Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pengantin Paksa Tuan Kejam

Pengantin Paksa Tuan Kejam

Almira Safira hidup menderita bersama neneknya setelah orang tuanya tewas dibunuh secara misterius. Karena fitnah keji Rangga Prakoso, pria berkuasa yang ingin menjadikannya istri keempat, mereka pun terasingkan. Saat merencanakan pelarian dari ambisi gelap Rangga, seorang pria asing bersimbah darah mendadak muncul di depan pintu mereka. Siapakah dia? Mampukah kehadiran pria ini mengungkap rahasia kematian orang tua Almira sekaligus menyelamatkannya dari jerat Rangga?
Bab
Bagikan

Bab 1

Malam itu hening. Hanya suara jangkrik dan desir angin hutan yang terdengar dari sela-sela dinding bambu gubuk kecil di tepi hutan. Cahaya lampu minyak berkelip samar, menerangi wajah seorang gadis muda yang sedang duduk bersila di atas tikar usang. Gadis itu bernama Almira Safira, 17 tahun, rambut hitamnya tergerai menutupi sebagian wajah yang tampak sendu.

Sehari-hari, Almira membantu neneknya, Nenek Rahayu, bertahan hidup dengan menenun tikar dari pandan hutan, atau sesekali turun ke desa untuk menjual kayu bakar. Hidup mereka serba terbatas, jauh dari kebahagiaan yang semestinya dimiliki seorang gadis seumurannya.

Almira menatap keluar jendela bambu. Pandangannya kosong, tapi hatinya penuh gelisah. Sejak kecil, dia hanya tahu bahwa ayah dan ibunya meninggal dunia karena kecelakaan. Namun, semakin dewasa, ia mulai mendengar bisikan-bisikan lain. Ada desas-desus yang mengatakan bahwa kedua orang tuanya dibunuh.

"Apa benar, Nek?" tanya Almira suatu malam, dengan suara bergetar. "Apa benar ayah dan ibu tidak meninggal karena kecelakaan, melainkan dibunuh seseorang?"

Nenek Rahayu hanya menghela napas panjang. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya enggan menjawab jujur.

"Kau terlalu muda untuk memikirkan hal itu, Nak. Yang penting, kita harus tetap hidup," jawab neneknya lirih.

Tapi di hati Almira, rasa penasaran itu terus tumbuh.

Kehidupan Almira dan neneknya makin sulit sejak Rangga Prakoso, lelaki paruh baya berpengaruh di desa, mengincarnya. Rangga dikenal kejam, haus kekuasaan, dan memiliki banyak istri. Ia selalu mendapatkan apa pun yang dia mau, meski dengan cara kotor.

Beberapa hari lalu, Rangga datang ke gubuk mereka bersama dua pengawalnya. Suasana malam itu masih terbayang jelas di benak Almira.

"Rahayu..." suara Rangga berat dan dingin, "kau tahu, cucumu itu sudah besar. Wajahnya cantik, darah mudanya segar. Aku ingin menjadikannya istriku. Dia akan jadi istri keempatku."

Mata Almira melebar. Ia bersembunyi di balik pintu, tubuhnya gemetar mendengar kata-kata itu.

Nenek Rahayu mencoba menahan diri, menundukkan kepala meski hatinya bergejolak.

"Tuan Rangga, Almira masih terlalu muda. Usianya belum genap 19 tahun. Bersabarlah. Biarlah ia tumbuh dulu, baru setelah itu..."

Rangga menyipitkan mata, seakan menimbang-nimbang. Kemudian ia tersenyum sinis.

"Baiklah. Aku akan menunggu. Tapi jangan coba-coba melarikan diri dariku. Kalian tak akan bisa pergi ke mana pun tanpa aku tahu."

Suasana hening sesaat, hanya bunyi langkah Rangga dan pengawalnya meninggalkan gubuk yang terdengar. Sejak malam itu, hidup Almira dipenuhi ketakutan.

Hari-hari berikutnya, Almira berusaha menjalani hidup seperti biasa, namun di setiap langkahnya ia merasa diawasi. Setiap kali ia turun ke desa menjual kayu, orang-orang hanya berani menatapnya dari jauh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi berbicara, karena takut dimusuhi Rangga.

"Kenapa kita harus hidup seperti ini, Nek?" Almira bertanya suatu sore sambil menjemur kayu bakar. "Kenapa semua orang seolah-olah membenci kita?"

Nenek Rahayu tersenyum getir.

"Bukan membenci, Nak. Mereka takut. Rangga punya kuasa di desa ini. Dia bisa melakukan apa saja. Orang-orang lebih memilih diam daripada menolong kita."

Almira menunduk. Dadanya sesak. Rasanya seperti terpenjara meski tanpa jeruji besi.

Malam itu, setelah seharian bekerja, Almira duduk di depan gubuk sambil menatap langit penuh bintang. Ada rasa rindu yang mendalam pada kedua orang tuanya. Andai mereka masih ada, mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini.

Ia teringat samar-samar pada sosok ayahnya, seorang petani sederhana yang suka bercanda, dan ibunya yang lembut penuh kasih. Namun, kenangan itu cepat berlalu, digantikan bayangan samar tentang malam ketika mereka meninggal. Suara bisikan orang-orang di desa kembali terngiang di kepalanya:

"Mereka dibunuh..."

"Ada orang berpengaruh di balik semua ini..."

Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar dari belakang gubuk. Almira terkejut. Ia bangkit dan menoleh ke arah suara itu. Di bawah cahaya rembulan, terlihat sosok seorang lelaki terhuyung-huyung, tubuhnya berlumuran darah, lalu terkapar tepat di depan pintu belakang gubuk.

"Nenek!" teriak Almira panik.

Nenek Rahayu yang sedang berbaring segera bangkit. Wajahnya pucat saat melihat pemandangan itu.

"Ya Allah... siapa ini?" gumamnya.

Almira gemetar, tapi ia memberanikan diri mendekat. Lelaki itu masih muda, mungkin sekitar awal dua puluhan. Nafasnya tersengal, wajahnya penuh luka, dan darah mengalir dari perutnya.

"Nek, dia... dia masih hidup!" Almira berseru sambil berlutut di samping lelaki itu.

Nenek Rahayu menghela napas berat, lalu berlutut di sisi cucunya. "Cepat, bantu nenek. Kita harus membawanya masuk sebelum ada orang lain yang melihat!"

Dengan sisa tenaga, mereka berdua menyeret tubuh lelaki itu masuk ke dalam gubuk. Almira menyiapkan kain dan air, membersihkan darah yang menempel. Tangannya gemetar, tapi ia terus berusaha.

"Nek... siapa dia?" tanya Almira panik.

Nenek Rahayu menatap wajah lelaki itu dengan sorot tajam, seakan mencoba mengenali. "Nenek belum tahu, Nak. Tapi yang jelas... lelaki ini bisa membawa kita pada sesuatu yang besar."

Almira menatap neneknya, bingung sekaligus takut. Malam itu, tanpa ia sadari, hidupnya akan berubah selamanya.

Almira sulit tidur malam itu. Ia duduk di samping lelaki misterius yang masih tak sadarkan diri. Sesekali, ia merendam kain di baskom air, lalu menempelkan ke dahinya yang panas.

"Siapa kau sebenarnya...?" bisiknya lirih.

Di luar, angin bertiup kencang, membuat dedaunan berdesir nyaring. Di kejauhan terdengar lolongan anjing hutan. Hati Almira berdegup kencang, firasat buruk menghantuinya.

Sementara itu, jauh di desa, Rangga Prakoso duduk di kursi besar rumahnya, ditemani para pengawal. Wajahnya muram.

"Orang itu belum mati," katanya pelan, penuh amarah. "Cari dia. Kalau perlu, geledah hutan. Aku tidak ingin dia sampai ke tangan orang lain."

Dan tanpa Almira tahu, lelaki berdarah yang kini ia rawat adalah kunci dari misteri masa lalunya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dipaksa Memberi Keturunan
8.1
Demi melunasi utang pengobatan ayahnya, Risa terpaksa menikahi Dhimas. Namun, suaminya itu menyimpan rahasia kelam dengan kepribadian ganda yang drastis di luar pengawasan ibunya. Risa pun terkejut saat mengetahui adanya wanita lain dalam hidup Dhimas. Di tengah tekanan mertua yang menuntutnya segera memberikan keturunan, Risa terjebak dalam pusaran konflik dan misteri. Mampukah ia bertahan dan mencari kebahagiaan di tengah pengkhianatan serta tuntutan keluarga ini?
Sampul Novel Cinta Yang Tak Pernah Sampai Di Pelaminan
8.3
Lima tahun berpacaran tidak menjamin kebahagiaan bagi protagonis wanita setelah kekasihnya, seorang pengacara, membatalkan pernikahan mereka hingga 52 kali demi membantu seorang gadis magang. Mulai dari insiden salah formulir hingga konflik di tempat kerja, sang kekasih selalu memprioritaskan gadis tersebut dan meninggalkan pasangannya menanggung malu. Lelah terus diabaikan, ia akhirnya menyerah, memilih putus, dan pergi meninggalkan Kota Alia. Keputusan hengkang ini seketika membuat mantan kekasihnya menyesal dan mencarinya dengan histeris ke mana-mana.
Sampul Novel Doa Istri Pertama
8.2
Kehidupan Annisa berubah drastis sejak Hamza memutuskan untuk berpoligami dengan menikahi Aina. Alih-alih membenci madunya, Annisa justru memanjatkan doa unik yang menargetkan dirinya sendiri. Ia memohon agar setiap kepedihan dan luka batin yang ia rasakan akibat pengkhianatan suaminya dikonversi menjadi tumpukan dosa bagi Hamza. Ini adalah kisah tentang perjuangan batin seorang istri pertama yang melawan kedzaliman lewat kekuatan doa dan air mata.
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.
Sampul Novel Kehebatan Ayah Mertua ku
9.6
Kehidupan pernikahan dalam novel modern Kehebatan Ayah Mertua ku berubah drastis setelah sang suami mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan fatal. Di tengah kesunyian malam, sang istri sering menangis meratapi nasib dan kesepiannya. Didorong rasa iba, ayah mertuanya nekat mendekati ranjangnya di tengah malam. Ia menawarkan bantuan fisik untuk menggantikan mainan intim menantunya, lalu melangkahi batas hubungan keluarga dengan tindakan yang sangat berani dan kasar.
Sampul Novel Melepas Masa Lalu
8.9
Hubungan Lisa Garta hancur setelah ia menagih utang dari Kelly, keponakan tunangannya. Sang tunangan justru menyodorkan buku catatan pengeluaran selama lima tahun mereka menjalin kasih. Mulai dari es krim murah, tas mewah, hingga biaya hotel dan pengaman, semuanya tertulis rinci. Lisa dituntut membayar setengah biaya hotel, dan setelah dipotong piutang Kelly sebesar 200 juta, ia diwajibkan melunasi sisa utang fantastis senilai 4,16 miliar rupiah dalam waktu satu bulan saja.