
Sepatu Balet Berdarah
Bab 2
Bab.2
"Paman Antonius , aku tidak mau berkelahi tapi mereka mengejek sanggar senam balet milik nenek analyn itu ada hantunya dan hantunya itu mamaku yang mati dibunuh . Aku tidak pernah mengejek mamanya tapi dia mengejek mamaku. paman Antonius , mamaku bukan hantu tapi penari balet ."
Semua langsung terdiam , menatap wajah cantik gadis kecil itu. Seorang pria yang sudah berumur bangkit berdiri , mendekati Janice junior yang masih berdiri tegak. Pria tersebut menarik nafas dalam-dalam lalu berjongkok di depan Janice junior.
"Apapun alasanmu , papa tidak mau kamu berkelahi dengan siapapun.!. Sampai kapan kamu seperti ini , Janice junior putriku .!?"
semua terhenyak saat melihat gadis kecil cantik yang masih berdiri tegak di hadapannya papanya , tiba-tiba badannya yang kurus agak bergetar hebat dengan kedua mata terpejam. Perlahan kedua kelopak mata gadis kecil itu terbuka , wajahnya mendadak pucat pasi , bibir gadis kecil itu menyeringai, tatapannya tajam menusuk dan dingin sedingin kata-kata yang keluar dari bibir gadis kecil itu...
"Jangan pernah kamu mengintimidasi Janice junior putri kita , Cornelius. Aku selalu bersamanya sampai terungkap kematianku.!'
Suaranya bukan suara gadis kecil tapi suara wanita dewasa yang lembut penuh penekanan. Langsung gadis kecil itu jatuh ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Semua bangkit berdiri , Cornelius mengangkat tubuh anaknya dari atas lantai. Di dekapnya tubuh Janice junior yang pingsan..
"Aku tidak mengintimidasi Janice junior anakku, tapi siapa yang membunuh Janice istriku .?. Apa anakku kerasukan roh istriku yang sudah meninggal.?. Tadi itu suara istriku yang sudah meninggal bukan suara istriku.!"
Tiba-tiba jendela yang terkunci dan tertutup rapat itu pelan-pelan daun jendela terbuka sendiri , tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba..
*BRUAKkkk....*
Daun jendela tertutup dengan keras sekali. Semua saling berpandangan. Kakek Arnold mengambil cucunya yang pingsan dari gendongan Cornelius menantunya.
"Biar ayah bawa Janice junior ke kamar tidur ayah , Cornelius .!"
Nenek analyn pun menimpali..
"Bicaramu tadi terlalu keras pada Janice junior cucu kami. Pantas saja kalau Janice putri kami yang sudah meninggal , marah sampai daun jendela terbuka sendiri dan tertutup dengan keras., Cornelius .!"
Ucapan nenek analyn pelan tapi menohok. Nenek analyn melangkah masuk ke dalam kamar tidur, mengikuti suaminya yang menggendong Janice junior cucu mereka yang pingsan.
"Bukan aku yang membunuh Janice istriku tapi kedua orang tua Janice selalu menuduh aku yang membunuh ."
Ujar Cornelius dengan mata berkaca-kaca , suara serak menahan tangis.
🌺🌺
Setiap sore, jam lima sampai jam enam, ada latihan balet di sanggar balet milik nyonya analyn. Selalu saja ada kejanggalan yang tak masuk akal dan sulit di terima akal sehat. Tepat jam enam sore pasti lampu langsung mati meskipun tidak ada yang mematikan lampu dan tidak ada seorang pun yang bisa menyalakan lampu di ruangan sanggar balet itu. Sejak kejadian itu latihan balet diubah jam , dari jam empat sore sampai jam lima sore untuk pemula , jam lima sore sampai jam enam sore untuk senior. Kejadian itu sudah menjadi rahasia umum sejak kematian janice. Di dalam ruangan sanggar balet itu ada tiga lemari kaca besar. Lemari kaca pertama berisi banyak baju balet, stocking , sepatu balet , pita rambut , bando , aksesoris balet milik Janice. lemari kaca besar kedua berisi banyak trophy, piagam penghargaan dari berbagai lomba balet , juga banyak foto Janice dalam berbagai gerakan balet juga foto- foto saat Janice menerima trophy kejuaraan balet. Lemari kaca ketiga berisi berbagai piringan hitam musik balet . Sengaja Janice menyimpan semua barang miliknya di tiga lemari kaca besar di ruangan sanggar balet milik nyonya analyn ibunya janice. Sebulan sekali , tepatnya hari Minggu pagi di awal bulan pasti nyonya analyn mengumpulkan semua murid baletnya di sanggar balet lalu menunjukkan video saat Janice sedang balet di atas panggung , yang tujuannya agar para muridnya bisa belajar gerakan balet Janice. Tidak menutup kemungkinan , banyak orang yang tidak ikut balet pun berdesakan ingin masuk ke sanggar balet untuk melihat video Janice sedang balet. Semua orang yang menonton video balet Janice pasti mulut mereka berdecak kagum . Sejak kematian janice penari balet , tidak ada seorang pun penari balet yang bisa menandingi kepiawaian gerakan balet Janice. Sampai suatu hari ada lomba balet yang di ikuti oleh para peserta dari berbagai penjuru dunia. nyonya analyn mempersiapkan lima muridnya yang hendak ikut lomba balet untuk berlatih di sanggar balet miliknya , jam enam malam mereka bersiap-siap berlatih balet tapi lampu mati padahal lampu di panti asuhan dan lampu di rumah para tetangga menyala.
"Arnold , tolong nyalakan lampu di dalam ruangan ini karena aku harus melatih murid-murid yang hendak ikut lomba balet ."
Pinta nyonya analyn pada tuan Arnold suaminya yang langsung mencoba menyalakan lampu namun nihil. Akhirnya tuan Arnold memakai generator untuk menyalakan lampu di ruangan balet itu. Lampu hanya menyala selama lima belas menit lalu padam. Tuan Arnold mencoba menghidupkan mesin generator agar lampu bisa menyala tapi malah mesin generator macet. Terdengar sayup-sayup suara perempuan menangis merintih kesakitan kemudian suara itu menghilang. Tuan Arnold dan nyonya analyn saling beradu pandang.
"Suara rintihan kesakitan dan suara tangisan mirip dengan suara Janice putri kesayangan kita, analyn."
Ujar tuan Arnold dengan ekspresi wajah keheranan. Nyonya analyn memejamkan matanya sembari berkata...
"Lebih baik besok saja , aku melatih balet lima gadis , Arnold."
"Ya , analyn. Itu ide yang cemerlang."
Sahut tuan Arnold pada nyonya analyn.
"Maaf, lampu di ruangan sanggar balet ini tidak bisa dinyalakan , besok jam delapan pagi kita latihan. Sekarang kita pulang."
Ujar nyonya analyn kepada lima gadis yang berdiri di belakang tuan Arnold. Di saat mereka berjalan menuju pintu , tiba - tiba terdengar suara tangisan dan rintihan seorang perempuan. Mereka saling berpandangan, kelima gadis itu gemetaran ketakutan lalu merapat pada nyonya analyn dan tuan Arnold yang langsung merangkul pundak kelima gadis itu. Terpejam mata nyonya analyn, air matanya menetes . perlahan-lahan wanita cantik itu berkata dengan lirih..
"Suara rintihan kesakitan.. suara tangisan ... Apakah itu suaramu , Janice putri kesayanganku .?"
Masih terdengar suara rintihan kesakitan dan suara tangisan. Semua terdiam , hanya pandangan mata yang menyapu di dalam ruangan sanggar balet yang gelap mencari asal usul suara tangisan dan suara rintihan kesakitan..
Anda Mungkin Juga Suka





