Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sepatu Balet Berdarah

Sepatu Balet Berdarah

Dunia tari balet diguncang oleh kematian tragis Janice yang sangat mengerikan. Sejak nyawanya hilang, rentetan peristiwa ganjil dan di luar nalar mulai menghantui orang-orang di sekitarnya. Terlepas dari keraguan banyak pihak, sosok Janice terus menampakkan diri secara nyata. Ia muncul dengan tangan kanan yang melambai, sementara tangan kirinya menggenggam sepatu balet bersimbah darah. Teror ini takkan berhenti hingga kebenaran kelam di balik kematiannya terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab.1

"kamu ikut balet di sanggar balet yang berhantu itu ya .?"

Tanya seorang gadis kecil berbadan gemuk dengan tangan terulur, jari telunjuknya yang gemuk menunjuk ke sanggar balet yang letaknya persis di sebelah panti asuhan.

"Sanggar balet milik nenekku itu tidak berhantu ."

Jawab seorang gadis kecil cantik lucu yang rambutnya diberi bando bunga warna pink.

"Iya sanggar senam milik nenekmu itu berhantu dan mamamu yang mati dibunuh itu jadi hantu gentayangan, suka menakuti semua anak yang belajar balet di sanggar balet itu. Mamamu itu setan."

Ucap gadis kecil gemuk itu tidak mau kalah. Tanpa di duga-duga gadis kecil yang memakai bando bunga warna pink itu berteriak marah..

"Kamu dengki karena badanmu gemuk seperti tong dan kamu tidak bisa balet seperti aku.!. Mamaku bukan hantu , kamu itu hantu gemuk.!"

Gadis kecil gemuk itu pun tersulut emosi, mulutnya pun berteriak keras..

"Badanku gemuk tapi tidak seperti tong. Mamamu itu hantu jahat. Kamu anaknya hantu.!. Badanmu kurus kerempeng karena tidak pernah makan enak."

Mendengar ejekan temannya yang berbadan gemuk itu , langsung gadis kecil cantik itu menunduk sedih , dua tetes air mata menetes dari kedua matanya dan kedua tangannya meraba bando bunga warna pink yang bertengger di rambut indahnya berwarna coklat tua keemasan. Mulutnya berkata dengan suara lirih dan nada bergetar..

"Mama , aku sayang mama dan aku tidak suka kalau ada yang mengejek mama hantu. tolonglah aku , mama.!"

Gadis kecil cantik itu masih menunduk sambil meraba bando yang bertengger di kepalanya dan temannya yang gemuk makin tertawa keras. Tiba-tiba terasa ada yang memeluk bahunya , gadis kecil cantik itu menoleh dan dilihatnya .. mamanya tersenyum memakai baju balet tapi sepatu baletnya berdarah. Mamanya mengangguk dengan pasti dan seolah-olah gadis kecil cantik itu mendapatkan kekuatan dan keberanian. Gadis kecil cantik itu pun , langsung berbinar-binar matanya karena merasakan kebahagiaan atas kehadiran mamanya. Gadis kecil cantik itu mengalihkan pandangannya ke temannya yang gemuk , lalu berlari menerjang sambil kedua tangannya terulur ke depan . Temannya yang gemuk jatuh ke tanah dua gadis kecil itu berkelahi. Baju dan rambut mereka berdua kotor penuh tanah..

"BERHENTI... BERHENTILAH BERKELAHI .!"

Teriak seorang perempuan bertubuh tambun. Tapi kedua gadis kecil itu tidak berhenti berkelahi , malah berguling-guling di atas tanah. Seorang perempuan gemuk itu berlari dan dengan nafas terengah-engah melerai perkelahian dua gadis kecil.

"KENAPA KALIAN BERDUA BERKELAHI .?"

Hardik perempuan bertubuh gemuk , tangan kanannya memegang tangan anak perempuan kecil gemuk dan tangan kirinya memegang tangan gadis kecil cantik.

"Dia duluan yang mendorongku lalu memukulku dan menarik rambutku , ma.!"

Gadis kecil gemuk itu mengadu pada perempuan gemuk yang ternyata mamanya.

"Dia duluan yang mengejek kalau sanggar balet milik nenekku itu berhantu dan dia mengejekku mamaku hantu. "

Ujar gadis kecil cantik dengan nada geram. Perempuan gemuk itu langsung menarik kedua tangan gadis kecilku sembari berkata..

"Ayo kita temui nenekmu , aku laporkan kelakuanmu yang nakal , Janice junior.!"

Gadis kecil cantik itu dengan sengit berteriak ,

"Kalau berani melapor ke nenekku , pasti kalian berdua kupukul dan kutendang pantat kalian.!"

Perempuan gemuk itu tidak menghiraukan perkataan Janice junior gadis kecil cantik, tetap berjalan ke panti asuhan dan seorang perempuan cantik keluar dari panti asuhan , dengan ramah bertanya..

"Ada apa ribut-ribut seperti ini.?"

"HAI.. MONICA , KEPONAKANMU YANG SATU INI KERASUKAN SETAN MAMANYA YANG MATI DI BUNUH. DIA MENYERANG MEMUKULI PUTRIKU. KALAU KAMU DAN NENEKMU TIDAK BISA MENDIDIKNYA MAKA KULAPORKAN KE POLISI.! ."

Teriak perempuan gemuk itu sambil melepaskan genggamannya pada tangan gadis kecil cantik itu lalu menghempaskan sampai tubuh gadis kecil cantik itu terjatuh ke tanah. Cepat-cepat gadis kecil itu mengambil dua batu besar dan berdiri sambil berteriak..

"KULEMPAR DUA BATU INI KE KALIAN BERDUA KALAU KALIAN TIDAK MAU PULANG .!"

Perempuan gemuk mendekap putrinya yang gemuk. mereka berdua ketakutan di lempar batu oleh gadis kecil cantik . Dari kejauhan perempuan gemuk itu menoleh dasar berteriak..

"DASAR ANAKNYA SETAN. ANAK BODOH , TIDAK TAHU SOPAN SANTUN.!"

Gadis kecil cantik itu membalas berteriak..

"KALIAN BERDUA ITU YANG BODOH TIDAK BISA BALET . BADAN KALIAN GEMUK SEPERTI DUA KARUNG KENTUT. KALAU BERANI MENGEJEK MAMAKU LAGI, KUTUSUK JARUM BADAN KALIAN BERDUA. DASAR DUA KARUNG KENTUT.!"

Monica menahan tawa mendengar teriakan keponakannya.

"Mereka berdua sudah pergi ketakutan . Ayo , bibi Monica harus memandikanmu dan ada baju barumu., Janice junior sayang."

'iya bibi Monica."

Monica mengandeng Janice junior keponakannya masuk ke dalam rumah panti asuhan yang bersebelahan dengan sanggar balet. Tampak keluarganya sedang duduk di ruang tamu dan menoleh pada mereka berdua.

"Kenapa baju dan rambutmu kotor penuh tanah , Janice junior cucuku sayang.?"

Tanya seorang perempuan tua yang masih cantik dan bertubuh langsing .

"Aku tadi ribut dengan dua karung kentut tapi aku menang dan dua karung kentut itu lari terbirit-birit ketakutan , nenek analyn."

Tukas Janice junior dengan penuh rasa percaya diri dan kebanggaan. Semua yang mendengar menahan tawa.

"Dua karung kentut itu siapa .?"

Tanya seorang perempuan cantik yang duduk di sebelah nenek analyn.

"Itu tetangga sebelah. Dia dan mamanya gemuk seperti karung kentut , nenek Liza.!"

Jawab gadis kecil cantik sambil mengulurkan tangannya menunjuk ke arah pintu.

"Kenapa kamu panggil mereka dengan sebutan karung kentut , Janice junior cucuku yang cantik.?"

Tanya seorang pria tua yang masih terlihat gagah dan berpenampilan rapi .

"Tadinya aku panggil tong tapi dia menolak , lalu kupanggil karung kentut , kakek Arnold .!"

semua yang mendengar perkataan gadis kecil cantik itu benar-benar menahan tawa.

"Kamu tidak boleh memanggil mereka dengan sebutan tong ataupun karung kentut , Janice junior cucuku yang hebat .!"

Ujar seorang pria tua kaya . Dengan tegas gadis kecil cantik itu menjawab..

" Kakek Rudolf, mereka berdua yang duluan mengejekku kalau badanku kurus kerempeng karena tidak pernah makan enak. Mereka tidak tak tahu kalau kakek Rudolf pemilik restoran mewah di Moscow."

Semua mengusap-usap wajah mereka masing-masing menahan tawa mendengar semua perkataan Janice junior

"Mamamu itu sabar , tidak pernah berkelahi dan cantik tapi kamu suka berkelahi , Janice junior."

Ucap seorang pria muda tampan yang memeluk bahu bibi Monica. Gadis kecil cantik itu memiringkan kepalanya lalu melihat ke suaminya bibi Monica.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Rahim Istriku
7.9
Aryo terjebak dalam perselingkuhan dengan seorang wanita hingga berujung pada kehamilan. Karena dihantui rasa takut akan kehilangan sang istri tercinta, ia nekat melakukan tindakan di luar nalar dengan memindahkan janin selingkuhannya ke dalam rahim istrinya sendiri. Keputusan fatal ini memicu berbagai komplikasi dan konflik batin yang hebat, yang mengancam keutuhan rumah tangga mereka serta menghadirkan penderitaan panjang dalam kehidupan pernikahan mereka.
Sampul Novel Genderang Perang Manusia Elektrokinesis
8.2
Manfred Argianta Bergmans atau Gian menjalani hidup penuh penderitaan akibat perundungan keluarga dan teman sekolahnya. Hanya Alicia yang setia mendukungnya, meski hal itu memicu intimidasi yang lebih parah. Setelah menolong kucing malang, Gian menerima warisan kekuatan elektrokinesis dari sosok misterius dalam mimpi. Didampingi seekor tikus putih sebagai mentor, ia memulai misi balas dendam. Namun, saat dianggap monster dan Alicia menjauh, sanggupkah Gian memenangkan perang ini?
Sampul Novel Goyangan Pohon Beringin
8.2
Persahabatan Adrian dan Wandi retak akibat kehadiran Hesta, gadis misterius yang mempesona Adrian namun tampak mengerikan bagi Wandi. Wandi berusaha keras menyadarkan Adrian bahwa pujaan hatinya adalah makhluk astral, sementara serangkaian kejadian buruk mulai menghantui sejak mereka mendatangi sebuah pohon beringin tua. Di tengah belenggu misteri dan bahaya, mampukah Adrian melihat kebenaran? Akankah cinta beda dunia ini bersatu atau justru membawa petaka bagi mereka?
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris, saat dunia persilatan dan hal mistis masih mendominasi, Wisaka bertekad membongkar misteri kematian tragis para pengantin baru. Para pria tewas usai malam pertama, sementara mempelai wanita diperkosa hingga membisu. Demi mengungkap kebenaran, Wisaka mempelajari ilmu kanuragan. Namun, perjalanannya penuh rintangan dari bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar jadi manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel PEDANG HALILINTAR
8.4
Jalu tumbuh sebagai pejuang aliran hitam di bawah asuhan guru abadi yang terasing di Pulau Tengkorak. Sang guru mengutusnya menaklukkan dunia persilatan, namun perjumpaan dengan pertapa Gunung Pesagi mengubah haluan hidup Jalu menuju jalan kebenaran. Saat sang guru berhasil bebas berkat bantuan iblis, Jalu harus menghadapi sosok yang membesarkannya itu dalam pertempuran besar demi menjaga kedamaian dunia yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Sampul Novel Pedang Kebenaran Sejati Seri 3
9.5
Pasca bersua orang tuanya, Permana Brata mengabdikan diri demi memulihkan kesehatan Ki Sasmaya. Pemilik Pedang Kebenaran Sejati ini bertekad membalas jasa sang guru. Namun, tantangan besar muncul saat gerombolan Musto Ireng menebar teror melalui aksi perampokan serta penculikan. Demi mencegah kehancuran dunia persilatan dari cengkeraman pemberontak yang kejam tersebut, Permana pun bergerak cepat untuk menumpas segala kekacauan yang sedang melanda.