Sampul Novel Benang yang Tak akan Pernah Putus

Benang yang Tak akan Pernah Putus

9.2 / 10.0
Dalam novel modern Benang yang Tak akan Pernah Putus, Kaiyo Wrasasana berambisi memutus hubungan dengan ibunya. Meski mencoba segala cara, upaya ini justru melukainya lebih dalam. Simak pergulatan hidupnya di web novel young adult fiction romance books yang penuh pilihan sulit ini.
Ringkasan Benang yang Tak akan Pernah Putus
Kaiyo Wrasasana terus berjuang melenyapkan sosok ibu yang seharusnya dicintai dari kehidupannya. Ia bertekad memutus segala ikatan yang menghubungkan mereka, meski harus menggunakan cara yang paling menyakitkan sekalipun. Namun, sekeras apa pun Yoyo mencoba, benang takdir di antara mereka tetap tak tergoyahkan. Tanpa disadari, upaya kerasnya untuk lepas justru melukai sang ibu dan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam bagi dirinya sendiri.
Baca Selengkapnya

Benang yang Tak akan Pernah Putus Bab 1

"Yo! Udah makan siang?" tanya seseorang dari seberang telepon.

Yoyo nampak antusias, "Udah! Tadi aku beli mie instan!" sahutnya.

Terdengar helaan napas dari seberang sana, "Kenapa makan mie lagi? Tadi Bapak kan udah kirimin makan sehat."

Yoyo terkekeh, Ia tahu Bapaknya pasti akan mengomel karena Ia terlalu sering makan mie instan.

"Bosen makan sehat terus! Kalo sakit aku kan periksa gratis ke Bapak!" sahut Yoyo terkekeh membuat seseorang diseberang telepon menghela napas.

"Hus..! Ngggak boleh ngomong begitu, banyak orang yang sakit tapi pengen sembuh loh. Kamu malah nggampangin sakit," kata Bapak Yoyo dari seberang sana membuat Yoyo terkekeh lagi.

"Jadi tadi makan sehat aku tumplek gara-gara aku bawa lari-larian ngejar Mantara!" kata Yoyo menjelaskan kejadian tadi pagi.

"Ya udah! Nanti sore Bapak kirimin lagi! Harus Kamu makan pokoknya!"

"Siap, Pak!"

Usai bertelepon ria dengan sang Bapak, Yoyo kini menghela napas. Bukankah Bapaknya sudah seperti Ibunya? Lantas untuk apa Ia butuh seorang Ibu? Bapaknya saja sudah bisa jadi dua orang sekaligus dalam hidupnya, Bapak bisa jadi Ayah untuknya, dan terkadang bisa jadi Ibu juga untuknya. Jadi, Yoyo rasa Ia tidak perlu sosok perempuan yang di sebut Ibu. Bapaknya saja itu sudah lebih dari cukup.

Memangnya kenapa kalau Ia tidak punya Ibu? Toh Ia masih bisa hidup tanpa perempuan itu, lagipun selama ini Yoyo jadi anak baik meskipun tanpa Ibu. Ya beberapa orang bilang kalau seorang anak akan jadi anak yang lebih baik jika di urus seorang Ibu, tapi itu semua hanya kebohongan menurut Yoyo. Lelaki itu baik-baik saja, lelaki itu tidak mendadak jadi begundal hanya karena di besarkan dan di rawat oleh seorang Bapak bukan seorang Ibu.

"Nggak semua Ibu itu sama! Ada Ibu yang emang nggak cocok kalo harus ngerawat anaknya, dan itu adalah Ibu gue sendiri!" monolog Yoyo sembari menatap langit yang siang ini agak mendung.

Yoyo masih berdiri di depan mesin cuci yang sedari tadi terus memutar-mutarkan pakaian, tentu saja itu artinya mesin cuci berfungsi dengan baik. Lain jika manusia yang omongannya berputar-putar, di mana artinya manusia itu tengah menyimpan sebuah rahasia, dan orang lain tak boleh mengetahuinya. Dan mungkin hal ini sangat pas dengan Yoyo, yang tak ingin orang lain tahu masalahnya dengan sang Ibu.

***

Yoyo paling dekat dengan Mantara, sebab sejak SD mereka sudah satu sekolah dan teman sepermainan sejak kecil, bahkan rumah mereka juga cukup dekat meski lain komplek, di mana Mantara komplek C, sementara Yoyo komplek B.

Rumah keduanya bisa disebut di daerah perumahan elite, tentu saja biaya pajaknya saja mahal meski tidak selangit mahalnya.

"Ada masalah, Yo?" tanya Mantara yang kini menepuk bahu Yoyo, membuat lelaki itu berjingkit terkejut.

"Dih kaget! Berarti ada masalah!" kata Mantara menyimpulkan sendiri, seolah sudah hapal betul kelakuan teman sekaligus tetangganya.

Yoyo nampak menghela napas, sedang tak berminat bercerita terlebih jika menyangkut Ibunya.

"Benerkan? Ah udah jelas ada masalah! Ada apa sih, Yo sebenernya? Cerita aja siapa tau gue bisa bantu," todong Mantara agar Yoyo mau setidaknya membuka mulut, dan bercerita tentang masalahnya.

Sayangnya Yoyo bukan tipe manusia, yang dengan mudahnya menceritakan masalah pribadinya pada orang lain, meski yang di maksud orang lain adalah sahabatnya sendiri.

Yoyo sekali lagi hanya menatap Mantara, yang kini juga menatapnya. Yoyo sering kali tidak merasa yakin kepada siapapun ketika hendak menceritakan masalah hidupnya, bagi Yoyo tempat terbaik dan tersempurna untuk bercerita adalah Tuhan, sebab bagi Yoyo manusia tidak ada yang bisa benar-benar menjaga rahasia yang tengah di simpannya. Dari pada ada yang tahu Yoyo memilih diam, dan menutup seluruh kehidupan pribadinya dari dunia. Dan memutuskan untuk bercerita pada Tuhan saja, seperti yang selalu di ajarkan sang Bapak.

Karena Bapak tidak pernah bisa denger ceritamu, ceritakan semua hal paling menyenangkan ataupun menyedihkan sekaligus menjengkelkan pada Tuhan. Tuhan sudah pasti menjamin kerahasiaan hamba-Nya, bahkan Tuhan akan menyimpan rapat-rapat aib seorang hamba. Maka dari pada Kamu repot-repot menceritakannya pada orang, dengan hati yang tidak tenang karena takut orang itu membongkar rahasiamu. Lebih baik ceritakan pada Tuhan, Tuhan tidak pernah menolak siapapun yang datang pada-Nya.

Dan Yoyo seketika kembali tersadar dari lamunannya, benar juga. Mungkin akan lebih baik Mantara tidak perlu tahu, dan intinya tidak boleh ada yang tahu. Karena Yoyo benci jika harus menjelaskan ataupun menceritakannya.

"Ada lah beberapa!" kata Yoyo berusaha tersenyum.

"Yodah deh kagak apa-apa! Gue mau masuk dulu, lo kapan dah kelar nyucinya?" tanya Mantara akhirnya memilih mengalihkan topik.

"Bentar lagi! Kenapa?" tanya Yoyo menatap Mantara.

"Mo nyucilah lo pikir gue kesini mo ngapain, bambang!" saut Mantara membuat Yoyo nyengir.

"Yodah sono masuk! Ntar gue panggil dah kalo udah kelar!" kata Yoyo membuat Mantara mengacungkan jempolnya, dan memilih masuk ke gedung asrama. Meninggalkan Yoyo yang termangu masih menatap mesin cuci.

***

Taman kota

19.23

Yoyo menatap sekelilingnya yang ramai malam ini, dan Yoyo sendirian. Jujur saja Yoyo memang suka berjalan-jalan malam, menikmati angin malam sembari melihat-lihat keramaian taman kota, yang dipenuhi orang berdagang, pasangan-pasangan tengah membuncah asmaranya, dan lampu-lampu taman yang kerlap-kerlip adalah favorit Yoyo.

Yoyo memilih duduk di bangku taman, menatap sekeliling tanpa berniat menjadi bagian dari keramaian taman kota. Yoyo hanya suka mengamati, tanpa ingin jadi bagian hal yang tengah Ia amati. Banyak hal yang bisa dilakukan di taman kota, jika Yoyo lebih suka mengamati keramain, maka lain dengan orang yang berdiri jauh dari Yoyo. Orang itu lebih suka mengamati Yoyo, ketimbang suasana taman kota malam ini.

Yoyo yang sedari tadi menatap ke depan menoleh ke belakang, dan seketika raut wajahnya yang tadinya sumringah bahagia berubah, air muka Yoyo tiba-tiba saja menjadi keruh setelah melihat kebelakang.

Yoyo baru saja melihat perempuan paruhbaya, yang tadi siang pula menjadi sumber kegalauannya. Tentu saja sang Ibu, perempuan yang melahirkannya ke dunia. Entahlah Yoyo tidak tahu kenapa akhir-akhir ini perempuan itu sering kali hadir di hadapannya, menunjukkan seolah peduli padanya. Tapi Yoyo sudah terlalu lama di selimuti kabut kebencian, jadi bagi Yoyo semua yang dilakukan perempuan paruhbaya itu tak pernah bernilai sama sekali. Luka pada malam itu, saat Ia memohon dengan sangat pada perempuan paruhbaya itu masih Ia ingat dengan jelas. Dan sejak saat itu Yoyo mulai membiarkan kabut-kabut kebencian menyelimuti hatinya.

Yoyo tidak bisa bukan terus menghindari perempuan paruhbaya itu? Ya akhirnya Yoyo memilih menghampiri perempuan paruhbaya  itu, menatapnya lama membuat perempuan paruhbaya itu menyunggingkan senyum, lantaran merasa berhasil mendapat perhatian dari Putranya.

"Kaiyo!" panggil perempuan itu menyunggingkan senyum, yang sama persis dengan milik Yoyo.

Yoyo sadar senyumnya amat mirip dengan perempuan paruhbaya itu. Jika Bapaknya bukan orang sabar, dan baik hati. Mungkin lelaki itu tidak segan-segan akan memukuli Yoyo, kala Yoyo tersenyum. Sebab Yoyo tahu senyuman miliknya pasti akan selalu mengingatkan sang Bapak pada perempuan itu, perempuan yang melanggar janji sehidup semati dengan sang Bapak.

"Kenapa? Kenapa anda mengikuti Saya?" tanya Yoyo dengan nada dinginnya, tetapi tak meluruhkan senyum di wajah perempuan itu.

Perempuan paruhbaya itu merasa setidaknya Yoyo masih mau berbicara padanya, dan itu sudah lebih dari cukup.

"Maafin Mama, Yo!"

Yoyo terdiam, maaf? Memangnya maaf itu bisa membuat kabut-kabut kebencian di hatinya menghilang begitu saja? Memangnya maaf itu bisa menebas seluruh kebenciannya sampai akar? Memangnya maaf itu bisa mengembalikan luka masa lalunya? Dan memangnya maaf itu akan berdampak buatnya? Sungguh Yoyo tidak peduli, tapi sekali lagi Yoyo tidak bisa benar-benar tidak peduli.

Yoyo menarik napasnya sebelum berbicara, "Yoyo nggak perlu maaf dari Ibu! Yoyo cuman minta Ibu jangan muncul lagi di hadapan Yoyo! Yoyo baik-baik aja, Yoyo sehat dan tumbuh jadi lelaki yang baik seperti Bapak. Jadi, tolong jangan muncul lagi. Menghilang aja seperti dulu, menghilang seperti saat Ibu pergi ninggalin Bapak dan Yoyo! Menghilang dan pergi saat Ibu sudah tidak mau dipanggil Ibu seperti dulu, Yoyo memang benci sama Ibu tapi Yoyo nggak pernah bisa melukai Ibu. Dan Yoyo benci itu, kenapa Yoyo nggak bisa melukai Ibu? Kenapa? Kenapa setiap kali Yoyo mencoba benci Ibu, hati Yoyo makin sakit? Kenapa, Bu?" Yoyo mengeluarkan seluruh isi hatinya, air mata mulai berderai keluar dari matanya yang jernih itu.

Perempuan paruhbaya itu tersenyum, "Maafin, Ibu!" dan hanya maaf lagi yang terucap.

"Kalo Ibu cuman bisa minta maaf! Lantas Yoyo harus minta apa dari Ibu? Yoyo minta Ibu pergi tapi Ibu pasti nggak akan melakukan hal itu! Jika Ibu nggak mau pergi, maka Yoyo yang akan terus berusaha menyingkirkan Ibu dari hidup Yoyo. Yoyo akan putus seluruh benang, yang terhubung dengan Ibu!" kata Yoyo membuat perempuan di hadapannya menatapnya sendu, tiba-tiba saja buliran air mata mulai turun dari mata jernih yang bulu matanya lentik itu.

Yoyo tidak bisa melihat perempuan itu menangis, tapi Yoyo juga tidak bisa menenangkan perempuan paruhbaya itu karena egonya sebagai remaja juga lelaki.

"YOYO!" sebuah teriakan membuat Yoyo, dan perempuan paruhbaya di hadapan Yoyo menoleh ke sumber suara.

TBC.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Benang yang Tak akan Pernah Putus

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Ayo Bercerai!!
8.4
Adeline telah mencapai batas kesabarannya setelah terus-menerus dianggap remeh oleh Devon. Baginya, pria itu kini lebih buruk dari sampah yang tak bernilai. Ketegangan memuncak di ruang makan saat Devon mendengar hinaan Adeline secara langsung. Dengan amarah yang meluap, sang tuan muda mencengkeram dagu Adeline dan memberikan peringatan keras agar ia tidak mencoba bermain api. Namun, Adeline tidak lagi takut untuk melawan dominasi dingin suaminya tersebut.
Sampul Novel Hasrat Agak Laen
9.7
Temukan narasi romansa modern yang unik dalam novel ini. Karya ini menyajikan perpaduan menarik antara realitas dan fiksi, di mana lebih dari separuh alurnya diangkat dari kisah nyata. Meski beberapa bagian dimodifikasi dan ditambah unsur imajinatif sebagai variasi, esensi ceritanya tetap terasa autentik. Persiapkan diri Anda untuk rangkaian peristiwa yang mungkin sulit dipercaya namun benar-benar bisa terjadi. Segera buktikan sendiri keunikan kisahnya sekarang juga.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
8.1
Kemampuan melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap pembawa sial. Ketiga kakak laki-lakiku membenciku setelah kakek, ayah, dan ibu tewas dalam sehari sesuai ramalanku. Anehnya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa berkah. Di hari ulang tahunku yang kedelapan belas, cermin menunjukkan hitungan mundur ajalku sendiri. Usai membeli kotak abu, aku memasak hidangan terakhir untuk berkumpul bersama kakak-kakakku. Namun, hingga waktu itu habis, tak ada satu pun dari mereka yang datang menemui diriku.
Sampul Novel Jangan Main Api Denganku, Mas
8.5
Lima tahun membina rumah tangga, aku percaya Mas Bambang adalah sosok suami setia. Namun, topeng itu kini hancur setelah perselingkuhannya terbongkar. Meski dikhianati, aku tak akan gegabah. Biarlah ia terus bersandiwara dalam kebohongannya, sementara aku menyusun rencana rapi untuk merebut segalanya. Aku akan bermain cantik hingga ia jatuh miskin dan memohon ampun. Pengkhianatan ini akan kubalas dengan penyesalan terdalam yang takkan pernah ia lupakan.
Sampul Novel Suami Dan Mertua Tak Tahu Aku Banyak Uang
9.2
Amira kerap direndahkan mertuanya dan dibanding-bandingkan dengan Rista. Padahal, ia sosok mandiri yang sedang membangun kesuksesan finansial secara rahasia. Di sisi lain, Heri yang jenuh dengan kemiskinan justru berselingkuh dengan mantan kekasihnya, Tania. Amira sangat terpukul mengetahui pengkhianatan suaminya setelah semua pengorbanannya berdagang demi keluarga. Di tengah niat menggugat cerai, Amira mendapati dirinya hamil. Akankah ia bertahan atau memilih pergi?
Sampul Novel Sugar Daddy Dosenku
8.0
Nina adalah mahasiswi yang terjepit kesulitan finansial di kota metropolitan. Meski telah mendapat beasiswa, dana tersebut tidak memadai untuk biaya hidup dan gaya hidup yang ia dambakan. Desakan ekonomi serta keinginan memiliki barang mewah akhirnya menyeret Nina ke dunia gelap yang penuh rahasia. Ia terjerumus dalam realitas yang sebelumnya hanya dianggap rumor belaka, demi memenuhi kebutuhan serta ambisi pribadinya yang terus tumbuh.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan