
Pengantin Paksa Tuan Kejam
Bab 3
Pagi itu, sinar matahari menyusup di sela-sela dinding bambu gubuk. Udara hutan masih dingin, disertai kabut tipis yang menggantung rendah di antara pepohonan. Suara burung bersahut-sahutan, menandai datangnya hari baru. Namun bagi Almira, pagi ini bukanlah awal yang menenangkan, melainkan permulaan dari rasa cemas yang semakin besar.
Ia duduk di dekat tungku, mengipasi api kecil yang memanaskan air. Di belakangnya, Nenek Rahayu masih tertidur di tikar, tubuh renta itu kelelahan setelah semalam mereka harus berjaga. Dari bilik kecil di sudut gubuk, terdengar suara batuk tertahan. Arga, lelaki asing itu, mulai sadar lagi.
Almira menoleh, menatap tirai lusuh yang menutup bilik. Hatinya berdebar. Bagaimana jika lelaki itu memang membawa bahaya? Bagaimana jika kehadirannya justru menyeret mereka lebih jauh ke dalam jurang masalah? Tapi di sisi lain, ada sesuatu dalam dirinya yang tidak tega.
Pelan-pelan, ia masuk ke bilik. Arga sudah duduk bersandar, wajahnya masih pucat, namun matanya menyala tajam. Ketika melihat Almira masuk, ia mengangguk kecil.
"Kau lagi," suaranya serak tapi tenang.
Almira membawa mangkuk berisi air hangat. "Minum dulu. Kau butuh banyak cairan," katanya sambil menyodorkan.
Arga meneguknya perlahan, lalu menghela napas lega. "Terima kasih."
Almira duduk di samping dipan kayu, menatapnya. Rasa penasaran menguasai hatinya. "Arga... siapa yang sebenarnya mengejarmu? Semalam kau bilang dikhianati. Apa kau bisa menjelaskannya padaku?"
Arga terdiam. Pandangannya jatuh pada retakan dinding bambu. Sekian lama ia tak berbicara, hingga akhirnya suara berat itu keluar, lirih tapi jelas. "Aku dulunya tinggal di desa. Bukan desa kalian, tapi desa tetangga yang lebih besar. Aku bekerja pada seseorang... orang yang sangat berkuasa. Dia mempercayakan padaku banyak hal. Tapi pada akhirnya, aku tahu terlalu banyak. Itulah sebabnya mereka ingin menyingkirkanku."
Almira menyipitkan mata. "Orang berkuasa itu... siapa?"
Arga menggeleng pelan. "Belum saatnya kau tahu. Yang jelas, dia punya hubungan dengan wilayah ini. Dengan desamu juga."
Hati Almira mencelos. Dalam benaknya, hanya satu nama yang muncul-Rangga Prakoso. Lelaki yang sama yang mengincarnya selama ini.
"Arga..." suara Almira bergetar, "apakah... apakah orang itu Rangga?"
Mata Arga menoleh cepat. Ada keterkejutan jelas, tapi ia tidak langsung menjawab. Hening sesaat membuat suasana makin mencekam. Lalu perlahan, ia mengangguk sekali.
Almira menutup mulutnya, tubuhnya gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Seolah semua teka-teki yang selama ini hanya bisikan samar mulai menemukan arah.
"Apa... apa hubungannya dengan kematian orang tuaku?" tanyanya tanpa sadar.
Arga menatapnya dalam-dalam. Wajahnya tegas, meski masih lemah. "Orang tuamu..." ia terdiam, lalu menghela napas panjang. "Aku tidak tahu pasti. Tapi aku pernah mendengar nama mereka disebut-sebut. Seolah mereka tahu sesuatu yang tidak boleh mereka ketahui."
Air mata tiba-tiba mengalir di pipi Almira. Ia menggigit bibir, hatinya perih. Jadi benar... bukan kecelakaan.
Nenek Rahayu yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, mendengarkan diam-diam, akhirnya masuk. Wajahnya suram. "Mira, jangan memaksa Arga bicara terlalu banyak. Dia masih lemah. Dan ada hal-hal... yang mungkin lebih baik belum kau ketahui sekarang."
"Tapi Nek!" suara Almira meninggi, penuh emosi. "Aku berhak tahu! Aku sudah hidup dalam bayang-bayang ketakutan bertahun-tahun. Kalau benar Rangga ada hubungannya dengan kematian Ayah dan Ibu, aku tidak bisa diam saja!"
Nenek Rahayu menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca. "Nenek hanya ingin kau selamat, Nak..."
Arga memejamkan mata sejenak, lalu bersuara lirih. "Rangga... bukan hanya sekadar lelaki kaya yang berkuasa di desa. Dia punya jaringan luas. Orang-orang tunduk padanya bukan karena hormat, tapi karena takut. Dia menyembunyikan banyak rahasia kelam. Jika kau ingin tahu tentang kematian orang tuamu... cepat atau lambat, kau harus berhadapan dengan dia."
Suasana ruangan mendadak berat. Almira menunduk, menggenggam ujung kainnya erat-erat. Ketakutan dan tekad bercampur di dalam dadanya.
Hari-hari berikutnya, Almira dan neneknya merawat Arga dengan hati-hati. Mereka memberi makan dengan bubur sederhana, mengganti perbannya, dan menyembunyikannya setiap kali terdengar suara orang lewat di jalan setapak dekat gubuk.
Suatu sore, Almira sedang mencuci pakaian di sungai kecil tak jauh dari gubuk. Ia merendam baju-baju lusuh sambil termenung. Wajah Arga terus terbayang di kepalanya. Lelaki itu penuh misteri, tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya percaya.
Tiba-tiba, suara tawa kasar terdengar dari kejauhan. Almira menoleh cepat. Dari balik pepohonan, tampak dua orang lelaki desa mendekat. Mereka dikenal sebagai anak buah Rangga.
"Hahaha... kau di sini rupanya, Almira," salah satu dari mereka bersuara licik.
Almira berdiri cepat, menahan gugup. "Ada apa kalian ke sini?"
Lelaki itu mendekat, menatapnya dengan tatapan nakal. "Kami hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Tuan Rangga selalu menanyakanmu."
Almira mundur selangkah. "Aku tidak perlu perhatian dari kalian. Pergi!"
Mereka tertawa lagi. "Jangan galak begitu. Kau tahu, sebentar lagi kau akan jadi milik Tuan Rangga. Lebih baik kau mulai belajar ramah."
Almira meremas ujung roknya, tubuhnya gemetar menahan marah. Ia ingin lari, tapi mereka menghadang. Untunglah, suara Nenek Rahayu dari kejauhan memanggil keras.
"Mira! Pulang sekarang!"
Anak buah Rangga melirik sekilas, lalu tertawa kecil sebelum pergi. "Besok-besok kita sambung lagi," ucap salah satunya sambil menyeringai.
Almira berlari pulang, jantungnya masih berdebar. Sesampainya di gubuk, ia langsung masuk, wajahnya pucat. Arga yang sedang duduk bersandar menatapnya penuh tanya.
"Ada apa?" tanyanya cepat.
Almira menggeleng, mencoba menenangkan diri. "Tidak... hanya orang-orang desa yang mengganggu."
Arga menatapnya tajam. "Itu bukan gangguan biasa. Mereka mata-mata Rangga. Kau harus berhati-hati."
Almira duduk, menatap Arga lekat-lekat. "Arga... kau bilang Rangga punya banyak rahasia kelam. Katakan padaku satu hal-kenapa orang-orang begitu takut padanya? Apa yang membuat dia bisa berkuasa?"
Arga terdiam sejenak, lalu suaranya pelan tapi tegas. "Karena dia menguasai sesuatu yang membuat orang lain bergantung padanya. Hasil bumi, perdagangan gelap, bahkan nyawa manusia. Orang-orang yang melawannya... tidak pernah kembali dengan selamat."
Nenek Rahayu mendesah panjang, wajahnya penuh duka. "Itu sebabnya nenek selalu melarangmu melawan, Mira. Rangga bukan orang yang bisa kau hadapi begitu saja."
Almira menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kalau kita terus diam, dia akan terus berkuasa. Dia akan terus menindas. Dan aku... aku tidak mau menjadi istri keempatnya!"
Arga menatap gadis itu lama, lalu perlahan berkata, "Mungkin... kau memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang menentangnya, Almira."
Almira menelan ludah. Kata-kata itu menusuk dalam, seperti sebuah ramalan yang menggetarkan hatinya.
Malam itu, ketika semua terlelap, Almira tidak bisa tidur. Ia keluar gubuk, berdiri di bawah langit bertabur bintang. Angin malam menyapu wajahnya. Dalam hati ia berbicara pada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu... apa benar kalian dibunuh karena tahu rahasia Rangga? Kalau benar begitu, aku akan mencari tahu. Aku akan mencari kebenaran. Aku berjanji..."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar lolongan anjing hutan, panjang dan nyaring. Hatinya merinding. Entah kenapa, firasatnya berkata, badai besar akan segera datang.
Dan di dalam gubuk, Arga yang tampak tertidur sebenarnya masih terjaga. Matanya menatap langit-langit, pikirannya penuh bayangan masa lalu.
"Aku tidak bisa tinggal di sini lama. Tapi... mungkin gadis ini memang kunci untuk menjatuhkan Rangga," batinnya.
Malam itu, tanpa ada yang tahu, tiga takdir mulai bertaut: Almira, Arga, dan Rangga. Dan semuanya hanya menunggu waktu untuk meledak menjadi pertarungan hidup dan mati.
Anda Mungkin Juga Suka





