
RAHASIA DI BALIK CINCIN
Bab 2
Hari itu dimulai seperti biasa. Sari tiba di kantor lebih awal, berusaha tenggelam dalam tumpukan pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya dari masalah rumah tangganya dengan Bima. Namun, perasaan kosong itu tetap ada. Rutinitas yang semula menjadi pelarian kini tak lagi efektif, dan di antara rekan-rekannya, hanya satu orang yang tampaknya membuat hari-hari kerjanya terasa lebih ringan-Fajar.
Fajar baru pindah ke kantor cabang mereka beberapa minggu yang lalu. Meskipun masih terbilang baru, ia sudah cepat beradaptasi dan menjalin hubungan baik dengan banyak rekan kerja. Ada sesuatu tentang kehadiran Fajar yang berbeda. Dia perhatian, ramah, dan selalu tampak mendengarkan dengan sungguh-sungguh setiap kali mereka berbicara. Sesuatu yang sudah lama tidak Sari rasakan dari Bima.
Pagi itu, Sari baru saja selesai memeriksa beberapa laporan ketika Fajar tiba di mejanya dengan senyum hangat.
"Selamat pagi, Sar! Apa kabar?" tanyanya sambil menyodorkan secangkir kopi.
Sari tersenyum, meski lelah masih tersisa di wajahnya. "Pagi, Fajar. Baik, sih, tapi kayaknya masih kurang tidur."
"Ya, aku bisa lihat. Minggu-minggu ini cukup sibuk, ya? Tapi jangan khawatir, aku bawa amunisi," ucapnya sambil menunjuk ke kopi yang ia sodorkan.
Sari tertawa kecil, menerima kopi itu dengan rasa syukur. "Terima kasih, kamu selalu tahu kapan aku butuh ini."
Fajar tersenyum lebih lebar. "Intuisi yang tajam, mungkin? Tapi beneran, kalau kamu butuh bantuan apa pun, bilang aja. Aku tahu kita belum lama kerja bareng, tapi aku senang bisa bantu."
Obrolan mereka terhenti sesaat saat telepon di meja Sari berdering. Setelah beberapa detik berbicara, Sari mengangguk dan menutup telepon.
"Fajar, aku baru dapat kabar, kita harus menghadiri rapat dengan klien sore ini. Sepertinya kita akan kerja lebih dekat lagi hari ini," ujar Sari sambil menyusun beberapa berkas di mejanya.
"Oh, rapat mendadak? Oke, siap, aku akan mempersiapkan beberapa dokumen juga. Kebetulan, ini proyek pertama kita bareng, ya?" Fajar menanggapi dengan antusias.
Sari mengangguk. "Iya, aku senang bisa kerja sama kamu. Semoga lancar."
Saat mereka mulai berdiskusi mengenai presentasi dan strategi untuk pertemuan itu, Sari tak bisa mengabaikan kenyamanan yang ia rasakan saat bekerja dengan Fajar. Dia tidak hanya cerdas dan cepat tanggap, tapi juga membuat segalanya terasa lebih mudah. Setiap kali Sari berbicara, Fajar benar-benar mendengarkan. Ini berbeda dari kebanyakan orang yang seringkali tampak setengah hati.
Sore itu, pertemuan dengan klien berjalan lancar. Fajar tampil percaya diri, memberikan kontribusi penting dalam diskusi, dan Sari merasa bahwa mereka berdua merupakan tim yang solid. Saat keluar dari ruang rapat, Sari merasa sedikit bangga dengan pencapaian mereka.
"Kerja bagus, Fajar," kata Sari sambil tersenyum puas.
"Kamu juga, Sar. Kalau bukan karena persiapan kamu, kita nggak mungkin bisa sebaik ini," jawab Fajar merendah.
Mereka berjalan bersama menuju lift. Saat pintu lift terbuka, Sari merasa ada ketegangan halus antara mereka-sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Mereka diam-diam saling menatap, dan meskipun hanya sesaat, tatapan itu membuat jantung Sari berdebar lebih cepat.
Di dalam lift, keheningan terasa begitu nyata. Sari mencoba fokus pada hal-hal lain, namun bayangan wajah Fajar tak mau hilang dari pikirannya. Ketika lift sampai di lantai kantor, mereka melangkah keluar dan kembali bekerja seolah-olah tidak ada yang terjadi. Namun, bagi Sari, momen itu meninggalkan bekas yang dalam.
Setelah pekerjaan mereka selesai, Fajar menghampiri meja Sari sekali lagi.
"Sari, terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar belajar banyak dari kamu," katanya tulus.
Sari menggeleng sambil tersenyum. "Kamu terlalu rendah hati, Fajar. Kamu yang banyak membantu. Aku senang kita bisa jadi tim yang baik."
"Aku juga, Sar," Fajar terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Dan... kalau kamu butuh teman bicara, di luar kerjaan juga nggak apa-apa. Aku selalu ada buat kamu."
Ucapan Fajar membuat Sari terdiam sejenak. Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menyentuh perasaannya yang sudah lama tidak terisi. Namun, ia tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan.
"Terima kasih, Fajar. Aku akan ingat itu," jawab Sari akhirnya, mencoba menjaga percakapan tetap ringan meskipun hatinya mulai bergolak.
Sepulangnya dari kantor, Sari duduk di mobil dan memandang ke luar jendela. Jalanan kota yang sibuk tampak seperti biasa, tapi di dalam dirinya ada badai kecil yang sedang terbentuk. Ia memikirkan Bima, memikirkan pernikahan mereka yang semakin dingin, dan tanpa bisa dicegah, ia juga memikirkan Fajar-teman kerja yang kini memberikan warna baru dalam hidupnya.
Saat itu, Sari tahu bahwa hidupnya tidak lagi sama. Pertemuan dengan Fajar yang tampaknya biasa saja mulai merubah segalanya. Pertanyaan besar pun mulai muncul di pikirannya: apakah ini hanya ketertarikan sesaat? Atau ada lebih dari sekadar perhatian yang Fajar tunjukkan? Dan yang lebih penting, apakah ia masih bisa memperbaiki pernikahannya dengan Bima, atau apakah perasaan baru ini akan membawa hidupnya ke arah yang sama sekali berbeda?
Malam itu, Sari sampai di rumah lebih awal dari biasanya. Namun, suasana rumah masih sunyi. Tak ada tanda-tanda Bima di rumah, seperti biasa. Ia melepas sepatu, menggantung tas, dan berjalan menuju ruang tengah. Televisi yang biasanya menyala, kini mati. Meja makan kosong, tanpa makanan atau jejak Bima. Sari menghela napas panjang, kesepian yang dulu sempat ia tepis kini semakin nyata.
Sambil memandangi cincin pernikahannya yang terasa semakin berat di jarinya, Sari bertanya-tanya kapan terakhir kali ia benar-benar merasa bahagia dalam pernikahan ini. Apakah sudah begitu lama hingga ia hampir lupa bagaimana rasanya? Dan, lebih mengkhawatirkan lagi, mengapa perasaan yang baru tumbuh pada Fajar begitu mudah menggantikan celah yang selama ini tak terisi oleh Bima?
Tiba-tiba, dering ponselnya mengagetkannya dari lamunan. Nama **Fajar** muncul di layar. Jantungnya berdebar lagi. Apa yang ingin dia katakan malam-malam begini?
Sari ragu sejenak, lalu mengangkatnya. "Halo, Fajar."
"Halo, Sar. Maaf ganggu malammu. Aku cuma mau memastikan kamu baik-baik aja setelah hari yang panjang tadi," suara Fajar terdengar hangat dan perhatian, sesuatu yang sudah lama tak ia dengar dari Bima.
"Oh... terima kasih, Fajar. Aku baik-baik aja, kok. Cuma agak lelah."
"Ya, aku bisa mengerti. Tadi rapatnya cukup intens. Tapi, kamu benar-benar luar biasa hari ini," ujar Fajar, pujiannya begitu tulus hingga Sari tak bisa menahan senyum kecil.
"Terima kasih, kamu juga. Aku senang kita bisa bekerja sama dengan baik."
Sari terdiam sejenak, berusaha menata perasaannya. Ia tidak seharusnya merasa senang hanya karena perhatian dari Fajar. Bima adalah suaminya, dan ia masih ingin pernikahan ini berjalan baik. Namun, kenapa setiap kali berbicara dengan Fajar, ia merasa dihargai dan didengarkan dengan cara yang sudah lama tak ia rasakan?
"Kamu lagi di rumah, kan?" tanya Fajar lagi, suaranya lebih lembut.
"Iya, di rumah. Sendiri. Bima belum pulang," jawab Sari tanpa sadar, lalu menyesali kata-katanya. Ia merasa terlalu terbuka dengan Fajar, tapi di saat yang sama, tak bisa menahan diri.
"Maaf kalau aku terlalu ikut campur, Sar. Tapi... kamu baik-baik aja, kan? Maksudku, aku bisa merasakan ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
Sari menggigit bibirnya. Bagaimana mungkin Fajar bisa begitu peka, sementara Bima yang sudah bertahun-tahun bersamanya tak pernah menyadari kesedihan yang ia rasakan? Tapi ini bukan hal yang bisa dibicarakan dengan sembarang orang-apalagi Fajar, yang hanya rekan kerja. Atau, mungkin lebih dari itu?
"Fajar... aku... sejujurnya, aku nggak tahu harus mulai dari mana," akhirnya Sari mengaku, suaranya pelan dan lelah.
"Kamu nggak perlu cerita kalau belum siap. Tapi kalau kamu butuh teman bicara, aku ada di sini. Apa pun itu."
Hati Sari mencelos. Perasaan aman yang diberikan Fajar begitu menenangkan, dan ia teringat kembali pada betapa jarangnya ia merasakan ini dengan Bima. Semakin lama, Sari semakin sadar bahwa perhatian Fajar bukan hanya sekadar hubungan profesional. Ada sesuatu yang lain di antara mereka, sesuatu yang mulai membuat Sari ketakutan. Apakah ia sudah melewati batas?
"Terima kasih, Fajar," jawab Sari pelan. "Aku hargai itu. Mungkin nanti, aku akan ceritakan."
Fajar mengangguk di telepon, walau Sari tak bisa melihatnya. "Aku tunggu, Sar. Kamu nggak sendiri."
Percakapan itu berakhir, namun pikiran Sari justru semakin kacau. Ia tahu perasaan ini salah, tapi pada saat yang sama, ia tak bisa menahannya. Dalam diam, ia menatap cincin pernikahannya lagi. Cincin itu masih di jarinya, namun ikatan yang dulu begitu kuat kini terasa begitu rapuh. Ia tak bisa mengabaikan kenyataan bahwa pernikahannya dengan Bima sedang berada di ujung tanduk, sementara perasaan terhadap Fajar semakin sulit diabaikan.
Sari menghela napas panjang dan memejamkan mata. Pikiran tentang Bima dan Fajar terus berputar di benaknya. Apakah ia benar-benar bisa memperbaiki pernikahannya? Atau, apakah takdirnya sudah berubah, membawa seseorang yang baru ke dalam hidupnya?
Ponsel Sari kembali berbunyi, kali ini sebuah pesan masuk. Dari Bima. Pesan singkat yang hanya mengatakan, **"Maaf, pulang larut. Jangan tunggu aku."**
Pesan itu begitu dingin, seperti pesan dari seorang teman, bukan suami. Sari merasa hatinya semakin berat. Malam itu, ia berbaring di tempat tidur, merenungi hidupnya yang tampak sempurna di mata orang lain, tapi di dalamnya penuh dengan rahasia dan kebimbangan.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





