
Perjodohan Tidak Diinginkan
Bab 2
Hari-hari setelah pernikahan terasa seperti penjara bagi Nadira. Dia tidak hanya harus menghadapi sikap dingin Adrian, tetapi juga tekanan dari Rania yang selalu mencari cara untuk menjatuhkannya. Setiap langkah yang diambil Nadira terasa diawasi, dan setiap kata yang diucapkan seolah selalu salah di mata Rania.
Suatu pagi, Nadira sedang menyiapkan sarapan di dapur. Dia tahu ini bukan tugasnya, tetapi memasak adalah satu-satunya pelarian dari tekanan yang dia rasakan. Ketika dia sedang menuangkan kopi, Rania masuk dengan langkah cepat.
"Kau pikir kau bisa merebut perhatian Adrian dengan cara ini?" Rania berkata sinis sambil melipat tangan di dada.
Nadira menoleh perlahan, berusaha tetap tenang. "Aku hanya ingin membantu. Aku tidak berniat mengambil apa pun darimu, Rania."
Rania tertawa kecil, tapi tidak ada humor di matanya. "Membantu? Jangan berpura-pura. Kau tidak dibutuhkan di sini. Kalau kau benar-benar ingin membantu, pergilah. Tinggalkan rumah ini dan hidup seperti seharusnya, jauh dari kami."
Nadira menatap Rania, matanya mulai memerah karena menahan air mata. "Aku juga tidak ingin berada di sini, tapi aku melakukannya untuk keluarga dan untuk memenuhi kewajiban yang diberikan padaku."
"Omong kosong!" Rania mendekat, menatap Nadira dengan penuh kebencian. "Kau hanya seorang gadis muda yang naif. Kau tidak tahu apa-apa tentang pernikahan, apalagi tentang cinta. Adrian tidak akan pernah mencintaimu, dan aku akan memastikan itu."
Konflik dengan Adrian
Malam itu, Adrian pulang lebih awal dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi masih membawa aura otoritas yang membuat siapa pun merasa segan. Dia langsung menuju ruang tamu, di mana Nadira sedang membaca buku.
"Kenapa kau di sini?" tanya Adrian dengan nada datar.
Nadira menutup bukunya dan berdiri. "Aku hanya ingin bersantai. Kalau ini mengganggumu, aku bisa pergi."
Adrian menghela napas, lalu duduk di sofa tanpa menghiraukannya. Namun, saat Nadira hendak pergi, dia memanggilnya.
"Nadira."
Nadira berhenti dan berbalik, menunggu Adrian melanjutkan.
"Aku ingin kau tahu satu hal," katanya, menatap lurus ke arah Nadira. "Pernikahan ini hanyalah formalitas. Jangan berharap lebih dariku."
Nadira merasa hatinya remuk, tetapi dia mencoba tetap kuat. "Aku tidak pernah meminta apa pun darimu, Adrian. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku tanpa mengganggu hidupmu."
Adrian mengangguk kecil, lalu berkata dengan nada dingin, "Bagus. Kalau begitu, pastikan kau tetap berada di batasmu. Jangan coba-coba ikut campur dalam urusanku dengan Rania."
Nadira menelan ludah, menahan emosi yang meluap di dadanya. "Aku mengerti."
Namun, malam itu, Nadira tidak bisa tidur. Kata-kata Adrian terus terngiang di kepalanya, membuatnya merasa semakin terasing.
Kemarahan Rania Memuncak
Beberapa hari kemudian, situasi memanas saat Rania menemukan Adrian berbicara dengan Nadira di taman. Sebenarnya, percakapan mereka hanyalah tentang tugas rumah tangga, tetapi Rania melihatnya sebagai ancaman.
"Adrian!" teriak Rania sambil menghampiri mereka. "Apa yang kau lakukan di sini bersamanya?"
Adrian, yang sedang berdiri di bawah pohon, menoleh dengan ekspresi bingung. "Kami hanya berbicara."
"Berbicara? Jangan bohong padaku!" Rania memotong dengan nada tinggi. Dia lalu menatap Nadira tajam. "Kau tidak punya hak mendekati suamiku. Kau lupa siapa aku?"
Nadira mencoba menjelaskan. "Aku tidak bermaksud apa-apa, Rania. Aku hanya-"
"Diam!" bentak Rania, wajahnya memerah karena amarah. "Kau tidak punya tempat di sini. Kau hanyalah istri kedua. Ingat itu!"
Adrian akhirnya angkat bicara, suaranya tegas. "Rania, cukup! Aku tidak ingin ada drama di sini."
Namun, Rania tidak peduli. Dia mendekat ke Adrian, menunjuk Nadira. "Kalau kau biarkan dia terus seperti ini, jangan salahkan aku kalau aku kehilangan kendali!"
Nadira mundur perlahan, merasa tidak punya tempat untuk berlindung. Dia tidak ingin memperkeruh suasana, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana harus bertahan.
Kehidupan yang Terusik
Hari-hari berikutnya semakin berat bagi Nadira. Rania mulai menunjukkan sikap yang lebih ekstrem, termasuk memerintahkan pelayan untuk mengabaikan kebutuhan Nadira. Dia bahkan melarang Nadira memasuki beberapa ruangan di rumah itu, seolah-olah Nadira hanyalah tamu yang tidak diinginkan.
Suatu malam, saat Nadira mencoba tidur, dia mendengar pintu kamarnya diketuk. Ketika dia membuka pintu, Adrian berdiri di sana dengan wajah serius.
"Kita perlu bicara," katanya tanpa basa-basi.
Nadira mengangguk dan membiarkannya masuk.
"Aku tahu kau sedang mengalami masa sulit di sini," Adrian memulai, nada suaranya sedikit melunak. "Tapi aku perlu kau bertahan. Jangan biarkan Rania memprovokasimu."
Nadira mengangkat alis, terkejut dengan nada perhatian yang jarang ditunjukkan Adrian. "Aku tidak berniat memprovokasinya. Tapi, Adrian, aku juga manusia. Aku punya batas kesabaran."
Adrian mengangguk kecil. "Aku tahu. Aku hanya minta satu hal darimu: bertahanlah. Untuk Kakekku, untuk keluarga kita."
Nadira menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Dan untuk dirimu? Apa aku punya tempat di hatimu, Adrian?"
Adrian terdiam, lalu berbalik tanpa menjawab. Jawabannya yang tidak terucap lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.
Nadira tertidur dengan air mata membasahi pipinya. Di rumah besar itu, dia merasa seperti orang asing. Dengan Rania yang penuh kebencian dan Adrian yang sulit ditebak, dia bertanya-tanya apakah ada jalan keluar dari pernikahan yang dipaksakan ini.
Tapi di sudut hatinya, ada harapan kecil yang masih menyala. Akankah waktu mengubah segalanya? Ataukah dia akan terus hidup dalam bayang-bayang wanita lain?
Anda Mungkin Juga Suka





