
Setelah Mati, Aku Dijadikan Patung
Bab 3
Ayahku menghela napas, "Kalau Hani yang melakukannya, hasilnya pasti lebih baik!"
Wajah ibuku dan Lenny langsung berubah suram.
Mata Lenny berkaca-kaca. Dia mendekap ibuku dengan wajah penuh kesedihan. "Aku tahu aku nggak bisa menyaingi Hani, tapi aku sudah berusaha sekuat tenaga."
Ibuku menyeka air matanya sambil melotot tajam ke arah ayahku. "Untuk apa mengungkit-ungkit anak sial itu? Meskipun dia berbakat, sekarang dia cuma sampah yang nggak berguna. Dia begitu rakus sampai berebut makanan dengan anjing. Pantas saja jarinya digigit sampai putus."
Aku memegangi kepalaku, lalu berjongkok. Ujung jariku yang buntung kembali terasa nyeri.
Dulu, ibuku memang tidak menyukaiku, sampai-sampai aku sering dibiarkan kelaparan.
Suatu kali, Lenny memberiku sepotong daging. Aku yang sangat lapar bersembunyi di bawah untuk memakannya diam-diam.
Entah dari mana, beberapa anjing besar datang menyerangku.
Aku memegangi daging itu sekuat tenaga, tidak mau melepaskannya. Akibatnya, tiga jariku digigit hingga putus, dan tangan kiriku hampir tidak berfungsi.
Saat ibuku dan Lenny tiba, aku sudah terguling di tanah menahan sakit.
Lenny menangis tersedu-sedu di pelukan ibuku. "Ibu, aku sudah bilang jangan rebut makanan dari anjing-anjing itu, tapi Hani nggak mau dengar."
Mendengar itu, ibuku langsung naik pitam dan menendangku berkali-kali. "Dasar nggak berguna! Apa rumah ini kekurangan makanan atau pakaian untukmu? Sampai harus berebut makanan dengan anjing! Kenapa nggak sekalian berebut kotoran? Kalau digigit sampai mati, itu salahmu sendiri!"
Ketika ayahku melihat jari-jariku yang rusak, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berbalik dan pergi begitu saja.
Ibuku, meski lulusan kedokteran, tetap membawaku ke rumah sakit dengan penuh omelan, takut aku terkena rabies dan malah merepotkan mereka.
Sejak saat itu, tiga jariku hilang, dan tangan kiriku hampir sepenuhnya tidak berguna.
Aku pun tidak bisa lagi memegang pisau pahat.
Ayahku mulai mencurahkan seluruh perhatiannya pada Lenny, meski dia sama sekali tidak berbakat.
Namun, ternyata, di bawah bimbingan guru yang hebat, bahkan kayu lapuk pun bisa diukir menjadi karya seni.
Hari penerimaan penghargaan tiba. Ayah dan ibuku tampil dengan pakaian mewah.
Lenny mengenakan gaun adibusana berwarna merah muda, dihiasi berlian kecil yang menggantung di bawahnya.
Sebelumnya, patung itu telah dikemas dengan hati-hati dan telah diangkut ke tempat acara penghargaan.
Di atas panggung, Lenny berdiri di samping patung itu dengan trofi di tangannya, memberikan pidato dengan penuh percaya diri.
Ibuku tak henti-hentinya menyeka air matanya karena terharu.
Ayahku berdiri tegap, menerima pujian dari berbagai penjuru.
Saat jamuan makan, Lenny seperti kupu-kupu kecil yang menarik ibuku ke sana kemari, bersosialisasi dengan semua orang.
Aku hanya bisa memperhatikan mereka dengan dingin, merasa ada api yang menyala dalam dadaku.
Bagaimana caranya agar rahasia di dalam patung itu bisa kuungkapkan?
Aku memutar ke belakang patung itu, mendorongnya dengan tangan, menendangnya dengan kaki, bahkan membenturkan tubuhku ke arahnya, sampai aku jatuh kelelahan di lantai.
Keputusasaan menerpaku seperti gelombang laut.
"Menurut kalian, bukankah patung ini terlihat tidak asing?"
Aku mendongak.
Itu suara Candra Setiadi, putra direktur sekolah.
Dia seorang pemuda berbakat, tetapi kami tidak saling kenal.
Dia berjalan mendekat, menatap patung itu dengan saksama, lalu mengangkat tangannya, menyentuh alis dan mata patung itu. "Kenapa mirip sekali?" gumamnya.
Aku menatapnya dengan tegang, jantungku berdebar kencang.
Apa dia mengenalinya?
"Candra …."
Lenny berjalan mendekat dengan gaun panjangnya, senyum manis di wajahnya. "Kamu juga datang?"
Diam-diam dia meremas jari ibuku, terlihat sangat bersemangat.
Candra mengangguk padanya dan berbalik untuk pergi. Namun, setelah beberapa langkah, dia berbalik. "Apa model patung ini adikmu?"
Lenny tertegun, tidak langsung menjawab.
"Kenapa dia nggak datang hari ini?"
Ibuku menyenggol Lenny, membuatnya tersadar. Dia memaksakan senyum. "Dia sibuk dengan pacarnya sekarang, malah sudah jarang pulang."
"Ya, putri bungsuku itu sangat liar. Dia menghabiskan sepanjang hari bermain-main di luar. Entah berapa banyak pacarnya."
Ibuku mendukung.
Candra tidak mengatakan apa pun, dan berbalik untuk pergi.
Lenny secara refleks meraih pergelangan tangannya, dan gaun panjangnya tersangkut di jari patung itu.
Dengan gerakannya, sebagian plester jatuh ke lantai, memperlihatkan tulang putih mengerikan di balik plester.
Aku menahan napas. Mataku terpaku pada Candra, berharap dia mau menoleh.
Lenny berdiri kaku, panik, kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan Candra erat-erat. Dia hampir membeku di tempat.
Candra yang ditarik ke belakang secara refleks menunduk ….
Anda Mungkin Juga Suka





