
Perjodohan Tidak Diinginkan
Bab 3
Pagi itu, matahari bersinar cerah, tetapi suasana rumah Adrian tetap kelam. Nadira baru saja keluar dari kamar ketika seorang pelayan menghampirinya dengan wajah cemas.
"Nyonya Rania sedang menunggu di ruang makan, Nyonya Nadira," kata pelayan itu pelan.
Nadira menghela napas. Dia tahu panggilan Rania tidak akan membawa kabar baik. Dengan langkah hati-hati, dia menuju ruang makan, di mana Rania sudah duduk dengan tatapan tajam yang diarahkan padanya.
Nadira mencoba tersenyum sopan. "Selamat pagi, Kak Rania."
Rania tidak membalas. Dia hanya melipat tangannya di dada, menatap Nadira dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau tahu apa yang membuatku muak setiap kali melihatmu, Nadira?" tanya Rania, suaranya penuh sindiran.
Nadira menelan ludah. "Apa yang salah, Kak?"
"Kau," jawab Rania tajam. "Kau pikir hanya karena kau menikah dengan Adrian, kau punya hak untuk tinggal di sini dan berpura-pura menjadi bagian dari keluarga ini? Kau salah besar. Kau hanyalah parasit."
Nadira terkejut mendengar kata-kata itu, tetapi dia berusaha tetap tenang. "Aku tidak pernah berniat merebut apa pun darimu, Kak Rania. Aku hanya menjalani apa yang telah ditentukan oleh keluarga."
"Omong kosong!" Rania berdiri, tangannya mengepal. "Kau pikir aku tidak tahu cara kau memandang Adrian? Kau ingin dia memperhatikanmu, kan? Kau ingin mengambil tempatku di hatinya?"
Nadira menggeleng cepat. "Itu tidak benar! Aku tidak pernah berpikir seperti itu!"
Rania tertawa kecil, tetapi tawa itu penuh kepahitan. "Jangan berpura-pura suci, Nadira. Kau hanyalah gadis kecil yang dipaksa menikah karena keluargamu membutuhkan uang. Kau bukan siapa-siapa."
Kata-kata itu menyakitkan, tetapi Nadira menolak untuk menangis di depan Rania. "Aku mungkin bukan siapa-siapa, Kak Rania, tapi aku tidak pernah ingin menjadi musuhmu. Aku hanya ingin kita bisa hidup berdampingan dengan damai."
"Damai?" Rania mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari Nadira. "Aku tidak akan pernah berdamai dengan keberadaanmu di sini. Jadi, kau sebaiknya bersiap-siap. Aku akan memastikan kau keluar dari rumah ini, apa pun caranya."
Adrian dan Pilihan yang Sulit
Di tempat lain, Adrian sedang sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Namun, pikirannya terus melayang pada situasi di rumah. Dia tahu bahwa Rania dan Nadira tidak akan pernah akur, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah ini.
Sore itu, setelah selesai dengan pekerjaannya, Adrian memutuskan untuk pulang lebih awal. Ketika dia sampai di rumah, dia menemukan Nadira duduk di taman, menatap langit dengan mata yang sembab.
"Nadira," panggil Adrian pelan.
Nadira menoleh, terkejut melihat Adrian. Dia segera berdiri. "Adrian, ada apa?"
Adrian mendekat, ekspresinya sulit dibaca. "Aku ingin bicara denganmu."
Mereka duduk di bangku taman, dan Adrian memulai pembicaraan. "Aku tahu Rania tidak memperlakukanmu dengan baik. Aku juga tahu ini semua sulit bagimu."
Nadira mengangguk pelan. "Aku tidak menyalahkannya. Aku tahu posisi ini sulit untuknya."
"Tapi kau tidak pantas diperlakukan seperti itu," kata Adrian tegas. "Aku ingin kau tahu, aku akan mencoba membuat segalanya lebih baik untukmu."
Nadira menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak tahu harus berkata apa."
Namun, sebelum Adrian bisa menjawab, suara keras memotong percakapan mereka.
"Adrian!" Rania muncul dengan wajah marah, tangannya mengepal. "Apa yang kau lakukan di sini bersama dia?"
Adrian berdiri, mencoba menenangkan Rania. "Rania, tenanglah. Kami hanya berbicara."
"Berbicara? Kau selalu membelanya!" Rania menunjuk Nadira. "Apa kau lupa siapa aku? Aku istrimu, Adrian! Bukan dia!"
Nadira merasa tubuhnya gemetar, tetapi dia tetap berdiri di tempatnya. "Kak Rania, aku tidak berniat membuatmu marah."
"Tutup mulutmu!" bentak Rania, matanya berkilat marah. "Kau pikir kau bisa merebut Adrian dariku? Jangan bermimpi!"
Adrian menarik napas panjang, mencoba mengendalikan situasi. "Rania, cukup! Aku tidak ingin ada pertengkaran di sini."
Namun, Rania tidak peduli. Dia terus memarahi Nadira, mengeluarkan kata-kata tajam yang membuat Nadira hampir menangis.
Tekanan yang Meningkat
Malam itu, Nadira duduk sendirian di kamarnya. Dia merasa lelah, baik secara fisik maupun emosional. Dia tahu bahwa hidup sebagai istri kedua Adrian tidak akan mudah, tetapi dia tidak pernah menyangka akan seberat ini.
Dia meraih teleponnya dan menelepon ibunya. "Bu, aku tidak tahu apakah aku bisa terus seperti ini," katanya dengan suara pelan.
"Bersabarlah, Nak," jawab ibunya lembut. "Semua ini demi masa depanmu. Ingatlah, tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk penderitaan."
Nadira mengangguk, meskipun air mata mulai mengalir di pipinya. Dia hanya bisa berharap bahwa suatu hari semuanya akan membaik.
Sementara itu, di kamar lain, Adrian duduk termenung. Dia memikirkan kata-kata Rania dan sikap Nadira yang selalu mencoba untuk bertahan. Hatinya merasa berat. Dia tahu bahwa dia harus mengambil keputusan, tetapi dia tidak tahu apakah keputusan itu akan menyelesaikan masalah atau justru memperburuk keadaan.
Hubungan antara Rania dan Nadira semakin memanas, sementara Adrian terjebak di tengah-tengah. Konflik ini bukan hanya tentang cinta atau pernikahan, tetapi juga tentang harga diri dan keadilan.
Di sisi lain, Nadira mulai mempertanyakan tujuannya di rumah ini. Apakah dia benar-benar di sini untuk memperbaiki hidupnya, atau justru merusaknya?
Anda Mungkin Juga Suka





