
Pahitnya Pengkhianatan
Bab 3
Hari Senin pagi itu terasa berbeda. Matahari menembus tirai jendela apartemen, menyinari meja makan yang kini tidak lagi sepi. Aroma roti panggang bercampur dengan kopi hitam memenuhi ruangan.
Serafina berdiri di dapur, mengenakan hoodie kebesaran milik Rai yang ia temukan tergantung di kursi. Ia tidak tahu kenapa memilih itu, mungkin karena hangatnya kain itu membuatnya merasa aman.
Rai keluar dari kamar dengan rambut sedikit berantakan, kemeja abu terbuka di bagian atas, dan ekspresi setengah ngantuk. Melihat pemandangan itu, ia sempat tertegun.
"...Kamu pakai bajuku?" tanyanya datar.
Fina berhenti mengoles selai ke roti. "Kebetulan nyaman."
"Nyaman karena lembut atau karena pemiliknya?" tanya Rai, kali ini dengan nada menggoda yang jarang sekali ia gunakan.
Fina pura-pura tidak dengar, tapi rona merah di pipinya menjawab sendiri. "Sarapan sudah siap. Kamu mau kopi atau teh?"
"Kopi. Tanpa gula," jawab Rai, duduk di kursi sambil menatapnya lekat. "Kamu bangun lebih pagi dari biasanya."
"Aku harus ke butik Ibu Valeria. Ada fitting mendadak untuk pagelaran busana minggu depan."
Rai mengangguk. "Aku antar."
Fina mendongak cepat. "Nggak usah. Aku bisa naik ojek."
"Serius?" Rai menaikkan alis. "Kamu istriku. Orang-orang di kantor nenek bakal pikir aku suami yang nggak tanggung jawab kalau biarin kamu naik ojek panas-panasan."
"Justru karena kamu suami yang terlalu sibuk, mereka nggak akan heran kalau aku datang sendiri," balas Fina, kali ini tersenyum kecil.
Rai terdiam, lalu menghela napas. "Kamu selalu punya jawaban, ya."
"Kalau nggak begitu, aku nggak akan bertahan hidup selama ini."
Ucapan itu membuat ruangan sejenak hening. Rai menatap gadis di depannya, wanita yang selama ini ia anggap lembut dan penurut ternyata menyimpan kekuatan yang bahkan dirinya pun sulit pahami.
Di butik milik Ibu Valeria, suasana seperti biasa sibuk. Para model berlalu-lalang, kain berwarna-warni memenuhi ruangan, dan suara mesin jahit bercampur dengan aroma parfum mewah.
Fina tengah memeriksa hasil riasan seorang model ketika suara lembut namun berwibawa menyapanya.
"Serafina, sayang."
Ia menoleh cepat. Ibu Valeria berdiri di ambang pintu, dengan gaun berwarna lavender dan senyum khas yang selalu mampu membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.
"Selamat pagi, Bu." Fina segera menghampiri dan mencium tangan wanita itu.
"Bagaimana rumah tanggamu dengan Rai? Sudah mulai akrab, hm?" tanya Valeria, nada suaranya seolah sekadar basa-basi, tapi sorot matanya tajam, penuh penilaian.
Fina menelan ludah. "Kami berusaha, Bu."
"Berusaha," ulang Valeria pelan, senyum tipis di bibirnya. "Cinta memang butuh waktu. Tapi jangan lupa, pernikahan kalian bukan hanya urusan perasaan. Nama keluarga Devabrata ada di pundakmu juga."
Fina menunduk. "Saya paham, Bu."
"Bagus." Valeria menepuk lembut bahunya. "Kau gadis pintar, Fina. Tapi ingat, dunia mode ini keras. Kalau kau ingin tetap di sisinya, jangan cuma jadi bayangan."
Ucapan itu menusuk seperti jarum halus. Fina tahu maksudnya - jangan sampai Rai tampak sendiri di depan publik, sementara ia hanyalah 'istri di atas kertas'.
Siang harinya, saat istirahat, Fina duduk di taman belakang butik. Ia membuka bekal sederhana yang ia bawa dari rumah - nasi, telur dadar, dan sayur bening. Saat baru hendak menyuap, suara familiar menghentikannya.
"Masih suka bawa bekal?"
Fina menoleh cepat. Seorang pria berdiri di sana - tinggi, berkulit sawo matang, dengan senyum yang dulu pernah membuatnya jatuh hati.
"Rico?" gumamnya tak percaya.
"Masih inget." Rico duduk di bangku sebelahnya tanpa diundang. "Aku kira kamu udah lupa sama mantan yang pernah jadi korban ghosting kamu."
Fina terbatuk. "Jangan bercanda. Kita putus karena kamu yang pergi."
Rico tertawa kecil. "Waktu itu aku dapat tawaran kerja di luar kota. Aku pikir kamu terlalu sibuk buat hubungan jarak jauh."
"Dan kamu bahkan nggak pamit."
"Yah, aku salah." Rico mengangkat tangan seolah menyerah. "Tapi sekarang aku balik ke Jakarta. Jadi pengarah gaya di sini."
"Di butik ini?" Fina menatapnya terkejut.
"Yup. Valeria mau proyek baru, dan aku bagian koordinasi tim wardrobe. Dunia kecil, ya?"
Fina mengangguk pelan. Dunia ini memang kejam - terutama ketika mempertemukanmu dengan masa lalu yang belum sepenuhnya kau tutup.
Rico menatap wajahnya lama. "Kamu kelihatan beda sekarang."
"Dalam arti apa?"
"Dulu kamu ceria. Sekarang... lebih dingin."
Fina menunduk, berusaha tersenyum. "Mungkin karena hidup nggak lucu lagi."
Rico menatap cincin di jarinya, lalu berujar pelan, "Jadi kabar itu benar? Kamu nikah sama cucunya Ibu Valeria?"
Fina tidak menjawab.
"Kamu cinta dia?"
Pertanyaan itu seperti peluru yang menembus dada. Fina terdiam cukup lama sebelum berkata, "Aku bahkan belum tahu apakah aku bisa mencintai seseorang lagi."
Rico menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. "Kalau suatu hari kamu butuh teman bicara, aku masih sama kayak dulu - gampang diajak ngobrol, susah dilupakan."
Fina tertawa kecil. "Kamu nggak pernah berubah."
"Dan kamu... masih bikin aku pengen tinggal lebih lama."
Sore itu, Fina pulang dengan kepala penuh pikiran. Ia masuk ke apartemen, meletakkan tas, dan langsung menyalakan lampu ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang sudah duduk di sofa - Rai.
Ia tidak menyangka pria itu sudah di rumah. Biasanya jam segini, Rai masih di kantor.
"Cepat pulang?" tanya Fina hati-hati.
"Ada yang perlu kita bicarakan." Rai menatapnya lurus, suaranya berat tapi tenang.
Fina menelan ludah. "Tentang apa?"
Rai melemparkan selembar foto ke meja. Di dalamnya, jelas terlihat Fina sedang duduk di taman butik... bersama Rico.
"Siapa dia?"
Fina menatap foto itu, lalu menatap Rai. "Teman lama."
"Teman?" Rai menyipitkan mata. "Dari cara dia menatap kamu, itu bukan teman."
Nada suaranya tidak marah - tapi dinginnya membuat jantung Fina berdebar tak karuan. "Kamu memata-matai aku?"
"Aku nggak perlu memata-matai siapa pun. Orang-orang di sekitar Valeria cukup loyal. Mereka tahu aku nggak suka kejutan."
"Dan kamu pikir ini pengkhianatan?" suara Fina meninggi sedikit. "Aku bahkan nggak tahu kalau dia kerja di sana!"
Rai bangkit dari sofa, mendekat perlahan. Tatapannya menusuk, membuat Fina refleks mundur satu langkah.
"Aku cuma pengen tahu," katanya pelan. "Kamu masih punya perasaan ke dia?"
Pertanyaan itu membuat udara di antara mereka membeku. Fina bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ia tidak menyangka Rai akan cemburu - atau mungkin hanya merasa terganggu karena reputasinya terancam.
"Kalau aku bilang iya," jawab Fina akhirnya, "apa kamu akan peduli?"
Rai menatapnya lama, lalu menghela napas dan berjalan pergi tanpa menjawab.
Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Fina berdiri sendirian dengan rasa sesak yang tak bisa dijelaskan.
Keesokan harinya, suasana di butik terasa tegang. Rumor tentang "istri cucu Devabrata yang makan siang dengan pria lain" sudah beredar cepat di kalangan staf. Fina berusaha tetap fokus, tapi bisik-bisik itu terus mengikuti langkahnya.
Saat ia sedang menata alat makeup, Rico muncul lagi. "Kamu oke?"
"Gosip cepat banget, ya?" Fina tersenyum miris.
"Dunia mode nggak pernah adil. Orang lebih suka cerita buruk daripada hasil kerja bagus," ucap Rico, menatapnya iba.
Fina menunduk, "Aku udah terbiasa jadi bahan omongan."
"Tapi kamu nggak sendirian." Rico menatapnya serius. "Kalau mereka nyakitin kamu, aku di sini."
Fina hendak menjawab, tapi tiba-tiba suara berat dari arah pintu membuat keduanya menoleh.
"Sepertinya aku datang di waktu yang menarik."
Rai berdiri di sana. Jas hitam, kemeja rapi, tapi mata dingin seperti salju. Para staf langsung berpura-pura sibuk, suasana berubah kaku seketika.
"Radion," panggil Rico, nada suaranya tegang tapi sopan.
"Rico Adnanta, bukan?" Rai menatapnya dengan senyum tipis yang tidak ramah. "Aku pernah dengar namamu."
"Ya. Kita belum sempat berkenalan." Rico mengulurkan tangan, tapi Rai tidak menggubrisnya.
"Fina, aku tunggu di mobil," katanya singkat sebelum berbalik dan pergi.
Rico menatap Fina, wajahnya penuh kekhawatiran. "Dia marah."
"Biarin." Fina menghela napas panjang. "Aku juga capek menjelaskan hal yang dia nggak mau dengar."
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Hanya suara hujan tipis dan radio yang nyaris tak terdengar. Fina duduk menatap jendela, sementara Rai menyetir dengan wajah tegang.
Sesampainya di apartemen, Rai langsung melepas jas dan duduk di sofa, menatap langit-langit seolah mencari jawaban.
"Kamu tahu kenapa aku marah?" tanyanya pelan.
"Karena kamu takut orang lain tahu pernikahan ini cuma pura-pura?" balas Fina.
Rai menatapnya. "Bukan. Karena aku sadar aku nggak suka lihat kamu dengan orang lain."
Fina tertegun.
"Aku nggak tahu apa ini cinta atau cuma obsesi bodoh. Tapi setiap kali lihat dia di dekat kamu, aku ngerasa sesuatu yang nyakitin," lanjut Rai, suaranya pelan tapi jujur. "Dan aku benci ngerasa kayak gini."
Fina menatapnya lama, lalu berjalan mendekat. Ia berjongkok di depannya, menatap mata pria itu dari jarak sangat dekat.
"Mungkin itu bukan benci," katanya pelan. "Mungkin kamu cuma takut kehilangan sesuatu yang belum sempat kamu pahami."
Rai menatapnya tanpa kata. Tatapan itu berubah - lebih lembut, lebih jujur, tapi juga lebih berbahaya.
Tangan mereka bersentuhan, tanpa sengaja. Detik itu, keheningan menjadi lebih berat dari kata-kata.
Malam turun perlahan. Fina berdiri di balkon, menatap lampu-lampu kota. Angin membawa aroma hujan dan rasa yang belum punya nama.
Dari dalam, terdengar langkah kaki mendekat. Rai berdiri di belakangnya, membawa dua cangkir teh hangat.
"Masih marah?" tanyanya.
"Sedikit."
"Kalau begitu, aku minta maaf." Rai menyerahkan teh padanya. "Aku nggak punya hak buat ngatur hidupmu. Aku cuma... nggak suka cara dia lihat kamu."
Fina menatap teh di tangannya, lalu menatap Rai. "Kamu tahu nggak, Rai? Kadang aku bingung. Kamu bisa sangat dingin, tapi sekaligus bikin aku sulit bernapas."
Rai tersenyum samar. "Kamu pun begitu, Fina. Di satu sisi kamu lembut, di sisi lain kamu keras kepala. Mungkin itu alasan kenapa aku masih di sini."
Mereka berdiri dalam diam, menikmati teh masing-masing. Tapi di antara kepulan uap, ada sesuatu yang berubah - bukan cinta, bukan juga sekadar simpati.
Sebuah pengakuan diam-diam: mereka mulai saling peduli, tanpa berani mengatakannya.
Dan di bawah langit yang masih basah oleh sisa hujan,
dua hati yang sebelumnya hanya berpura-pura perlahan belajar bagaimana rasanya benar-benar hidup berdampingan.
Hujan sore itu turun dengan derasnya. Butiran air menari di atas atap kaca studio, memantulkan cahaya redup lampu yang menggantung di langit-langit. Fina menatap dari balik jendela besar, secangkir kopi hitam di tangannya sudah mendingin. Di meja kerja, kuas-kuas makeup berantakan bersama beberapa palet warna yang belum sempat dibersihkan.
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian di rumah keluarga Ardhya-sejak pertemuan memalukan itu di mana dirinya dan Rai harus berakting sebagai pasangan yang harmonis di hadapan Ibu Valeria. Namun, entah mengapa, sejak hari itu komunikasi mereka semakin aneh.
Rai, yang biasanya dingin, justru kini sering muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Seperti kemarin, ketika Fina sedang makan bakso di pinggir jalan, pria itu tiba-tiba muncul dan duduk di bangku sebelahnya, menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku cuma mau memastikan kamu makan," katanya datar waktu itu.
Dan sekarang, Fina mulai bingung apakah pria itu benar-benar peduli atau sekadar ingin mengawasinya.
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu studio. Fina menoleh cepat, jantungnya langsung berdegup lebih kencang.
"Ngomong-ngomong soal iblisnya," gumamnya pelan.
Rai berdiri di ambang pintu, mengenakan jas hitam yang masih basah di bagian bahu. Rambutnya sedikit berantakan, ada titik-titik air hujan yang menetes dari ujung poni ke pipinya. Ia tampak seperti keluar dari iklan parfum mahal-tapi Fina tidak akan mengakui itu, bahkan di bawah ancaman sekalipun.
"Kamu basah-basahan lagi?" tanya Fina tanpa menatap.
Rai tidak menjawab, hanya berjalan pelan ke arahnya, menatap meja berantakan yang penuh alat rias.
"Kamu kerja sendirian?"
"Iya. Asistennya sakit."
"Harusnya kamu pulang. Udah malam."
"Dan siapa kamu sampai bisa nyuruh aku pulang?" balas Fina cepat.
Rai menatapnya sejenak sebelum menarik kursi dan duduk. "Suami kamu."
"Pernikahan ini cuma formalitas. Ingat?" Fina mendengus.
"Tetap aja. Formalitas juga sah di mata hukum."
Fina menghela napas berat, meneguk kopinya yang sudah dingin. "Kamu nggak capek pura-pura peduli?"
Rai tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri, berjalan ke arah rak kaca tempat Fina menyimpan foto-foto hasil riasan klien. "Aku nggak pura-pura," ucapnya tenang. "Aku cuma nggak tahu gimana caranya berhenti memperhatikan kamu."
Kata-kata itu membuat Fina spontan menoleh. "Apa?"
Namun Rai sudah berbalik, ekspresinya datar kembali. "Kamu punya payung?"
"Punya. Kenapa?"
"Aku antar pulang."
"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri."
Rai menatapnya lama, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berjalan keluar. Fina menatap punggungnya yang menjauh, dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, ada sesuatu yang terasa berat di dadanya.
Di mobil, Fina menatap jendela yang dipenuhi embun. Rai menyetir dalam diam. Radio menyala pelan, memainkan lagu lama dari Adele.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang ke studionya?" tanya Fina akhirnya.
"Karena kamu belum pulang."
"Dari mana kamu tahu?"
"Ada pelacak di mobil kamu."
"Apa?!" Fina hampir menjerit. "Kamu masang pelacak?!"
"Tenang." Rai tetap tenang. "Oma yang nyuruh. Dia khawatir kamu sering lembur sendirian."
Fina mendengus keras. "Oma kamu terlalu banyak nonton sinetron."
Rai menoleh sekilas, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Mungkin. Tapi beliau sayang kamu."
"Kamu juga?" goda Fina spontan, tanpa berpikir.
Rai terdiam. Suasana di dalam mobil langsung hening.
Fina menatap ke luar lagi, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai panas. "Lupakan."
Mobil berhenti di depan apartemen. Rai turun lebih dulu, membuka payung dan menunggu di sisi pintu. Fina ragu sejenak sebelum keluar. Hujan masih deras, dan langkah mereka di bawah payung terasa canggung-seolah-olah ada sesuatu di antara mereka yang sedang tumbuh tapi belum sempat diberi nama.
Sesampainya di depan pintu apartemen, Fina menoleh. "Mau mampir?" tanyanya setengah bercanda.
Rai menatapnya lama, hujan menetes di ujung dagunya. "Kalau aku bilang iya?"
Fina tersenyum miring. "Kamu nggak akan tahan lihat isi apartemenku yang kayak kapal pecah."
"Aku udah lihat yang lebih berantakan."
"Oh ya?"
"Hati aku."
Fina nyaris tersedak udara. Ia menatap Rai, tidak yakin apakah itu candaan atau serius. Tapi pria itu hanya menatap balik dengan wajah datar, lalu menunduk sedikit. "Selamat malam, Fina."
Dan tanpa menunggu balasan, ia pergi.
Fina masih berdiri di depan pintu selama beberapa menit, menatap punggung Rai yang semakin jauh. Entah kenapa, hatinya terasa aneh-hangat, tapi juga kacau.
Keesokan paginya, Fina terbangun karena suara ketukan di pintu. Ia membuka mata dengan malas, rambut acak-acakan, kaos lusuh, dan wajah tanpa riasan.
"Siapa pagi-pagi begini..." gumamnya sambil berjalan tertatih ke arah pintu.
Begitu pintu dibuka, Fina langsung menyesal.
Rai berdiri di sana, dengan jas abu-abu rapi, memegang sekotak makanan.
"Pagi," sapanya datar.
"Pagi?" Fina mengucek mata. "Kamu jam berapa bangun? Dunia aja belum siap ngelihat wajahku pagi-pagi."
"Makanya aku bawa sarapan."
"Untukku?"
"Untuk kita."
Fina menatapnya dengan bingung saat Rai masuk begitu saja, meletakkan kotak makanan di meja makan kecilnya.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Ngisi waktu."
"Kamu nggak kerja?"
"Libur."
"Dan kamu milih datang ke sini?"
Rai mengangguk. "Aku pikir kita harus mulai belajar jadi pasangan sungguhan."
Kata-kata itu membuat Fina terdiam. Ia menatapnya lama, mencoba membaca ekspresi wajah pria itu. Tapi Rai tetap sama-tenang, sulit ditebak.
"Kenapa baru sekarang kamu ngomong kayak gitu?"
"Karena Oma mulai curiga. Katanya, kamu kelihatan nggak bahagia."
"Dan kamu peduli?"
"Lebih dari yang kamu kira."
Suara itu begitu lembut hingga Fina hampir tak bisa membalas. Hening melingkupi ruangan kecil itu. Rai membuka kotak makanan-nasi goreng buatan sendiri. Fina tertegun.
"Kamu masak?"
"Ya. Kenapa?"
"Kelihatannya kayak hasil percobaan kimia."
"Tapi enak."
"Kita lihat nanti."
Mereka makan dalam diam. Fina berusaha menahan senyum saat menyadari rasanya benar-benar enak, tapi tentu saja, ia tidak akan mengakuinya. Rai menatapnya, seolah tahu apa yang dipikirkannya.
"Gimana rasanya?"
"Bisa dimakan."
"Itu pujian?"
"Itu fakta."
Rai tertawa kecil. Suara tawanya dalam dan hangat, membuat Fina hampir melupakan bahwa mereka menikah tanpa cinta.
Hari berjalan lambat. Setelah makan, Rai membantu membereskan dapur, sementara Fina memandangi punggungnya dari jauh. Entah sejak kapan, perasaan asing itu mulai tumbuh di dadanya.
Malam sebelumnya, ia berpikir Rai hanyalah pria yang terlalu serius, tapi kini ia mulai melihat sisi lain-seseorang yang tenang, perhatian, dan diam-diam peduli.
Saat Rai pamit, Fina hanya bisa menatap punggungnya lagi, seperti semalam. Namun kali ini, sebelum menutup pintu, Rai menoleh dan berkata pelan,
"Fina, mulai besok aku bakal jemput kamu kerja."
"Untuk apa?"
"Supaya aku punya alasan buat lihat kamu tiap pagi."
Pintu tertutup perlahan. Fina berdiri mematung, lalu menepuk dadanya sendiri.
"Ya Tuhan... jangan bilang aku mulai jatuh cinta sama orang aneh itu."
Namun senyum yang muncul di wajahnya sulit ia sembunyikan.
Anda Mungkin Juga Suka





