
Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung
Bab 2
Bulan sabit akhirnya kembali bulat.
Ibuku akhirnya teringat padaku. Dia mengambil ponselnya dan melihat sekilas, lalu mencibir, "Sudah hari raya, tapi dia nggak pulang. Entah apa yang dia lakukan di luar sana."
Lenny berbaring di sofa dengan wajah penuh kebahagiaan.
Beberapa waktu terakhir, karyanya telah melewati beberapa babak dan masuk ke babak final.
Pencarian daring dengan cepat akan mengungkap banyak gambar patung itu, dan banyak ahli yang kagum dengannya.
Judul "Gadis Patung Genius" telah menyebar luas.
Penghargaan itu dibangun dari tulang-tulangku yang kering.
Namun, aku hanya bisa bersembunyi di sudut, mendengarkan semua ceritanya tentangku.
Lenny berpura-pura memeriksa ponselnya. "Hani bilang padaku kalau dia nggak akan pulang untuk hari raya. Mungkin dia bersama pacarnya atau apa."
Omong kosong. Sejak kapan aku punya pacar?
Aku mengerutkan kening, bingung dengan kebohongannya yang terang-terangan.
Mendengar ini, sorot mata ibuku berubah dingin. "Ibu sudah menduga. Lama nggak pulang, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan."
"Baru kuliah, sudah pacaran. Kalau memang sebegitu butuhnya laki-laki, kenapa nggak langsung ke bar saja buat jual diri? Mungkin dia bisa dapat pria kaya dan bawa pulang uang."
"Pacar-pacar di kampus itu apa gunanya? Bukannya cuma jadi objek tidur gratisan?"
"Kalau bukan karena menyelamatkan si cacat kecil itu, bagaimana mungkin dengan gelar master kedokteran yang bergengsi, Ibu malah berakhir di apotek? Nggak menghasilkan uang dan harus bergantung pada belas kasih orang lain."
Aku tak mengerti kalau memaki, kenapa ibuku yang bergelar master jadi seperti wanita kasar dengan kata-kata kotor.
Dulu, jelas-jelas Lenny yang telah berbohong kepadaku, mengatakan bahwa bonekanya terlempar ke pohon. Itulah sebabnya aku memanjat untuk mengambilnya.
Namun, saat aku memberi tahu Ibu, dia melotot dan menamparku, sambil berkata, "Dasar bocah nakal! Sudah salah, malah menyalahkan kakakmu?"
"Kakakmu itu penurut. Mana mungkin dia menyuruhmu manjat pohon. Kamu Cuma mengarang cerita."
Dia memutar pergelangan tangannya yang sakit, matanya merah darah. "Kalau tahu kamu akan bawa sial untukku, lebih baik dulu aku duduki kamu dan membunuhmu."
Kenangan itu membanjiri benakku, membuatku diam-diam mengusap sudut mataku.
Meskipun aku sudah mati, kenangan ini masih membuatku sedih.
Lenny tersenyum puas. Dia bangkit dari sofa, memasang ekspresi manis, dan memeluk ibuku. "Bu, jangan marah. Nggak ada gunanya marah pada orang seperti itu. Ibu masih punya aku!"
Seperti biasa, dia dengan mudahnya berganti wajah.
Kemarahan di wajah ibuku berangsur-angsur mereda. Dia membelai rambut Lenny dengan lembut. "Lenny memang anak Ibu yang paling baik. Biarkan saja Hani melakukan sesukanya. Dengan permainannya itu, dia mungkin akan kehilangan nyawanya suatu hari nanti. Kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti."
Aku memejamkan mata. Begitulah ibuku. Satu kalimat darinya sudah cukup untuk melukaiku dalam-dalam.
Kami lahir dari rahim yang sama, tetapi kenapa orang tuaku hanya peduli pada Lenny?
Aku merasakan ketidakadilan dan memaksakan diri untuk menyelip di antara mereka berdua.
Diam-diam aku melingkarkan lenganku di pinggang ibuku, sesuatu yang selalu ingin kulakukan tetapi tidak pernah berani kulakukan.
Tetapi, meskipun aku begitu dekat, aku tidak bisa merasakan kehangatan apa pun.
Sejak Festival Musim Hujan itu, ketika mereka mengingatku sebentar, mereka telah melemparkanku kembali ke tong sampah kenangan mereka.
Sampai suatu hari, ayahku dengan penuh semangat pulang ke rumah sambil membawa undangan. Dia hampir tersandung saat memasuki ruangan.
Aku ingat terakhir kali dia begitu antusias adalah ketika aku masih di sekolah dasar.
Aku pernah memenangkan hadiah pertama dalam lomba seni tingkat provinsi, dan dia memberi pidato sebagai perwakilan orang tua siswa berprestasi.
Waktu itu, meskipun ibuku tidak menyukaiku, ayahku masih melindungiku.
Dengan penuh semangat, ayahku meletakkan undangan itu di atas meja. "Lenny, hasil final sudah keluar. Kamu dapat medali emas! Minggu ini kita diundang ke provinsi untuk menerima penghargaan secara langsung."
Lenny memutar tubuhnya beberapa kali dengan gembira. Ibuku memeluknya erat-erat. "Anak Ibu memang luar biasa! Ibu sangat bangga padamu."
Dia mengecup dahi Lenny dengan penuh kasih.
Tak jauh dari situ, patung yang terbuat dari tulang-tulangku berdiri kesepian.
Tiba-tiba, aku merasakan gejolak di perutku, dan aku hampir tidak bisa berdiri.
Mungkin tulang belulang itu sedang menangis, memohon padaku untuk membebaskannya.
Dengan susah payah, aku melayang mendekati patung itu, menyentuh tangannya, merasa tak berdaya dan putus asa.
Ayahku tampaknya menyadari sesuatu. Dia tiba-tiba menoleh ke arah kami.
Anda Mungkin Juga Suka





