
KUTEBUS TALAKKU
Bab 2
Laporan di atas meja di buka satu persatu bersama dengan kernyitan di dahi. Lalu laki-laki itu membuka kacamatanya dan di taruh di sebelahnya. Dr. Anton bersandar dan memandang pasien di depannya. Salah seorang pria dewasa yang terlihat sehat tetapi memiliki masalah yang sangat berat. Masalah apa penyakit ? Kedua duanya.
"Tuan, kelihatannya kesehatan tuan semakin menurun. Tuan turun 10 kg dalam satu tahun. Jika terus di biarkan ... Bisa mendatangkan bahaya yang lainnya nanti." Kata Dr. Anton. Dokter spesialis yang telah merawat pria tersebut selama lebih dari 10 tahun.
"Saya bisa berkomentar dari sudut pandang psikiatris, tetapi ini menyangkut kesehatan fisik Tuan Raqeef. Saya telah memantau kasus Tuan sudah lama, sepertinya semakin membaik tapi semenjak setahun terakhir ini, kenapa bisa semakin menurun ...?" Pertanyaan Dr.Anton lagi, kali ini lebih serius. Mereka hanya bertemu setiap 6 bulan sekali, tidak terlalu sering karena bukan kasus yang serius. Namun, dia harus memberikan perhatian karena pria yang berada di depannya itu adalah pasien VIPnya hanya sekarang merek sudah semakin dekat dan saling terbuka.
"Apa sangat buruk, dok..?" Pria itu tersenyum. Dia terlihat tenang, duduk dengan bertumpang kaki dan bersandar santai. Lengan bajunya di turunkan perlahan setelah memeriksa tekanan darah. Sangat jelas otot di tangannya yang sangat ketara. Dia masih aktif melakukan GYM dan olahraga. Berat badan juga masih ideal. Entah kenapa yang dia di bilang sangat buruk? 10 kg bukan masalah yang sangat besar.
"Lambung dan tekanan darah rendah, bukan masalah kecil lagi Tuan Raqeef." Balas Dr.Anton seakan tau apa yang ada di dalam fikiran Raqeef.
Raqeef tersenyum. "Saya masih bisa bertahan..."
Dr.Anton melangkah membawa badannya ke depan dan memandang pria itu. "You need somebody to take care of you. I'm not joking here, Qeef. "
Raqeef mengeratkan rahang. Tidak menyangka itu nasihat dari pisikiater !
"I'II take care of my self. Saya hanya turun sedikit saja BMI masih normal. "
"Jadi, kenapa kebiasaan makan Tuan sudah berubah..?"
"Saya sudah pindah keluar dari rumah keluarga saya sudah satu tahun yang lalu. Saya kasih alasan yang masalah gizi saya sudah oke, jika tidak orang tua saya mana mungkin mengizinkan saya pindah keluar. Tapi masalahnya.... Saya harus masak sendiri dan saya sangat sibuk. Saya hanya sempat bikin sarapan dan makan malam saja setelah pulang kerja." Raqeef menjelaskan kepada dokternya itu.
"Jadi, Tuan melewatkan makan siang..?"
Raqeef mengangguk.
Dr.Anton satu kali lagi mengeluh. "Saya yakin Tuan hanya makan sederhana untuk makan malam. Pulang kerja juga sudah lambat. Akhirnya tidak cukup zat dan nutrisi. Seperti yang saya sarankan sebelumnya, dapatkan koki pribadi, atau ....Tuan menikah saja." Kali ini Dr.Anton membuat candaan.
Dan kali ini terangkat sedikit kening Raqeef. "Saya perfek saran yang pertama. Karena saya sudah mencoba mencari beberapa orang, semua tidak memenuhi syarat. "
"Tuan mau mencari calon istri atau koki nih..?" Dr.Anton tertawa ringan sehingga memperlihatkan barisan giginya yang putih.
"Both..." Raqeef ikut bercanda. "Jangan berbelit belit. Kita sedang berbincang masalah gizi sekarang."
"Oke... Oke... Saya juga serius nih." Dr.Anton anton menyembunyikan senyumnya. Raqeef adalah pria yang memiliki segalanya tetapi...
"Seperti ini saja. Nanti 3 bulan yang akan datang,datang kembali ketemu dengan saya lagi. Saya mau melihat perkembangan Tuan saat itu. Jika semakin menurun, saya terpaksa harus on obat kembali."
"Eh, sudah lima tahun saya enggak makan obat, kenapa tiba-tiba..?" Raqeef mengernyitkan kening. Sudah lama dia berjuang agar tidak bergantung lagi sama obat pisikiater.
"Karena air putih yang saya sediakan ini juga Tuan enggak minum lagi. Karena Tuan membayangkan gelas itu di pakai oleh ratusan orang di dalam rumah sakit ini kan...?"
Kali ini Raqeef terpaksa akur. Dia sangat haus. Tetapi dia tidak mampu meneguk air di dalam gelas itu.
Raqeef sebenarnya mengalami masalah fobia makanan yang buruk semenjak di bangku sekolah Dasar. Dia hanya bisa makan makanan yang di sediakan di rumah dan di jamin bersih 100%. Sudah 20 tahun dia tidak makan di luar atau restoran. Bahkan ... dia sanggup menahan lapar...dan kadang kadang kelaparan. Ketika dia berusia 20 tahun barulah dia menemui dokter spesialis dan di rujuk ke pisikiater. Setelah melakukan beberapa tes dia di diagnosa menderita sindrom yang di kenali sebagi Obstructive Eating Disorder (ARFID),menyebabkan penderitanya sangat rewel di dalam memilih makanan.
"Jadi, Tuan harus segera menyelesaikan masalah ini. Sindrom Tuan tidak terlalu serius sebenarnya, kalau ada orang yang bisa menyediakan makanan untuk Tuan secara teratur dan tepat waktu. Tuan hanya tidak bisa makan makanan di luar. Sebelumnya Bu Ajeng yang menyediakan makanan untuk Tuan dari dulu. Sekarang jika Tuan ingin mandiri, Tuan harus membuktikan bahwa Tuan bisa bertahan. Tuan juga tau kan saya harus melaporkan kesehatan Tuan kepada Ibu Ajeng...?" Penjelasan Dr.Anton tanpa berahasia
"Saya akan traktir Dokter dan staf dokter untuk makan siang hari ini. Kita anggap selesai oke..?"
"Ini menyogok.?" Tanya Dr.Anton yang sudah kenal dengan sikap anak laki-laki kedua dari Ibu Ajeng Linda Aryani ini.
"I got to go. Ada meeting. " Raqeef langsung bergegas bangun dan mengambil tas kantor di sebelahnya.
"Jangan lupa 3 bulan nanti temu lagi kita!!" Dr.Anton sempat berpesan lalu Raqeef keluar sambil mengangkat tangan kanan.
Dr.Anton akhirnya mengeluh sambil menggelengkan kepala.
*****
"Bos, ini proposal dari perusahaan BB Holding mereka mengirimkan perwakilan untuk Lunch Meeting di Grand Hotel." Daus, Asisten Pribadi pria itu, mengulurkan amplop coklat yang berukuran A4 dari kursi supir kepada bos nya yang berada di kursi belakang.
Raqeef menerima amplop tersebut. "Seperti biasa, beri alasan kalau kita sudah makan. Saya tidak akan lama lama. "
"Baik, Bos." Laki-laki berusia 40-an itu akur dengan perintah bosnya. Saat itu juga terdengar perutnya berkeroncongan. Aduh.... saat begini dia mau bikin masalah.
"Pak Daus lapar ..?" Tanya Raqeef sambil membalik balikan kertas di tangannya.
Kendaraan itu berhenti di lampu merah
"Sa... Saya oke saja Bos. Nanti saya bisa makan roti." Daus mengetapkan bibirnya tanpa di lihat oleh Raqeef.
"Kalau Pak Daus lapar, boleh makan dengan orang perwakilan dari BB holding nanti. "
"Eh ! Enggak apa-apa, bos. Jangan seperti itu, Bos enggak makan bagaimana saya mau makan."
"Oke, setelah selesai meeting Pak Daus bisa hantar saya ke kantor dan Bapak boleh pergi makan."
"Baik, Bos !"
Lega. Sepertinya mood Bosnya itu sedang baik. Kalau tidak dia lebih banyak diam. Hanya ngomong masalah yang penting penting saja dan sangat berhati hati dengan orang yang ada di sekitarnya.
Raqeef melihat jam Casio Edifice di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir 16 jam dia tidak menyentuh makanan. Terakhir kali dia makan saat makan malam pada pukul 8.00 malam. Dia tidak sempat membuat sarapan pagi karena harus menghadiri meeting di luar kota. Sekarang seharusnya jam makan siang tetapi dia harus menghadiri pertemuan dengan klien.
Raqeef menarik nafas karena tubuhnya terasa sudah bereaksi.
*****
"Enggak sabar nunggu ! Bulan depan kita pergi ke Bangkok. Teman Imel baru saja pulang dari Thailand, dia bilang sekarang memang banyak orang berlibur pergi kesana. Penuh dengan orang Indonesia, makanan halal juga banyak."
"Kamu kalau soal makanan memang nomer 1 iya." Canda suaminya Halim, anak sulung Sandra.
"Iyalah.... bosan juga kan setiap hari makan masakan rumah ini. Bolak balik hanya menu yang disukainya saja. Enggak mengikuti selera kita. Bersemangat mencoba masakan ini itu, seperti mau jadi koki saja." Sindir Aina saat melihat Indah datang keruang tamu untuk menghidangkan teh setelah makan malam.
"Jangan ganggu moodku untuk menyusun rencana perjalanan kita nanti." Kata Imelda sambil melirik Indah. Tangannya yang sedang menulis di kertas putih tentang rencana perjalanan untuk keluarga nanti tiba-tiba saja terhenti.
"Lanjutkan saja, Imel. Mak mau dengar rencana perjalanan kita nanti. Kita bukan selalu bisa pergi berlibur bersama keluarga. Semua orang sibuk." Sandra menyelah saat menantunya tiba-tiba merasa terganggu dengan kedatangan Indah.
Indah hanya diam saat menghidangkan teh di atas meja, lalu dia bergerak keluar dari ruang tamu ketika dirinya terasa seperti orang asing. Ya, dia seperti pembantu saja dirumah itu. Tetapi, Indah sudah tidak merasakan apa apa. Hinaan, makian dan omelan apa saja. Jiwanya sudah mati. Betul. Seumur hidup itu terlalu lama.
Jam sudah menunjukkan 10.00 malam. Indah sudah merasa ngantuk tetapi dia juga harus menyelesaikan melipat baju yang beberapa keranjang. Pekerjaannya tidak pernah selesai dari pagi hingga kemalam. Mungkin ini nasib perempuan yang tidak bekerja sepertinya? Di pandang rendah dan seperti tidak berguna di mata ahli keluarga ini ? Biarpun dia bekerja dari pagi hingga kemalam merawat rumah ini, dia tetap di bilang tidak menyumbang apa apa.
Akhirnya dia selesai menyusun semua pakaian itu. Nanti pintar pintar sendiri lah tuannya mengambil sendiri. Indah bangun dan terasa kakinya pegel karena duduk terlalu lama. Dia masih mendengar gelak tawa ahli keluarga itu di ruang tamu lantai bawah. Tanpa memperdulikan rasa yang mengusik di jiwa. Indah meninggalkan ruang tamu lantai atas itu untuk ke kamarnya.
"Oke, good night.."
Indah tersentak saat melihat Hairi berada di dalam kamarnya dan baru selesai ngobrol di telepon.
"Kapan kamu pulang..? Aku enggak tau..?" Tanya Indah
Hairi hanya menatap Indah sesaat lalu kembali menatap layar ponselnya. Dia sedang bersiap untuk mandi. Hanya memakai handuk dan berdiri di sisi tempat tidur.
"Apa yang kamu tau di dalam rumah ini ? Hanya Kuali sama piring saja ."
Indah mengetapkan bibir. "Aku suka memasak, apa salahnya..?"
"Enggak salah. Itu memang pekerjaan kamu. Sudahlah. Aku mau pergi mandi." Hairi berjalan menuju ke kamar mandi.
"Kamu ikut kan perjalanan ke Bangkok..?"
Kaki Hairi terhenti melangkah, saat mendengar pertanyaan dari Indah. Dia menoleh.
"Apa masalahnya? Apa aku harus minta izin sama kamu dulu ..?"
"Aku enggak di ajak kan, tidak ada tiket untuk aku ? Dan aku juga tidak ada paspor."
"Kalau semuanya pergi, terus siapa yang mau menjaga rumah ini ? Kalau pencuri masuk bagaimana..?" Hairi mulai meninggikan suara. Sungguh bosan dia melihat wajah istri yang tidak ceria itu, Kusut !
"Pencuri ? Kamu hanya mengkhawatirkan rumah ini daripada aku ? Saya di tinggal sendirian... " Indah mencoba menepis rasa kesal tetapi bertandang jua.
"Eh. Ini bukan pertama kali kan ? Selama ini kau kan yang selalu menjaga rumah ..?"
"Tapi... kali ini satu minggu. Lama tau ... enggak mungkin, apa kamu enggak khawatir ? Aku ini istri kamu. Menantu keluarga ini juga. Tapi kenapa saya di anggap seperti orang asing. Seperti pembantu..?!" Indah menahan suaranya agar pertengkarannya tidak di dengar ahli keluarga yang lain. Kalau tidak parah dia di caci maki nanti.
"Kamu itu tidak tau bersyukur! Tinggal di rumah ini hanya gratis saja. Makan minum semua orang yang ngasih. Apa lagi yang kamu mau ? Mau di perlakuan seperti permaisuri ? Hakikatnya, apa apa pun kamu enggak bisa ngasih kepada aku. Anak juga kamu enggak bisa kasih. Aku bertahan sama kamu ini juga, karena aku kasian sama kamu. Jadi, duduk diam diam dan sadar diri." Hairi sangat puas hati bisa meluahkan kepada Indah di depan muka seperti itu.
Melihat Indah termenung dan tidak bersuara lagi, Hairi langsung masuk ke kamar mandi lalu menutup pintu dengan di banting keras.
Indah terduduk di sudut tempat tidur. Kali ini dia tidak dapat menahannya lagi. Air matanya jatuh juga walaupun ditahannya. Genggaman tangannya semakin mengerat, dia rasanya teringin menjerit dan menggila!!
Indah sering di tuding mandul karena sepanjang 5 tahun pernikahannya dia belum juga hamil. Sandra. Ibu mertuanya juga sering berkata seperti itu tanpa melakukan pemeriksaan. Dia sudah mengajak Hairi pergi untuk menjalani tes kesuburan tetapi laki-laki itu menolak. Sampai saat ini, Indah tidak tau apa masalah pada dirinya sehingga dia sukar untuk hamil.
Tetapi.... kegusaran itu hanya pada awal pernikahan, sekarang dia sangat amat bersyukur karena belum di karuniai anak. Apa lagi dengan suami yang tidak pernah menghargainya ! Sama sekali tidak !
Jadi, untuk apa air matanya pada malam ini? Indah bersedih karena dia tidak mempunyai tempat untuk mengadu dan berlindung. Dia anak yatim yang di besarkan oleh kake dan neneknya. Ketika kakek dan Nenek meninggal beberapa tahun yang lalu, dia benar-benar menjadi sebatang kara.
Rumah warisannya juga telah di ambil oleh pamannya, dan pamannya juga sudah tidak perduli dengan hidupnya lagi. Indah sadar, hanya rumah Sandra tempatnya berlindung sedangkan dirinya tidak memiliki apa-apa.
*****
Ajeng bergegas menuju ke wad VIP di rumah sakit itu dengan langkah lebar. Wajahnya penuh dengan ke khawatiran dan nafasnya naik turun ketika berjalan dengan cepat. Dia melihat seorang laki-laki yang berdiri di depan pintu wad dan menghampirinya.
"Kasih tau saya ada apa, Daus..?!" Tanya Ajeng dengan tegas. Nafasnya juga terengah engah.
Daus menundukkan kepala karena matanya takut bertentangan dengan mata wanita itu.
"Maafkan saya, Bu Ajeng. Saya sudah hantar Den Raqeef pulang ke rumah. Setelah satu jam, Aden telpon saya karena dia merasa tidak sehat. Mungkin lambungnya kambuh. Saat saya sampai ke kondominimum, saya lihat Den Raqeef sudah pingsan. " Penjelasan Daus dengan berhati hati
"Kan saya sudah ngomong, tolong jaga dia! Kenapa sampai masuk rumah sakit? Haissshhh anak keras kepala ini !!" Marah Ajeng , sebenarnya dia marah sama anak lelakinya itu, tetapi di lepaskannya pulak sama Asisten Pribadi anaknya itu.
"Saya mau masuk sekarang. "
"Baik, Bu Ajeng." Daus lantas memberi jalan kepada Ajeng. Di dalam hatinya juga khawatir karena Raqeef sudah berpesan supaya jangan memberi tahukan kepada Ajeng. Tetapi dia juga lebih takut jika Ajeng dapat tau sendiri. Bisa bisa dia bakal di pecat !
Pintu wad di buka, Ajeng terus berjalan menuju ranjang pasien. Dia melihat anak laki-lakinya sedang tidur dengan tenang.
"Apa yang sudah terjadi ini, Qeef? Kenapa harus pindah keluar kalau enggak bisa jaga diri..." Ajeng terduduk dan menangis.
"Mamah.." Raqeef membuka mata perlahan.
Ajeng menyeka air matanya dan lantas mencapai tangan Raqeef.
"Anak mamah oke..?"
"I'm oke, mamah. Tapi ... bagaimana mamah ..." Raqeef bangun untuk duduk. Ajeng lekas membantu anak kesayangannya itu.
"Jangan salahkan Daus. Kalau mamah bisa tau sendiri, mamah akan pecat dia. Ini masalah serius, Qeef. Sampai bisa pingsan sendirian di rumah. Kamu mau mamah meninggal cepat karena mengkhawatirkan kamu ?!"
"I'm oke, mamah. " Raqeef mengeluh sedikit sakit kepalanya bertambah.
"Qeef, kalau seperti ini, mamah mau Raqeef pindah balik ke rumah keluarga kita. Mamah sudah tidak mau mendengarkan apapun alasannya lagi !" Kata Ajeng dengan tegas.
"No, mamah. Saya enggak akan pulang." Raqeef lebih nekat. Tidak mungkin dia kembali lagi kerumah itu. Cukup hanya sekali sekala untuk menengok Ayah ibunya.
"Kenapa keras kepala banget ? Apa yang membuat Qeef nekat banget mau keluar ..? Mamah benar-benar enggak mengerti.."
"Raqeef, hanya mau mandiri mah. That's all mamah." Raqeef menyimpan rasa pahit di sebalik wajah seriusnya.
"Baiklah. Kalau enggak mau pindah lagi kerumah, cepat cari istri untuk menjaga kamu !!"
"No, mamah..!" Raqeef bertambah stres, keningnya mengernyit
"Eh, semua enggak mau. Mau nunggu apa lagi, Qeef bukannya masih muda. Umur juga sudah 32 tahun." Ajeng sadar inilah peluang untuk berbincang tentang jodoh Raqeef.
Raqeef memijit kening. Apakah darahnya sudah naik ? Bukan mudah untuk menghentikan seorang Ajeng Linda Aryani.
"Mamah, please..." Raqeef menekan suaranya yang dalam.
Ajeng tiba-tiba membesarkan matanya.
"No... No... Please say no, Qeef. Enggak mungkin Qeef jugq geli sama perempuan ..?!"
"Ada memberi tahukan kepada Dr.Anton tentang ini..?" Ibu Linda semakin khawatir saat melihat reaksi Raqeef yang hanya terdiam.
Raqeef meraup muka yang merah padam. Apa lagi yang Ajeng bebelkan ini.
"Mamah, baiklah. Sudah lewat ini. Pasti mamah tidak mau yang papah tau kan..?" Raqeef mencoba mengalihkan topik.
Ajeng mengeluh berat." Mamah, belum gila lagi. Papah pasti lebih kecewa kepada Qeef."
"Kalau seperti itu, mamah pulang dulu. Qeef akan menyelesaikan masalah Qeef sendiri mamah jangan khawatir. "
"Ini peringatan terakhir. Kalau Qeef sakit lagi, mamah akan paksa Qeef pindah balik ke rumah. Dan mamah akan mencarikan calon istri untuk Qeef. No matter what!"
Raqeef hanya mengangguk saja supaya Ajeng berpuasa hati.
"Take care, Mamah." Raqeef kembali berbaring dan memejamkan mata.
"Keras kepala sangat..." Keluh Ajeng, lalu melangkah keluar.
BERSAMBUNG...
Anda Mungkin Juga Suka





