Sampul Novel Pembalasan Dendam Istri TKI

Pembalasan Dendam Istri TKI

8.6 / 10.0
Dalam novel Pembalasan Dendam Istri TKI, Mutia pulang ke Indonesia dengan misi menuntut keadilan. Setelah putrinya dianiaya saat ia bekerja di luar negeri, ia menghadapi pengkhianatan suaminya melalui aksi penuh risiko. Simak kisah romance modern ini di webnovel kami sekarang.
Ringkasan Pembalasan Dendam Istri TKI
Mutia terpaksa memendam amarah saat bekerja di negeri orang, mengetahui suaminya berkhianat dengan menikah lagi. Penderitaannya kian memuncak ketika putri tercintanya menjadi korban penganiayaan di rumah. Sekembalinya ke tanah air, Mutia tidak lagi tinggal diam. Dengan tekad yang membara, ia merancang strategi untuk menuntut keadilan. Kini, saatnya bagi Mutia membalaskan semua rasa sakit dan pengkhianatan yang telah menghancurkan hidup keluarganya.
Baca Selengkapnya

Pembalasan Dendam Istri TKI Bab 1

“Dasar anak tidak berguna. Cuiih.” Teriak Saka untuk yang terakhir kalinya lalu masuk ke dalam rumah. Mutia hampir saja melepaskan ponsel dari genggaman karena tubuhnya yang terus bergetar. Mutia berjalan mendekati rumah mertuanya saat memastikan pintu telah tertutup rapat.

“Ibuuu. Sakit." RIntihan Tiara, anak Mutia, yang tengah meringkuk di depan pintu membuat Mutia berjalan dengan cepat. Ia menahan isak tangisnya saat melihat tubuh sang putri yang terlihat babak belur.

“Ibuuu.” Rintih Tiara lagi. Mutia menganggukan kepalanya dengan cepat saat Tiara menyentuh wajahnya.

“Iya. Ini Ibu sayang. Ayo kita pergi sekarang.” Dengan susah payah, Mutia menaikan Tiara ke punggungnya. Walaupun langkahnya tertatih, Mutia berusaha berjalan dengan cepat menuju taksi.

Sopir taksi langsung membukakan pintu belakang saat melihat Mutia sudah datang. Mutia lalu membaringkan tubuh Tiara. Ia masuk lewat pintu lain dan memangku kepala Tiara.

“Ibu, aku lagi nggak mimpi kan?” Mutia menggelengkan kepalanya. Isak tangisnya pecah sudah melihat keadaan sang putri.

“Nggak sayang. Ini benar-benar Ibu.” Mutia tergugu sambil membungkuk untuk memeluk Tiara. Ibu dan anak itu menangis bersama.

Setelah lima tahun berpisah karena Mutia pergi ke Jepang untuk menjadi TKI, akhirnya Mutia bisa bersua lagi dengan sang anak yang kini sudah menjadi gadis cantik. Walaupun penampilan Tiara tampak sangat kusam dengan bekas luka di sekujur tubuhnya.

“Saya bawa anaknya ke klinik saja ya Bu.”

“Iya Pak, hiks. Terima kasih. Nanti saya bayar double.”

“Iya sama-sama Bu.”

Mutia mengusap kepala Tiara yang kini sudah jatuh tertidur. Sejak lima belas bulan setelah Mutia menjadi TKW di Jepang, ia sudah tahu tentang kelakuan suaminya. Tapi, Mutia tidak bisa langsung pulang karena terikat kontrak. Ia lalu menyusun rencana agar Saka tidak bisa menguasai hartanya.

Drrttt… drrttt…. drtttt…

Mutia mendengus saat nama Saka terpampang di layar ponselnya. Dengan enggan, wanita itu mengangkat telpon dari sang suami.

“Halo sayang. Lagi ngapain sekarang?” Suara Saka terdengar sepuluh kali lipat lebih memuakan dari biasanya. Apalagi saat ia melihat penyiksaan sang putri di depan matanya langsung.

“Lagi di perjalanan ke rumah sakit mas. Nenek Honda lagi nggak enak badan. Tiara mana mas? Aku pengen banget video call sama putri kita.”

“Emmm. Tiara udah tidur sayang. Tadi kecapekan setelah seharian bermain bersama teman-temannya.” Mutia mendengus kesal. Pintar sekali Saka membuat alasan. Pria itu tidak tahu saja bahwa ia kini sudah membawa Tiara pergi.

“Oh gitu. Ya udah aku tutup dulu telponnya ya mas.”

“Tunggu Mut. Jangan di tutup dulu telponnya. Bulan ini kamu belum kirim uang lagi sayang. Aku lagi butuh untuk keperluan rumah dan bayar biaya sekolah pendaftaran Tiara. Sebentar lagi kan Tiara masuk SMP.” Mutia memang sengaja tidak mengirim uang bulan ini pada Saka. Toh, ia sudah pulang ke Indonesia. Apalagi,kepulangannya tidak di ketahui oleh sang suami.

“Maaf ya mas. Aku belum bisa kirim. Anaknya Nenek Honda lagi pergi ke Korea untuk bekerja selama dua bulan. Karena terlalu sibuk, dia jadi nggak sempat transfer gajiku.”

“Kalau begitu jangan lupa di ingatkan sayang. Soalnya gaji kamu itu kan hak kamu juga. Lagian majikan kamu itu pelit banget. Buat biaya hidup di sana aja kamu harus cari makan dan bayar aparteman murah juga.” Mutia mengangkat tangannya saat sopir taksi hendak bicara. Sopir itu hanya menganggukan kepalanya lalu memarkirkan mobil di depan klinik yang berada di Kecamatan.

“Iya mas. Nanti kalau Nyonya muda telpon, aku minta gajiku. Udah dulu ya mas. Kita sudah sampai di rumah sakit.”

“Iya sayang. Jangan lupa kirim uangnya ya. Kan untuk anak kita juga.” Rasanya Mutia ingin muntah mendengar dusta yang keluar dari mulut Saka.

“Iya mas. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Sopir yang sudah lebih dulu turun lalu menggendong Tiara masuk ke dalam klinik.

***

“Gimana Ka? Mutia udah kirim uangnya?” Saka menggelengkan kepala dengan lesu. Wajah Bu Jarmi, Ibu Saka, seketika cemberut.

"Besok jangan lupa hubungi Mutia lagi. Kita harus bayar cicilan mobil bulan ini. Udah nunggak gara-gara kamu lebih memilih untuk membelikan Sekar perhiasan.

“Iya Bu.” Sungut Saka sebal. Pria itu lalu beranjak ke depan untuk memeriksa Tiara. Ia ingin memasitkanTiara tidak kabur ke rumah orang tua Mutia seperti yang sering putrinya itu lakukan dulu.

Mata Saka membulat saat tidak menemukan Tiara di teras. Dengan langkah berderap, Saka mendatangi rumah tetangganya yang sering menolong Tiara. Dari jendela ruang keluarga, Saka dapat meilhat keluarga itu tengah asyik menonton TV. Karena tidak melihat keberadaan putrinya, Saka kembali ke rumah. Ia masuk ke dalam kamar hendak mengambil kunci mobil.

“Kamu mau kemana mas?” Tanya Mutia istri keduanya yang tengah berbaring di atas tempat tidur dengan bermain ponsel. Rasya, putra mereka yang baru berusia tiga tahun juga tampak anteng dengan ponsel di tangan.

“Mau ke rumah orang tuanya Mutia. Tiara pasti kabur lagi kesana.”

“Kamu sih nggak mukul kakinya Tiara tadi. Besok aja kesananya. Biarin Tiara ngisi perut di sana. Aku nggak mau anak kamu itu mati di sini.” Saka menyugar rambutnya kesal. Tapi, ucapan Sekar ada benarnya juga. Ia melatakan kembali kuncinya di atas nakas lalu berbaring di sebelah Saka.

Cklek

“Bapak, aku minta tas baru. Tadi temanku ada yang beli tas barbie bagus banget.” Seru Dini, anak Sekar dari pernikahan pertamanya.

“Bapak lagi nggak ada uang Din. Kamu pakai yang ada saja dulu. Tas kamu masih bagus kok.” Sekar menurunkan ponselnya saat mendenagr penolakan Saka.

“Kasih aja uang kamu sih mas. Uang kiriman dari Mutia kan masih ada.”

“Ibu benar. Bapak kok jadi pelit sih?” Seru Dini sebal lalu keluar dari kamar orang tuanya.

“Aku memang lagi nggak ada uang Kar. Uang kiriman dari Mutia bulan lalu kan buat bayar biaya kuliahnya Ana.” Bibir Sekar mencebik sebal.

“Lagian gaya banget mau kuliah segala. Udah tahu keuangan kita sulit sejak gajinya Mutia di pangkas. Suruh adik kamu kerja buat bayar biaya kuliahnya sendiri dong mas.”

“Sudahlah Sekar. Hanya bulan ini saja. Lagipula aku selalu mengutamakan Dini daripada Tiara, anak kandungku sendiri.”

“Oh, jadi kamu mulai perhitungan sama aku. Sejak kamu menikah denganku, kamu memang harus mendahulukan kebutuhan Dini darpada Tiara. Karena aku yang melayani kebutuhan kamu. Bukan Mutia.” Cekcok malam itu tidak terhindarkan lagi. Hingga membuat Rasya menangis.

Sementara itu di klinik, Dokter baru saja selesai memeriksa Tiara. Tampak selang infus yang terhubung dengan tangan kiri gadis remaja itu.

“Untuk sementara ini, Tiara sama sekali tidak mengalami luka dalam Bu. Selain itu, luka memarnya masih dapat di sembuhkan dengan salep.” Mutia menghela nafas lega.

“Terima kash Dok. Kapan hasil rontgennya keluar?”

“Besok pagi sudah keluar. Bu Mutia bisa tidur di bankar sebelah untuk menemani Tiara. Jika ada keperluan, silahkan panggil perawat yang berjaga.”

“Terima kasih dok.” Mutia menaikan selimut Tiara. Ia lalu mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Zaki, adiknya.

‘Mbak dan Tiara nggak jadi pulang. Tiara lagi di rawat di klinik setelah di siksa sama Mas Saka.’

Drrtt…

Balasan pesan dari Zaki masuk tidak lama kemudian. ‘Ya udah mbak. Nanti aku bilang ke Ibu. Besok pagi biar aku yang jemput ke klinik.’

‘Iya Ki. Salam buat Ibu.’

Mutia memandang Tiara yang masih terlelap tidur. Raut wajah Tiara kadang ketakutan. Mutia lalu mengusap pucuk kepala putrinya hingga Tiara merasa tenang kembali.

‘Kamu tenang saja sayang. Ibu akan membalas perbuatan keluarga Bapak kamu. Mereka pasti akan menyesal karena kejutan dari Ibu.’

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Pembalasan Dendam Istri TKI

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Antara Dua Hati
8.8
Razi memutuskan menikahi gadis desa pilihan ibunya setelah lamarannya ditolak oleh Maida karena status sosial. Meski awalnya didasari rasa kecewa, prahara muncul saat Razi membawa istrinya pindah ke Jakarta. Maida yang ternyata menyimpan rasa mulai terobsesi merebut Razi kembali. Situasi semakin pelik saat kakak angkat Maida ikut campur memperkeruh suasana. Di tengah tekanan dan gangguan ini, mampukah pernikahan Razi dan Hana bertahan dari kehancuran?
Sampul Novel Chef Galak Itu Mantan Pacarku
9.2
Mita adalah manajer selebriti handal yang harus menghadapi tantangan besar saat bertemu Gun Saliba. Chef ternama yang sangat rewel itu ternyata merupakan mantan kekasih yang ingin ia lupakan selamanya. Bukannya bersikap profesional, Gun justru menunjukkan permusuhan dan bertekad menyulitkan hidup Mita di tempat kerja. Di balik ketegangan tersebut, Gun rupanya belum mengetahui alasan sebenarnya mengapa Mita memutuskan hubungan mereka di masa lalu.
Sampul Novel Cinta Pertama Sumber Penderitaanku
8.1
Terlahir kembali, protagonis Cinta Pertama Sumber Penderitaanku menolak menikahi Fred, pria yang ia kejar selama sepuluh tahun. Ia memilih dijodohkan dengan kakak tiri Fred, Zico. Di kehidupan lalu, ia tewas mengenaskan akibat distosia, hanya untuk mengetahui bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil perselingkuhan Fred dengan wanita lain menggunakan obat ciptaannya. Kali ini, ia membiarkan mereka hidup tanpa bantuannya. Namun, saat Fred melihat cincin Zico di jarinya, pria itu justru menjadi gila.
Sampul Novel Ketua Jurusan vs Cewek Kampungan
8.2
Mutiara Embun Pagi terpaksa pindah ke Jakarta demi memenuhi wasiat mendiang ayahnya. Di sana, ia terusik oleh Leon Bhaskara Granada, pemenang King of School yang arogan dan gemar meremehkannya sebagai gadis kampungan. Tak terima dihina, Embun bertekad memenangkan ajang Queen of School untuk membuktikan kemampuannya. Di tengah persaingan dan intimidasi Leon, mampukah Embun bertahan, meraih takhta sekolah, sekaligus menaklukkan hati sang playboy kaya tersebut?
Sampul Novel Pernah Sakit, Juga Melupakanmu
8.6
Khawatir dengan kondisi Ricky Mandos yang kritis setelah kecelakaan balapan liar, Amanda Hilman bergegas ke rumah sakit untuk mendonorkan 1000 cc darahnya. Meski diminta pulang oleh keluarganya untuk beristirahat, rasa cemas membuat Amanda memutuskan kembali. Namun, langkahnya terhenti saat melihat perawat membuang seluruh kantong darah yang baru ia donorkan ke tempat sampah. Di saat yang sama, suara tawa mengejek terdengar dari kamar sebelah, menyadarkannya bahwa ketulusannya hanyalah sebuah jebakan kejam.
Sampul Novel WANITA-WANITA SEKAR LANGIT
8.8
Sekelompok wanita pemulasara jenazah yang mendedikasikan diri dalam organisasi nirlaba Sekar Langit mendadak terjebak dalam rangkaian peristiwa ganjil yang mencekam. Kejanggalan demi kejanggalan mulai menghantui aktivitas mereka, hingga akhirnya terungkap bahwa teror tersebut bermuara pada salah satu anggota mereka sendiri. Di balik tugas suci mengurus jenazah, tersimpan rahasia gelap dan misteri besar yang mengancam keselamatan seluruh anggota kelompok tersebut.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan