Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pahitnya Pengkhianatan

Pahitnya Pengkhianatan

Fina, penata rias berbakat yang hidup mandiri sejak remaja, mendadak diminta Ibu Valeria menikahi cucunya. Meski sempat ragu, Fina akhirnya setuju. Ternyata calon suaminya adalah Radion, pria tampan yang menutup hati akibat trauma masa lalu. Radion menerima Fina sebagai kandidat ke-25 hanya demi memenuhi tuntutan usia dan keinginan sang nenek. Tanpa landasan cinta, mampukah pernikahan formal ini berubah menjadi ikatan sejati bagi dua jiwa yang sama-sama terluka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiga hari setelah pemotretan prewedding, rumah besar keluarga Ardhya terasa lebih sunyi dari biasanya. Seolah seluruh dindingnya menyimpan rahasia yang terlalu berat untuk diucapkan. Fina bangun lebih pagi, seperti biasa, tapi kali ini bukan karena jadwal kerja atau tekanan dari Ibu Valeria. Ia hanya tidak bisa tidur.

Mimpi buruk menghantuinya semalaman-tentang dirinya berdiri sendirian di altar pernikahan, sementara semua orang menatap dengan wajah kecewa. Ia berkeringat ketika terbangun, lalu duduk diam di tepi tempat tidur, menatap cincin pertunangan di jarinya.

Sederhana, tapi berat.

Ia berjalan ke dapur, membuat secangkir teh chamomile. Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Suara itu ia kenali-langkah yang tenang, mantap, tapi tidak terburu-buru.

"Pagi," sapa suara bariton itu.

Radion muncul di ambang pintu, mengenakan kaus putih polos dan celana olahraga. Rambutnya sedikit berantakan, tapi entah kenapa, justru di saat paling sederhana seperti ini, ia terlihat lebih manusiawi.

"Pagi," jawab Fina pelan.

"Kau tidak tidur?"

"Tidak banyak."

Radion mengangguk, lalu mengambil cangkir dan menuang kopi hitam untuk dirinya sendiri. Tidak ada percakapan selama beberapa menit berikutnya. Hanya suara sendok yang beradu dengan cangkir dan hembusan angin pagi yang masuk melalui jendela.

Hening yang anehnya terasa nyaman.

Setelah beberapa waktu, Fina memberanikan diri membuka suara. "Rai... boleh aku tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Kenapa kau... mau menerima perjodohan ini?"

Radion berhenti mengaduk kopinya. Matanya terarah ke cairan hitam itu, seolah di sana ada jawaban yang sulit diungkapkan. "Karena aku lelah," katanya pelan. "Lelah ditanya kapan menikah, lelah melihat nenek kecewa setiap kali aku menolak, lelah dengan ekspektasi orang."

Fina menatapnya, lalu berkata, "Tapi itu alasan untuk menyerah, bukan untuk memulai sesuatu."

Kalimat itu membuat Radion menatapnya balik. Ada sedikit kejutan di wajahnya, tapi juga rasa kagum yang samar. "Kau berani juga berbicara seperti itu padaku."

"Aku hanya jujur," jawab Fina, mengangkat bahu. "Aku tidak ingin jadi pelarian seseorang dari rasa lelah. Aku ingin... kalau kita menikah, setidaknya ada alasan yang lebih bermakna dari sekadar tuntutan keluarga."

Radion diam lama. "Kau benar," ucapnya akhirnya. "Tapi mungkin... aku belum tahu alasan itu sekarang. Aku hanya tahu, entah kenapa, aku tidak menyesal menerimamu."

Kata-kata itu menimbulkan keheningan baru di antara mereka. Bukan keheningan yang dingin seperti dulu, melainkan keheningan yang membuat dada Fina terasa sesak dengan perasaan yang belum bisa ia namai.

Hari itu, Fina memutuskan kembali bekerja. Ia mendapat tawaran untuk menjadi makeup artist tamu di salah satu studio pemotretan milik temannya. Walau Ibu Valeria sempat menegur karena khawatir Fina terlalu sibuk menjelang pernikahan, Fina bersikeras tetap bekerja.

"Kalau aku berhenti sekarang, aku akan kehilangan diriku sendiri, Bu," katanya waktu itu.

Dan benar, begitu tangannya kembali memegang kuas, Fina merasa seperti pulang. Di depan cermin, wajah-wajah model menjadi kanvas untuk seninya. Tidak ada gosip, tidak ada tekanan keluarga-hanya warna, cahaya, dan detail yang harus disempurnakan.

Tapi saat istirahat siang, ketika Fina mengambil air di pantry studio, ia mendengar suara yang membuat langkahnya berhenti.

"Eh, kau tahu, kan? Radion Ardhya itu dulu hampir menikah."

"Aku dengar calon istrinya kecelakaan sebelum hari H."

"Kasihan sih... tapi katanya setelah itu dia berubah total. Jadi dingin dan tertutup."

Fina berdiri di balik dinding, tubuhnya menegang. Kata "kecelakaan" terngiang di telinganya. Jadi itu alasannya.

Ia meneguk ludah, menahan napas, lalu perlahan mundur. Tidak ingin mendengar lebih jauh, tapi bayangan wajah Radion tadi pagi terus muncul di pikirannya. Tatapan kosongnya ketika bicara tentang "kelelahan"-mungkin ada sesuatu yang jauh lebih dalam di balik kata itu.

Malamnya, hujan turun lagi. Petir sesekali menyambar, membuat langit bergetar. Fina berdiri di balkon kamarnya, menatap kilatan cahaya di kejauhan. Pikirannya tak bisa lepas dari obrolan siang tadi.

Ia ingin bertanya langsung pada Radion, tapi bagaimana? Mereka bahkan belum benar-benar dekat.

Tiba-tiba, suara pintu balkon di sebelah terbuka. Rupanya balkon kamarnya dan balkon kamar Radion hanya dipisahkan oleh dinding batu setinggi pinggang.

"Tidak bisa tidur lagi?" suara Radion terdengar dari sisi lain.

Fina tersenyum kecil. "Kau juga?"

"Petirnya terlalu keras."

Mereka berbicara tanpa saling melihat. Hanya dua siluet di bawah hujan, dipisahkan oleh dinding, disatukan oleh malam.

"Rai," panggil Fina hati-hati. "Boleh aku tanya sesuatu lagi?"

"Tanya saja."

"Orang bilang... kau pernah hampir menikah."

Hening sesaat. Hanya suara hujan yang menjawab.

Lalu suara Radion pelan, seperti bisikan. "Iya. Namanya Alisya."

Fina menunduk, jemarinya meremas pagar balkon. "Maaf kalau aku terlalu jauh..."

"Tidak apa."

Suara itu terdengar serak, tapi tidak marah.

"Dia meninggal dua minggu sebelum pernikahan kami," lanjutnya. "Kecelakaan mobil. Aku seharusnya ikut malam itu, tapi aku batal karena rapat mendadak. Aku pikir aku menyelamatkan waktu... ternyata aku kehilangan segalanya."

Fina menahan napas. Hujan yang jatuh di wajahnya terasa seperti air mata yang tidak sempat ia keluarkan.

"Aku tidak pernah bicara tentang itu ke siapa pun," kata Radion lagi. "Bahkan ke nenek. Aku kira kalau aku diam, rasa sakitnya akan hilang. Tapi nyatanya, diam hanya membuatku tenggelam lebih dalam."

Fina memejamkan mata. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menghapus rasa bersalah seperti itu.

"Aku mengerti," ucapnya akhirnya, lembut. "Aku kehilangan ibuku saat SMA. Tidak sama, aku tahu. Tapi aku paham bagaimana rasanya bangun setiap hari dan menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa kita ubah."

Di sisi lain dinding, Fina mendengar napas Radion tertahan. "Kau... benar-benar mengerti."

"Mungkin karena kita sama-sama rusak," jawab Fina setengah bercanda, tapi suaranya parau.

"Tapi rusak bukan berarti tidak bisa diperbaiki," balas Radion, kali ini dengan nada lebih hangat.

Fina menoleh. Di sisi lain, Radion menatapnya dari balik hujan, senyum tipis terukir di bibirnya.

Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak menyakitkan untuk dilihat.

Beberapa hari kemudian, keluarga Ardhya mengadakan acara makan malam dengan media untuk mengumumkan tanggal pernikahan resmi mereka. Restoran mewah di pusat kota didekorasi elegan dengan bunga putih dan lilin kristal.

Fina datang mengenakan gaun hitam sederhana, rambutnya disanggul setengah, riasannya natural tapi menonjolkan sorot matanya yang lembut. Semua orang menatapnya, kali ini bukan dengan sinis, tapi dengan rasa ingin tahu.

Radion, di sisi lain, tampak menawan dalam setelan biru tua. Ia menuntun Fina masuk ke ruangan dengan tenang, seperti pria yang tahu apa yang ia lakukan.

Flash kamera menyambar. Wartawan bertanya tentang cinta, tentang rencana, tentang kebahagiaan. Dan untuk pertama kalinya, Fina bisa menjawab tanpa ragu.

"Hubungan kami mungkin dimulai dengan perjodohan, tapi saya percaya cinta bisa tumbuh kalau dua orang mau saling menghormati."

Kalimat itu membuat suasana hening sejenak sebelum tepuk tangan kecil terdengar dari meja tamu. Ibu Valeria menatapnya dengan bangga, sementara Radion menoleh ke arahnya, menatap dalam diam.

"Bagus sekali kau menjawab itu," bisiknya pelan setelah sesi wawancara usai.

Fina tersenyum. "Aku belajar dari seseorang yang dulu takut bicara tentang masa lalunya."

Radion menatapnya lama, lalu menghela napas kecil. "Kau membuatku ingin memulai semuanya dari awal."

Malam semakin larut. Setelah acara selesai, mereka pulang ke rumah bersama. Di dalam mobil, suasana tidak lagi kaku. Musik lembut dari radio mengisi ruang, dan Fina bisa merasakan udara di antara mereka lebih ringan.

"Fina," kata Radion tiba-tiba. "Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk tidak menyerah padaku."

Fina tertawa kecil. "Aku belum sempat menyerah. Kita bahkan belum mulai."

Radion ikut tersenyum. "Kalau begitu, bisakah kita mulai sekarang?"

Fina menoleh, menatapnya. Tidak ada canda dalam nada suaranya. Hanya ketulusan yang perlahan menggantikan dingin yang dulu membalut setiap kata.

Ia mengangguk pelan. "Kita mulai dari nol, Rai."

Mobil berhenti di depan rumah. Hujan sudah reda. Bau tanah basah bercampur dengan udara malam yang segar.

Radion membuka pintu, lalu menunggu Fina keluar. Saat ia menutup pintu di belakangnya, Radion berkata pelan, "Kau tahu, sejak malam hujan itu di balkon... aku berhenti merasa sendirian."

Fina menatapnya, senyum tipis di bibirnya. "Dan aku berhenti merasa tidak cukup."

Mereka tidak berpelukan, tidak bergandengan tangan. Tapi langkah mereka masuk ke rumah malam itu terasa seperti dua jalan yang akhirnya bersinggungan setelah berbelok terlalu jauh.

Untuk pertama kalinya, rumah besar itu tidak terasa asing lagi. Lampunya hangat. Udara di dalamnya tidak lagi dingin.

Dan di hati Fina, ada bisikan lembut yang berkata bahwa mungkin, hanya mungkin, cinta benar-benar bisa tumbuh bahkan dari awal yang tidak sempurna.

Hujan turun deras sore itu. Butiran air memantul di kaca besar apartemen mewah milik Rai, membentuk irama yang anehnya menenangkan. Serafina duduk di lantai ruang tamu, bersandar di sofa sambil menatap jendela. Di depannya, secangkir cokelat panas yang sudah dingin dan buku catatan terbuka-namun pikirannya entah melayang ke mana.

Sudah seminggu sejak pernikahan mereka. Namun suasana di apartemen itu lebih mirip seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi atap. Tidak ada pertengkaran, tidak ada juga kehangatan. Semua berjalan datar-dingin, seperti warna dinding putih abu-abu yang mendominasi ruangan.

Rai hampir selalu pulang larut. Kadang tengah malam, kadang menjelang pagi. Alasannya selalu sama: pekerjaan. Dan Fina tidak pernah berani bertanya lebih. Ia tidak ingin terlihat seperti istri posesif yang menginterogasi suami, padahal ia sendiri bahkan belum tahu apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap pria itu.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Ibu Valeria muncul di layar.

"Besok pagi ada pemotretan khusus untuk majalah Harper Mode. Rai juga akan hadir untuk wawancara singkat. Pastikan kamu ikut dan bantu tim makeup, ya."

Fina menarik napas pelan. Wajahnya menegang sejenak. "Rai juga akan hadir?" gumamnya.

Ini akan jadi pertama kalinya mereka terlihat bersama di depan publik setelah pernikahan. Bukan sebagai klien dan makeup artist, tapi sebagai pasangan sah.

Fina tahu dunia mode tidak pernah benar-benar memberi ruang untuk privasi. Sekali berita pernikahan mereka bocor, semua orang akan menguliti alasan di baliknya.

Ia menutup buku catatannya, berdiri, dan berjalan menuju kamar. Apartemen itu sepi sekali. Lampu-lampu gantung menyala lembut, menciptakan bayangan di dinding. Ia melangkah perlahan, membuka pintu kamar-kamar mereka. Tapi tempat tidur besar itu hanya berantakan di satu sisi. Sisi Rai.

Di sisi lainnya, bantal dan selimut Fina masih rapi.

Ia sudah terbiasa tidur di sofa.

Keesokan paginya, Fina datang lebih awal ke studio pemotretan. Ia sibuk menata alat-alat makeup, memeriksa pencahayaan, dan menyiapkan foundation yang cocok dengan warna kulit model utama. Ia berusaha sibuk agar pikirannya tidak berkelana pada satu sosok tertentu.

Namun takdir seperti ingin menggodanya. Ketika pintu studio terbuka, suara langkah berat bergema di lantai marmer.

"Pagi."

Nada suaranya dalam, datar, khas Radion Ardhya.

Fina terhenti, menatap pantulan Rai lewat cermin. Ia mengenakan setelan abu gelap yang membuatnya terlihat berwibawa, namun wajahnya dingin tanpa ekspresi.

"Pagi," jawab Fina pelan, cepat menunduk lagi.

Rai berjalan mendekat, berhenti di belakangnya. Ia menatap meja rias penuh alat kosmetik itu sejenak, lalu menatap refleksi mereka berdua di cermin. "Kamu tidur di rumah?"

Fina membeku. "Iya. Kenapa?"

"Karena aku pulang jam dua pagi, tapi nggak lihat kamu di kamar."

"...Aku tidur di sofa," jawabnya lirih, tangannya gemetar ringan saat mengaduk kuas di wadah air.

Rai tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan berbalik pergi, meninggalkannya dengan perasaan campur aduk yang sulit diartikan. Dingin. Tapi ada sesuatu dalam tatapan matanya tadi yang tidak bisa Fina abaikan-seolah ia ingin bicara tapi menahan diri.

Pemotretan dimulai pukul sepuluh. Model-model cantik berbaris dengan busana dari koleksi terbaru Ibu Valeria. Lampu sorot menyala terang, kamera memotret cepat, dan semua orang tampak sibuk. Fina fokus pada pekerjaannya, memastikan setiap detail riasan sempurna.

Namun sesekali, matanya menangkap sosok Rai yang berdiri di sisi ruangan, berbicara dengan pewawancara majalah. Ia tampak tenang, karismatik, dan profesional. Seolah bukan pria yang setiap malam menatap langit-langit kamar tanpa bicara sepatah kata pun.

Saat sesi foto berakhir, wartawan mulai bergerak ke arah mereka.

Salah satu reporter mendekat, tersenyum ramah pada Fina.

"Permisi, Bu Serafina? Boleh foto berdua dengan suaminya sebentar untuk artikel keluarga Ibu Valeria?"

Fina membeku. Ia menatap Rai yang juga menoleh padanya. Tatapan mereka bertemu-canggung, kaku, tapi tidak bisa dihindari.

Rai melangkah ke sampingnya.

Dengan satu gerakan ringan, ia merangkul bahu Fina.

Cahaya kamera menyala. Klik. Klik. Klik.

Sorot lampu memantul di wajah mereka yang tampak sempurna di luar, tapi berjarak di dalam.

"Sedikit lebih dekat, Pak Rai," pinta fotografer.

Rai menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Fina saat berbisik, "Kita harus kelihatan bahagia, kan?"

Nada suaranya datar tapi menusuk.

Fina tersenyum-senyum yang terasa seperti topeng. "Tentu. Ini bagian dari naskah hidup kita."

Klik. Klik. Foto terakhir diambil.

Begitu sesi berakhir, Fina langsung menjauh. Jantungnya berdegup cepat tanpa alasan.

Ia tidak menyangka hanya sekadar pelukan pura-pura bisa membuat tubuhnya begitu kaku.

Rai memandanginya sejenak sebelum berkata pelan, "Kamu kelihatan gugup."

"Aku cuma nggak suka difoto."

"Kamu makeup artist. Kamu setiap hari berhadapan dengan kamera."

"Beda," jawab Fina cepat, lalu berbalik sambil membereskan alatnya.

"Kalau di depan kamera, aku bukan aku."

Rai terdiam lama mendengar kalimat itu. Ada sesuatu di balik suara Fina yang membuatnya berpikir: mungkin mereka berdua sama-dua orang yang bersembunyi di balik peran masing-masing.

Sore menjelang ketika mereka akhirnya pulang bersama. Hujan sudah berhenti, langit berwarna jingga keemasan. Dalam mobil, hanya suara mesin yang terdengar. Fina duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela, sementara Rai fokus menyetir tanpa banyak bicara.

Namun di tengah jalan, tiba-tiba Rai menepi.

Ia mematikan mesin, lalu berkata tanpa menatap Fina, "Turun sebentar."

"Hah? Kenapa?"

"Udara sore bagus. Kita jalan sebentar."

Fina memandangnya ragu. Tapi kemudian, entah karena lelah menolak, ia membuka pintu dan keluar. Mereka berdiri di trotoar tepi taman kecil, pepohonan meneteskan sisa hujan. Suasana senja itu terasa aneh-damai tapi juga rapuh.

Rai memasukkan tangannya ke saku. "Aku tahu kamu nggak nyaman dengan situasi ini."

Fina menoleh cepat. "Situasi apa?"

"Pernikahan ini."

Kalimat itu meluncur tenang tapi berat.

Fina terdiam.

"Aku juga nggak tahu kenapa setuju waktu Oma menawarkannya," lanjut Rai, suaranya pelan. "Mungkin karena aku capek menolak. Atau mungkin karena aku pikir, menikah dengan seseorang yang tidak menuntut apa-apa justru lebih aman."

Fina menggigit bibir bawahnya. "Aku juga nggak tahu kenapa aku mau. Mungkin karena aku terbiasa kehilangan, jadi ketika seseorang menawarkan tempat untuk kembali... aku nggak punya alasan menolak."

Kata-kata itu menggantung di udara, lembut tapi menyesakkan.

Rai menatapnya lama. "Kamu nggak harus merasa terikat. Kalau nanti kamu ingin pergi, aku-"

"Jangan bicara seolah kamu ingin aku pergi," potong Fina pelan tapi tajam.

Ia menatap Rai lurus-lurus. "Kalau kamu memang nggak mau aku di sini, kenapa nggak bilang sejak awal?"

Rai tidak menjawab. Matanya menatap tanah, hujan kecil kembali turun membasahi rambut mereka.

"Kadang," Fina melanjutkan, suaranya bergetar, "orang yang paling ingin kita jauhi justru orang yang paling kita butuhkan untuk menyembuhkan bagian diri yang rusak."

Ia berbalik, berjalan kembali ke mobil tanpa menunggu jawaban.

Malam itu, apartemen terasa berbeda. Fina baru keluar dari kamar mandi ketika mendengar suara dentingan dari dapur. Ia berjalan pelan dan mendapati Rai sedang berdiri di sana, menggulung lengan kemejanya, menata dua mangkuk ramen instan di meja.

"Aku nggak bisa tidur," katanya tanpa menoleh. "Kupikir, masak sesuatu bisa bantu."

Fina berdiri di ambang pintu, setengah tak percaya. "Kamu... masak?"

"Kalau masak mie instan bisa disebut masak, ya."

Nada sarkastiknya berhasil membuat Fina tersenyum tipis. Ia mendekat, duduk di kursi bar. Uap panas dari mie naik, aroma gurihnya memenuhi dapur.

Rai mendorong satu mangkuk ke arahnya. "Makanlah sebelum dingin."

Fina menatapnya, lalu mengangkat sumpit. "Kamu tahu, ini pertama kalinya seseorang masak untukku sejak Mama meninggal."

Rai berhenti makan, pandangannya berubah lembut sejenak. "Serius?"

Fina mengangguk. "Aku biasanya makan sendirian. Dulu, di kosan, aku cuma makan roti atau sisa bekal kerja."

Rai menatapnya lama, lalu menunduk lagi. "Berarti aku sudah melakukan satu hal benar hari ini."

Keheningan itu tidak lagi terasa menekan. Untuk pertama kalinya, mereka makan tanpa kata, tapi juga tanpa jarak.

Setelah makan, Fina membereskan mangkuk, tapi Rai menahannya.

"Biar aku."

"Biasanya cowok nggak suka cuci piring."

"Aku bukan cowok biasanya," jawabnya pendek, membuat Fina terkekeh kecil.

Ia bersandar di meja, memperhatikan Rai mencuci piring. Cahaya lampu dapur menyorot wajahnya yang terlihat jauh lebih santai dari biasanya.

"Rai," panggil Fina pelan.

"Hm?"

"Kalau suatu hari kamu jatuh cinta lagi, apa kamu akan bilang padaku?"

Rai berhenti menggosok piring, bahunya menegang. Ia tidak menatap Fina. "Kenapa kamu tanya begitu?"

"Karena aku ingin tahu apakah aku harus siap untuk ditinggalkan."

Rai menatap air mengalir di wastafel. "Aku nggak janji bisa mencintai kamu sekarang," katanya akhirnya. "Tapi aku janji, kalau aku pergi, aku akan bilang jujur."

Fina tersenyum kecil, pahit tapi tulus. "Itu lebih dari cukup."

Malam itu mereka kembali ke kamar masing-masing-namun untuk pertama kalinya, keduanya tidur dengan perasaan yang tidak lagi kosong.

Di luar, hujan reda.

Langit malam menggantung tenang, dan di antara kesunyian itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh-pelan, ragu, tapi nyata.

Sebuah benih kecil bernama rasa percaya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Kecantikan luar biasa dan bentuk tubuh ideal ternyata menjadi kutukan bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Meski masing-masing telah membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan mereka justru penuh cobaan berat. Pesona fisik yang mereka miliki malah memicu berbagai konflik rumit yang mengancam keharmonisan keluarga. Mampukah kakak beradik ini bertahan menghadapi badai masalah yang terus datang menghampiri kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel DUA HATI YANG TERPISAH
9.7
Kehidupan Maya terasa sunyi dan tanpa makna sejak kepergian Rama yang dicintainya. Namun, sebuah peristiwa tak terduga mendadak mengubah segalanya. Secara mengejutkan, Maya dipertemukan dengan sosok pria yang sangat mirip dengan mendiang kekasihnya. Tidak hanya rupa yang serupa, pria tersebut juga memiliki sifat dan kepribadian yang hampir identik dengan Rama. Kehadiran sosok ini membawa gejolak baru dalam hati Maya yang selama ini dirundung kesedihan.
Sampul Novel Hasrat Tak Henti-Hentinya Sang Taipan Manipulatif
8.1
Demi menyelamatkan bisnis ayahnya, Irene terpaksa menjalin hubungan dengan pengusaha perkasa bernama Braydon. Di balik sosoknya yang tangguh, Braydon menyimpan gejolak emosi yang hanya diperlihatkan pada Irene. Meski terjebak dalam manipulasi sang taipan, Irene justru jatuh hati sebelum akhirnya hancur saat mengetahui pertunangan Braydon. Ia pun pergi dan bertemu musuh bebuyutan Braydon, Dr. Mitchell, memicu persaingan sengit dua pria demi memenangkan hatinya.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Jebakan Ibu Susu Bayiku
8.6
Demi biaya pengobatan ibunya, Elara terpaksa menjadi ibu susu bagi anak Viktor Laxmere, miliarder penuh misteri. Pekerjaan yang semula dianggap penyelamat justru menjerumuskannya ke dalam pusaran manipulasi dan intrik gelap. Di tengah kekuasaan Viktor yang absolut, Elara terjebak dalam dilema antara benci dan perasaan yang mulai tumbuh. Kini ia harus mengungkap rahasia besar di balik tawaran tersebut sebelum dirinya hancur sebagai pion dalam permainan berbahaya Viktor.
Sampul Novel Kosan Satu Nusa
9.7
Kosan Satu Nusa mungkin terlihat seperti hunian sederhana bagi para mahasiswa yang merantau dari berbagai daerah. Namun, di balik dinding bangunan biasa ini, tersimpan beragam memori mendalam yang telah terukir sepanjang waktu. Setiap sudut ruangan menjadi saksi bisu perjalanan hidup para penghuninya yang penuh dinamika. Novel ini merajut kisah-kisah bermakna tentang persahabatan dan pengalaman masa muda yang tak terlupakan di tanah perantauan.