa kembali bernapas setelah dikhianati?
Baca Selengkapnya

Feng Na Na Bab 1

Hal yang tak pernah ku bayangkan dalam hidupku adalah saat pria yang menyandang status sebagai tunanganku itu memukulku dengan keras hingga aku terlempar dan terjatuh tepat di atas sofa panjang yang ada di apartemennya. Aku tak pernah melihatnya memancarkan tatapan tajam dan mengerikan seperti yang ia tunjukan sekarang, selama kami menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, ia selalu memberiku tatapan teduh yang berhasil membuatku nyaman. Namun hari ini, entah hanya firasatku saja, aku merasakan ia berbeda. Aura yang ia keluarkan, tatapan yang ia berikan, serta perasaan asing yang kurasakan seketika berhasil membuatku merasa ketakutan.

Aku memegang pipiku yang terasa sakit akibat satu pukulan yang ia berikan dan berhasil merobek sudut bibirku. Ku tatap pria yang selama beberapa bulan setelah statusnya berganti menjadi tunanganku dengan tatapan berkaca - kaca, jujur melihatnya saat ini membuatku merasa amat ketakutan dengan sosok lain yang ada pada dirinya dan baru ia tunjukan saat ini.

"Na Na ..." panggilnya dengan suara terkejut seakan - akan ia baru saja sadar dari perbuatan yang ia lakukan padaku.

Aku menatapnya takut - takut, tubuhku bahkan telah bergetar ketakutan karna perbuatannya padaku. Aku tak tahu hal apa yang membuatnya memukulku hari ini, padahal yang ku tahu, aku tak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya lantas merah dan memukulku.

"Na Na.. mengapa kau menjauh?" tanyanya saat aku beranjak bangun dari sofa dan terus melangkah mundur dan menjauh darinya "Na Na.. aku minta maaf, aku tak bermaksud menyakitimu, percayalah padaku" pintanya yang entah mengapa membuat hatiku hampir saja luluh.

Aku lantas menggeleng kuat bagaimanapun kewarasanku menolakku percaya dengan perkataannya bahkan bujukan dan rayuan yang ia lontarkan, saat ini yang terbesit dalam benakku hanyalah ingin segera pergi dari sini. Sebab jujur saja aku mulai takut dengan sosok tunanganku.

"Na Na, aku minta maaf" katanya

Tatapan memohonnya perlahan berubah, ia dengan kasar menghampiriku dan menarikku dalam dekapannya, ia memelukku dengan sangat erat hingga aku kesulitan bernafas. Aku lantas memukul dadanya kuat, lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. Aku menatapnya dengan tatapan nyalang, bahkan aku tak tahu dari mana keberanian itu muncul untuk menatapnya demikian.

"Jun Jie, apakah kau sudah gila dengan ingin membunuhku?" teriakku

He Jun Jie lantas tertawa, ia lalu memberiku senyum miring yang entah mengapa berhasil membuatku kehilangan nyaliku. Ia lalu berkata "Aku memang berniat membunuhmu" balasnya yang entah mengapa membuatku merinding ketakutan karnanya.

He Jun Jie, laki-laki yang bekerja sebagai seorang manejer di perusahan keluargaku itu lantas melangkah mendekat. Aku yang menyadari kedatangannya lantas mendapat peringatan tanda bahaya, aku dengan cepat lantas meraih tas selempangku dan bergegas berlari keluar dari apartemen tunanganku.

Namun belum jauh aku berlari, He Jun Jie berhasil menangkapku. Ia lalu dengan kasar menarik rambutku hingga aku meringis. Rasa sakit yang kudapatkan dari tarikannya berhasil membuatku menangis saat merasakan rambut yang begitu ku jaga dan kurawat pada akhirnya harus tercabut dari ubung - ubungku.

"Jun Jie, lepaskan!"

"Tolong!"

"Tolong...!"

Aku terus saja berteriak, namun lorong apartemen Jun Jie saat ini sangat sepi. Mungkin dikarenakan para penghuni unit apartemen yang lain sedang bekerja, atau mereka tak mendengar teriakanku.

Jun Jie menyeretku kembali menuju unit apartemennya, ia berusaha membuka pintu dengan cepat sebelum para penghuni apartemen lain keluar dari apartemennya karna teriakanku. Merasa frustrasi karna apartemennya tak kunjung terbuka, sedangkan aku terus meronta dan meminta tolong, Jun Jie lantas dengan kasar dan keras membenturkan kepalaku pada pintu unit apartemennya yang terbuat dari besi.

Kejadian itu terlalu cepat sehingga aku tak mampu menghindar, suara 'Buk!' terdengar begitu nyaring di telingaku seiring dengan rasa sakit, nyeri dan pusing mulai melandaku. Jun Jie membenturkan kepalaku berulang - ulang, hingga aku merasakan kepalaku mulai terluka dan mengeluarkan darah. Meskipun aku memohon, pria itu bahkan tak mendengar permohonan dan pintaku meminta maaf. Ia malah hanya membalas ucapanku dengan tawa dan racauan bak orang gila yang begitu senang menyaksikanku terluka dan tersiksa karnanya.

"Teruslah memohon Na Na, aku begitu menyukaimu ketika kau meminta dan memohon seperti itu!" katanya lalu kembali membenturkan kepalaku pada pintu apartemennya

Buk!

Buk!

"Mengapa kau tak memohon dan meminta lagi? Kau ingin aku segera membunuhmu?" geramnya kembali membenturkan kepalaku cukup keras hingga aku merasakan penglihatanku terasa berputar, gelap sayup - sayup mulai menyapaku, serta nafasku yang terasa putus - putus.

"Na Na tak masalah jika kau tak ingin memohon aku segera melepasmu, bagaimanapun aku tak akan pernah melepaskanmu, hahahaha..." katanya di susul tawanya yang begitu nyaring.

Jun Jie terus membenturkan kepala pada pintu apartemennya, mendapati perlakuan Jun Jie yang begitu kasar dan kejam, aku tak lagi merasakan sakit, tapi aku kini mulai lelah dan berharap aku mati dan semua ini berakhir. Namun tampaknya takdir masih saja ingin mempermainkanku dan membuatku menderita, karna sampai saat ini ia belum juga mencabut nyawaku bahkan setelah banyaknya darah yang keluar dari kepalaku.

Saat Jun Jien kembali membenturkan kepalaku, denting lift berbunyi dan sekumpulan orang yang baru saja pulang dari bekerja atau berbelanja. Salah satu dari mereka lantas berteriak dan hal itu menarik perhatian para penghuni apartemen lainnya.

"Ahkkk..., wanita itu di bunuh!" teriak seorang wanita yang begitu terkejut sehingga jatuh terduduk di atas lantai.

Semua orang lantas menoleh menatap arah telunjuk wanita itu, dan dengan cepat bergegas lari menghampiriku yang kini mulai merasa sangat lelah. Saat semua orang ingin menyelamatkanku, Jun Jie menghantam kepalaku kembali dengan keras pada pintu apartemennya sebelum ia berlari dan kabur dari kejaran para penghuni apartemen lain.

Aku terjatuh dan punggungku menghantam permukaan lantai dengan keras, beberapa penghuni lain tampak menghampiriku walaupun saat ini pandanganku mulai tampak mengabur. Nafasku terasa sangat berat, begitu pun dengan mataku yang sangat ingin terpejam, saat aku menghembuskan nafasku yang terasa membuat dadaku sesak, saat itu pula mataku terpejam dan kegelapan menyapaku sepenuhnya.

................

Aku berpikir, setelah nyawaku habis di tangan tunanganku yang memiliki penyakit gila seorang psikopat, jiwaku akan tenang dan aku akan segera berada di nirwana. Sayangnya pemikiranku tentang hal itu lantas lenyap ketika aku merasakan guncangan yang membuat bahu dan lenganku menabrak benda keras di kedua sisiku yang jelas menghantarkan rasa sakit.

Aku lantas membuka kedua mataku yang sempat terpejam, beberapa saat aku mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya yang masuk melalui cela - cela kecil sebuah benda bergerak yang membawaku. Aku lantas menatap pakaianku yang di dominasi warna putih, saat mengamati pakaian yang membalut tubuhku, aku seakan teringat pakaian tradisional China yang kami sebut sebagai hanfu.

Menyadari ke tidak beresan yang sedang ku alami, aku lantas bangun dan mendudukkan diriku. Saat baru saja bangun dari tempat yang kutempati kini, seketika aku sadar bahwa aku baru saja bangun dari sebuah peti mati.

"Bagaimana bisa aku bangun dari sebuah peti mati?" tanyaku pada diriku sendiri

Aku menatap sekitarku, lalu terbesit sebuah pikiran bahwa mungkin aku hanya sedang bermimpi, namun pemikiranku tentang hal itu langsung ku tepis jauh bagaimanapun orang mati tidak bisa lagi bermimpi, dan aku merupakan orang yang telah mati.

Menyadari kejanggalan yang ku alami, aku mulai berpikir dengan apa yang baru saja ku alami. Bagaimana aku bisa merasakan guncangan dan rasa sakit, bagaimana aku tiba - tiba bisa bangun dan bergerak, juga bagaimana aku bisa bangun dari peti mati mengenakan sebuah hanfu berwarna putih. Setahuku, seseorang yang telah mati tidak dapat merasakan apapun sebab semua fungsi otak yang memerintah tubuhnya telah berhenti, kecuali...

"Apakah aku kembali hidup?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Feng Na Na

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dear Ex and Mistakes
9.1
Enam tahun berlalu sejak aku memilih pergi demi menyembuhkan luka akibat pengkhianatan suami yang sangat kucintai. Meski hidup dalam kehampaan, aku berusaha tegar menghadapi perihnya kenangan saat ia mendua. Namun, ketenanganku terusik ketika takdir mempertemukan kami kembali. Ia kini muncul sebagai tetangga baru yang berusaha mendekat, mencoba menawarkan kembali janji masa depan yang dulu pernah ia hancurkan demi wanita lain. Sanggupkah hatiku memaafkan?
Sampul Novel Ghost Boyfriend
8.0
Arka terpaksa menjadi arwah penasaran setelah kecelakaan maut merenggut nyawanya di waktu yang salah. Mendapat peluang terakhir untuk kembali ke dunia, ia meminta bantuan Zulfi, seorang pengangguran, demi menuntaskan urusan yang tersisa. Arka ingin memastikan kekasihnya, Ziva, tetap bahagia meski ia telah tiada. Mampukah Arka pergi dengan tenang setelah melihat kedekatan Ziva dan Zulfi? Bisakah ia mengubah hidup Zulfi menjadi lebih baik sebelum waktu habis?
Sampul Novel MUSIM DI ANTARA KITA
8.1
Dua insan yang telah menginjak usia empat puluh tahun bertemu saat masih membawa beban luka dari kegagalan pernikahan masa lalu. Di tengah fase perubahan hidup ini, mereka menyadari bahwa cinta yang hadir di usia matang memiliki tantangan yang jauh lebih rumit. Hubungan mereka diuji oleh kehadiran anak-anak, bayang-bayang mantan pasangan, hingga ambisi pribadi yang saling berbenturan. Sebuah pencarian makna cinta di tengah peliknya dinamika keluarga.
Sampul Novel Pengobatan Khusus Tabib Desa
7.9
Saat merayakan Hari Raya di sebuah desa terpencil, seorang wanita mengalami sakit perut parah akibat salah makan. Karena rumah sakit sangat jauh, ia terpaksa mendatangi tabib tua setempat untuk mendapatkan pengobatan pijat. Namun, situasi berubah mencekam ketika tabib tersebut memaksanya melepas celana dengan dalih membuang hawa jahat. Begitu menyadari kondisi sensitif tubuh pasiennya yang basah kuyup, hasrat liar sang tabib memuncak hingga ia nekat melancarkan aksi bejatnya.
Sampul Novel Perpisahan ke-99
9.5
Bima Wiratama telah menyakiti hatiku sebanyak 99 kali. Sebagai pasangan idola di SMA Tunas Bangsa, rencana kuliah di UI hancur saat dia berpaling pada Catalina. Puncaknya di pesta kelulusan, Bima membiarkanku tenggelam di kolam demi menyelamatkan Catalina. Luka itu membuatku sadar saat dia memutuskan hubungan kami dengan dingin. Akhirnya, aku memilih pergi jauh, membatalkan rencana awal kami, dan mengonfirmasi masuk ke UGM untuk memulai hidup baru.
Sampul Novel Putrinya, Kesalahannya
9.0
Austin Rogers kembali setelah lima tahun menghilang dengan membawa anak haram bangsawan. Secara kejam, ia dan Rosita mengurung Joanna di ruang uap berisi lintah demi meredakan amarah Ratu Slaka karena putri kecil mereka terluka. Mereka menuduhku cemburu dan ingin menghambat kesuksesan mereka. Namun, rencana jahat itu akan berbalik menjadi petaka. Austin tidak menyadari bahwa identitas anak di dalam sana bukanlah putriku. Pembalasan mematikan kini menanti mereka.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan