Sampul Novel Bapakku Dukun

Bapakku Dukun

9.4 / 10.0
Dijauhi dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar adalah makanan sehari-hari bagi sang protagonis. Keluarganya dituduh sebagai pemuja setan dan pelaku pesugihan, bahkan ayahnya kerap dicap gila. Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan berbagai kematian tragis di sekitarnya. Alih-alih peduli pada cemoohan orang, ia tetap bertahan hingga sebuah kebenaran besar akhirnya terkuak secara alami. Alih-alih malu, ia justru merasa bangga bahwa ayahnya adalah seorang dukun.

Bapakku Dukun Bab 1

Kematian yang tak wajar

"Innalilahi wainna ilaihi rojiun." Aku mendengar orang-orang berkata demikian. Wajahku masih basah setelah kubasuh beberapakali agar seluruh rasa sedihku hilang agar wajahku yang lusuh kembali segar. Aku terdiam beberapa saat di kamar mandi. Umurku masih sembilan tahun tetapi aku sudah harus bisa menjaga rahasia besar keluarga.

Mery. Bayi yang baru berumur satu bulan itu harus meregang nyawa akibat dijadikan tumbal orang jahat. Aku sendiri yang menjadi saksi detik-detik di mana Mery berjuang antara hidup dan mati.

Hari itu aku libur sekolah. Aku masih duduk di kelas empat SD. Pagi-pagi Ibu sudah memandikan Mery adikku. Ia wangi dan aku suka sekali aroma mulut bayi. Kuciumi Mery berkali-kali. Aku menjaga adik sementara Ibu sibuk memasak dan melaksanakan tugas sebagai Ibu rumah tangga pada umumnya.

Pukul sembilan pagi, semua pekerjaan Ibu sudah selesai, ia menyuapi Mery dengan pisang. Hanya sedikit, sekitar satu sendok teh saja. Bahkan bisa di katakan pisang itu masih utuh. Setelah itu Ibu menimang-nimang Mery. Kami bercanda di ruang tamu.

"Assalamualaikum," sapa Bu Bidan. Aku tidak tahu kenapa Bu Bidan datang ke rumah. Bukankah biasanya ibu-ibu yang datang ke posyandu?

"Waalaikumsalam," jawab Ibu. Kemudian Bu Bidan mulai mengajak Mery bercanda.

"Hallo cantik, gendut ya, sehat ya, kita timbang dulu ya," kata Bu Bidan. Aku terus memerhatikan Bu Bidan. Ia menidurkan Mery di gendongan yang sudah di kaitkan ke timbangan bayi gantung, timbangan ini hanya mengangkat beban sampai sepuluh kilo saja. Setelah dilihat dengan seksama kemudian Bu Bidan melepaskan gendongan dari timbangan.

"Sudah, naik satu kilo lho. Pantesan endut," kata Beliau. Kemudian ia mencatat hasilnya di buku. aku terus memerhatikanya sampai Bu Bidan pamit pulang. Mungkin, Bu Bidan belum sampai di rumahnya ketika Mery mulai memuntahkan isi perutnya, yang tak lain adalah bubur pisang yang baru saja dimakan.

Huek.

"Hem, makan sedikit udah dimuntahin," kata Ibu gemas. Ia segera menganti baju Mery yang terkena muntah. "Sudah cantik!" kata Ibu lagi. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Kembali Mery memuntahkan bubur pisang untuk ke dua kali. Semua masih nampak normal dan baik-baik saja. Sampai akhirnya Mery muntah untuk ketiga kalinya. Di sini Ibu mulai panik.

"Nduk tolong panggil Bapak, adek kok, gumoh terus. Apa dia pusing habis ditimbang?" kata Ibu. Aku langsung berlari ke belakang mencari Bapak yang lagi sibuk membersihkan kandang kambing.

"Pak, dipanggil ibu!" kataku.

"Nggeh, bentar," jawab Bapak. Aku kembali ke ruang tamu. Mery terus saja muntah setiap lima belas detik sekali.

"Ada apa?" tanya Bapak.

"Ini lho anakmu muntah terus. Coba pangilin Bu Bidan," kata ibu. Bapak memeriksa Mery, terlihat mimik wajahnya kurang enak. Kemudian beliau segera berganti baju dan pergi ke rumah Bu Bidan. Tak, butuh waktu lama Bu Bidan sudah di rumah kami lagi.

"Habis makan pisang ya, Bu," kata Bu Bidan.

"Iya," jawab Ibu singkat.

"Bayi itu nggak boleh dikasih pisang Bu. Perutnya belum bisa menerima," kata Bu Bidan lagi.

"Sedikit kok, Bu," jawab Ibu. Ia tunjukan pisang yang tadi disuapin ke Mery. Pisang itu hampir masih utuh.

"Oh, nggeh. Padahal tadi nggak apa-apa ya, Bu?" Bu Bidan sedikit heran.

"Iya, begitu habis ditimbang tadi langsung muntah Bu. Apa iya bayiku pusing?" kata ibu. "Ya, semacam habis makan minum kemudian di ayun, jadinya pusing."

Bu Bidan melempar senyum kecil mendengar ucapan Ibu barusan. Setelah memeriksa, Bu Bidan pulang. Tak apa-apa katanya, nanti juga berhenti muntahnya.

Namun, hal itu tidak terjadi. Mery masih terus memuntahkan bubur pisang dan semakin banyak. Bude yang kebetulan mampir mau belanja bertanya-tanya awalnya bagaimana kok, bisa begitu. Kemudian tetangga mulai berdatangan satu persatu. Ibuku sudah tidak kuasa melihat Mery yang semakin lemas. Akhirnya Bude yang mengendong Mery. Sementara aku ... aku mengusap bibir Mery setiap kali ia habis muntah.

"Astagfirullahaladzim," ucap Bude setiap kali Mery muntah. Aku berinisiatif menaruh bak bayi di bawah untuk menampung muntahan adikku. Posisi Mery tengkurap sementara tangan Bude ia letakan di keningnya. Aku lari ke dalam mengambil kain untuk mengelap bubur pisang yang dimuntahkan. Hampir semua baju bayi aku pakai untuk membersihkan bibir adik, kupilih baju dan selimut yang lembut. Ibu menangis tersedu di kamar, sementara Bapak memanggil nenekku. Lama-lama Bude pun tak tega. Kini ganti nenek yang memangku Mery. Kejadianya berlangsung begitu cepat.

Aku tak memerhatikan Bapak lagi, entah kemana beliau, apa cari jampi-jampi ke orang pintar? Atau kemana? Entahlah.

Kini bubur pisang itu makin banyak. Tak hanya keluar dari mulut tetapi, juga lewat lubang hidung. Bubur itu begitu kental dan kasar, banyak bulir-bulir pisang yang tak hancur. Sungguh aneh. Pikirku.

"Ati-ati, nduk. Nanti hidungnya wedangan," kata para tetangga memberikan peringatan. Dengan cekatan kubersihkan dan kupencet hidung adik. Wedangan itu seperti terkena balsem, panas. Ku pastikan tak ada bubur pisang di lubang hidungnya yang kecil agar ia bisa bernapas.

Aku lihat ubun-ubunya mulai cekung. Seiring dengan kelopak matanya. Aku punya sebuah firasat, adikku tak akan selamat. Kini durasi muntahnya makin lambat, tak seperti tadi. Badan gendut adikku makin menyusut. Aku memegang tanganya, uratnya mulai timbul. Kaki dan tanganya keriput, kemudian keningnya mulai membiru. Napasnya masih teratur, tak tersenggal-senggal. Begitu tenang. Kini seluruh badanya membiru, aku tahu dia akan segera pergi. Ku bersihkan wajahnya untuk yang terakhir kali. Aku berdiri menuju kamar mandi, pandanganku kosong. Cukup lama aku di sana, sampai ku dengar suara riuh itu.

"Sudah tidak ada," kata mereka. Sebenarnya aku sudah tahu. Akan tetapi, tetap saja hatiku pilu. Aku terdiam cukup lama di kamar mandi. Tadi pagi aku masih mengajaknya bercanda.

"Gendok mana? Gendok mana?" Aku dengar orang-orang panik mencariku. Selamat jalan Mery. Ucapku. Kemudian aku membasuh wajahku dan keluar dari kamar mandi.

"He, ini Gendok di sini," kata Budeku. Semua orang memenuhi rumahku dari depan sampai dapur. Sebagian lagi mencoba menenangkan Ibu yang baru saja sadar karena pingsan. Sementara Bude Sulis menyodorkan air putih untukku. Aku berjalan pelan, menenggok Ibu di kamar. Kemudian aku ke ruang tamu. Mery sudah tidur dengan tenang di atas meja dengan kain jarik sebagai alas dan selimut.

Bubur pisang sebanyak bak mandi menganjal pikiranku. Perut adikku hanya sekecil itu. Kalau bubur itu aku kembalikan ke perutnya, tentu tidak akan muat. Kematianya sungguh tak wajar. Aku mengutuk orang yang telah berbuat jahat kepada adikku.

Aku tidak tahu, apakah ada yang sadar mengenai hal itu. Kutatap bak berisi bubur pisang yang di muntahkan adikku yang kini di letakan di bawah kursi. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua jam ia membunuh bayi mungil itu.

Aku terus mengikuti setiap prosesnya, mulai dari Mery dimandikan dan dikafani. Sampai ia di berangkatkan ke kuburan untuk dimakamkan. Aku lihat semua. Sampai hari ini aku tidak pernah melupakan peristiwa itu. Di mana adikku tersiksa di depan mataku. Orang jahat itu, aku tahu siapa dia.

Wanita iblis.

Aku calon tumbal pesugihan yang berhasil selamat.

Tabir Mimpi

Setelah kepergian Mery. Rumah Abi dan Dyah terasa sangat sepi. Abi merapikan semua baju bayi yang ada di keranjang, lalu memasukannya ke dalam kardus, kemudian kardus itu di lakban dan ditaruh di atas almari. Tersisa tumpukan sabun bayi, jejeran minyak telon dan shampo bayi di meja kamar, buah tangan dari para tetangga dan saudara.

Dyah masih syok atas kepergian Mery, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya seharian ini. Mila apalagi, ia yang menyaksikan sediri detik terakhir napas Mery. Dyah memeluk putri kecilnya dan mengusap-ngusap pucuk kepalanya. Tak, ada pengajian karena Mery masih bayi. Ia masih suci dan belum mempunyai dosa, jadi tidak perlu diadakan pengajian.

"Kita kecolongan lagi," kata Abi. Mila menyimak obrolan orang tuanya. Sudah biasa baginya mendengarkan obrolan seperti itu.

"Kemarin ada selembar uang lusuh tepat di depan rumah. Sudahku singkirkan dan ku tindih dengan batu. Aku tak mengambilnya. Malam harinya, terdengar suara seseorang memanggil namaku dua kali. Aku sudah tidak menyahuti panggilan itu dan terus membaca ayat kursi sepanjang malam. Paginya Mery_" Dyah tak mampu lagi untuk melanjutkan kata-katanya. Ia mengusap air mata dan hidungnya yang bengek dengan tisu. Abi yang mendengar hal itu pun marah.

"Aku sudah bilang! Jangan pernah ambil kalau menemukan uang!"

"Nggak aku ambil. Uang itu aku tindih dengan batu!"

"Harusnya singkirkan saja dengan sapu!" Bentak Abi. Mereka berdua berdebat, Abi menyugar rambutnya dengan kasar, sesaat kemudian mereka berdua terdiam. Dyah menunduk dalam.

"Di sebelah mana kamu letakan uang itu?" tanya Abi.

"Di bawah bunga pecah piring, aku menyembunyikanya agar tidak diambil oleh anak-anak," jawab Dyah.

Aaarrggg.

Abi mengeram kesal. Kemudian ia bergegas ke luar dari kamar. Detik kemudian Abi pun kembali.

"Sudah jadi belatung," katanya. "Mery sudah jadi tumbal wanita siluman itu!"

Tangis Dyah kembali pecah, dua orang anaknya telah menjadi tumbal pesugihan. Pertama anak sulung mereka yang bernama Asep, kedua harusnya Mila, sekarang adiknya Mery yang harus meregang nyawa.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Anak berumur sembilan tahun tahu apa? Mungkin bagi kebanyakan orang akan berpikir demikian. Namun, Mila sudah dituntut jadi dewasa sejak dini. Hal mistis seperti itu sudah biasa baginya. Awalnya Mila juga tidak tahu, sampai akhirnya Dyah menceritakan semuanya kepada putri kecilnya itu. Mila yang semakin bertumbuh pun mulai penasaran, kenapa ia tidak boleh main ke kebun Nuning. Padahal kebun itu tepat berada di depan rumah mereka, teman-teman sebaya Mila suka bermain di sana karena banyak pohon mangga yang rindang. Sementara rumah sekaligus toko Nuning di sebelah kanan kebunnya.

***

Kembali satu tahun yang lalu.

"Jajan itu dapet dari mana, Kak?" tanya Dyah. Mila sudah berusaha menyembunyikannya agar tidak ketahuan. Akan tetapi, Dyah malah menangkap basah dirinya saat mau memakan jajan itu di kamar sembunyi-sembunyi.

"Di beliin Bude Sulis," jawabnya.

"Di toko Bu Ning?" tanya Dyah lagi. Mila mengangguk pelan, takut ibunya marah. Benar saja, Dyah langsung merampas jajan itu lalu membuangnya ke tempat sampah belakang rumah. Kemudian Dyah pergi dan kembali dengan membawa jajan yang sama, tapi beli di toko yang berbeda. Selalu saja begitu, Mila tahu karena hal itu sering terjadi. Mila memang bandel.

"Dengar! Jangan pernah ke toko Bu Ning ya, Kak. Tadi, kakak ke sana juga apa cuma dibeliin Bude jajannya?"

"Tadi, diajak Bude," jawab Mila.

"Ok, besok-besok jangan diulangi lagi, ya?" pesan Dyah sekali lagi. "Budemu itu memang-"

"Mamangnya kenapa sih, Bu?" Mila memotong perkataan ibunya. Terdengar tidak sopan, tapi Mila sangat penasaran. Dyah lantas merebahkan tubuhnya di kasur, lalu menepuk-nepuk kasur memberi kode kepada putrinya agar ikut tiduran. Dengan memegangi jajan yang baru saja dibelikan oleh ibunya. Mila pun menurut. Memang saatnya tidur siang.

"Kakak ... janji ya. Setelah Ibu kasih tahu alasannya, kakak nggak boleh nanya-nanya lagi kenapa dan mengapa nggak boleh ke toko Bu Ning!" kata Dyah sambil menatap nanar mata Mila. Mila pun menggangguk tanda setuju.

"Ok, sini!" Dyah mulai bercerita sambil memeluk putri semata wayangnya itu.

"Waktu itu ... awalnya Ibu mendapatkan mimpi yang aneh." Dyah memulai ceritanya.

Krincing! Krincing! Krincing!

Terdengar gemerincing suara kuningan yang saling berbenturan akibat guncangan badan kuda yang berlari kencang. Terlihat Jamil sedang mengendarai kereta kuda tersebut.

Di dalam mimpi tersebut, Dyah sedang bercanda bersama Mila di teras rumahnya, sampai akhirnya jamil datang dan mengajak Mila naik ke kereta kudanya. Kereta itu berhiaskan kuningan, lalu ada dua hiasan di kiri kananya berbentuk ular yang menjulurkan lidahnya berwarna hitam pekat.

"Dyah, sini. Aku mau mengajak Mila ke suatu tempat!" kata Jamil dalam mimpi malam itu. Dyah pun tanpa pikir panjang menyerahkan Mila untuk dibawa Jamil ke suatu tempat katanya. Kemudian Jamil mulai menggentakan tali kekang kuda tersebut sehingga kuda itu langsung berlari kencang. Setelah itu, kereta kencana itu tak kunjung datang kembali. Dyah mulai kawatir dan mulai memanggil nama putri semata wayangnya.

Mila ...

Mila ....

Mila ....

Dipanggilan ke tiga tiba-tiba Dyah terhenyak dari tidurnya. Peluh membasahi keningnya, ternyata itu cuma mimpi. Mila berada di atas ranjang bersamanya. Dyah mengucap istigfar dan mengusap wajahnya, ia kemudian berjalan ke ruang tamu dan melirik jam dinding.

Suara jarum jam menyambut Dyah. Tepat pukul dua belas lebih tiga puluh menit. Degub jantung Dyah masih bergemuruh. Dyah kemudian berjalan ke dapur, mengambil segelas air putih untuk menenangkan dirinya sebelum akhirnya kembali tidur.

Begitu pagi menjelang, Dyah mendapati anaknya Mila demam. Dyah pikir semalam itu hanyalah mimpi biasa, dan tak ada hubunganya dengan suhu badan Mila yang panas, kalau saja ibu-ibu tidak bercerita tentang mimpi yang sama.

"Eh, tadi malam aku bermimpi anakku diajak Jamil naik kereta kencana, sekarang anakku demam. Apa arti mimpiku, ya? tanya Hindun kepada ibu-ibu yang sedang sibuk memilih sayur apa yang akan mereka beli untuk dibuat lauk pagi itu.

"Lah, kok, sama. Tadi malam aku juga bermimpi seperti itu. Persis banget, terus aku terbangun karena nggak nyenyak. Kulihat jam, sekitaran pukul setengah satu malam. Mimpi jam segitu itu biasanya tembus. Sekarang anakku juga sakit," tambah Asih.

"Aku jadi takut terjadi apa-apa dengan Fitri. Masalahnya aku juga mimpi begitu, lho." Mirna terlihat gusar. Anaknya juga demam. Dyah tak mau kalah, ia juga ikut menceritakan tentang mimpinya semalam.

Mbak Salim pedagang sayur tampak betah menyimak cerita emak-emak pagi itu. Mulailah mereka mengambil sebuah kesimpulan.

"Jangan-jangan, Jamil dan Nuning itu kaya karena pesugihan," tuduh Hindun.

"Bisa jadi, siapa sih, yang nggak tahu seluk beluk keluarga mereka. Lihat, sekarang." Asih menunjuk rumah megah Nuning. "Mereka punya rumah mewah, toko, dan sawah di mana-mana."

"Betul, padahal 'kan. Dulunya mereka kere. Ibunya saja tertangkap waktu nyolong di pasar. Bener nggak?" tambah Marni mencoba menginggatkan peristiwa tiga tahun yang lalu. "Masa dalam sekejab Nuning jadi kaya raya begitu. Kalau bukan karena pesugihan, mereka punya uang dari mana? Lawong Jamil saja cuma buruh tani. Tuh, Pak Sodikin yang banyak warisan saja. Tidak bisa beli sawah berkali-kali dalam setahun. Nuning, sudah beli sawah dua kali. Kabarnya dia mau beli lagi sawah di desa sebelah," terang Marni.

"Masak, sih? Kalau begitu kita kudu hati-hati sama Nuning. Jagain anak kita. Kalau benar adanya, ya, kita perlu minta bantuan paranormal. Barang halus di lawan halus!" kata Hindun. Ibu hanya diam saja menyimak obrolan mereka. Apa benar Nuning yang berbuat demikian? Kalau itu benar berarti putranya dulu juga menjadi tumbal.

Pasalnya sebelum meninggal malam harinya Dyah bermimpi Jamil meminta seekor ayam, dan Dyah memberikanya. Jamil memotong kepala ayam tersebut lalu membawanya pulang. Sementara badanya ditinggal begitu saja.

"Terima kasih, ya." ucap Jamil.

"Pagi harinya kakakmu meninggal dengan bekas luka di lehernya."

"Apa kak Asep jadi tumbal Bu Ning? Lalu, bagaimana aku bisa selamat? Dan anak-anak lainya juga?" tanya Mila antusias.

Kisah Masa Kecilku

"Pagi harinya kakakmu meninggal dengan bekas luka di lehernya."

"Apa kak Asep jadi tumbal bu Ning? Lalu, bagaimana aku bisa selamat? Dan anak-anak lainya juga?" tanya Mila antusias.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Mila kembali memaksa Dyah untuk meneruskan ceritanya. Dyah kemudian mengambil napas sebentar.

"Ibu, waktu Kak Asep meninggal apa dia tidak pakek sakit? Terus, kak Asep umur berapa?" celotehku. Mila mendesak terus ibunya agar mau meneruskan ceritanya.

"Tidak, Asep masih bayi berumur lima bulan. Dia nggak pernah rewel, saat bangun tidur, Ibu saja tidak tahu kalau Asep sudah tidak ada. Ibu baru tahu ketika mau memandikanya, setelah Ibu menyiapkan air hangat. Ibu lantas membangunkanya, biasanya Ibu akan menciumi pipinya sampai tidurnya tergganggu. Namun, Asep tidak membuka matanya, setelah ibu cek. Ternyata Asep sudah tidak bernyawa." Suara Dyah sedikit tercekat, mungkin ia merasa perih menginggat peristiwa itu.

"Terus, kalau Mila? Setelah demam bagaimana?" tanya Mila berbisik-bisik. Entah apa karena Mila ikut terbawa suasana. Mila merasa ada seseorang yang turut mendengarkan perbincangan mereka siang itu. Mila sedikit mengkerut, tetapi, tidak sama sekali menyiutkan nyalinya untuk mendengarkan cerita Dyah selanjutnya.

"Kalau Mila, karena Ibu sudah tahu, jadi, Ibu lebih waspada. Meskipun Ibu awalnya tidak terlalu percaya pada hal klenik, mistis, dan sejenisnya. Tetapi, setelah beberapa lama Mila sakit. Ibu jadi percaya."

Kembali Dyah mendongeng. Menceritakan bagaimana Mila bisa lolos dari mautnya. Maut yang seharusnya merenggut jiwanya. Bayi munggil berusia delapan bulan.

Setelah mendengarkan obrolan para emak pagi itu. Dyah tidak berani meninggalkan Mila barang sedetik pun. Saat memasak ia membawa putrinya ke dapur. Ia taruh kasur bayi di meja makan, dan menidurkan putrinya di sana, karena Dyah memang tak memiliki kereta bayi.

Dyah terus saja mengawasi Mila, saat mencuci popok dan baju sekalipun. Ia bawa baknya ke dalam, karena posisi kamar mandi berada di luar, terpisah dengan rumah berjarak hanya sekitar tiga meter. Cukup dekat, tetapi, karena terlalu parno dengan cerita emak-emak tadi pagi, ditambah menginggat peristiwa kematian putranya Asep yang mendadak setelah mendapat mimpi aneh. Dyah tidak mau kecolongan lagi.

Sampai siang hari demam Mila tak kunjung menurun. Beruntungnya Mila tidak rewel sama sekali. Mila seperti putri tidur, menutup matanya sepanjang hari.

"Bagaimana Mila?" tanya Abi.

"Masih panas," jawab Dyah.

"Nanti sore kita bawa saja ke Bidan."

"Mas, anu. Tadi, malam aku mimpi aneh. Nggak cuma aku, tetapi, Hindun, Asih, dan Marni juga bermimpi yang sama sepertiku."

"Maksudnya?"

Dyah menceritakan semuanya, obrolan emak-emak pagi tadi kepada Abi. Tak, mau suudzon Abi. memberi nasehat kepada istrinya.

"Cuma kebetulan saja mungkin. Bismilah besok Mila sembuh," ucap Abi. Ia lantas merebahkan badannya yang lelah, karena baru saja pulang dari sawah mencari rumput untuk ternak kambing dan sapinya.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Sore hari.

Abi dan Dyah sudah bersiap membawa Mila ke Bidan terdekat. Bidan Elis satu-satunya bidan di desa. Desa Suka Damai, desa terpencil yang masih cukup asri. Sampai di tempat Bu Bidan. Abi dan Dyah harus antri, karena beliau adalah bidan satu-satunya, tentu saja ramai pasien. Kalau untuk ke puskesmas, harus ke desa sebelah yang jaraknya cukup jauh, sekitar lima kilometer. Akhirnya tiba juga giliran Mila diperiksa oleh bu bidan.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya bu Bidan dengan lembut.

"Ini, anak saya demam sejak tadi pagi nggak turun juga panasnya, Bu. Tapi, ini sudah mendingan sekarang," kata Dyah. Bu Bidan lantas memeriksa Mila.

"Tadinya panas ya, Bu?" tanya Bu Bidan sambil menempelkan stetoskop di dada Mila.

"Normal kok, Bu. Nanti misalnya panasnya tinggi lagi. Coba rujuk aja ke RS takutnya demam berdarah atau kenapa-napa," saran Bu Bidan. Ia lantas memberikan obat penurun demam.

Pulang dari rumah Bu Bidan kata Dyah badanku kembali panas. Obat penurun demam seakan tak ada efeknya sama sekali. Dyah mulai resah, kembali teringat akan mimpinya. Tak, tahu harus berbuat apa, Abi dan Dyah hanya berusaha sebisanya. Menebarkan garam di sekeliling rumah sebelum magrib katanya mampu menangkal hal buruk. Sambil komat-kamit membaca ayat suci Abi menaburkan garam kemudian membasuh kaki sebelum masuk ke rumah agar barang halus yang menempel tidak ikut masuk ke dalam rumah. Begitu mitosnya. Malam harinya badan Mila semakin panas. Dyah mengompresku dengan air hangat.

"Mas, aku takut mimpiku itu ada hubunganya dengan sakitnya Mila," kata Dyah.

"Sudah, jangan suudzon dulu. Dosa, besok kalau masih demam kita bawa Mila ke dokter anak saja, yang penting usaha dulu. Baca-baca doa juga," kata Abi mengingatkan.

Mila sedikit tegang mendengar cerita dari ibunya. Tengorokanya terasa kering karena beberapa kali menelan saliva. Namun, Mila tidak mau mengambil air minum. Ia masih penasaran selanjutkan bagaimana?

"Sudah Mas, bahkan sedari tadi. Tanpa kamu ingatkan aku sudah membaca doa," kata Dyah. Mungkin sebenarnya Abi juga resah, tetapi, beliau berusaha tenang agar istrinya tidak panik. Sebagai kepala keluarga memang seharusnya begitu.

"Terus." Mila kembali menyela cerita ibunya. Dyah tersenyum gemas.

"Terus besoknya ibu dan bapak membawa Mila ke dokter anak. Tapi, hasilnya nihil. Mila tak kunjung sembuh. Siang normal dan menjelang magrib badan Mila panas. Begitu terus," kata Dyah.

"Lalu, anak-anak yang lain bagaimana?" tanya Mila.

"Sama, semua juga belum sembuh. Sampai di hari ketiga Mila sakit. Bu Ning tiba-tiba datang ke rumah."

"Ngapain?" tanya Mila tak sabar.

"Ibu nggak tahu siapa yang mengadu tentang obrolan emak-emak pagi itu. Lantas Bu Nuning mendatangi kami satu persatu. Menanyakan perihal kebenaran mimpi itu. Semua tidak ada yang mengaku perihal mimpinya. Bodohnya Ibu ... Ibu jujur mengankuinya. Memang iya, Ibu bermimpi Mila diajak pak Jamil naik kereta kencana yang ada hiasanya dua ekor ular besar di sisi kiri dan kanan."

"Terus."

"Terus Bu Ning bilang begini."

'Oh, jadi benar. Kamulah yang menuduhku mengambil pesugihan. Cari masalah dengaku kamu'

Dyah menirukan apa yang dikatakan Nuning. walau Dyah sudah menjelaskan berkali-kali kalau tidak bermaksud menuduh. Nuning tetap tak mau terima.

"Keesokan harinya semua anak-anak sembuh. Kecuali Mila!" kata Dyah.

"Terus!"

Terus, malam harinya, tepat pukul satu malam ....

Abi sedang melaksanakan salat malam. Tiba-tiba ada asap mengepul masuk kedalam kamar melalui celah pintu bagian bawah. Antara sadar dan nggak sadar. Ibu melihat bu Ning dan pak Jamil muncul bersama kepulan asap tersebut, mereka lantas tertawa terbahak-bahak!

Gangguan Makhluk Halus

Part 4

"Keesokan harinya semua anak-anak sembuh. Kecuali Mila!" kata Dyah.

"Terus!"

Terus, malam harinya, tepat pukul satu malam ....

Abi sedang melaksanakan salat malam. Tiba-tiba ada asap mengepul masuk kedalam kamar melalui celah pintu bagian bawah. Antara sadar dan nggak sadar. Dyah melihat Nuning dan Jamil muncul bersama kepulan asap tersebut, mereka lantas tertawa terbahak-bahak!

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

"Ibu ingin memanggil Napak. Namun bibir ibu terasa kelu. Ibu juga tidak bisa mengerakkan badan ibu sementara Mila nangis kejer," kata Dyah. Dyah semakin memeluk erat Mila sehingga Mila makin tenggelam dalam dekapan hangatnya.

"Ibu bacakan ayat kursi berkali-kali, sambil terus berusaha melawan untuk bisa kembali menguasai diri. Sampai akhirnya Ibu berhasil dan mampu menepis tangan si Nuning yang mau mengambil Mila dari sisi Ibu. Ibu segera mengendong Mila dan berlari ke tempat salat di mana Bapak Mila lagi salat malam." Dyah berhenti sejenak.

Ternyata, menurut cerita Dyah, Abi sama sekali tidak mendengar tangisan putrinya. Telinganya seakan tertutup sampai akhirnya Dyah berhasil lolos dari kelinde kalau orang jawa bilang. Antara mimpi dan kenyataan. Namun, begitu sangat nyata.

"Ada apa?" tanya Abi terkejut melihat Dyah dengan napas tersengah-engah dan penuh peluh mengendong putrinha ke tempat salat. "Tenang, istigfar," kata Abi. Kemudian ia mengambilkan istrinya segelas air putih.

"Minumlah," kata Abk lagi. Ia menyodorkanya kepada Dyah. Lalu Abi mengendong putrinya dan menimangnya. Mila masih menangis, padahal biasanya Mila tidak pernah rewel meskipun sakit. Kata Dyah.

"Mas, mungkin Mila merasakan kehadiran demitnya Nuning dan Jamil!" Akhirnya Dyah bisa bicara juga.

Meski dengan tubuh gemetar, seumur-umur baru kali ini Dyah menghadapi demit secara langsung.

"Gendong Mila!" kata Abi. Lantas ia mengambil segelas air lalu dibacakanya ayat kursi tujuh kali, kemudian air itu diusapkan keseluruh tubuh Mila. Sisanya diciprat-cipratkan ke seluruh penjuru rumah dari depan sampai dapur.

"Pergi, jangan ganggu anakku!" hardik Abi. Sementara Dyah terus mengikuti langkah suaminya dari belakang. Benar saja. Kata Dyah. Selanjutnya Mila bisa tidur pulas kembali. Tetapi tidak dengan Dyah dan Abi, mereka begadang sepanjang malam demi menjaga putrinya.

Pukul setengah tiga dini hari. Dyah mulai merasakan hawa yang kurang enak.

"Mas, mas!" Dyah mengoyang-goyangkan badan suaminya yang ketiduran. Sementara itu, Dyah benar-benar tak bisa memejamkan matanya.

"Mas!"

Entah kena ilmu sirep atau gimana. Abi sangat susah untuk dibangunkan. Sampai akhirnya demit itu kembali datang menganggu. Dyah mendengar langkah kaki seseorang. Padahal di rumah tak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua dan putrinya. Kali ini Dyah sama sekali tidak takut. Ia mengendong Mila. Mila tidur dipelukan Dyah. Ia mengantur bantal sedemikian rupa sehingga nyaman dengan posisi tidur sambil duduk dan menggendong bayi. Dyah bangun dan membuka pintu kamar perlahan, menengok de ruang tamu dan ke belakang.

Deg.

Samar-samar terlihat sesosok bayangan. Dyah memicingkan mata. Siapa wanita itu?

Sosok iblis itu diam saja di pojokan ruang tamu. Namun kali ini, bukan sosok Nuning yang dilihat oleh Dyah. Dyah bercerita kalau yang dilihatnya adalah wanita yang sangat cantik, hidungnya mancung, kulitnya bersih, ia memakai pakaian adat jawa, dan bersanggul. Sekilas terlihat begitu. Dyah sudah berusaha menyalakan lampu. Akan tetapi, lampu ruang tamu tidak bisa menyala, sosok itu sepertinya tidak mau kalau Dyah melihat wujudnya secara terang-terangan.

Dengan perasaan yang tidak karuan Dyah memberanikan diri mendekatinya.

"Siapa kamu!" tanya Dyah dengan sangat berani. Dyah tiba-tiba menjadi seorang wonder woman.

"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini. Kembalilah, karena aku akan selalu menjaga anakku," kata Dyah. Sebuah al-qur'an kecil dipegang erat olehnya.

"Aku mau menjemput bayiku!" kata demit itu dengan suara sangat pelan.

"Bayimu? Enak saja! Siapa yang mengirimmu?" tanya Dyah. Kemudian terdengar suara ledakan dari belakang, Dyah berjingkat kaget, saat Dyah kembali melihat ke pojok ruang tamu, demit itu sudah menghilang.

Dyah buru-buru menyingkap korden dan melihat ke luar. Di luar dugaan, Entah demit atau manusia. Dyah melihat Nuning memakai kebaya dan berdiri di bawah pohon mangga kebunnya yang berada tepat di depan rumahnya.

Seumur-umur Dyah tidak pernah membayangkan hidupnya bakal horor seperti itu. Berawal dari sebuah mimpi. Dyah tak mau mengedipkan matanya, mereka saling pandang hanya terhalang kaca. Suasana malam sangat mencekam, hanya diterangi sedikit cahaya dari lampu petromak yang dibawa sosok Nuning. Lampu jalan dan lampu teras rumah pun mati. Sosok itu berdiri tegak di bawah pohon mangga.

Dyah terus membaca ayat kursi, dengan terus tak perpaling sedetikpun dari sosok Nuning. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya. Saat Dyah menoleh, tak ada siapa-siapa di sana. Hanya kursi kosong. Dyah membaca surat an-nas sebanyak sebelas kali kemudian mengusapkanya kepada putrinya dari ubun-ubun sampai kaki. Sosok Nuning sudah menghilang, Dyah memutuskan untuk kembali ke kamar.

"Mas!" Kembali Dyah mencoba membangunkan suaminya.

Byurrr!

Dengan sangat terpaksa Dyah menyiram suaminya dengan air. Gangguan malam itu teramat sangat banyak. Sedendam itukah Nuning kepada keluarganya. Pikir Dyah.

Abi pun terbangun dengan gelagapan. Namun, ia sama sekali tidak marah atas tindakan Dyah. Ia segera melepas bajunya yang basah lantas mengambil kemeja yang nyantol di balik pintu.

"Ada apa? Mila kenapa?" tanyanya panik.

"Ssstt. Dengar sesuatu nggak, Mas?" tanya Dyah. Mereka memasang telingga baik-baik. Terdengar desisan ular yang cukup keras diatas genteng. Dari suaranya bisa dipastikan ular itu memiliki ukuran yang besar.

"Allahumasholli ala syaidina muhamad, waala ali syaidina muhamad!" Abi membaca sholawat berkali-kali sementara putrinya sama sekali tak terganggu. Tetap tidur anteng digendongan. Genteng rumah mulai terdengar gemeretak.

Dan ....

Duar!

Maaaaas!!!

Dyah berteriak, menunduk, dan mendekap erat putrinya. Sementara Abi mendekap Dyah. Dyah melindungi Milla, dan Abi melindungi Dyah. Kemudian suasana berubah menjadi hening. Bau anyir menyeruak.

Allahuakbar Allahu akbar.

Azan subuh berkumandang. Sesaat kemudian disusul berita kematian yang disiarkan lewat toa masjid pagi itu.

Tumbal pengganti Mila

Part 5

Maaaaas!!!

Dyah berteriak, menunduk, dan mendekap erat putrinya. Sementara Abi mendekap Dyah. Dyah melindungi Milla, dan Abi melindungi Dyah. Kemudian suasana berubah menjadi hening. Bau anyir menyeruak.

Allahuakbar Allahu akbar.

Azan subuh berkumandang. Sesaat kemudian disusul berita kematian yang disiarkan lewat toa masjid pagi itu.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

"Siapa?!" tanya Dyah kepada suaminya. Dyah seakan tak percaya dengan pedengarannya sendiri.

"Innalilahiwainna ilaihi rojiun," ucap Abi. "Yusuf nggak ada."

Hah ...

"Yu_yusuf putranya Hindun? Innalilahi wainna ilaihi rojiun." Sambil mengucap demikian Dyah memeluk erat dan menangisi Mila. Padahal Mila tidak apa-apa. "Ya, Allah jaga selalu Mila untukku."

Abi mengusap pundak Dyah. " Mila akan selalu baik-baik saja. Aku janji!"

Setelah memastikan anak dan istrinya baik-baik saja. Abi memeriksa ke luar kamar. Suara menggelegar apa gerangan yang mereka dengar sebelum azan subuh tadi.

"ALHAMDULILLAAHIL LADZII'AAFAANII MIMBAB TALAAKA BIHI WA FADHDHOLANII'ALAA KATSIIRIM MIMMAN KHOLAQO TAFDHIILA"

Artinya:

Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkanku dari bahaya yang menimpaku dan telah banyak memberikan karunia-Nya kepadaku melebihi karunia yang diberikan kepada mahluk lainnya.

(Sumber g****e)

"Ada apa, Mas?" Dyah yang tak sabar melihat suaminya terdiam mematung di depan pintu kamar pun mendekati Abi.

"Ya, Allah." Hanya asma Allah yang keluar dari mulut Dyah ketika melihat ruang tengah sudah berantakan. Plafon rumah mereka jatuh.

Anehnya, hiasan, foto, bahkan lampu yang menempel di plafon tidak ikut terjatuh. Masih utuh nangkring di atas. Rumah mereka sudah seperti habis terkena gempa bumi. Porak poranda.

Syukurlah, Allah masih melindungi Abi sekeluarga. Mungkin itu adalah santet yang meleset. Entahlah, Dyah dan Abi sendiri tidak tahu menahu. Usai melaksanakan salat subuh, Abi menyingkirkan puing-puing plafon yang berbahan gibsum itu ke belakang. Dyah mau membantu sambil menggendong putrinya. Namun, Abi melarangnya. Abi menyuruh Dyah untuk beristirahat. Memang dasarnya Dyah adalah wanita yang tak bisa tinggal diam. Ia tetap membantu Abi menyingkirkan puing-puing plafon tersebut.

"Bau anyir ini dari mana ya, Mas?"

"Entahlah, sudah. Sebaiknya kamu duduk saja. Semalaman kamu tidak tidur, kan?" kata Abi lagi.

Dyah pun menurut, tetapi sebelumnya Dyah membuatkan suaminya kopi terlebih dahulu, dengan menggendong Mila. Untuk sarapan Abi lebih memilih membeli nasi jagung bungkus dengan lauk sambal terasi dan ikan asin.

Tiba-tiba Dyah mendengar Abi berteriak cukup keras. "Astagfirullahaldzim!"

"Ada apa, Mas?" sahut Dyah dari dapur.

"Nggak ada apa-apa!" jawabnya. Dyah tahu, pasti ada yang tidak beres. Abi sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Dyah lantas ke ruang tengah melihat apa yang terjadi.

"Ya, Allah!" teriak Dyah, membuat Abi spontan menoleh. Abi melepas napas berat, lalu mendekap Dyah agar tidak melihat sesuatu di balik puing gipsum.

"Aku tidak takut, Mas! Aku hanya tak habis pikir. Kenapa Nuning sejahat ini kepada kita. Sementara kita cuma diam saja!" Dyah sangat murka.

"Jangan menuduh orang sembarangan!"

"Aku nggak sembarangan, Mas! Pertama mimpi, lalu tadi malam mereka datang dan ingin membawa Mila. Lalu, aku melihat Nuning berdiri di bawah pohon mangga depan rumah kita. Apa itu semua tak cukup untuk membuktikan kalau Nuninglah pelaku teror ini, Mas!" Dyah sangat murka. "Kita harus minta bantuan orang pintar, Mas," tambah Dyah. Abi hanya terdiam melihat semua fakta yang ada. Ilmu klenik begini memang tidak bisa dibuktikan.

"Percayalah padaku." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Abi. Lantas ia menyingkirkan bangkai kucing tanpa kulit yang disayat-sayat dengan sangat jahat dan ususnya tergurai. Mungkin dari bangkai kucing itulah bau anyir itu berasal.

Rumah masih berantakan. Namun, Dyah harus tetap ke rumah Hindun untuk ngelayat.

"Mas ... mas jagain Mila. Aku ngelayat dulu sebentar. Kita gantian aja," kata Dyah. Karena biasanya ibu-ibu tidak langsung pulang. Mereka biasanya akan membantu mengurus segala keperluan sampai jenasah dimakamkan.

Sudah pagi bukan berarti Mila luput dari pengawasan orang tuanya. Jangan sampai lengah. Abi mencuci tangan lalu menemani putrinya tidur di kamar.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Di rumah Hindun.

Bapak-bapak hanya beberapa saja yang sudah nongkrong di depan. Sementara ibu-ibu memenuhi rumah sederhana itu. Lantunan surat yasin terdengar dari luar. Kaki Dyah sedikit gemetar membayangkan betapa sedihnya Hindun di tinggalkan oleh putranya Yusuf yang baru berusia sepuluh bulan, umurnya cuma beda dua bulan dengan Mila.

Kematian adalah hal biasa, mau tidak mau kita harus ikhlas. Tapi, ini pasti sangag berat bagi Hindun. Bagaimana tidak. Ia menunggu kehadiran Yusuf selama tujuh tahun. Itu bukanlah waktu yang sebentar. Wanita mandul, predikat itu sempat di sandangnya sampai akhirnya kabar menghembirakan itu datang. Ia hamil, sembilan bulan kemudian bayi mungil itu hadir. Namun, sekarang ia harus pergi lagi.

Dyah menyerahkan buah tangan yang dibawanya kemudian mencari Hindun di kamarnya. Ia tampak sangat terpukul. Dyah duduk di sebelahnya bergantian dengan tetangga lainya yang saling memberi support.

"Ndun, sabar ya," ucap Dyah sambil mengusap punggung wanita malang tersebut.

"Kemarin ma_lam dia masih sehat, bahkan bi_bisa melangkah tiga langkah. Kami tertawa lepas semalaman, terlalu bahagia melihat anakku melangkahkan kaki kecilnya. Bapaknya membelikan sepatu yang ada lampunya. Be_belum sempet di_dipakai, Yusuf malah pergi." Suara Hindun terpatah-patah. Kali ini Dyah tidak menjawab, ia hanya memeluk erat Hindun. Merasakan berada di posisinya.

"Luka sesarku saja masih terasa nyeri. Tapi, anakku sudah pergi!" celoteh Hindun di antara isak tangisnya.

"Sabar, Ndun, sabar!"

"Yang sabar ya, Ndun!" sahut seseorang membuat Dyah mendongkak.

Nuning!

Apakah! Yusuf sudah menjadi tumbal, atau memang mati secara wajar? Batin Dyah bergejolak. Nuning duduk di sebelah kiri Hindun. Sementara Dyah di sebelah kanan. Ia ikut mengusap punggung Hindun.

"Aku pulang dulu ya, Ndun. Kamu yang sabar, ini adalah ujian. Allah lebih menyayangi Yusuf. Percayalah," ucap Dyah sebelum pulang. Beberapa saat kemudian Dyah dan Nuning saling bersitatap.

Sebelum pulang, Dyah menyempatkan melihat jenazah anak Hindun. Bayi tampan itu belum dimandikan. Masih ditidurkan di ruang tamu. Dyah mendekatinya, dan melihat dengan seksama. Tak, ada sesuatu yang janggal. Namun, rasa penasaran yang besar membuat jiwa detektif Dyah muncul seketika. Dyah berpura-pura membenarkan posisi bayi.

"Oalah, le. Surga menunggumu, Nak," ucap Dyah sambil membolak-balikan posisi yusuf. Sampai akhirnya Dyah menemukan tanda itu. Tanda hitam di balik daun telinga Yusuf.

Deg.

Dada Dyah berdegub kencang, gemetar rasanya tangan Dyah berkelana memeriksa sebelah kiri daun telingga Yusuf.

ADA!

Tanda hitam itu tembus dari daun telinga kiri ke kanan. Sekali lagi Dyah mengusap kening Yusuf dengan pelan sebelum pulang.

Ya, Allah. Tempatkan si tole di tempat terindah.

Kini, ganti giliran Abi yang pergi ke rumah Hindun untuk melayat.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Mantari mulai tenggelam, seperti biasa sebelum magrib Abi menyebarkan garam mengelilingi rumah sambil membaca doa. Ba'da magrib Abi bersiap ke rumah Hindun untuk mengaji.

Setelah beberapa lama, Abi sudah kembali.

"Lho, kok, cepet?" tanya Dyah sambil menerima bungkusan dari suaminya. "Apa ini?"

"Nasi rawon. Makanlah," ucap Abi singkat. Kemudian Dyah ke dapur untuk mengambil piring dan sendok.

"Wah, sedep banget!" Belum sempat Dyah memakan nasi rawon tersebut. Terdengar seseorang mengetuk pintu belakang.

Tok! Tok! Tok!

Seluruh badan Dyah tiba-tiba membeku. Masih sangat sore sudah ada yang menganggunya.

"Si_siapa?" tanya Dyah.

"Aku, Dik!"

Lho.

Dyah sangat bingung. Lawong suaminya ada di kamar bersama putrinya. Tanpa banyak bicara Dyah langsung berlari ke kamar. Bahkan Dyah belum sempat membukakan pintu belakang untuk Abi.

Brakkk!

Dyah membuka pintu kamar dengan kasar.

Milaaaa!!!

Teriakan Dyah membuat Abi panik. Abi menggedor-gedor pintu. Namun, sama sekali tak di hiaukan oleh Dyah.

"Dik, buka pintunya, Dik! Ada apa dengan Mila!"

Awal Mula

Part 6

Di rumah Nuning dan Jamil.

"Dik, sudahlah. Jangan usil sama keluarga Abi!" kata Jamil mengingatkan ketika melihat istrinya bersiap mengirimkan demit ke sana. "Kita 'kan dengan mudah mendapatkan tumbal dari yang lainya. Kita buang uang di pasar saja banyak anak-anak yang ambil dan menjadi tumbal kita. Tanpa harus susah-susah," terang jamil.

"Nyi Ratu sangat menyukai Mila. Lagi pula, kamu tidak ikut apa-apa. Semuanya, aku yang mengerjakan. Tugasmu hanya menutup mulut saja!" cecar Nuning kepada suaminya sendiri. Memang, Nuninglah dalang di balik semuanya, yang memiliki ide mencari pesugihan pun juga Nuning. Ia jugalah yang menjalankan tapa brata di gunung kawi tiga tahun yang lalu. Pertama kali mereka mengambil pesugihan.

"Kita sudah kaya raya. Apa kita tidak bisa menghentikan semuanya!" ujar Jamil. Ia lelah dengan segala ritual yang selalu di jalaninya.

"Apa kamu sudah siap mati? Heh!"

"Maksudmu, Dik?" Jamil tak mengerti.

"Aku sudah membuat perjanjian dengan Nyi Ratu. Aku tidak bisa mengakhiri semua ini kecuali kalau kita mati!"

"Lalu, Ayu dan Dimas?" tanya Jamil. Ayu adalah anak pertama mereka berumur sembilan tahun, sementara Dimas berusia enam tahun.

"Itulah sebabnya. Makanya aku masukan mereka ke pondok pesantren. Agar anak-anak kita menjadi ahli agama dan bisa menyelamatkan diri mereka sendiri nanti!"

"Maksudnya menyelamatkan diri mereka apa, Dik?" Jamil sungguh tak mengerti.

"Kamu tahu sendiri. Bukan hanya satu pesugihan yang ku jalani. Seluruh keluarga kita, sudah kuserahkan namanya. Termasuk Ayu dan Dimas!"

"Apa?! Lalu buat apa semua ini?"

"Ah, sudahlah. Lagi pula ini semua salahmu. Kalau saja kamu mampu membahagiakan aku seperti Abi memenuhi semua kebutuhan Dyah!"

"Jangan bilang kalau kamu masih menaruh hati padanya!"

"Dyah memang beruntung!" ucap Nuning mengakhiri perdebatanya dengan Jamil. Nuning memang menaruh hati kepada Abi sedari dulu, sayang cinta itu harus bertepuk sebelah tangan.

Kehidupan Abi dan Dyah yang adem ayem selalu membuat iri Nuning. Abi sudah yatim piatu sejak berumur sepuluh tahun. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara. Abi mengemban tugas sebagai orang tua untuk adik-adiknya. Terbiasa hidup keras membuat Abi tahan banting. Usaha tak menghianati hasil. Susah payah Abi bisa membesarkan adik-adiknya. Kini adiknya sudah berumah tangga dan punya kehidupan masing-masing.

Abi sendiri bekerja sebagai blantik kambing. Setiap hari senin dan kamis ia ke pasar untuk berjual beli kambing.

Bersama Dyah, akhirnya Abi mampu membeli sepetak sawah. Raja kaya seperti kambing dan sapi pun di milikinya. Sangat bertolak belakang dengan kehidupan Nuning yang serba kekurangan. Jamil yang hanya bekerja serabutan dan buruh tani. Kurang bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Rumah reot dari bambu menjadi tempat benaung keluarga mereka. Tadinya itu tidak mengapa. Sampai akhirnya sesuatu terjadi.

Semua itu berawal dari rasa malu dan marah jadi satu.

Kala itu ....

"Sudah tua bukanya insyaf! Ingat umur! Malah, maling!"

"Eling Mak ... eling. Inget umur!"

"Dasar maling!" umpatan demi umpatan itu di tujukan kepada Mak Ijah yang sudah tua renta.

"Ada apa ya, kok rame pagi-pagi?" gumam Nuning yang masih belum sadar kalau ibunya sedang di hakimi masa.

Nuning yang sedari tadi sibuk di belakang rumah memberi makan ayam, sedikit heran dengan suara riuh di depan. Suasana desa yang biasanya sepi mendadak rame.

"Ning! Nuning!" suara Pak Burhan lantang.

"Eh, ada yang manggil." Nuning tergopoh berlari ke depan ingin tau, kenapa sepagi ini, ada yang mencarinya. Betapa kagetnya Nuning setelah sampai di depan, ia melihat Emaknya dipegang beramai ramai seperti tahanan polisi.

"Astaqfirullohaladzim, Emak! Ada apa dengan Emak saya?!"

Teriak Nuning Histeris. Dia pikir Emaknya jatuh atau kenapa-kenapa hingga harus diantar beramai- ramai ke rumah.

"Ini!" Pak Burhan mendorong Mak Ijah dengan kasar hingga tubuh rentah itu hampir jatuh tersunngkur ke tanah.

"Allahuakbar!"

Nuning dengan sigap menangkap tubuh Emaknya, sebelum tubuh renta itu jatuh.

"Mak, nggak apa-apa Mak?" tanya Nuning. Dirabanya tubuh Emak Ijah dari atas sampai bawah, memastikan tak ada satu pun yang terluka.

Mak Ijah menangis.

"Ada apa dengan Emak saya. Memangnya kalian tidak punya hati, menyeret dan mendorong orang tua, hah!" bentak Nuning sambil memeluk erat tubuh emaknya. Nuning marah besar mendapati Emaknya diperlakukan tidak manusiawi oleh orang-orang.

"Emakmu itu maling! Kalau saja aku tidak ingat dia sudah tua. Mungkin suda aku seret ke penjara biar masuk bui sekalian."

"Jaga Emak kamu baik-baik. Biar nggak nyolong lagi!" pesan Pak Burhan sembari membubarkan warga.

"Ayo pulang saudara-saudara!"

Cih. Pak Burhan membuang ludah di depan Nuning sebelum pergi membuat darah Nuning semakin mendidih. Mata Nuning berkaca-kaca. Menyimpan rasa marah yang luar biasa.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Kini tinggal Nuning dan Emak nya di teras rumah menangis dan meraung sambil berpelukan. Nuning memeluk tubuh renta itu agar ia merasa tenang dan mastikan semua akan baik-baik saja.

"Ayo masuk Mak!"

Di bopongnya tubuh rentah itu masuk ke rumah yang dindingnya terbuat dari bambu.

"Hati-hati Mak." Kata Nuning saat kaki keriput Mak Ijah hampir terantuk daun pintu.

"Aku buatin teh ya, Mak. Terus Mak istirahat."

Nuning menuju dapur. Di ambilnya kayu bakar di belakang rumah untuk membuat api di tungku. Setelah itu dia meletakan panci untuk merebus air.

"Ini Mak teh nya. Setelah itu Mak istirahat ya, Mak."

Nuning tidak bertanya perihal yang di alami Mak Ijah. Dia sadar itu akan sangat menyakiti hati ibundanya. Namun, di lubuk hati Nuning yang paling dalam. Dia menyimpan dendam kepada para tetangga.

"Aku akan membalas semua perbuatan orang-orang dan membeli mulut mereka!" Nuning berjanji kepada dirinya sendiri.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Malam.

"Anak-anak sudah tidur?" tanya Jamil suami Nuning yang baru saja pulang dari mencari belut. Lumayan hasilnya bisa buat beli kebutuhan dapur. Bukan hanya belut, kadang Jamil juga mencari kodok di sawah. Daging kodok banyak manfaatnya, salah satunya bisa untuk mengobati penyakit kulit. Tak sedikit juga orang yang butuh daging kodok. Hasilnya lumayan bisa membuat asap dapur tetap mengepul. Tidak cukup kalau hanya mengandalkan penghasilan sebagai buruh tani. Maka profesi apapun dilakoni oleh Jamil. Kadang ada juga yang menyuruhnya membenahi genteng atau sekedar membersihkan kebun. Semua di lakoni oleh Jamil demi memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

"Sudah Mas."

"Kamu kenapa?"

Dengan mata berkaca-kaca Nuning menceritakan kejadian tadi padi yang di alami oleh ibunya.

"Sabar!"

"Sabar? Aku harus bersabar seperti apa mas! Mereka semua selalu saja menghina kita!"

Kejadian tadi pagi sungguh mengiris hati Nuning. Malihat orang yang paling dicintainya diseret dan di dorong hingga hampir jatuh. Hati Nuning bagai di cabik-cabik. Hal itu membuatnya benar-benar kalap dan hilang akal.

"Nanti tanggal 12 suro aku mau Gunung Kawi dan melakukan tapa brata di sana mencari wangsit, siapa tau, tapa brata ku diterima dan kita bisa kaya, Mas!"

Nuning berniat mencari jalan pintas dengan cara menyembah dedemit. Pesugihan! Nuning sudah tidak perduli lagi dosa apa yang akan dia pikul. Di benaknya hanyalah balas dendam kepada orang-orang yang telah menyakiti hatinya.

"Apa kamu sudah gila dik!" Bentak Jamil.

"Iya! Aku memang sudah gila Mas! Kalau kamu takut, kamu tidak usah ikut. Aku bisa kesana sendirian. Aku akan tetap kesana, dengan atau tanpa kamu Mas!" Ancam Nuning kepada suaminya yang menentang niatnya. Matanya merah menahan amarah. Darahnya mendidih setiap kali ingat kejadian tadi pagi.

Malam itu Jamil dan Nuning sama-sama tak bisa memejamkan mata mereka. Nuning terus saja mengumpat mengucapka sumpah serapah dalam hatinya kepada semua orang. Sementara Jamil tak mengerti harus berbuat apa.

Jamil sangat mengenal sifat istrinya. Keras kepala. Apa yang sudah diucapkan Nuning akan sulit untuk di-ubah. Kini Jamil hanya bisa pasrah, semoga amarah Nuning mereda dan membatalkan niatnya.

Setiap hari Jamil mencoba mengingatkan kepada Nuning. Apa saja resikonya jika dia mencari jalan yang sesat. Namun, Nuning tak perduli. Dosa akan dia tanggung sendiri katanya. Dia ingin ibunya bisa bahagia meski dia harus masuk neraka karena melawan takdir sekalipun.

Seakan semua jalan sudah buntu. Jamil tak berhasil membujuk istrinya untuk mengurungkan niatnya. Bulan suro akan segera datang. Nuning sudah mantab dengan langkah yang akan di ambilnya. Di persiapkan semuanya untuk bekal ke Gunung Kawi.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Bulan suro.

Memasuki bulan yang konon katanya bulan yang di keramatkan. Nuning sudah bersiap. Jamil tidak mendukung istrinya, akan tetapi dia juga tidak tega melepas Nuning pergi sendiri.

"Besok Mas antar anak-anak dan Ibu ke Dek Lastri ya, Mas." Jamil mengangguk pelan.

Sebenarnya Nuning hampir berubah pikiran. Namun, gunjingan para tetangga membuatnya hillang akal.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Mitos.

Pagi itu dengan mantab Nuning dan Jamil memulai perjalanan mereka mencari pesugihan. Mitos Gunung Kawi yang cukup terkenal memandu mereka untuk datang ke sana. Walau sebenarnya Nuning dan Jamil masih belum tahu apa yang akan dilakukannya di sana. Dan apa yang akan mereka temui. Namun, setan, tentu saja ikut andil dalam niat buruk manusia. Setan tidak akan lelah mengoda kita, maka dari itu Rosulullah bersabda yang artinya.

Jika sesuatu (yang tidak engkau inginkan) menimpamu, maka janganlah engkau katakan โ€˜andaikan aku melakukan begini dan begitu tentu akan begini dan begituโ€™ namun katakanlah โ€œQodarullah wa ma syaaโ€™a faโ€™alaโ€ karena kalimat seandainya itu akan membuka (pintu) perbuatan syaithon.โ€ [HR. Muslim]

(sumber g****e)

Aroma kemenyan dan bunga tujuh rupa yang sangat menyengat mulai tercium. Pertanda gerbang menuju Gunung Kawi tinggal sejengkal. Sebelum sampai ke petilasan yang sudah sangat terkenal dengan Mitos pesugihanya itu. Seseorang tiba-tiba mendatangi Nuning dan Jamil. Handoko, dia memperkenalkan diri. Seorang pemuda dengan perawakan tinggi semampai. Rambut cepak dan kulit sawo matang. Seakan sangat paham atas seluk beluk Mitos tentang Gunung Kawi.

"Maaf Buk, Pak. Mungkin saya bisa bantu, sebelumnya tujuan kalian datang kesini apa? Untuk treveling atau mencari pesugihan?"

Nuning dan Jamil saling berpandangan. Handoko dengan cepat menangkap ekpresi raut wajah mereka. Pesugihan! Tak diragukan lagi, suami istri itu pasti ingin melakukan ritual malam dua belas suro. Handoko mengajak mereka berdua bicara ke tempat yang sepi. Dengan menghidangkan kopi dan gorengan agar obrolan menjadi rilek.

"Pesugihan, ya?" Dengan enteng Handoko mengatakan hal itu sambil meneguk kopi panas. Dia bersedia membantu untuk mengantar Jamil dan Nuning ke petilasan. Handoko juga menawari penginapan buat mereka. Mengantar para peziarah ke petilasan adalah pekerjaan Handoko. Terlepas dari apa niat mereka mendatangi petilasan tersebut.

"Apa memang benar saya bisa meminta ... maksud saya-"

"Saya tidak tau," ujar Handoko memotong ucapan Nuning.

"Namun, sejauh ini memang banyak yang bolak balik kesini dan keadaan mereka berubah dratis dari awal kesini," tambah Handoko membuat Nuning semakin bersemangat. Kalau mau ke Gunung Kawi lagi. Handoko akan mempersiapkan semuanya. Jadi mereka tidak perlu bingung lagi.

Setelah bicara cukup lama. Akhirnya Nuning dan Jamil diajak ke penginapan milik Handoko. Rupanya Nuning tak sendiri, ada banyak orang yang ingin mangadu nasib juga mendatangi petilasan. Bahkan banyak yang dari luar kota jauh-jauh kesana.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Ritual malam jum'at legi dua belas suro. Nuning dan jamil diantar oleh Handoko ke petilasan. Alih-alih sepi. Suasana di luar petilasan ramai seperti pasar. Ada yang menjual bunga, kemenyan, dan jimat untuk ritual khusus.

Handoko sudah menyiapkan semuanya. Kini Nuning melangkah ke dalam petilasan sendiri. Jamil tidak menemani sang Istri. Jauh di dalam lubuk hati Jamil dia tidak setuju dengan langkah istrinya.

"Aku tunggu di sini," kata Jamil kepada Nuning sebelum istrinya masuk ke petilasan. Jamil hanya ingin memastikan istrinya baik-baik saja. Nuning akan melakukan tapa brata selama empat hari tiga malam. Sementara itu jamil menunggu di penginapan.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Sampai di dalam petilasan Nuning disambut oleh seorang juru kunci. Aki-aki tua sedikit bungkuk itu memakai baju batik dan kain jarik.

"Apa kamu yakin mau mencari pesugihan?" tanyanya dengan suara parau.

"Iya, Ki."

"Kamu tidak akan bisa kembali jika sudah terlanjur mengambil keputusan ini. Pikirkan baik-baik!"

"Sudah, Ki. Saya sangat yakin!" jawab Nuning mantab.

"Baiklah, ayo ikuti saya." Ajak lelaki tua itu. Nuning lantas dimandikan di sebuah sumur tua. Kemudian Nuning diberikan baju kebaya dan kain jarik. Selanjutnya mereka menuju ke tengah hutan gunung kawi. Mereka baru berhenti di sebuah tempat. Ada gundukan batu dengan bekas sesajen berserakan di sana.

"Bertapalah di sini. Ingat, apapun yang muncul di hadapanmu nanti. Jangan pernah takut, atau tapa bratamu gagal!"

"Baik, Ki," jawab Nuning. Ia pun duduk di depan gundukan batu tersebut. Begitu Nuning duduk, juru kunci itu tiba-tiba sudah menghilang meninggalkan Nuning sendirian di tengah hutan.

lho, kemana si aki. Kenapa cepat sekali perginya? Apakah dia bukan manusia?

Dalam sekejab Nuning sudah tidak bisa menemukan juru kunci tersebut.

Tapa Brata

Part 7

"Bertapalah di sini. Ingat, apapun yang muncul di hadapanmu nanti. Jangan pernah takut, atau tapa bratamu gagal!"

"Baik, Ki," jawab Nuning. Ia pun duduk di depan gundukan batu tersebut. Begitu Nuning duduk, juru kunci itu tiba-tiba sudah menghilang meninggalkan Nuning sendirian di tengah hutan.

lho, kemana si aki. Kenapa cepat sekali perginya? Apakah dia bukan manusia?

Dalam sekejab Nuning sudah tidak bisa menemukan juru kunci tersebut.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Nuning celingukan memerhatikan sekitar. Ia sendirian di tengah hutan. Dua botol air minum menjadi bekalnya selama bertapa. Nuning hanya bertapa pada saat matahari tenggelam, di siang hari ia bisa menghentikan tapa bratanya. Angin berhembus kencang. Gemerisik dedaunan menjadi teman Nuning. Sesekali terdengar suara, entah benda jatuh, atau mungkin hewan kecil yang tak sengaja lewat.

Nuning duduk layaknya sinden. Ia mulai menarik napas panjang dan dikeluarkanya secara perlahan. Hawanya mulai sangat tidak enak. Kerudung Nuning tersibak angin, ia membiarkanya saja. Nuning mulai medengar suara tawa cekikikan melengking, entah dari mana asalnya. Suasana tetiba menjadi sangat ramai dengan berbagai interaksi. Ada tawa anak-anak, ada suara seperti berbincang, riuh memenuhi gendang telinga Nuning.

Ia memecingkan matanya, mencoba melihat sekitar. Matahari mulai tenggelam, semburat warna orange menembus celah dedaunan bagai tombak yang menghujam tanah.

Buk.

Ada yang menepuk pundak Nuning. Namun, ia tetap fokus pada pertapaannya. Punggung Nuning tiba-tiba terasa berat. Akan tetapi, ia tetap tidak bergerak. Kembali Nuning menenangkan diri, akhirnya punggungnya terasa enteng kembali.

Malam pertama.

Berkali-kali Nuning mengatur napasnya agar tidak panik. Malam semakin larut. Jantung Nuning mulai berdegub kencang. Bulu kuduknya berdiri, merinding sekujur badanya ketika Nuning merasakan ada sesuatu yang menjilati tubuhnya seakan ia mau dimangsa. Saat Nuning membuka mata, ia hampir saja berteriak. Sebuah kepala tanpa badan sudah berada tepat beberapa inci di depannya. Makhluk itu menjulurkan lidahnya, sementara dari lehernya mengucur darah segar yang mengeluarkan bau anyir dan busuk yang teramat sangat. Belatung berjatuhan setiap kali kepala itu bergerak menjilati setiap bagian tubuh Nuning. Nuning sendiri berhasil memasang wajah datar tanpa experesi. Memang itulah yang harus dilakukan Nuning. Detik kemudian, hantu kepala itu pun pergi.

Nuning berhasil melewati ujian pertamanya. Sejenak Nuning bisa bernapas dengan lega. Dia sudah pasrah, kalau memang harus mati di tempat itu.

Tak lama kemudian. Ganti, muncul penampakan wewe gombel di depanya. Suaranya melengking, payudaranya delower sampai ke bawah dan matanya merah menyala. Iya melambai-lambaikan tangannya dan terus tertawa. Kepalanya dimain-mainkan, di goyang kekiri dan ke kanan. Tiba-tiba wewe gombel itu terdiam. Bola mata menyala itu fokus melihat ke arah Nuning. Kemudian ia berjalan pelan mendekati Nuning. Ingin rasanya Nuning menutup mata. Namun, tidak. Ia tidak boleh gagal. Bisiknya dalam hati. Wewe gombel itu kemudian merobohkan dirinya menimpa Nuning. Untung saja Nuning tidak berteriak. Wewe gombel itu menghilang satu inci tepat di saat menyentuh tubuh Nuning.

Wus.

Hanya hembusan angin yang begitu dahsyat menghantam tubuh Nuning. Ujian ke dua Nuning lolos.

Belum selesai senam jantung. Sosok nenek-nenek muncul dari balik batu dengan wajah berantakan. Seekor ular keluar menjulur dari lubang matanya yang hancur. Setengah tulang tengkorak wajahnya terlihat. Ini makhluk apa? Pikir Nuning. Harus berapa banyak penampakan yang akan muncul di depanya. Nenek bungkuk itu menghentak-hentakan tongkatnya. Berjalan pelan mendekati Nuning. Kemudian mereka saling bersitatap.

Pluk!

Bola matanya terjatuh tepat di depan Nuning. Lagi-lagi bau anyir menyeruak masuk ke dalam lubang hidung Nuning. Belum habis rasa kagetnya dengan bola mata yang terlepas, kini kulitnya pun tiba-tiba berjatuhan seperti es krim yang meleleh. Tangannya menjulur mencekik Nuning. Rasannya detak nadi Nuning melemah. Makhluk itu membuka mulutnya yang menjijikan, dan ... blaz ... ia menghilang. Hampir saja Nuning pingsan, ia merasa makhluk itu akan melalapnya. Namun, ia selalu ingat. Itu hanya ujian tapa brata nya. Malam pertama pun mampu dilalui Nuning dengan sempurna.

Cahaya matahari yang memaksa menembus rimbunan daun menjadi pertanda selesainya tapa brata Nuning di hari pertama. Ia bisa merengangkan badanya dan meminum air untuk membasahi tenghorokannya yang kering karena menelan salivanya berkali-kali.

Aku masih hidup. Nuning meraba tubuhnya, ia melepas napas lega. Nuning sama sekali tak bergerak dari sana, ia hanya mengedarkan padangannya ke sekeliling. Nuning bergeser sedikit dari tempat bertapanya, ia menyenderkan dirinya batang pohon. Sesaat kemudian Nuning pun tertidur.

๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ

Malam kedua. Nuning menyiapkan jiwa raganya, bisa jadi ujianya akan lebih berat. Tentu saja, tak mudah memang melakukan tapa brata. Lagi, suara cekikikan tak berhenti sejak tadi, tepatnya sejak mentari mulai bersembunyi. Geraman, eraman. Ah, aku tak akan mundur. Tekad Nuning dalam hati. Nuning sudah duduk di depan baru berundak seperti kemarin. Menunggu detik berlalu.

Sesosok pocong muncul dari balik pohon. Wajahnya sangat menyeramkan. Ia menghilang dan mucul lagi di pohon lainya yang lebih dekat.

Cuma pocong saja. Aku tidak takut. Nuning berusaha menguatkan dirinya.

Sampai akhirnya si pocong berada di depanya. Wajahnya ternyata tak bisa di gambarkan. Banyak belatung mengeliat di tulang hidungnya yang bolong. Matanya merah, dan kulitnya membusuk hitam kecoklatan dengan darah dan nanah.

Cuih!

Pocong itu meludahi wajah Nuning. Seketika Nuning merasakan panas yang teramat sangat. Ia menggunci bibirnya, giginya gemertak. Nuning meremas jarinya untuk menahan rasa panas itu. Napas Nuning tersengal-sengal. Benar dugaanya, ujiannya di hari kedua sangat berat. Kulit Nuning terasa melepuh. Seluruh tubuhnya gemetar menahan rasa panas. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Pocong itu tertawa cekikikan melihat expresi wajah Nuning yang merah seperti kepiting rebus. Ingin rasanya Nuning menyiramkan air yang ada di depanya ke wajahnya. Panas. Nuning mulai mengatur napasnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau dia bisa.

Cuih!

Pocong itu meludahi ubun-ubun Nuning. Bisa dibagangkan apa yang ia rasakan. Rasanya kepala Nuning mau pecah. Tubuh Nuning bergetar hebat, tapi ia berusaha untuk tetap duduk tegap. Pocong itu mentanap Nuning dengan tajam. Berusaha menakut-nakutinya agar tapa bratanya gagal. Namun, Nuning bukanlah wanita yang lemah, ia tak gentar sedikitpun. Masih dengan wajah datarnya, si pocong jelek tiba-tiba betubah menjadi tinggi dan semakin tinggi. Kemudian seperti kejadian wewe gombel kemarin. Pocong itu menjatuhkan dirinya kepada Nuning. Kemudian ia menghilang. Rasa panas di wajah dan tubuh Nuning pun berangsur hilang seketika. Nuning berhasil lolos juga dari godaan si pocong.

Sesosok mata mengawasi gerak-gerik Nuning. Ia menjentikkan jarinya. Lalu seekor macan kumbang dengan ukuran yang tidak biasa muncul. Ia mengaum dan membuka mulutnya bak kelaparan dan siap menerkam Nuning.

Bukan ... itu pasti hanya macan jadi-jadian yang mau menggagalkan tapa brataku. Nuning menunging senyum ia menutup matanya, dan merilekskan dirinya.

Suara macam itu seharusnya bisa membuat oramg lari terbirit-birit. Tapi, tidak untuk Nuning. Bahkan saat macan itu mulai mengendus tubuhnya. Ia diam saja.

Crash!

Terasa macan itu merobek lengan baju Nuning. Tentu saja kulit Nuning juga terasa sakit. Namun ia percaya, itu hanya seperti halusinasi tingkat tinggi yang di buat oleh macan itu seperti kejadian sebelumnya. Perih ... tapi Nuning percaya rasa sakitnya akan segera hilang setelah macan itu pergi. Macan itu tidak mungkin membunuhnya. Ia hanya bertugas membunuh tekad Nuning. Nuning. Macan itu mulai mencengkeram Nuning dari belakang, kedua kaki depannya menangkup leher Nuning, lalu ia mulai menjilati tubuh Nuning. Diam dan Diam hanya itu yang Nunig lakukan hingga macan itupun kemudian pergi.

Apakah aku sudah berhasil? Lagi-lagi Nuning tidak percaya bisa melewati malam tapa brata keduanya yang begitu berat. Nuning memeriksa pipinya yang terbakar semalam akibat liur pocong menjengkelkan. Nuning tertawa senang, ia tidak apa-apa. Bayangan harta melimpah dan tangis orang-orang yang menghinanya begitu terpampang nyata. Awas kalian!

Tinggal satu malam terakhir. Membayangkan kejadian bersama pocong semalam tidak lantas menyiutkan nyali Nuning. Ia pasrah, apapun yang terjadi. Pokoknya tapa bratanya harus berhasil. Ia sudah melangkah cukup jauh, tinggal satu malam lagi dan ia harus bisa!

Malam terakhir.

Interaksi makhluk astral itu semakin aktif menggoda Nuning. Sebuah kepala tiba-tiba mengelinding di depanya seperti bola sempat mengagetkan Nuning. Ck, jantungnya berpacu kencang. Disusul kemudian datanglah penampakan hantu sungsang. Yakni hantu yang kepalanya di bawah dan kakinya di atas. Organ dalamnya semua terlihat seperti hantu kunyang. Nuning hampir saja mengeluarkan isi perutnya. Baunya sangat busuk. Ia memuntahkan belatung campur darah dan nanah tepat di depan Nuning.

Nuning meliriknya, belatung itu mengeliat-ngeliat. Kemudian si hantu sungsang itu kembali memakan muntahanya tadi. Perut Nuning semakin terasa bagai diaduk-aduk. Hantu sungsang itu berhenti memakan belatung ketika mendengar sedikit suara dari mulut Nuning. Beberapa saat kemudian mereka bersitatap. Hantu itu mengunyah belatung sambil terus menatap wajah Nuning. Sampai akhirnya hantu itu kembali meneruskan memakan muntahannya . Jantungnya bedetak dan organ perutnya bergerak.

Malam itu Nuning di keroyok berbagai makhluk halus. Hantu kepala buntung datang dan meletakan kepalanya yang sudah mulai membusuk dan hancur di pangkuan Nuning. Nuning merasakan pahanya basah terkena lelehan darah. Cairan merah itu merembes ke dalam kain jarik Nuning. Nuning tetap saja diam dengan berbagai ujian yang datang. Pandanganya kosong. Fokus ke depan, ke arah gundukan batu.

Kemudian datanglah sesosok hantu wanita berambut ular. Oh, bukan ... bukan hanya ular, tapi juga bebagai hewan menakutkan nyangkut di rambutnya. Salah satunya adalah kalajengking. Kalajengjing itu terjatuh tepat di wajah Nuning. Ia berjalan di pipi Nuning dan siap menusukkan racun di ekornya. Detik kemudian tubuh Nuning sudah di penuhi hewan-hewan menjijikan seperti kelabang dan ular. Hewan-hewan itu mulai masuk ke dalam baju Nuning. Ada pula yang masuk ke rambut Nuning. Nuning membiarkan dirinya bersatu dengan mereka. Aku adalah bagian kalian. Begitulah Nuning mebisikan hal itu dari batinnya.

Tak lama kemudian sebuah tangan dengan kuku berwarna hitam mengelus-ngelus wajahnya dari belakang. Sekali saja ia menancapkan kukunya di leher Nuning. Pastilah Nuning mati seketika. Kemudian datanglah banaspati. Hantu yang berwujud api itu menyentuh ubun-ubun Nuning. Seketika badan Nuning terasa terbakar. Nuning sudah tidak bisa berpikir, apakah dia masih bisa hidup atau mati. Ternyata seberat itu ujian tapa bratanya di hari terakhir.

Sampai akhirnya terdengar suara tepukan tangan. Semua demit itu seketika menghilang dalam sekejab. Nuning akhirnya bisa bernapas lega walaupun napasnya masih naik turun.

Terlihat sosok perempuan yang sangat cantik di depanya. Inikah Nyi Ratu yang akan memberikan harta melimpah kepadanya?

Wanita cantik itu mendekati Nuning dan bertanya apa tujuanya datang ke tempat itu. Tanpa ba bi bu. Nuning langsung menjawab kalau mau mencari pesugihan. Lantas Nyi Ratu menggajaknya ke istana memedi. Terletak di dalam goa di tengah hutan.

Di istana itu Nuning membuat sebuah perjanjian. Nyi Rati memberikan sebuah daun emas yang bertuliskan tulisan kuno. Kemudian Nyi Ratu memasukannya ke telapak tangan Nuning tanda persekutuannya. Daun emas itu berfungsi sebagai penghubung antara dirinya dan Nuning. Nyi Ratu bisa memanfaatkan tubuh Nuning setelahnya, dan Nuning sendiri sudah menyerahkan setengah jiwanya.

"Tumbal pertama haruslah keluarga!" kata Nyi Ratu.

"Keluarga?"

"Ya," jawab Nyi Ratu sambil berjalan pelan dan memainkan ujung selendangnya.

"Pikirkan! Siapa yang akan kau tumbalkan!"

Walau sedikit ragu, akhirnya Nuning menjawab juga.

"Sudah saya pikirkan, Nyi!" jawab Nuning mantab.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Bapakku Dukun

Ch. 1
Ch. 2
Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Derita Menantu Jelita
8.2
Kecelakaan tragis yang melumpuhkan sang suami memaksa ayah mertua tinggal bersama mereka. Namun, situasi di rumah tangga dalam novel modern misteri Derita Menantu Jelita ini kian mencekam saat sang suami bertekad mendapatkan keturunan demi garis keluarga. Sebuah rencana nekat dijalankan; ia diam-diam mencampurkan obat ke dalam minuman istri dan ayahnya sendiri. Keputusan gelap tersebut seketika mengubah segalanya, menyeret kehidupan mereka ke dalam pusaran konflik yang tak lagi terkendali.
Sampul Novel DOSEN ITU SUAMIKU
9.5
Kehidupan Bunga berubah drastis saat ia mengetahui fakta mengejutkan di kampusnya. Ezza, pria yang dijodohkan orang tuanya dan kini telah resmi menjadi suaminya, tiba-tiba muncul sebagai dosen baru di sana. Kehadiran Ezza yang tak terduga di lingkungan akademisnya memicu tanda tanya besar bagi Bunga. Ia pun mulai meragukan alasan di balik keputusan suaminya tersebut. Apakah Ezza memiliki motif tersembunyi atau ini hanyalah sebuah kebetulan belaka?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Kurang dari tiga
9.2
Hubungan asmara Raka kini berada di ambang kehancuran akibat kehadiran Nadia. Sebagai kekasih, Raka merasa diabaikan karena Cherry selalu memprioritaskan sahabatnya yang berkacamata tebal itu. Amarahnya meledak saat ia menyadari posisinya hanya menjadi yang kedua bagi Cherry. Namun, kecemburuan buta ini justru membawa Raka menuju sebuah titik balik yang tak terduga dalam hidupnya. Akankah perasaan mereka bertahan saat prioritas Cherry terbagi?
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan