
Terjerat Birahi Direktur Dingin
Bab 2
"Ssst!" desis Linda untuk memanggil Raisa yang masih fokus dengan pekerjaannya. Saking fokusnya, desisan Linda jadi seperti angin lalu saja.
"Ssst! Hus! Ca! Caca!"
Raisa mendongak untuk melihat siapa yang di situasi sibuk begini malah berisik. Saat tau kalau itu adalah Linda, sebelah alisnya terangkat naik. "Apa sih, Lin?"
Linda menganggukkan dagunya untuk menunjuk Arzan yang terlihat berada di dekat ruang divisi perencanaan. Raisa jadi ikut menoleh ke tempat yang Linda tunjuk.
"Arzan?"
"Dia bukannya mau ketemu kamu? Coba samperin! Siapa tau penting?" ucap Linda.
Apa yang disampaikan Linda benar juga. Lantas Raisa beranjak dari tempatnya untuk mendatangi Arzan.
"Kenapa, Zan?" ucap Raisa ketika berada di dekat Arzan.
"E--eh, Caca? Enggak kok, bukan apa-apa. Aku cuma lagi penasaran sama proyek yang digarap divisi perencanaan. Sekali-kali aku boleh mampir nggak, sih?" kata Arzan dengan senyuman lebar.
Raisa memiringkan kepalanya. Lagi-lagi Arzan tampak aneh, tidak seperti biasanya. Memang sudah dua minggu Raisa tidak bertukar kabar atau menghabiskan waktu berdua, tapi hal itu biasa terjadi karena kesibukan masing-masing setiap ada proyek besar. Dan juga, toh mereka akan bertemu di kantor. Jadi baik Raisa maupun Arzan tak terlalu mencemaskan masalah komunikasi.
Tapi kali ini aneh. Arzan tidak terlihat seperti lelah karena lembur. Dia malah tampak bersemangat.
"Kamu baik-baik aja, Zan?"
"Iya, dong!" Arzan terkekeh. "Jadi gimana? Boleh?"
Raisa menggaruk pelipisnya. "Boleh-boleh aja, sih. Tapi anak-anakmu di divisi nggak pada nyariin?"
"Santai aja."
Sejak saat itu, sejak Raisa mengijinkan Arzan untuk datang ke ruangannya kapan saja, Arzan jadi sering terlihat di divisi perencanaan. Raisa memang tak terlalu terganggu. Toh, Arzan juga banyak membantu di sini.
Tapi yang aneh adalah keakrabannya dengan Anjani. Raisa tak tau sejak kapan mereka terlihat lebih dekat daripada kali pertama bertemu di lift dulu. Apa mungkin Raisa hanya terlalu cemas saja?
"Kalau yang ini gimana, Jan?" tanya Anjani sambil menunjuk layar laptop. Lantas Arzan menundukkan tubuhnya dan membantu Anjani menyelesaikan hal itu.
"Yakin nggak cemburu?" tanya Linda yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Raisa. Gadis itu ternyata menarik kursinya sampai di samping kursi Raisa. "Mau nutup mata dan telinga sampai kapan, sih? Jelas-jelas tunanganmu itu lagi pacaran sama mantannya. Jangan sok-sok-an pengertian kalau soal kayak gini!"
Raisa mendorong kursi Linda darinya. "Aku percaya sama Arzan."
"Percaya kok sama cowok? Percaya tuh sama Tuhan!"
Benar kalau dibilang Raisa tidak berprasangka buruk pada Arzan, tapi jelas dia mencemaskan sikap Anjani. Entah mengapa gadis itu seolah berusaha membuat Raisa tidak kasatmata.
Sepulang dari kantor, seperti biasanya Raisa hendak menunggu Arzan untuk pulang bersama. Tapi sudah dua jam Raisa menunggu dan Arzan tak kunjung turun juga. Karena cemas, Raisa memutuskan untuk masuk gedung lagi. Dia memilih naik tangga darurat karena lift sudah diisi banyak orang.
Baru sampai di lantai lima, langkah Raisa berhenti. Dia segera berbalik dan sembunyi di balik tembok. Terdengar bunyi tawa dari seseorang yang sangat Raisa kenal. Saat mengintipnya kembali, Raisa melihat Anjani yang berdiri di dalam kukungan lengan Arzan. Keduanya tampak senang. Bahkan saling melemparkan gurauan dan berakhir berciuman.
Ya, mereka berciuman.
Spontan Raisa menutup bibirnya. Dia tak percaya dengan apa yang dia lihat. Semuanya terlalu tiba-tiba. Arzan yang selalu dia percaya kini berkhianat. Apalagi hubungan mereka bukan hanya setahun dua tahun pacaran, tapi kenapa kepercayaan yang sudah terbentuk kuat dihancurkan semudah ini?
"Kenapa ... Zan?" Tangis Raisa mulai luruh. Dia susah payah untuk menghapus air mata.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan diulurkan di sampingnya. Raisa tak mengerti, tapi dia terima saja sapu tangan itu karena malu. Raisa gunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata dan ingusnya.
"Dia nggak pantas untukmu."
Raisa tau, di situasi begini orang akan mudah menilai kalau Raisa baru saja diselingkuhi. "Terima kasih," jawabnya seadanya tanpa berusaha menatap orang itu.
Kemudian Raisa beranjak pergi dari sana. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi kalau terus melihat adegan itu.
Sampai di depan gedung, Raisa menutup wajahnya. Tangisnya masih belum juga berhenti. Dia tidak tau harus bereaksi seperti apa. Semuanya terlalu tiba-tiba. Kalau sudah begini, bagaimana dengan orang tuanya? Bagaimana dengan rencana pernikahan mereka? Bagaimana dengan perbincangan yang sudah didiskusikan dua keluarga? Bukankah semuanya akan hancur seketika jika Raisa langsung memutus hubungan mereka?
Apalagi ... Raisa sangat mencintai Arzan. Bagaimana semuanya bisa jadi begini? Apa salah Raisa pada Arzan? Apa yang membuat Arzan merasa kurang puas dengan Raisa?
"Caca!"
Raisa mendongak. Dia mulai menghapus semua air mata itu lagi dan berbalik. Dia lihat Arzan yang tersenyum lebar di samping Anjani.
"Hari ini Anjani nebeng kita juga, ya? Kasihan dia pulang sama taxi. Malam-malam begini kan susah carinya," ucap Arzan yang tak terlihat merasa bersalah sama sekali. Saat Raisa menatap bibir Arzan, di ujungnya ada bercak lipstik yang Anjani kenakan. Karena hari ini mereka akan makan malam bersama keluarga Raisa, Raisa tak ingin kejadian ini sampai disadari orang tuanya.
Raisa mengangguk. Dia berjalan mendekati Arzan lalu mengulurkan tangannya. Dia usap bibir Arzan dengan ibu jarinya untuk menghapus bekas itu.
"Ca--Caca?"
Raisa tersenyum miris. Dia menarik napas dalam-dalam dan meminta Arzan untuk segera menyiapkan mobilnya.
***
"Bagaimana kabar kamu, Nak Arzan?" tanya papa Raisa.
Sontak Arzan tersenyum lebar. Dia genggam tangan Raisa begitu eratnya. "Sangat bahagia, Pa! Karena Caca selalu ada di samping Arzan."
"Hahaha, kalian kelihatan kasmaran sekali. Papa jadi ingin cepat-cepat ngemong cucu," ucap papa Raisa.
"Iya, nih! Nggak sabar banget lihat anak mirip Arzan sama Caca," kata mama Raisa yang ikut mendesak.
Mendengar itu, Arzan terkekeh canggung. "Sesegera mungkin, Pa, Ma. Arzan dan Caca sedang mengusahakan agar tahun ini naik jabatan. Proyek kali ini besar, jadi akan cukup berpengaruh."
"Waduh! Keren-keren!"
Arzan melirik Raisa yang sepanjang makan malam hanya diam saja. Ini rasanya aneh. Padahal biasanya Raisa akan merebut celah untuk menjawab pertanyaan orang tuanya sendiri.
"Pelan-pelan aja, Ma, Pa. Kalau buru-buru takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi," ucap Raisa akhirnya, tapi bukannya membantu membela, Raisa malah terdengar seperti mulai meragukan Arzan.
"Ca?"
Raisa tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis sebagai balasan.
"Ya sudah. Yang penting papa sama mama akan selalu mendukung kalian. Soalnya kami sudah merasa cocok sama hubungan kalian. Terus sama-sama, ya?" ucap mama Raisa.
"Pasti, Ma," kata Arzan yang begitu yakin
Raisa jadi meliriknya. Apa maksud ucapan Arzan, pria itu akan tetap bersama Raisa walau sudah menemui perempuan lain di belakangnya? Ini jadi semakin tidak benar.
Anda Mungkin Juga Suka





