Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel RAHASIA DI BALIK CINCIN

RAHASIA DI BALIK CINCIN

Sari adalah wanita karier sukses yang menjalani pernikahan tampak sempurna hingga ia jatuh hati pada koleganya, Fajar. Namun, pengkhianatan muncul saat ia menemukan rahasia kelam bahwa suaminya juga memiliki selingkuhan. Di tengah kehancuran rumah tangganya, Sari kini terjebak dalam dilema besar. Ia harus memilih antara mencoba menyelamatkan ikatan pernikahannya atau mengejar kebahagiaan baru bersama Fajar yang selama ini mendampinginya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari demi hari berlalu, dan semakin sering Sari dan Fajar bekerja bersama, semakin sulit bagi Sari untuk mengabaikan perasaan yang tumbuh di dalam hatinya. Di luar profesionalisme yang selalu ia jaga, ada dorongan kuat dalam dirinya yang ingin lebih dekat dengan Fajar-bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi seseorang yang ia percaya dan merasa nyaman bersamanya.

Mereka kini ditugaskan pada proyek besar yang menuntut banyak pertemuan dan diskusi intens. Setiap kali mereka duduk berdua untuk mempersiapkan presentasi atau merancang strategi, percakapan sering kali berlanjut ke hal-hal pribadi. Lambat laun, dinding yang Sari bangun untuk melindungi dirinya dari perasaan tak terduga mulai runtuh. Dan Fajar? Ia pun tampaknya tak ragu membuka dirinya pada Sari.

Sore itu, di sebuah kafe kecil tak jauh dari kantor, mereka berdua duduk dengan laptop terbuka di atas meja, menyelesaikan beberapa laporan terakhir. Setelah beberapa jam bekerja, Sari akhirnya bersandar di kursinya, menghela napas panjang.

"Aku nggak nyangka proyek ini bakal menuntut waktu sebanyak ini," ujar Sari sambil tersenyum lelah.

Fajar menutup laptopnya dan menatap Sari dengan senyum simpati. "Iya, tapi kita hampir selesai. Kamu keren banget, Sar. Aku nggak tahu bagaimana caranya kamu bisa tetap tenang di tengah tekanan kayak gini."

Sari tertawa kecil, tapi ada rasa hangat yang merayap di hatinya karena pujian itu. "Kamu juga nggak kalah, Fajar. Sebenarnya, tanpa kamu aku mungkin udah stres sendiri."

Mereka terdiam sejenak, hanya saling menatap dalam keheningan yang nyaman. Keheningan yang, bagi Sari, semakin sering terjadi dan semakin membuatnya merasa aman. Seolah-olah di antara mereka tak perlu banyak kata, hanya pemahaman yang tumbuh tanpa dipaksakan.

"Kadang aku berpikir..." Fajar tiba-tiba membuka percakapan, suaranya lebih pelan dan serius. "Kenapa kamu selalu terlihat... tegar? Aku tahu nggak mudah jadi kamu, tapi aku bisa lihat ada sesuatu yang kamu sembunyikan."

Sari tersentak sedikit. Fajar selalu punya cara untuk menembus pertahanan yang selama ini ia bangun. Rasanya begitu aneh, karena Bima, yang seharusnya orang terdekat dalam hidupnya, tak pernah benar-benar mencoba memahami apa yang ia rasakan.

"Aku... nggak tahu, mungkin karena aku nggak punya pilihan," jawab Sari akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap ringan, meski di dalam hatinya ia tahu ini adalah percakapan yang lebih dalam dari biasanya.

Fajar menatapnya dengan penuh perhatian, lalu berkata, "Sari, kamu nggak harus selalu kuat. Kalau kamu mau cerita, aku di sini."

Sari menatap ke bawah, berusaha menahan emosinya yang mulai membuncah. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, begitu banyak hal yang selama ini ia pendam. Tapi di saat yang sama, ia takut jika membuka diri sepenuhnya, ia tak akan bisa kembali lagi ke batasan profesional yang selama ini ia pertahankan dengan Fajar.

"Aku..." Sari mulai berbicara, namun suaranya tercekat. "Aku nggak tahu harus mulai dari mana, Fajar. Pernikahan aku... sepertinya nggak seperti yang orang-orang lihat. Ada banyak hal yang... hilang."

Fajar mendengarkan tanpa menyela, memberikan Sari ruang untuk berbicara lebih banyak.

"Bima... kami dulu sangat dekat, tapi sekarang, rasanya seperti kami hidup di dua dunia yang berbeda. Dia sibuk dengan pekerjaannya, aku sibuk dengan karierku. Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali kami benar-benar bicara tentang sesuatu yang penting. Dan sekarang, setiap malam rasanya sunyi."

Sari merasa dadanya semakin sesak, tapi kata-kata itu terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Selama ini, ia tak pernah berbicara tentang masalahnya kepada siapa pun, bahkan kepada dirinya sendiri.

Fajar terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya pelan, "Dan itu membuatmu merasa sendiri, kan?"

Sari mengangguk, matanya mulai terasa panas. "Iya. Aku merasa sendirian, meski kami masih tinggal di rumah yang sama."

Fajar menatap Sari dengan penuh empati, dan tanpa berkata-kata lagi, ia meletakkan tangannya di atas tangan Sari yang ada di meja. Sentuhan itu sederhana, tapi penuh makna. Sari terkejut, namun ia tak menarik tangannya. Ada sesuatu dalam kehangatan tangan Fajar yang memberikan rasa aman-sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.

"Fajar..." Sari berbisik, suaranya hampir tak terdengar.

"Aku ada di sini, Sar. Kamu nggak perlu merasa sendirian lagi," balas Fajar dengan lembut.

Hati Sari berkecamuk. Perasaan terhadap Fajar kini semakin jelas. Ini bukan lagi sekadar hubungan antara dua kolega. Ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang ia tahu salah tapi tak bisa dihindari. Ia merasa nyaman dan dilihat dengan cara yang Bima sudah lama tak lakukan. Namun, pada saat yang sama, ia juga tahu bahwa jika ia membiarkan perasaan ini tumbuh, itu bisa membawa dampak besar pada pernikahannya-dan hidupnya.

Sari menatap Fajar, berusaha menemukan kata-kata yang tepat. Tapi sebelum ia bisa berbicara, Fajar menarik tangannya kembali, menyadari batasan yang seharusnya mereka jaga.

"Aku nggak akan memaksamu untuk bicara lebih jauh, Sar," ucap Fajar dengan nada lembut namun penuh pengertian. "Tapi kapan pun kamu butuh teman, aku selalu ada."

Sari mengangguk perlahan. "Terima kasih, Fajar. Aku hargai itu."

Mereka menyelesaikan kopi mereka dalam keheningan, tapi di antara mereka, perasaan yang tak terucapkan semakin kuat. Koneksi yang mereka rasakan bukan lagi sekadar rekan kerja yang baik. Itu adalah sesuatu yang lebih dalam-sesuatu yang membuat Sari sadar bahwa hidupnya sedang berada di persimpangan besar.

Malam semakin larut ketika Sari dan Fajar meninggalkan kafe. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, suasana di antara mereka terasa begitu intim, meski tak ada satu pun kata yang diucapkan. Hanya deru angin malam yang menyapu wajah mereka, menambah kesan hening namun bermakna. Sari merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Setiap langkah bersamanya, setiap keheningan yang mereka bagi, semakin mengaburkan batas yang seharusnya ada antara mereka.

Di dekat mobilnya, Sari berhenti dan menoleh ke arah Fajar yang berdiri tak jauh darinya. Tatapan mereka bertemu, ada sesuatu yang tak terucapkan di balik mata Fajar yang tajam namun lembut. Sari ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.

Fajar, seolah membaca pikirannya, tersenyum tipis. "Sar... aku tahu mungkin ini terdengar aneh, tapi... aku merasa kita bisa bicara tentang apa saja. Dan aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman."

Sari tersenyum tipis, berusaha mengabaikan ketegangan dalam hatinya. "Aku juga ngerasa begitu, Fajar. Mungkin itu yang bikin aku agak takut..."

"Takut?" Fajar mengernyitkan dahi, suaranya penuh keprihatinan. "Takut kenapa?"

Sari menghela napas panjang, mencari kata-kata yang tepat. "Takut kalau... aku terlalu bergantung sama kamu. Terlalu banyak hal yang aku ceritain ke kamu, padahal aku tahu kita... seharusnya nggak begini."

Fajar terdiam sejenak, kemudian mendekat dengan langkah hati-hati. Ia tetap menjaga jarak, tapi kehadirannya terasa begitu dekat. "Sar, kalau kamu butuh tempat untuk melampiaskan atau sekadar berbagi cerita, aku ada di sini. Aku tahu situasi kamu nggak mudah. Aku nggak akan maksa kamu buat cerita lebih dari yang kamu mau."

Sari merasa bingung, antara ingin membuka diri sepenuhnya atau mundur sebelum semuanya menjadi terlalu dalam. Dalam hati kecilnya, ia tahu bahwa perasaan yang berkembang ini salah, namun di sisi lain, Fajar memberikan sesuatu yang selama ini tak ia temukan lagi dalam pernikahannya dengan Bima.

"Fajar... aku benar-benar menghargai kamu. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau kita terus begini, tapi... untuk saat ini, aku nggak siap menghadapi lebih dari sekadar ini."

Fajar menatapnya, sorot matanya lembut tapi tegas. "Aku paham, Sar. Aku juga nggak mau bikin kamu merasa tertekan. Yang jelas, aku akan selalu ada buat kamu, dalam bentuk apa pun yang kamu butuhkan."

Sari tersenyum samar, merasakan sedikit beban terangkat dari pundaknya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa perasaan terhadap Fajar akan sulit dihentikan. Ada sesuatu di antara mereka yang tak bisa dipungkiri, dan setiap kali mereka bertemu, benih-benih perasaan itu semakin tumbuh.

"Terima kasih, Fajar," ucap Sari pelan. "Aku... aku benar-benar menghargai ini."

"Jangan khawatir, Sari. Aku nggak akan pergi ke mana-mana," balas Fajar sambil melambaikan tangan kecil sebagai perpisahan. Ia masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Sari yang masih berdiri di tempatnya, memandangi langit malam yang penuh bintang.

Sari masuk ke dalam mobilnya dan duduk sejenak, menutup mata, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Ia tahu ia harus membuat keputusan besar suatu saat nanti-keputusan yang akan mempengaruhi seluruh hidupnya. Namun, malam ini, ia masih terjebak di persimpangan perasaan. Antara Bima yang semakin jauh, dan Fajar yang semakin mendekat.

Dengan perasaan campur aduk, Sari menyalakan mesin mobil dan melaju pulang. Sesampainya di rumah, lampu-lampu masih mati, menandakan Bima belum kembali. Sepi dan dingin, sama seperti malam-malam sebelumnya. Cincin di jarinya terasa semakin berat, seolah mengingatkannya pada ikatan yang dulu penuh janji, tapi kini mulai renggang.

Ia berdiri di depan cermin, memandangi bayangan dirinya sendiri. Wanita karier yang sukses, namun di balik itu, ia hanyalah seorang istri yang merasa hampa. Ia mengusap cincin pernikahannya dengan lembut, bertanya-tanya berapa lama lagi ia bisa bertahan dalam pernikahan ini.

Sari akhirnya naik ke kamar tidur. Ketika berbaring di tempat tidur yang terasa terlalu luas, pikirannya kembali melayang pada Bima dan Fajar. Bima yang dulu begitu ia cintai, tapi kini terasa begitu jauh. Dan Fajar, yang semakin dekat, memberikan kenyamanan yang sudah lama tak ia rasakan.

Hatinya masih ragu, tapi satu hal yang pasti: hubungan dengan Fajar sudah mulai melewati batas yang tak seharusnya. Dan ia tahu, tak ada jalan kembali tanpa mengorbankan sesuatu yang berharga.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PNJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PNJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Sampul Novel Bunga Gugur, Rindu Pun Usai
7.9
Setelah 999 kali gagal menggoda Nathan yang dingin, sang protagonis mengira tunangannya itu hanya menjaga kesucian hingga pernikahan. Harapan itu hancur saat ia menyaksikan Nathan berciuman mesra dengan teman masa kecilnya di sebuah kamar hotel VIP. Sadar cintanya bertepuk sebelah tangan, ia membatalkan pernikahan dan memutuskan untuk menikahi Darius Russell. Meskipun sang ayah memperingatkan bahwa Darius lumpuh akibat kecelakaan masa lalu, ia tidak lagi peduli pada masa depan rumah tangganya.
Sampul Novel Cinta yang Sirna Sebelum Fajar
9.3
Shasa Handoko diam-diam menghitung mundur sepuluh hari terakhir sebelum prosedur donor ginjal untuk Arya Lexim dilakukan. Sebagai sosok pengganti yang selama ini dibenci oleh Arya, Shasa telah membulatkan tekad untuk pergi dan menghilang selamanya dari kehidupan pria itu setelah operasi selesai. Di tengah sisa waktu yang kian menipis, sebuah tanya terus membayangi benaknya: saat Arya akhirnya hidup bahagia bersama wanita yang benar-benar dicintainya, akankah pria itu masih mengingat kehadirannya?
Sampul Novel Dalam Dekapan Dosen Tama
8.1
Dalam suasana penuh ketegangan, Tama berusaha meyakinkan Runa agar tidak menolak kehadirannya. Dengan suara serak yang sarat akan emosi, ia mendekap Runa dan menghirup aroma tubuh istrinya tersebut dengan penuh damba. Di tengah pergolakan batin yang terjadi, Tama membisikkan penegasan bahwa hubungan intim mereka adalah hal yang sah secara hukum dan agama. Sebagai sepasang suami istri, ia merasa tidak ada lagi alasan bagi Runa untuk terus menghindar darinya.
Sampul Novel Di Jual Suamiku
7.9
Apa yang akan Anda lakukan saat mahligai rumah tangga yang selama ini menjadi impian indah justru berubah menjadi kenyataan yang sangat rumit? Kisah ini mengikuti perjalanan emosional seorang wanita yang harus menghadapi lika-liku kehidupan pernikahan yang tak terduga. Alih-alih menemukan kebahagiaan sejati, ia justru terjebak dalam situasi pelik yang menguji kesabaran serta kesetiaannya sebagai seorang istri dalam menghadapi badai konflik.
Sampul Novel Kisah Miris Suamiku dan Kekasihnya
7.9
Niat baikku memperingatkan Jovin Liandra tentang diagnosis HIV cinta pertamanya justru berujung petaka. Suamiku menuduhku berbohong, memfitnahku atas kematian pasien hingga dipenjara, dan menggugurkan janinku yang berusia delapan minggu. Saat sekarat, Jovin mencampakkanku demi Selena. Kini, takdir membawaku kembali ke hari diagnosis itu terjadi. Aku memutuskan diam, meminta putus, dan membiarkan mereka bersatu dalam novel romantis misteri Kisah Miris Suamiku dan Kekasihnya.