Sampul Novel Terjerat Birahi Direktur Dingin

Terjerat Birahi Direktur Dingin

8.2 / 10.0
Pasca tewas tertabrak truk akibat dikhianati tunangannya, Raisa Anastasya terbangun di raga baru dengan nama yang sama. Mengandalkan kecantikan fisiknya, ia bersiap menuntut balas. Namun, rencana itu goyah saat Zefan, direktur dingin yang mabuk, merenggut kesuciannya karena salah mengira identitasnya. Terjebak dalam gairah malam yang adiktif bersama sang bos, Raisa kini bimbang antara obsesi balas dendam atau mengikuti tarikan takdir yang membingungkan.

Terjerat Birahi Direktur Dingin Bab 1

"Selamat pagi, Sayang."

Bibir Raisa mengembang. "Selamat pagi juga, Sayangku." Kemudian dia memejamkan mata dan menerima kecupan hangat dari pacarnya.

Raisa Anastasya, perempuan berusia 24 tahun yang kini berada di posisi ketua divisi perencanaan. Berparas cantik, rambut panjang bergelombang, dan pipi merona. Iris matanya yang berwarna coklat cerah sering membuat beberapa pria salah fokus. Namun, statusnya tak lagi sendiri. Dia sudah bertunangan dengan pacarnya. Hubungan mereka terjalin begitu lama dari SMA. Sehingga rasanya tak akan ada yang bisa memisahkan keduanya.

Arzan Pamungkas namanya. Dia berada di posisi yang sama dengan Raisa, yaitu sebagai ketua divisi produksi. Perbedaan bidang dan kesamaan kedudukan seringkali memudahkan keduanya untuk bekerja sama setiap ada proyek baru. Kinerja mereka jadi dinilai bagus oleh perusahaan. Bahkan keduanya sepakat untuk menikah setelah kenaikan jabatan.

"Nanti malem mau jalan ke mana?" tanya Arzan sembari menekan tombol lift untuk keduanya masuk. Meski mereka adalah pasangan, di dalam kantor mereka ingin terlihat sebagai partner kerja saja lantaran khawatir hubungan mereka jadi mengganggu profesionalitas kerja.

"Emm ...." Raisa tampak memikirkannya baik-baik. Setiap akhir pekan mereka memang selalu menghabiskan waktu bersama. Ada baiknya Raisa mengajak Arzan untuk mendatangi beberapa tempat yang baru dibuka. "Mungkin kita bisa--"

Ting!

Bunyi lift yang dibuka menginterupsi ucapan Raisa. Saat keduanya mendongak untuk melihat keadaan di dalam lift, tampak seorang perempuan yang tersenyum ramah. Dia melambaikan tangan tanpa peduli dengan raut Arzan dan Raisa.

"Anja ... ni?"

Raisa menoleh ke arah Arzan yang tampak sangat syok. Apa ini adalah momen reuni? Tanpa pikir panjang, Raisa memeluk lengan Arzan dan menariknya masuk ke dalam. "Hai, Nja! Lama nggak ketemu, ya? Ada keperluan apa kamu ke sini?" tanya Raisa dengan tatapan menyelidik.

"Oh, hai, Ca!" Raisa memang selalu dipanggil dengan sebutan 'Caca'. Rasanya sedikit aneh kalau diucapkan oleh mantannya pacar. "Aku mau mengantar dokumen ini ke pabrik, sesuai perintah wakil ketua divisi."

"Kenapa kamu--"

"Ah, iya! Aku udah diterima sebagai karyawan di sini. Mohon kerja samanya, ya," ucap Anjani dengan senyuman lebar.

"Kerja di sini?" gumam Arzan yang tampak merenung.

"Divisi mana?" tanya Raisa.

"Perencanaan," jawab Anjani tanpa beban. Lagi-lagi Raisa terkejut sebab divisi itu adalah miliknya.

"Kebetulan aku juga di divisi perencanaan. Selamat bekerja, ya," ucap Raisa, bersamaan dengan Anjani yang berjalan ke luar lift. Wanita itu membalas ucapan Raisa dengan senyuman, kemudian melirik Arzan yang masih terpaku. Pria itu tampak sama seperti saat bersamanya. Dia hanya bertambah tinggi dan tampan.

"Duluan, Arzan."

Hingga lift menutup kembali, Arzan hanya terdiam. Raisa jadi merasa aneh. Sepanjang lift naik, pria itu tak lagi merespon ucapannya. Seperti sedang fokus dengan pikirannya sendiri. "... tapi mungkin bisanya begitu ya, Zan."

Bahkan sampai akhir, ucapan Raisa diabaikan. Hingga akhirnya Raisa memutuskan untuk menggoyangkan lengan Arzan. "Zan?"

Arzan tersadar dan langsung menatap Raisa. "Eh, ya? Maaf tadi kamu ngomong apa?"

Ada banyak hal yang tadi sudah dia katakan. Rasanya akan berbeda kalau diulang. Raisa pun menjawab dengan gelengan. "Bukan apa-apa. Kita sudah sampai. Selamat bekerja!"

"Iya, kamu juga."

Mereka pun berpisah ke ruangan masing-masing. Kalau dipikir-pikir, sikap Arzan tadi sangat aneh. Baru kali ini pria itu mengabaikan ucapan Raisa. Padahal selama ini, dia akan selalu menjadi pendengar pertama. Apa Arzan sedang tidak enak badan, ya? Setelah ini Raisa harus sering-sering mengecek kondisi pria itu dan memastikannya dalam keadaan sehat. Dia jadi mengkhawatirkan kekasihnya.

"Halo, Ca! Ini buat kamu." Linda datang dan meletakkan sebuah cup kopi di atas meja Raisa.

"Makasih."

Kemudian Linda mendudukkan diri di meja yang ada di depan Raisa. Dia memang bagian dari divisi perencanaan, sekaligus teman akrab Raisa. "Eh, kamu udah ketemu belum sama anak baru itu?"

"Anjani?" Raisa langsung mengucapkannya karena kenal dan baru saja bertemu.

"Loh, kok tau? Kalian saling kenal?" Tatapan Linda sudah dipenuhi rasa penasaran. Pasalnya dari awal kedatangan Anjani, perasaan Linda sudah tidak enak. Cara berpakaian dan ekspresi Anjani terlihat tidak tulus, tapi mana mungkin Linda berani mengatakannya secara gamblang? Bisa saja itu hanya prasangka buruknya.

"Kebetulan dia mantannya Arzan."

"HAH?!" Bola mata Linda langsung melebar. Saking kagetnya, dia sampai berdiri dari tempatnya dan menghampiri Raisa lagi. "Kamu serius, Sa?"

Raisa mengangguk dua kali. "Kenapa, sih?"

"Kamu bilang kenapa?" Linda mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja Raisa. Walaupun posisinya adalah bawahan, Linda berani melakukan ini karena karyawan lain belum datang. "Kamu kan pernah bilang sama aku kalau mantan Arzan cuma satu. Itu artinya, anak baru itu cinta pertamanya Arzan, kan? Emang kamu nggak khawatir gitu?"

"Kenapa aku harus khawatir?" Raisa masih belum menemukan maksud ucapan Linda sebenarnya.

"Duh, masa nggak ngerti? Biasanya ... cinta pertamanya cowok itu selalu membekas di hati! Apalagi kalau ketemu lagi di usia matang begini. Bisa-bisa mereka balik lagi, Caca!"

"Nggak mungkin," jawab Raisa langsung. Dia mulai menyalakan laptopnya dan memakai kacamata miliknya. "Aku percaya sama Arzan."

"Yakin?"

"Ya. Aku percaya sama dia."

Awalnya itu yang ingin Raisa percaya.

***

"Eh!"

Arzan merasa pinggangnya di senggol seseorang. Lantas dia berbalik dan melihat Anjani sudah berjongkok dengan kertas-kertas yang berserakan. Spontan pria itu ikut berjongkok untuk membantu Anjani memunguti kertasnya. "Habis fotokopi?" tanya Arzan.

Anjani mendongak. Dia menggerai anak rambutnya ke belakang telinga agar bisa melihat lebih jelas. "Eh, Arzan? Iya, aku habis diminta fotokopi."

Arzan dan Anjani pun kembali berdiri. Sebelum mengembalikan kertas itu, Arzan menatap isi kertasnya. "Proyek iklan mobil?"

"Iya. Baru nekan kontrak sama perusahaan kita," kata Anjani, dia menerima kertas yang diulurkan Arzan padanya. "Ngomong-ngomong, lama ya kita nggak ketemu?"

Entah mengapa Arzan bisa merasakan sinyal yang dikirim Anjani lewat kedua matanya. "Emm, ya."

"Aku seneng lihat kamu sama Caca masih langgeng."

Arzan berdeham sebentar. Dia tidak tau harus bicara apa untuk menanggapinya.

"Emm, kalau dilihat-lihat ... kamu makin tinggi, ya?" Tangan Anjani yang masih dalam posisi memegang kertas yang dipegang Arzan tiba-tiba mengelus jemari Arzan. "Makin ganteng juga."

Sontak Arzan menjauhkan tangannya. "Aku udah tunangan."

Mendengar itu, Anjani terkekeh. Dia memberikan tatapan kuat untuk memikat Arzan. "Memangnya aku bilang apa? Aku kan nggak ada ngajak kamu balikan."

Kemudian Anjani melewati tubuh Arzan untuk pergi lebih dulu, tapi sebelum itu dia sempat berbisik di samping Arzan. "Tapi kalau kamu kesepian, nomorku masih yang lama."

Darah dalam tubuh Arzan langsung berdesir. Daya pikat yang sulit dia lupakan dari tubuh Anjani hampir membuat Arzan kehilangan kendali. "Aku ... waktu itu ... kenapa kamu ninggalin aku?"

Anjani menatap Arzan dengan seulas senyuman. "Kalau mau dengar jawabannya, malam minggu nanti aku kosong."

"Tapi ... Caca ...."

"Kenapa? Bukankah ini pertemuan antar teman biasa?" ucap Anjani yang diakhiri oleh tawa kecil.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjerat Birahi Direktur Dingin

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Dunia Ratih Apsari runtuh usai memergoki pengkhianatan suaminya. Di tengah kesedihan pasca perceraian, sebuah kesalahan fatal membawanya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka menghabiskan malam bersama. Ternyata, Derryl adalah CEO baru di kantornya. Meski sempat menuduh Derryl menjebaknya, kedekatan mereka justru menumbuhkan rasa cinta. Ratih bimbang karena perbedaan status dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Akankah ia membuka hati atau kembali pada sang mantan?
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel KARENA MANTANMU, KUNIKAHI ADIKMU
8.6
Randika dan mentornya, Charli, mengelola ekspansi bisnis keluarga Baskoro di Bali. Di sana, Randika jatuh hati pada Andini Wijaya, seorang wanita mandiri pemilik sekolah. Namun, asmara mereka terancam saat Junot, mantan Andini, mendadak kembali. Di sisi lain, adik Andini yang bernama Lily berambisi merebut Randika demi mendapat pengakuan sang ayah, Sigit Wijaya. Terjebak dalam dilema masa lalu dan ambisi keluarga, mampukah cinta Randika dan Andini bertahan?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Rahasia Kafe Suamiku
9.5
Dara Jelita, remaja 18 tahun, terpaksa menikah dengan Raka Barawijaya karena tuntutan ayahnya. Ia bertekad membongkar rahasia kelam di balik Kafe Nirwana milik suaminya demi mendapatkan kebebasan. Namun, penyelidikan itu justru menjeratnya dalam misteri yang lebih dalam bersama sosok Raka yang buas. Kini, Dara terjebak dalam dilema besar antara menghancurkan bisnis suaminya atau menyelamatkan pria tersebut dari ancaman yang ada.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan