Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Rahasia Dibalik Kepergian Istriku

Rahasia Dibalik Kepergian Istriku

Kemarahan memuncak saat sebuah rahasia besar terungkap setelah empat tahun berlalu. Seorang pria merasa dikhianati karena dipisahkan dari putra kandungnya sendiri selama bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas. Sang istri bersikeras bahwa suaminya tidak menginginkan anak itu, namun tuduhan tersebut justru memicu konflik hukum yang sengit. Kini, sang suami bertekad menyeret kasus ini ke pengadilan demi merebut hak asuh dan memenangkan keadilan mutlak.
Bab
Bagikan

Bab 3

Dira mengusap wajahnya begitu Ethan pergi. Jantungnya masih berdentam mengerikan bahkan setelah kepergian pria itu. Ia menarik napas dalam berkali-kali untuk menenangkan syarafnya yang tegang.

Ia dan Etahn belum bercerai? Bagaimana bisa? Bukankah pengacaranya waktu itu mengatakan kalau Ethan setuju dan sudah menandatanganinya? Lalu kenapa pria itu bilang mereka masih suami istri?

Selama 5 tahun bersembunyi dari pria itu nyatanya tidak membuat perasaannya terhadap ayah putranya berubah. Dira menyentuh dadanya, tepat di mana jantungnya berada. Bahkan sekarang ia masih menginginkan Ethan dan merindukan pria itu. Ia masih begitu muda ketika memutuskan untuk menikah dengan Ethan. Dulu dunianya berwarna dan penuh tawa, tapi itu sebelum ia menyadari kalau hubungannya dengan Ethan sangat rapuh dan dangkal. Ia menginginkan cinta, tapi pria itu tidak dan yang lebih buruk...

Dira mengusir bayangan mengerikan itu dari benaknya. Tidak ada gunanya mengingat kembali luka yang membuatnya memilih menjauh dan menghilang. Semua sudah berlalu. Dira tidak menemukan ada kebaikan jika mengingat alasan yang membuatnya meninggalkan pria itu.

Dan sekarang ada Noah.

Putra mereka yang cerdas dan menggemaskan.

Ia memang salah karena menyembunyikan kehadiran putra mereka, tapi Dira tidak pernah mengerti kenapa Ethan harus semarah itu? Sejak dulu Ethan tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada anak kecil. Malah ia melihat reaksi Ethan terhadap anak kecil cukup kaku dan berjarak. Dira belum pernah melihat Ethan senang dengan kehadiran anak kecil.

Tapi bukan berarti itu bisa dijadikan alasan untuk menyembunyikan Noah.

Dira mengusap sudut matanya. Dan sekarang ia harus bersiap menghadapi kemarahan dan kebencian pria itu.

"Mommy!"

Teriakan bernada protes itu menarik Dira ke dunia nyata. Ia memperbaiki ekspresi wajahnya sebelum menemui putranya yang sekarang menatap televisi dengan wajah bosan.

"'Hai Sayang," ucapnya lembut, mengecup puncak kepala putranya.

"Aku akan berjaga di depan." Gen melenggang pergi, meninggalkan Dira dengan putranya.

"Terima kasih Gen, aku akan menyusul setelah menidurkannya."

Dira menunggu sampai Gen menghilang dari pandangan sebelum kembali memusatkan perhatian pada putra kecilnya, replika dari Ethan.

"Sekarang waktunya tidur siang, Sayang."

"Bagaimana dengan kartunnya, Mommy?"

Dira menggendong putranya dan membawanya ke kamar. "Kan tadi sudah ditemani sama Mbak Gen, sekarang waktunya istirahat."

"Apa Mommy akan membacakan Noah dongeng?"

"Tentu saja."

Dira ikut berbaring di samping putranya. Ia menarik buku yang ada di samping ranjang dan mulai membacakan cerita untuk putranya.

***

Tidak ada tanda-tanda kedatangan Ethan dan Dira mulai gelisah karenanya. Apa pria itu menyerah? Dira sangat meragukannya. Sebagai pebisnis Ethan orang yang ambisius dan penuh tekad dan ia ragu pria itu akan menyerah semudah itu. Lalu kenapa sampai sekarang Ethan tidak menunjukkan diri?

Dira menatap jam dinding di tokonya. Masih jam 10 pagi, mungkin saja Ethan belum bangun? Tidak adanya tindakan pria itu justru membuat tingkat kegelisannya semakin memuncak. Dira membersihkan tokonya hanya kerana ia butuh melakukan sesuatu.

"Dira."

Seruan itu membuatnya berbalik. "Bu Hani," serunya, menatap wanita pemilik gedung yang ia sewa dengan keheranan.

"Bagaimana tokomu? Baik-baik saja semua?"

Dira mengangguk. "Sejauh ini sudah lumayan. Apa Ibu datang hanya untuk menanyakan hal itu?" tanyanya memastikan. Dira sudah membayar sewa selama 1 tahun penuh. Rasanya tidak mungkin wanita paruh baya itu datang untuk menagihnya.

"Bisa kita bicara di dalam?"

Meski bingung Dira mengangguk. Ia membawa induk semangnya duduk di salah satu kursi yang ia sediakan bagi para pembeli.

"Apa teradi sesuatu?" tanyanya begitu keduanya duduk nyaman.

Bu Hani yang biasanya selalu ramah dan berkepribadian menyenangkan itu tampak gelisah dan tidak nyaman. Lipatan di kening Dira melebar melihatnya. Ada yang salah, pikirnya.

"Kurasa kalian harus pindah dari sini."

Dira mengerjap, yakin pendengarannya bermasalah.

"Apa Bu?" tanyanya memastikan.

Bu Hani mendongak, kali ini memberanikan diri menatap wajah Dira.

"Seseorang sudah membeli gedung ini, Dira dan dia ingin penghuni lama yang berarti kalian angkat kaki dari tempat ini secepatnya. Paling lambat besok."

Dira berdiri, syok mendengarnya. "Saya sudah membayar biaya sewa ini selama setahun," pekiknya terkejut. "Dan ini belum setahun," tambahnya.

"Aku tahu, itu sebabnya aku akan mengembalikan semua uangmu, Dira. Semuanya."

"Kenapa tiba-tiba?" tanyanya bingung. Membayangkan mereka harus pergi dari tempat ini sudah cukup membuatnya panik dan sekarang bukan hanya pergi Dira juga harus segera menemukan tempat jika tidak ingin hidup menggelendang. Dira memijit pelipisnya, mencoba menenangkan diri meski rasanya mustahil.

Ia dan putranya menyukai tempat ini, pikirnya sedih.

Di sini nyaman dan sepi, suasana yang benar-benar ia butuhkan.

"Ada seorang pembeli yang tertarik dengan gedung ini, dia membelinya dengan sangat mahal dan aku langsung menyetujuinya. Bagaimana pun aku membutuhkan uang itu. Kau tahu sendiri, anakku sebentar lagi akan masuk perguruan tinggi. Kami butuh uang untuk biaya sekolah dan lainnya."

Dira tidak benar-benar mendengarkannya. Membayangkan harus angkat kaki sudah cukup membuatnya kalang kabut. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Sebua ide tiba-tiba terbesit di benaknya. Dira menatap induk semangnya lekat.

"Siapa yang membeli gedung ini?" tanyanya. Mungkin ia bisa minta tolong pada pemilik baru yang sekarang agar memberi mereka sedikit waktu sampai ia menemukan tempat yang cocok.

"Dia..."

Suara mobil yang meraung membuat keduanya menoleh. Dira bahkan tidak perlu mengangkat kepala untuk mencari tahu siapa pemilik mobil tersebut. Hanya satu orang yang memiliki mobil mahal di tempat kumuh ini.

Dira menahan napas saat melihat Ethan keluar mobil dengan penuh gaya. Kekuasaan dan keangkuhan memancar dari tubuhnya seperti lampu jalan. Ethan adalah satu dari sedikit pria yang bisa membuat seseorang merasa terintimidasi hanya dengan menatapnya. Jantungnya yang malang bahkan tidak bisa menyelamatkannya. Tapi kata-kata berikutnya yang ia dengar membuat kemarahannya tersulut.

"Pria itu yang membeli gadung ini Dira. Namanya Ethan."

Tidak mungkin!

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95NST" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95NST
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARFESO
8.7
Seorang gadis kurang kasih sayang mendapati hidupnya kian kelam setelah dikhianati lelaki yang ia puja. Kabar kehamilan di usia muda memicu murka keluarga hingga ia dituduh sebagai wanita murahan. Meski sang lelaki menolak bertanggung jawab dan menuduhnya menjebak, ia tetap melahirkan bayi yang memiliki tatapan mirip ayahnya. Kini, di tengah keraguan antara melindungi atau mengungkap kebenaran, rahasia besar lain telah menanti di babak baru hidupnya.
Sampul Novel Ketagihan dengan anak tiri
8.2
Steiner Limson memulai lembaran baru dengan menikahi seorang ibu tunggal. Komitmennya diuji saat ia dituntut memberikan kasih sayang tulus bagi istri dan putri tirinya. Namun, biduk rumah tangga mereka justru menghadapi badai tak terduga yang mengubah segalanya. Di tengah kemelut pernikahan yang mulai retak, Steiner malah terjerat perasaan terlarang. Ia jatuh cinta pada anak tirinya sendiri, menciptakan konflik batin yang menghancurkan batasan moral keluarga.
Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir
8.8
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Sampul Novel Mengandung Anak Dari Musuhku
9.7
Dylan Callahan menyimpan dendam pada Alaina Sinclair karena dianggap sebagai pemicu kehancuran keluarganya. Ia pun melancarkan aksi balas dendam kejam yang menghancurkan reputasi serta karier Alaina. Namun, keadaan kian rumit saat Alaina hamil setelah dibius secara misterius. Dylan menyangkal keterlibatannya meski ia dalang di balik penderitaan Alaina. Di tengah misteri itu, kebenaran masa lalu mulai terkuak, memaksa Dylan menghadapi fakta bahwa benci mungkin salah sasaran.
Sampul Novel Nasib Seorang Wanita Proyek
8.4
Kehidupan di lokasi proyek ternyata jauh dari bayangan privasi yang biasa bagi protagonis Nasib Seorang Wanita Proyek. Tinggal di mes dengan sekat yang sangat minim membuat setiap suara terdengar jelas. Ketika sepasang suami istri di ranjang sebelah—yang jaraknya bahkan kurang dari dua meter—mulai melakukan hubungan intim tanpa henti, keheningan malamnya terusik. Suara yang terus terdengar itu memicu ketegangan dan membangkitkan hasrat tersembunyi yang sulit ia kendalikan sendirian di tengah malam.
Sampul Novel Perangkap Tuan CEO
8.1
Dalam jeratan obsesi sang CEO, tidak ada jalan untuk melarikan diri. Baginya, memiliki dirimu bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan yang mutlak. Ia menuntut pengabdian penuh atas tubuh, jiwa, hingga setiap jengkal kulitmu tanpa sisa. Di bawah kendalinya yang dominan, kamu terkunci dalam kepemilikan eksklusif yang tidak membiarkan siapa pun mendekat. Setiap napasmu kini menjadi milik sang penguasa yang hanya menginginkan dirimu seorang diri.