
Rahasia Seorang Ibu
Bab 2
Keesokan harinya, Yuna mendatangi sekolah dimana ibunya pernah bersekolah di sana. Dia berjalan anggun memasuki kantor sekolah. Tatapannya menjurus ke tiap guru yang ada di sana.
"Anda reporter Yuna? Silahkan lewat sini!" salah seorang guru menunduk padanya memberi hormat sebelum mempersilahkan Yuna masuk ke ruang kepala sekolah.
"Terima kasih." balas Yuna sambil berjalan masuk. Dia langsung duduk dan menatap tajam wajah kepala sekolah SMA itu.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya kepala sekolah setelah melihat kedatangan Yuna.
Semalam, Yuna sudah membuat janji dengan kepala sekolah itu. Yuna mencari tahu sekolah ibunya dan langsung mengirim email untuk bertemu di sekolah. Tanpa menunggu lama, Yuna sudah mendapat balasan.
Satu Jam Berlalu...
Yuna keluar dengan berlinang air mata. Setelah keluar dari sekolah SMA yang tidak terkenal, nafas Yuna menjadi sesak. Hatinya terasa di tusuk berkali-kali. Dia tidak kuat membayangkan dirinya berada di posisi ibunya yang dikeluarkan dari sekolah secara tidak hormat. Bahkan, semua teman ibunya mengejek berkali-kali ibunya sebagai pelacur tingkat tinggi.
"Ibu... Kenapa ibu tidak pernah menceritakan masa lalu ibu yang menyakitkan ini?" Ucap Yuna yang memukul stir mobilnya karena marah. Dia semakin menyesal, tidak punya waktu berbicara berdua dengan ibunya dan membahas masa lalu.
Setelah mengatur nafas perlahan dan rasa marah meredup, Yuna menarik kertas berisi alamat. Kepala sekolah sempat memberikan alamat sahabat ibunya sewaktu masih sekolah. Yuna berpikir, bisa mencari tahu banyak mengenai ibunya dari sahabat ibunya sendiri.
Mobil sedan putih melaju dengan cepat, menyalip tiap mobil di depannya. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Yuna sampai di rumah yang bertingkat dua namun terlihat sederhana.
"Aku tidak tahu ibuku punya teman disekitar sini." Ujar Yuna yang membuka pintu mobilnya. Reporter cantik itu terlihat semakin cantik dengan gaya anggungnya ketika berjalan.
"Permisi, aku mau bertemu dengan mbak Loli. Benar ini rumahnya?" Tanya Yuna ketika melihat seorang ibu paruh bayah, yang seusia ibunya tengah menyiram tanaman di depan rumah yang Yuna tuju.
"Ah, kamu pasti Yuna kan? Yuna yang sering muncul di tivi." Tunjuk ibu itu yang langsung mengenali Yuna. Hanya senyum yang terpancar dari wajah Yuna.
Ibu itu membuka pintu pagar lebar-lebar, menyambut Yuna dengan ramah. Dia langsung menyajikan teh hangat tak kalah Yuna bertamu di rumahnya. Senyumnya terus keluar menatap wajah Yuna.
"Kenapa kau datang ke sini? Ibumu menyuruhmu?" Tanyanya seketika.
"Dengan mbak Loli?" Tunjuk Yuna menebak. Saat itu, orang di depannya mengangguk perlahan.
"Ah, maaf. Aku tidak mengenal anda. Aku dengar, mbak Loli dan ibuku berteman baik sejak SMA. Benar bukan?" Tanya Yuna memastikan.
"Bukan hanya teman SMA, bahkan sampai sekarang kami masih berteman. Ibumu juga sering datang ke sini berkunjung." Jelas Mbak Loli.
"Ibuku sudah meninggal satu minggu lalu." Ucap Yuna dengan raut wajah sedih. Saat itu, ekspresi Mbak Loli berubah.
"Apa? Rani sudah meninggal? Kenapa?" Tanya Mbak Loli yang terlihat tidak percaya. Dia sampai mengira jika Yuna berniat bercanda dengannya.
"Yuna, kau itu seorang reporter, pembawa berita. Kenapa mengeluarkan kata-kata yang tidak masuk akal? Ibumu baru minggu kemarin menemuiku dan bilang akan pergi jalan-jalan bersama minggu ini. Apa ibumu sibuk sampai menyuruh berbohong?" Ucap Mbak Loli yang tidak percaya.
"Aku tidak berbohong, semua itu benar. Mbak Loli pasti terkejut, apalagi keluarga yang di tinggalkannya." Ucap Yuna yang menahan air matanya keluar membasahi pipinya. Yuna tidak mau terlihat lemah di depan orang-orang.
"Yuna! Astagfirullah!" Dengan tiba-tiba, wajah mbak Loli kebingungan. Dia sampai memegang dadanya, syok mendengar kabar sahabat baiknya.
"Sejujurnya, aku datang ke sini ingin mencari tahu tentang ayah kandungku. Pihak sekolah tidak memberikan data apapun karena kepala sekolah sebelumnya sudah menghapus semua data tentang ayahku. Aku hanya tahu, anda satu-satunya sahabat dan teman semeja ibuku di sekolah. Mungkin anda tahu tentang laki-laki brengsek yang bernama Bram itu." Ujar Yuna dengan nada suara perlahan.
"Kejadiannya sudah dua puluh lima tahun lamanya. Aku merasa tidak mau mengungkitnya meski masih mengingatnya dengan jelas. Ibumu sangat terpuruk waktu itu dan aku tidak bisa membantu sama sekali. Dia bahkan sampai berniat membunuh dirinya. Setelah ibumu terbukti hamil anak Bram, saat itu Bram menghilang dalam semalam. Dia di kirim keluar negeri oleh ayahnya dan mereka membantah kehamilan ibumu habis-habisan." Jelas Mbak Loli berurai air mata. Wajah yang penuh kerutan meski usianya masih tergolong muda, semakin terlihat tua ketika menangis.
**
**
**
Flash Back..
Rani di tarik paksa masuk ke kamar mandi oleh Bram. Tangan kekar yang sering di gunakan meninju wajah lawannya, kini mencekik leher seorang gadis.
"Kau sudah gila? Apa kau tidak punya otak? Bagaimana bisa kau ingin memberitahu semua orang tentang kehamilanmu. Lalu, apa kau juga menunjuk diriku sebagai ayah dari anak yang kau kandung ini?!" Bentak Bram dengan wajah memerah.
"Le- lepaskan, bodoh! Kau menyakitiku!" Bentak Rani balik yang berusaha melepas cekikan Bram.
"Bagaimana respon semua orang nantinya, ha! Apa kau pikir semuanya akan mempercayaimu? Mereka hanya tahu kita dekat, tidak tahu kita pacaran." Ucap Bram yang terus ingin membujuk Rani untuk mengurungkan niatnya.
"Aku berani melakukan tes DNA." Jawab Rani dengan berani.
"Rani!" Bram semakin marah dan menghempas tubuh Rani. Beruntung tangan Rani memegang ember di dekatnya membuatnya tidak jatuh sepenuhnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Seseorang mengentuk pintu dariluar ketika Bram dan Rani masih berada di dalam kamar mandi. Rani tersenyum tipis melihat wajah Bram yang panik. Jelas, Bram takut hubungannya dengan Rani terbongkar.
"Kau takut? Kalau begitu, tanggung jawablah. Beritahukan orang tuaku semuanya, aku tidak mau terus menutupi masalah ini pada mereka. Aku takut mereka akan tahu dari orang lain. Hanya itu keinginanku." Ucap Rani yang memohon.
"Bagaimana aku menghadapi ayahku? Kau tahu sendiri, dia kepala sekolah di sini. Apa kau mau melihat ayahku di permalukan?" Balas Bram dengan suara di tekan.
"Kau takut mempermalukan orang tuamu, begitupun dengan aku, bodoh! Aku juga takut, tetapi harus apa. Hanya ini jalan satu-satunya." Ucap Rani yang kini menangis tersedu di depan Bram. Mengingat wajah orang tuanya yang selalu memberinya makan, membiarkannya belajar dengan baik, bahkan jarang memerintah Rani membuat hati Rani dirundung kesakitan. Apa yang dia balaskan pada orang tuanya hanyalah kesedihan bagi mereka.
"Ran! Kau masih ada di dalam kan?" Teriak Loli sambil mengetuk pintu kamar mandi. Sejak jam istirahat tiba, Rani memberitahunya ingin pergi ke kamar kecil. Namun, bel sudah berbunyi, Rani masih belum kembali.
"Loli ada disini, dia bisa mendengar kita bicara. Jadi, akhiri saja saat ini dan aku tunggu iktikaf baikmu sepulang sekolah." Kata Rani yang membuka pintu dan keluar sendiri. Senyumnya pun bersinar di depan sahabatnya.
Anda Mungkin Juga Suka





