
Rahasia Seorang Ibu
Bab 3
Yuna kembali pulang ke rumahnya setelah malam kian datang. Dia tidak mau kedua adiknya menangis mencari dirinya. Terlebih, kedua adik kembarnya baru mendapat pengasuh kemarin membuatnya belum akrab.
Sesampai di rumah, Dio dan Denisa memeluknya erat saat melihat kakaknya datang. Seketika, Yuna teringat dengan ibunya yang selalu menyambutnya ketika pulang.
"Kakak! Kenapa lama sekali? Apa pekerjaan kakak sangat banyak?" Tanya Denisa, gadis manis yang cerewet. Hanya dia yang selalu mengumbar candaan di rumah ini, membuat seisi rumah tertawa karena ulahnya.
"Pekerjaan kakak pasti banyak. Kita biarkan dia istirahat." Ujar Dio, anak laki-laki yang selalu mengerti.
"Kalian sudah makan?" Tanya Yura sambil menatap kedua adik kembarnya. Mereka serentak menggeleng kepalanya. Yura melirik pengasuh yang berdiri dibelakangnya.
"Mereka tidak mau makan, Nyonya. Aku sudah menyuruhnya berkali-kali, mereka berdua terus saja menolak." Adu pengasuh, tidak mau di salahkan.
"Dio, Denisa! Kenapa tidak makan? Perut kalian bisa sakit." Ujar Yura sambil berjongkok dan mengusap lembut punggung kedua adiknya. Saat itu, air mata Dio dan Denisa jatuh membasahi pipinya, diiringi suara tangisan yang perlahan membesar.
"Denisa rindu ibu! Hanya Ibu yang selalu menyiapkan makan untuk Denisa. Hiks.. Hiks.
Hiks.." ujar Denisa yang tidak kuat menahan tangisannya. Berbeda dengan Dio, menangis tanpa suara.
"Dio, keluarkanlah! Tidak baik menanggungnya sendiri. Jika kau ingin menangis, pundak kakak selalu ada untukmu. Ayo menangis! Keluarkan suaramu!" Bujuk Yura yang melihat adik laki-lakinya berusaha terlihat tegar di depannya.
Saat itu, rumah Yura dipenuhi suara tangisan anak. Yura hanya bisa memeluk mereka dengan erat, hatinya terkikis lebih dalam. Kehilangan seorang ibu adalah cobaan terbesar yang pernah dia rasakan. Namun, dia sangat yakin. Ada hikmah dibalik ini semua.
Setelah menenangkan kedua adiknya, Yura berniat beristirahat di kamarnya. Namun, matanya tertuju ke kamar ibunya yang tertutup. Yura sengaja mengunci kamar ibunya, agar kedua adiknya tidak bisa masuk dan menangis di ruangan itu.
"Ibu.." ucap Yura yang membuka pintu kamar ibunya. Dia memeriksa buku harian ibunya lagi yang belum sempat dia baca sepenuhnya. Malam itu, ditemani hujan dan angin beserta petir yang menyambar, Yura membuka tiap lembaran catatan harian ibunya. Dan menemukan sebuah catatan dengan judul, aib yang sengaja diungkap.
Flash Back..
Rani mengumpulkan seluruh siswa dilapangan basket. Bukan hanya siswa siswi yang datang, beberapa guru juga turut hadir. Rani berdiri paling atas, sambil menatap seluruh temannya yang sudah datang.
"Ran! Kepala sekolah juga hadir. Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan. Kenapa mengumpulkan semua orang ini?" Tanya Loli yang mulai gelisah. Beberapa hari ini, Rani sering sekali termenung di kelas, seperti sedang memikirkan masalah yang besar. Rani yang selalu tersenyum ceria, kini senyumnya menghilang dalam sekejap. Itu membuat Loli bingung dengan tingkah pacarnya.
"Apa Bram juga datang?" Tanya Rani yang mencari keberadaan laki-laki brengsek itu.
"Bram? Kenapa kau menanyakan bad boy dari kelas sebelah? Kau punya hubungan dengannya?" Tanya Loli seketika. Perkataannya itu membuat Rani menatap tajam sahabatnya.
Rani masih menunggu Bram datang, dia ingin mengungkap aibnya di depan semua orang saat ini. Namun, ketika melihat kepala sekolah berbalik, Rani dengan segera menyalakan miq dan menghentikan langkah kepala sekolah yang merupakan ayah Bram.
"Pak kepala sekolah, aku belum selesai memberikan pengumuman. Bisakah anda tinggal lebih lama lagi? Ini tentang masalah anak anda." Ujar Rani dengan lantang. Tidak ada rasa takut yang dia rasakan saat ini. Hanya satu kekhawatirannya. Bisakah anak yang dia kandung mendapat pengakuan dari Bram?
Seluruh siswa menoleh ke arah kepala sekolah, begitupun dengan guru-guru yang hadir. Mereka terkejut sekaligus bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Masalah apa yang Bram buat hingga Rani mengumpulkan semua orang. Bisikan demi bisikan, mulai terdengar. Sementara Rani, masih diam dengan memegang miq nya.
"Apa yang dilakukan Bram pada murid kebanggaan sekolah kita? Apa dia membully Rani?"
"Ya ampun, bad boy itu selalu saja mencari masalah hanya karena ayahnya kepala sekolah disini. Dia benar-benar sudah gila, berurusan dengan Rani."
"Bram lagi, Bram lagi. Setiap ada masalah besar, nama Bram pasti dibawa. Tidak kapok anak itu terus mencari masalah."
Semua bisikan sangat buruk bagi Bram. Ayah Bram yang mendengarnya, sangat marah. Dia mengepal keras kedua tangannya, anaknya dibuat malu didepannya sendiri. Rani tersenyum tipis melihat ekspresi wajah kepala sekolah yang marah. Dia tahu, kini sudah saatnya membuka semua aib ini meski dirinya juga dirugikan.
"Masalah terbesarnya adalah aku hamil anak Bram." Ucap Rani seketika. Semua mata membulat, termasuk Loli. Tidak percaya, sahabatnya membuat pengumuman yang konyol.
"Apa itu benar? Apa Rani sedang bercanda?"
"Tidak mungkin. Mereka kan jarang sekali terlihat berdua. Kenapa bisa hamil?"
Disaat semuanya bingung, Bram datang dan menarik tangan Rani untuk turun. Rani melepas cengkraman tangan Bram dan mendorong tubuh Bram menjauh darinya.
"Biar aku jelaskan semuanya. Ini bukan lelucon, aku benar hamil anak Bram. Kami sudah pacaran selama dua tahun lebih. Iya, pacar diam-diam. Bram tidak ingin hubungan kami dipublish karena takut belajarku terganggu. Padahal, semua itu tidak benar. Dia punya banyak pacar diam-diam disekolah ini. Entah apa dia juga menghamilinya atau tidak, tetapi anak yang aku kandung memang anak Bram. Aku serius!" Ujar Rani melanjutkan pidatonya.
Tidak ada satu orang pun bisa berkata-kata, selain menampilkan wajah kecewanya pada Rani dan Bram. Begitupun dengan guru-guru yang hadir. Dia tidak menyangka, murid kebanggaan disekolahnya yang selalu dijunjung tinggi, malah melakukan kesalahan besar.
"Itu tidak benarkan Bram? Senakal-nakalnya kamu, kamu tidak mungkin menghamili siapapun. Rani mungkin hamil anak orang lain." Sahut kepala sekolah yang melangkah maju. Saat itu, situasinya malah berubah. Semua orang menatap Rani dengan tajam, merendahkan, dan menganggap Rani wanita murahan.
"Kenapa aku harus berbohong, pak kepala sekolah? Mungkin kau juga sudah tahu masalah ini dari anakmu sendiri." Ujar Rani dengan tegas. Dia siap bertempur demi nama baik anak yang di kandungnya suatu saat nanti dan juga masa depan anaknya.
"Karena kau tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini setelah kami tahu dirimu hamil diluar nikah. Kau mengincar Bram dan menjebaknya. Aku adalah kepala sekolah sekaligus ayah Bram." Ucap Kepala sekolah yang menatap semua wajah guru yang datang. Dia ingin mendapatkan hati mereka agar apa yang dikatakan Rani, tidak mereka percayai.
"Bisa saja kan ibu guru semua?" Tanya kepala sekolah.
"Sebaiknya kita tanya Bram saja!" Teriak seluruh siswa yang beralih menatap Bram. Wajah Bram tampak gugup, dia menatap Rani sekilas sebelum menundukkan kepalanya. Dia juga merasa bersalah saat ini, harus memilih Rani atau tidak. Namun setelah melihat tatapan ayahnya, Bram justru tertekan. Dia berucap tanpa berpikir.
"Aku tidak pernah dekat dengan Rani. Dia datang dan langsung mengancamku jika dirinya hamil anakku. Tentu saja aku bingung, anak yang selalu dipuji ini bisa melakukan hal yang tidak baik." Ujar Bram seketika. Saat itu, hati Rani benar hancur. Apa yang dikatakan Bram tempo hari menjadi kenyataan. Siapa yang akan percaya padanya saat ini?
"Bram! Jangan bercanda! Aku hanya ingin kau bertanggung jawab pada keluargaku dan mengakui kesalahan ini pada mereka. Itu saja kemauanku. Aku tidak akan minta lebih, hanya untuk anak ini dan orang tuaku saja." Teriak Rani yang memohon.
"Dasar orang tidak tahu malu. Sekarang, kau mengemis didepan Bram agar dia merasa kasihan melihatmu dan mengakuinya meski Putraku tidak bersalah. Kau tahu betul, hati putraku lunak. Ini dia, anak yang tidak seharusnya berada disini. Aku akan usir dia dari sekolah ini sekarang juga!" Titah kepala sekolah dengan suara keras sambil menarik Rani pergi dari sana.
Rani berusaha melepas tarikan calon ayah mertuanya, namun tenaganya tidak cukup kuat. Kakinya tergilir dan tubuhnya terjatuh, tetapi kepala sekolah masih menariknya hingga Rani tidak terlihat oleh Bram. Semua siswa maupun guru, tidak ada yang berani membela Rani. Mereka semua diam di tempatnya dan menutup rapat-rapat masalah ini.
Anda Mungkin Juga Suka





