
Pengantin Paksa Tuan Kejam
Bab 2
Hening menyelimuti gubuk reyot di tepi hutan. Lampu minyak yang tergantung di sudut ruangan bergoyang pelan, cahayanya bergetar seperti ikut menahan napas. Di atas dipan kayu sederhana, seorang lelaki muda terbujur, tubuhnya masih penuh perban seadanya yang dililit kain lusuh. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi dahinya.
Almira duduk di lantai, bersandar pada tiang bambu. Matanya sayu, namun ia memaksa tetap terjaga. Sesekali tangannya meremas ujung kain basah, lalu ditempelkan ke kening lelaki itu.
"Nek, apakah dia akan selamat?" bisiknya lirih.
Nenek Rahayu yang duduk di dekat tungku, mengaduk ramuan herbal di panci kecil, hanya menghela napas. "Itu tergantung pada seberapa kuat nyawanya bertahan, Nak. Luka di perutnya dalam. Kalau tidak segera diobati dengan benar, bisa berbahaya."
Almira menunduk. Hatinya gamang. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Namun entah mengapa, ia tidak tega membiarkannya mati begitu saja di depan gubuk mereka.
Sambil terus menunggu ramuan yang direbus, Nenek Rahayu sesekali melirik cucunya. Ada kekhawatiran di matanya, lebih dari sekadar soal luka lelaki asing ini. "Mira, dengarkan nenek," katanya serius. "Kalau lelaki ini sadar nanti, jangan sembarang bicara. Kita belum tahu siapa dia, juga belum tahu apa yang mengejarnya."
Almira mengangguk, meski hatinya penuh tanya. "Tapi, Nek... kalau dia berbahaya?"
"Kita akan tahu nanti," jawab neneknya tegas.
Malam semakin larut. Angin hutan berdesir lewat celah dinding bambu. Almira sempat terlelap sebentar, hingga tiba-tiba suara rintihan pelan membangunkannya.
"Uhh..."
Almira terlonjak, segera mendekat. Lelaki itu mulai menggeliat, matanya setengah terbuka. Nafasnya tersengal, tangannya bergerak mencari pegangan.
"Kau sadar?" Almira bertanya, suaranya gugup.
Lelaki itu membuka matanya lebar-lebar, menatap sekeliling dengan pandangan bingung. "Di... mana aku?" suaranya serak.
"Tenang," kata Almira, berusaha menenangkan. "Kau di gubuk kami. Jangan banyak bergerak, lukamu masih parah."
Lelaki itu meringis. Ia mencoba bangun, tapi langsung terbatuk keras. Darah segar menetes di bibirnya. Almira panik, menahan tubuhnya agar tidak memaksakan diri.
"Nek! Dia sudah sadar!" serunya.
Nenek Rahayu segera menghampiri, membawa mangkuk kecil berisi ramuan. "Minum ini dulu. Bisa meredakan sakitmu."
Dengan susah payah, lelaki itu meneguk ramuan pahit itu. Wajahnya meringis, tapi ia tidak melawan. Setelah beberapa teguk, ia kembali terbaring lemah.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Nenek Rahayu lembut.
Lelaki itu menatapnya lekat-lekat, seolah menimbang apakah bisa percaya. Bibirnya bergerak pelan. "Namaku... Arga."
Almira mengulang dalam hati. Arga...
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Nenek Rahayu lagi.
Arga menghela napas berat. Matanya menatap langit-langit gubuk. "Aku... dikhianati. Ada orang-orang yang ingin membunuhku. Aku lari... sampai sini."
Almira merinding mendengarnya. Kata-kata itu membuat suasana semakin mencekam. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa ada orang yang mengejarnya?
Malam itu, setelah Arga kembali terlelap karena kelelahan, Almira tak bisa tidur. Ia duduk termenung, menatap wajah lelaki asing itu. Wajahnya meski pucat, tampak tegas dengan rahang keras, alis tebal, dan bekas luka di pelipis. Bukan wajah orang desa biasa.
Nek benar... lelaki ini pasti membawa sesuatu yang besar, batinnya.
Ketika pagi menjelang, cahaya matahari masuk dari sela-sela dinding bambu. Almira segera bersiap keluar mengambil air di sumur kecil di ujung hutan. Tapi Nenek Rahayu menahannya.
"Mira, hati-hati. Kalau ada orang bertanya, jangan katakan tentang lelaki itu. Katakan saja kau hanya tinggal berdua dengan nenek."
Almira mengangguk. Ada rasa takut yang makin membesar dalam dirinya.
Siang itu, Arga terbangun lagi. Kali ini pandangannya lebih jernih. Ia melihat Almira sedang menumbuk ramuan daun di lesung kecil.
"Kau... yang menolongku?" suaranya masih lemah.
Almira menoleh, tersentak mendengar suaranya. "Ya. Aku dan nenekku."
Arga menatapnya cukup lama. "Terima kasih."
Almira menggeleng cepat. "Kau tidak perlu berterima kasih. Tapi... siapa yang melukaimu? Apa kau orang jahat yang sedang diburu?" tanyanya tanpa sadar.
Arga terdiam. Ada kilatan tajam di matanya. Namun kemudian ia menutup mata, menghela napas panjang. "Aku tidak bisa menjawab itu sekarang. Yang jelas... aku tidak bisa kembali ke desa. Ada orang berkuasa yang ingin menyingkirkanku."
Almira tercekat. Dalam sekejap, bayangan Rangga Prakoso muncul di kepalanya. Lelaki itu memang dikenal berkuasa, juga kejam.
Apakah mungkin Arga punya urusan dengan Rangga?
Sore menjelang, suasana gubuk sedikit tenang. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan, terdengar suara derap langkah kuda. Almira dan Nenek Rahayu saling berpandangan, wajah mereka tegang.
"Siapa itu, Nek?" bisik Almira panik.
Nenek Rahayu berdiri cepat. "Cepat! Bantu Arga masuk ke ruang belakang. Jangan biarkan mereka melihatnya!"
Dengan susah payah, Almira menolong Arga pindah ke bilik kecil di belakang, menutupinya dengan tikar tua. Arga merintih pelan, tapi ia mengerti situasi berbahaya ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara keras dari luar.
"Rahayu! Buka pintumu!"
Almira menahan napas. Ia mengenali suara itu-suara pengawal Rangga.
Nenek Rahayu melangkah ke pintu, membukanya sedikit. "Ada apa datang malam-malam begini?" tanyanya dingin.
Pengawal itu menyeringai. "Kami hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja. Tuan Rangga khawatir, kalian mungkin mencoba kabur."
Mata Almira melotot dari balik dinding. Hatinya berdegup kencang. Kalau mereka masuk dan menemukan Arga... habislah sudah.
"Pergi dari sini!" bentak Nenek Rahayu. "Kami tidak akan ke mana-mana. Jangan ganggu kami lagi!"
Pengawal itu tertawa kecil, lalu meludah ke tanah. "Baiklah, tapi ingat. Tuan Rangga bisa datang kapan saja, dan menjemput cucumu."
Mereka pun pergi, meninggalkan debu jalan setapak.
Almira terkulai lemas, nyaris menangis. Ia berlari ke ruang belakang, membuka tikar penutup. Arga masih di sana, napasnya berat tapi matanya menyala tajam.
"Itu... orang-orang yang mengejarmu?" bisik Almira.
Arga menatapnya lama, lalu menjawab lirih, "Ya. Dan kalau mereka tahu aku ada di sini... kalian berdua akan dalam bahaya besar."
Almira merinding. Malam itu, ia sadar: hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kehadiran lelaki ini bukan hanya membawa misteri, tapi juga badai yang bisa menghancurkan segalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





