Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wanita yang tidak diinginkan

Wanita yang tidak diinginkan

Nadine Aulia terjebak dalam pernikahan menyakitkan sebagai istri yang tak diinginkan Arman Ridwan Putra. Di usia muda, ia harus tabah menghadapi kekejaman suami serta gangguan Clara, kekasih gelap Arman. Sebenarnya, Nadine adalah korban tragedi malam kelam saat Arman mabuk, yang membuatnya kini mengandung. Di tengah penindasan dan tuduhan sebagai penghalang cinta mereka, mampukah Nadine bertahan demi janinnya atau menemukan jalan keluar dari lingkaran luka ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu terasa lebih suram dari biasanya. Nadine mengangkat tubuhnya dengan pelan, matanya yang lelah menatap bayang-bayang di dinding kamar. Pikirannya masih terbawa oleh kejadian malam itu-kenangan yang selalu menghantui setiap detiknya. Meskipun Arman sudah pergi ke kantor, ia tetap merasa seolah terkurung di dalam rumah itu, tanpa jalan keluar.

Dengan hati-hati, Nadine bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Ia merasakan mual yang semakin menjadi setiap kali ia memikirkan kenyataan yang harus dihadapinya. Perutnya yang mulai membuncit mengingatkannya akan segala keputusan yang telah diambil, meski banyak yang salah.

Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri. Mata yang semula cerah kini terlihat lelah, dengan lingkaran hitam di bawahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Kau harus kuat," bisiknya pelan, meskipun suaranya tak lebih dari sekadar penghiburan diri sendiri.

Saat ia keluar dari kamar mandi, Clara sudah ada di ruang makan, duduk dengan santai sembari memeriksa ponselnya. Wajah Clara terlihat dingin, seolah tak ada perasaan sedikit pun terhadap kondisi Nadine.

"Bagaimana, Nadine? Masih bisa bertahan?" tanya Clara, memecah kesunyian dengan nada yang menyindir.

Nadine menundukkan kepala. "Saya baik-baik saja," jawabnya pelan, meskipun hatinya terasa tertekan. Clara tertawa sinis, tak percaya dengan kata-kata Nadine.

"Kau? Baik-baik saja? Jangan bohong, Nadine. Kau hanya numpang hidup di sini. Arman... dia sudah muak denganmu," ujar Clara dengan suara tinggi, hampir berteriak. "Kau hanya beban, yang ada hanya menambah masalah dalam hidup kami!"

Tersentak dengan kata-kata itu, Nadine hanya bisa menahan air mata yang hampir menetes. Ia berusaha untuk tetap tenang, meski perasaannya sudah terkoyak. "Saya hanya... ingin menjalani hidup ini dengan tenang," jawabnya dengan suara gemetar.

Clara berdiri dan mendekati Nadine. Ia memegang dagu Nadine dengan kasar, memaksanya untuk menatap matanya. "Tenang? Kau pikir Arman akan memberimu ketenangan?" ucap Clara dengan nada menggertak. "Jangan bodoh, Nadine. Semua ini hanya ilusi."

Nadine mencoba menghindar, tetapi Clara menahan wajahnya. "Kau tahu kenapa aku datang ke sini? Untuk memastikan kau tahu posisi kamu di sini. Kau hanya sekadar wanita yang tak berguna. Tak ada yang peduli denganmu." Clara menatapnya dengan penuh kebencian.

Nadine menutup matanya, menahan dirinya agar tidak menangis. "Tapi saya masih punya harapan," katanya dengan lirih, meskipun hatinya dipenuhi rasa sakit.

Clara hanya tertawa terbahak-bahak. "Harapan? Kau bahkan tak bisa bertahan hidup tanpa aku! Aku yang memberi makanmu, aku yang memberimu tempat untuk tinggal. Jangan bermimpi terlalu tinggi, Nadine. Arman sudah memilihku."

---

Di Ruang Tamu, Tak Ada Tempat untuk Bersembunyi

Setelah berhadapan dengan Clara, Nadine merasa semakin terhimpit. Setiap langkahnya terasa berat, seperti ada batu besar yang mengganjal di dada. Ia tak tahu bagaimana lagi cara untuk keluar dari semua ini. Meskipun ia merasa hancur, ia berusaha tetap berjalan dengan kepala tegak, mencoba untuk menutupi rasa sakitnya.

Saat memasuki ruang tamu, ia menemukan Arman yang baru saja kembali dari kantor. Wajahnya tampak lebih gelap daripada sebelumnya, seolah membawa beban berat. Ia duduk di sofa, memandangi layar ponselnya dengan penuh konsentrasi. Nadine tahu, saat-saat seperti ini, Arman tak ingin diganggu.

Namun, tak ada cara lain. Nadine harus berbicara dengannya. "Pak Arman," Nadine memulai dengan hati-hati. "Bolehkah kita berbicara sebentar?"

Arman menatapnya sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya ke ponsel. "Apa lagi?" Suaranya terdengar seperti sebuah perintah, bukan pertanyaan.

"Aku hanya ingin... mengerti," Nadine berkata pelan, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. "Mengapa ini semua terjadi? Aku hanya ingin hidup dengan tenang, bersama kamu, seperti yang dulu kita rencanakan."

Arman menatapnya, matanya penuh kebingungan. "Apa yang kau bicarakan, Nadine?" katanya dengan nada datar. "Dulu? Kita sudah lama tidak ada yang sama sejak malam itu. Tidak ada yang sama lagi."

Setiap kata itu seperti pisau yang mengiris hatinya. Nadine berusaha menahan tangisnya, meskipun semakin sulit untuk tetap bertahan. "Aku masih mencintaimu, Arman. Bahkan meski kau tidak peduli padaku, aku masih berharap semuanya bisa kembali seperti dulu."

Arman tertawa sinis. "Kau masih bicara tentang cinta? Kau kira itu yang aku butuhkan sekarang? Lupakanlah, Nadine. Aku sudah tidak peduli lagi."

---

Keputusasaan yang Tak Terelakkan

Malam semakin larut, dan Nadine merasa semakin terperangkap dalam rumah itu. Perasaannya semakin kacau, hatinya terus berontak, tetapi ia tak tahu lagi bagaimana cara untuk melawan. Ketika ia berbaring di ranjang, pikirannya terus berputar, berusaha menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Tangannya kembali menyentuh perutnya yang mulai membuncit, mengingatkan dirinya pada bayi yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Bayi itu adalah satu-satunya alasan yang membuatnya bertahan. Meskipun begitu, ia merasa terjebak dalam lingkaran kebencian dan penderitaan yang tak ada ujungnya.

Nadine menatap langit malam yang gelap, berharap ada cahaya yang bisa menuntunnya keluar dari kegelapan ini. Namun, semakin lama, harapan itu semakin memudar, seiring dengan kesunyian yang semakin mencekam.

---

Di Pagi Hari, Mencari Jalan Keluar

Pagi harinya, Nadine bangkit dengan tubuh yang lelah, tetapi semangatnya masih tersisa. Ia tahu, ini bukan hidup yang ia impikan, namun ia tak bisa menyerah begitu saja. Bagaimanapun, bayi itu membutuhkan dia, dan Nadine akan berjuang untuk memberinya kehidupan yang lebih baik-meski harus melawan segalanya.

Ketika ia menyiapkan sarapan, Clara datang lagi, menatapnya dengan ekspresi yang semakin tak sabar. "Jangan hanya berdiri di sini. Aku sudah muak melihat wajahmu. Cepat selesaikan tugasmu."

Nadine hanya mengangguk, berusaha menahan amarah yang mulai membara. Ia tahu, tak ada gunanya melawan Clara. Yang bisa dilakukannya hanya tetap bertahan, sedikit demi sedikit.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HZE" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HZE
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul
7.9
Kisah ini merupakan sebuah narasi romansa modern yang secara eksplisit ditujukan bagi pembaca dewasa. Ceritanya mengeksplorasi dinamika hubungan yang kompleks dan konsekuensi nyata dari gaya hidup pergaulan bebas di era kontemporer. Melalui jalinan plot yang intens, pembaca akan dibawa memahami lika-liku asmara serta berbagai dampak personal yang muncul akibat pilihan hidup tersebut. Sebuah bacaan yang menuntut kedewasaan dalam memahami setiap konflik yang ada.
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Mantan Suami Ingin Aku Kembali
8.6
Tiga tahun Kirana mengabdi sebagai istri Reza meski hanya dibalas hinaan. Saat cinta lama suaminya kembali, Kirana memilih cerai demi mencari pria yang lebih menghargainya. Reza yang sombong bertaruh bahwa Kirana akan memohon untuk kembali. Namun, ia justru mendapati Kirana merayakan kebebasan di bar dan didekati banyak pria. Menyadari Kirana tak lagi peduli, Reza mulai panik kehilangan wanita yang dulu sangat mencintainya. Kini, ia harus berjuang mendapatkannya lagi.
Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel Ex-Husband Or Mr. Ceo
9.4
Pasca kegagalan rumah tangganya, Leira bertekad bangkit demi masa depan sang putra. Ia memutuskan kembali ke Chicago untuk mengejar karier di sebuah perusahaan penerbitan. Namun, situasi menjadi rumit saat ia harus bekerja di tempat yang sama dengan mantan suaminya. Di sisi lain, Leira terjebak dalam kesalahpahaman dengan sang CEO. Akankah ia mampu menjaga hatinya tetap tegar, atau justru menemukan cinta yang baru di tengah konflik ini?
Sampul Novel I Love You, Om
8.2
Vina, seorang mahasiswi, harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggal pergi oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Sebelum menghilang, sang ayah menitipkannya untuk magang di perusahaan milik sahabat dekatnya. Namun, kedekatan yang terjalin selama mereka tinggal bersama justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga. Vina jatuh hati pada pria berusia 29 tahun tersebut. Kini ia terjebak dalam dilema, akankah ia tetap bertahan atau memilih pergi?
Sampul Novel Istri pengganti Tuan Bramasta
9.6
Pelita Abadisyara terjebak dalam situasi pelik saat dirinya dipaksa menikahi Bramasta Prayoga, pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya. Tragedi kecelakaan yang menimpa Anggun, sang kakak tiri, mengubah segalanya dalam sekejap. Tanpa pilihan lain, Pelita harus menggantikan posisi Anggun di pelaminan demi memenuhi tuntutan keluarga. Kehidupan pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kini dimulai bersama sosok pria yang asing baginya.