Sampul Novel Membawa Kabur Benih Presdir

Membawa Kabur Benih Presdir

8.8 / 10.0
Dalam novel modern Membawa Kabur Benih Presdir, Aurora Winters harus melindungi kandungannya dari Julian Ryder yang menolak kehadiran anak. Demi menyelamatkan bayinya, ia merencanakan pelarian besar. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti perjuangan Aurora dalam web novel populer ini.
Ringkasan Membawa Kabur Benih Presdir
Kebahagiaan Aurora Winters berubah menjadi dilema besar saat ia menyadari dirinya tengah mengandung. Di sisi lain, sang suami, Julian Ryder, telah menegaskan bahwa ia tidak menginginkan kehadiran seorang anak dalam pernikahan mereka. Terjepit di antara cinta pada janinnya dan sikap dingin suaminya, Aurora menolak keras ide untuk menggugurkan kandungannya. Kini, ia harus menyusun rencana rahasia demi melindungi sang buah hati dari pengetahuan Julian.
Baca Selengkapnya

Membawa Kabur Benih Presdir Bab 1

"Aku tidak menginginkan kehadiran seorang bayi! Aku ingin kau tetap cantik seperti ini tanpa tangisan bayi di rumah ini!"

Julian Ryder membisikkan kalimat itu tepat di telinga Aurora setelah mereka baru saja menuntaskan hasrat mereka.

Aurora membeku. Kata-kata suaminya menusuk hatinya lebih dalam daripada pisau.

Suamiku tak menginginkan bayi ini?

Lantas aku harus bagaimana?

Aurora menatap kosong ke langit-langit kamar. Pikirannya berputar cepat, mencari jalan keluar dari situasi ini. Perutnya memang masih rata saat ini, tapi tidak lama lagi itu akan berubah. Dia tidak akan bisa menyembunyikannya selamanya.

Julian tidak ingin anak. Itu jelas.

Tapi dia ingin mempertahankan bayinya.

"Kau kenapa, sayang?" suara Julian membuyarkan lamunannya. "Wajahmu pucat dan bingung. Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Aurora tersentak. Dia berusaha tersenyum, meskipun bibirnya terasa kaku.

"Oh, aku baik-baik saja, sayang."

Julian mengernyit. "Kau yakin?"

Aurora mengangguk cepat. Dia tidak bisa membiarkan Julian mencurigainya.

Tapi sampai kapan?

Rahasia ini akan semakin sulit disembunyikan seiring waktu.

"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, sayang?" Julian menatapnya tajam. "Aku tidak suka kau berbohong."

Aurora merasakan tengkuknya meremang. Pria ini selalu bisa merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku tidak menyembunyikan apa pun," katanya, mencoba terdengar santai. "Aku hanya lelah."

Julian memandangnya dalam diam. Seolah mencoba membaca pikirannya.

"Kalau begitu, istirahatlah," ujarnya akhirnya. "Aku ingin istriku selalu sehat dan cantik."

Aurora memaksakan senyum. Tapi hatinya terasa nyeri.

---

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur. Dia hanya berbaring di samping Julian yang sudah tertidur pulas.

Tangannya menyentuh perutnya yang masih rata.

"Aku akan melindungimu," bisiknya pelan.

Tapi bagaimana caranya? Jika Julian tahu, pria itu mungkin akan memaksanya menggugurkan bayi ini.

Tidak. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Aurora harus mencari cara untuk menyembunyikan kehamilannya selama mungkin.

---

Keesokan paginya, Aurora merasa mual begitu bangun dari tempat tidur. Dia buru-buru ke kamar mandi, menutup pintu, lalu muntah.

Nafasnya tersengal. Tubuhnya gemetar.

Dia sudah tahu ini akan terjadi, tapi mengalaminya langsung membuat semuanya terasa lebih nyata.

Dia benar-benar hamil.

Aurora menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab. Perlahan, dia mengambil test pack yang sudah dia sembunyikan di laci kamar mandi.

Dia sudah melakukan tes ini beberapa kali sebelumnya, tapi dia ingin memastikan lagi.

Beberapa menit kemudian, dua garis merah yang jelas muncul di sana.

Aurora menghela napas panjang.

Tidak ada lagi keraguan.

Dia harus melindungi bayinya, bagaimanapun caranya.

---

Aurora sedang duduk di ruang makan ketika Julian berjalan menghampirinya.

"Kau tampak lebih baik," katanya, mencium puncak kepalanya. "Aku khawatir melihatmu pucat semalam."

Aurora tersenyum kecil. "Aku hanya perlu istirahat."

Julian menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Hari ini aku ada beberapa urusan bisnis. Aku mungkin pulang agak malam."

Aurora mengangguk. Itu kabar baik. Jika Julian pergi, dia bisa mencari cara untuk menjaga kehamilannya tetap tersembunyi.

Setelah sarapan, Julian pergi seperti yang dikatakannya. Begitu pria itu menghilang di balik pintu, Aurora segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya, Liana.

"Liana, aku butuh bantuanmu."

Suara di seberang terdengar khawatir. "Ada apa, Aurora?"

"Aku hamil," bisiknya pelan. "Tapi Julian tidak boleh tahu."

Liana terdiam beberapa saat. "Kau serius?"

"Ya. Aku harus menyembunyikannya selama mungkin."

Liana menghela napas. "Ini berbahaya, Aurora."

"Aku tahu," jawabnya lirih. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

---

Beberapa hari berlalu. Aurora berusaha keras untuk bersikap normal di depan Julian. Dia memakai pakaian longgar, menolak makan terlalu banyak agar tidak menambah berat badan dengan cepat, dan memastikan untuk tidak menunjukkan gejala kehamilannya di depan suaminya.

Namun, semakin lama, semakin sulit.

Mual di pagi hari semakin parah. Tubuhnya terasa lebih lelah dari biasanya. Dan yang lebih buruk, Julian mulai curiga.

"Kau semakin sering menghindariku," kata Julian suatu malam.

Aurora berusaha tersenyum. "Aku hanya lelah, sayang."

"Terlalu sering lelah," gumam Julian. Dia menatapnya tajam. "Apa kau sakit?"

Aurora merasakan napasnya tercekat.

"Tidak," jawabnya cepat. "Aku baik-baik saja."

Julian masih menatapnya curiga. "Kau tahu aku tidak suka jika kau menyembunyikan sesuatu dariku."

Aurora menahan napas.

Dia harus lebih hati-hati.

---

Suatu sore, Aurora pergi menemui dokter kandungan secara diam-diam.

"Kandungan Anda sehat," kata dokter itu sambil tersenyum. "Saat ini usia kehamilan Anda sudah memasuki minggu ke delapan."

Delapan minggu.

Aurora merasakan emosinya meluap. Ada kehidupan di dalam dirinya.

Tapi saat dia berjalan keluar dari klinik, tubuhnya menegang.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam terparkir.

Aurora bisa merasakan tatapan seseorang mengawasinya.

Jantungnya berdetak cepat.

Apakah Julian sudah tahu?

Dengan tangan gemetar, Aurora segera pergi dari tempat itu.

Dia tidak boleh ketahuan.

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur.

Bayangan mobil hitam itu terus menghantuinya.

Apakah itu hanya kebetulan? Atau seseorang benar-benar mengawasinya?

Dia berbalik dan menemukan Julian berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi dingin.

Tubuh Aurora langsung membeku.

"Apa yang kau sembunyikan Aurora winters? Ingat Aku tidak suka kau berbohong!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Membawa Kabur Benih Presdir

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Eleanor
8.0
Elena, seorang desainer busana, mendapatkan peluang besar dalam karier serta asmaranya secara bersamaan. Ia setuju menempati apartemen milik bosnya, Alva, karena mengira sang pemilik tidak akan ada di sana. Namun, tanpa Elena sadari, Alva terus mengawasi gerak-geriknya dari jauh. Ketentraman Elena terusik saat Alva tiba-tiba memutuskan pulang dan tinggal bersamanya. Kini, Elena harus menghadapi kehadiran sang bos dalam ruang pribadinya yang sangat intim.
Sampul Novel Luka Tak Terbantahkan Seorang Istri
8.6
Tujuh tahun menikah, kehamilan kedua adalah mukjizat bagiku. Namun, kebahagiaan itu hancur saat aku melihat Brama, suamiku, bersama Kania dan putra mereka yang berusia empat tahun. Ternyata, selama ini Brama menjalani hidup ganda dengan wanita yang dulu mencelakaiku hingga keguguran. Puncaknya, Brama yang tertipu sandiwara Kania justru menyuruh orang menculikku. Tanpa mengenali istrinya sendiri, dia menyiksaku hingga aku kembali kehilangan janinku yang berharga.
Sampul Novel Mengandung Anak Tuan Serigala
8.6
Fang Yi Lan, mahasiswi kedokteran jenius, hancur saat memergoki kekasihnya berselingkuh dengan adik tirinya. Alih-alih dibela, ia justru dipaksa sang ayah menikahi pria hidung belang. Yi Lan kabur dan bertemu pria tampan yang terluka parah. Saat pingsan, pria itu berubah menjadi serigala hitam. Meski takut, naluri medis Yi Lan mendorongnya menolong. Namun, pria itu justru menandai lehernya dan menyerang Yi Lan secara paksa demi mendapatkan keturunan.
Sampul Novel Wanita Tak Ternilai
9.5
Zhafira terjebak dalam pernikahan kelam dengan pria kejam yang terus menghinanya sebagai wanita murahan. Meski hatinya hancur mendengar cercaan sang suami, ia tetap bertahan demi membiayai pengobatan ibunya yang sedang sekarat. Sejak kecil hidupnya penuh penderitaan, dan kini ia harus menghadapi kenyataan pahit menjadi tawanan pria tanpa perasaan. Akankah ada titik terang bagi Zhafira, ataukah air mata akan terus mengiringi sisa hidupnya yang penuh siksaan?
Sampul Novel Yang Belum Terucap
8.1
Mora memutuskan untuk menampung seseorang di apartemennya demi niat baik. Namun, bantuan tersebut justru menyeretnya ke dalam rangkaian masalah rumit. Saat berusaha membereskan segalanya, tantangan yang lebih besar muncul ketika Mora mulai jatuh cinta. Di tengah kesendirian karena ditinggalkan orang-orang, ia berjuang keras memperbaiki keadaan. Tanpa rasa penyesalan sedikit pun, Mora terus bertahan hingga seluruh hidupnya kembali pulih seperti sediakala.
Sampul Novel Yang Tersisa Setelah Segalanya Usai
9.5
Sepulang dari dinas luar kota, Karina bergegas menemui suaminya, Jerry, di area VIP sebuah klub malam. Sambil membawa hasil tes kehamilan yang ingin ia tunjukkan sebagai kejutan manis, langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu. Sayup-sayup dari dalam ruangan, ia mendengar sebuah pertanyaan yang meruntuhkan dunianya. Seseorang bertanya apakah Jerry menikahinya hanya untuk melindungi wanita bernama Yuna. Kenyataan pahit itu seketika membuat tubuh Karina membeku dalam kepedihan.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan