
KUTEBUS TALAKKU
Bab 3
Rully mendengarkan dengan seksama saat Asistennya Roby menyampaikan satu kabar. Dia menyipitkan mata dan memandang jauh kedepan. Wajahnya serius tetapi bibirnya seolah senyum sinis.
"Jadi, dia masuk rumah sakit...?"
"Betul, Bos." Jawab Roby.
"Ibu Ajeng ada datang menjenguk..?"
"Ada Bos. tapi seperti Tuan Teddy tidak tau." Tambah Roby.
Rully mengangguk pelan sambil memikirkan sesuatu. Roby masih berdiri di sebelah bosnya itu. CEO AG Group dan merupakan anak laki-laki sulung Tuan Teddy.
"Raqeef sudah lama tidak pulang ke rumah, dia kononnya mau hidup mandiri. Apa dia sendiri lupa kalau dia itu anak manja...?"
Roby menahan senyumnya, tetapi Rully tersenyum sinis.
"Baiklah... Kau tau apa yang seharusnya kau lakukan kan..?" Kata Rully penuh dengan maksud tersirat.
Roby langsung berdiri tegak." Saya faham Bos, saya pergi sekarang. "
Roby melangkah menghampiri pintu office Rully tetapi pintu itu telah di buka dari luar. Roby terpaku di muka pintu kemudian memberikan jalan kepada wanita cantik di depannya.
Lovena melangkah penuh gaya menghampiri meja kantor suaminya, Rully. Laki-laki itu tersenyum lebar saat melihat perempuan yang sudah lama di idamkannya itu, akhirnya menjadi istrinya. Lovena membalas senyuman suaminya dengan lebih manja dan elegan.
"You look happy today, darling. Please let me know if I've missed out anything. " Nyonya Lovena berdiri di belakang suaminya dan mulai memijat bahu laki-laki itu.
Rully memejamkan mata menikmati urutan lembut dari Lovena.
"Hmmm... tidak ada apa yang special. Malam ini kita ada family dinner. Jadi kita harus pulang cepet. "
Lovena terdiam. Urutannya juga semakin pelan karena fikirannya tiba-tiba melayang.
"Raqeef tidak akan datang ... " Rully membuka matanya perlahan saat tidak merasakan lagi urutan istrinya yang tidak sefokus tadi.
"Kali ini apa lagi alasan dia ...?" Tanya Lovena pelan.
"Tidak tau.... Mungkin dia sudah sadar yang .... Dia tidak perlu bekerja keras. Perusahaan ini yang akhirnya akan menjadi milik Aku."
Lovena tersenyum hambar, dia melangkah kedepan laki-laki itu dan duduk di sudut meja.
"Saya tau kamu lebih bercita cita tinggi dan menjadi harapan papah. I'm so proud of you."
"Karena itu kamu lebih memilih aku daripada Raqeef kan...?"
Lovena tertawa lepas. "You jangan mau bercanda..."
"Raqeef keluar dari rumah itu setelah kita menikah, satu tahun yang lalu. Dia memilih untuk menjadi Menejer di perusahaan CV dan memilih keluar dari perusahaan induk. Semua itu dia lakukan karena dia kecewa sama kamu... tetapi mamah dan papah tidak tau."
"Kenapa kamu tiba-tiba membahas masalah ini..?"
"Karena Aku mau mengingatkan kamu. Jika mamah papah tau yang sebenarnya, kamu mungkin enggak menjadi menantu kesayangan mereka lagi."
"Aku enggak gila lah mau menceritakan masalah itu kepada siapapun, Raqeef sendiri juga tidak mau membahasnya. Hubungan kita dulu ... enggak resmi. Dia hanya menyukai Aku, tapi Aku suka sama kamu." Lovena mencoba memungkiri hal tersebut. Dia khawatir jika Rully bisa tau hal yang sebenarnya yang terjadi.
Lovena menarik nafas panjang terbayangkan Raqeef, laki-laki tampan yang pernah hadir di dalam hidupnya. Mereka menjadi dekat ketika belajar di universitas of Cambridge UK selama 3 tahun.
"Kamu tidak bisa membohongi Aku ... Aku tau kamu memilih aku karena aku lebih sukses dari dia. Tapi, aku tidak perduli apapun alasan kamu. Hanya jangan sekali sekali kamu menoleh kebelakang..." Kata Rully, bersama peringatan halus.
"Apa yang kamu mebebel ini, kamu sudah enggak percaya sama aku...?"
Rully tersenyum. Lovena perempuan yang sangat pintar berpura-pura. Namun, dengan memiliki wanita itu dia dapat merasakan kemenangan pertama untuk melihat kesakitan Raqeef. Pesaingnya dari kecil !!
"Tiba-tiba kamu ngomongin tentang Raqeef kenapa ? Belum cukup untuk dia menderita di luar sana ? Kamu mau buat apa lagi..?"
"Aku enggak buat apa apa. Aku hanya sedang menikmati keberhasilan aku sekarang dan memastikan lawan aku jatuh tertinggal di belakang.." Rully membuka kedua tangannya. Merasa bangga dengan kemenangannya saat ini.
Lovena terdiam biarpun dia sangat bangga menjadi istri pewaris AG Group. Banyak sedikitnya jika nama Raqeef di sebut emosinya akan terganggu
"Jika kamu menyayangi aku... Kamu bisa melakukan sesuatu untuk aku..?" Pinta Rully
"Buat apaan..?" Lovena mengernyitkan kening, karena suaminya itu selalu di luar dugaan.
*****
Cuaca di sore itu sangat cerah, angin juga bertiup lembut sehingga Indah bisa menghirup udara yang nyaman biarpun sedikit tercemar dengan pembangunan yang sangat pesat. Banglo besar itu berada di tengah tengah kota.
Indah membereskan gudang di belakang rumah karena sudah lama tidak di tengoknya. Khawatir akan bertambah usang karena masih terdapat barang barang yang berguna. Tak tau kenapa dia tidak bisa duduk diam dan akan selalu mencari pekerjaan yang harus di kerjakan. Biarpun dia hanya seorang ibu rumah tangga, Indah tidak mau hanya menumpang gratis di rumah itu.
Sebuah kardus yang berukuran besarnya sederhana di tempatkan di atas sebuah rak direnung sedikit lama oleh Indah. Dia melangkah menghampiri rak itu dan menggapai kardus tersebut. Semua itu adalah barang barang pribadinya yang di ambil di rumah warisan peninggalan kakek dan neneknya.
Indah membuka kardus itu dan melihat isi di dalamnya. Terdapat album lama yang sudah usang dan beberapa barang yang lain. Indah membuka album itu dan melihat foto ahli keluarganya. Wajah wajah itu di pandang satu persatu sehingga mengamit rindu dan rasa sayu di hati.
"Ibu, Ayah..." Indah mengusap wajah ibu dan Bapaknya. Kemudian wajah seseorang yang berdiri di sebelahnya.
"Kakak... Dimana Kakak sekarang..?"
Indah menyeka air matanya yang tiba-tiba jatuh. Setelah ibu bapaknya meninggal karena kecelakaan, ada beberapa keluarga yang mau mengambil mereka menjadi anak angkat. Namun.... Indah tidak tega meninggalkan kakek sama neneknya. Manakala kakanya, terus pergi dengan keluarga angkatnya dan tidak bisa di hubungi hingga ke saat ini.
"Kakak mau pergi sama keluarga kaya itu. Kakak enggak mau hidup susah seperti ini!"
Indah memejamkan mata saat teringat kembali kata-kata yang keluar dari saudara kandungnya yang 20 tahun lebih lalu.
"Kakak, enggak kasihan sama kakek dan nenek ? Kakak sanggup meninggalkan Indah kak?"
"Kakak enggak perduli. Kakak ada cita cita tinggi, enggak seperti kamu !"
Indah membuka matanya perlahan. Wajah kakaknya yang saat itu baru berusia 12 tahun terus hilang dari memori. Kini, dia tidak bisa membayangkan wajah kakanya, nafasnya di tarik dalam dalam. Dia tidak mau terus tenggelam di dalam emosi, hidupnya sekarang juga cukup melemaskan. Bukannya dia tidak bersyukur, jauh sekali mengeluh dengan takdir Tuhan. Tetapi, tak pantaskah dia merasakan bahagia, setelah segala pengorbanan ini?
*****
Raqeef duduk termenung di kursi panjang sambil melihat suasana sore di taman rumah sakit tersebut. Pasien yang lain juga turut mencari angin karena cuaca sore itu sangat baik. Raqeef memejamkan mata sambil memikirkan masalah yang sedang menimpanya. Dia harus segera mencari seseorang untuk mengurus pola makannya. Kalau tidak dia pasti akan di paksa pulang ke rumah besar Teddy.
Raqeef tiba-tiba membuka matanya saat teringat sesuatu. Dia segera mengambil handphonnya di dalam saku baju pasien lalu membuka Facebook. Dia mencari satu akun bernama 'Menur Kitchen' akun itu aktif selalu membuat konten tentang bermacam macam masakan. Selama ini Raqeef belajar memasak dari akun tersebut karena video dan resep resepnya sangat menarik. Apa yang paling penting , kebersihan yang content creator itu utamakan.
Dapur yang bersih, segala perabotannya juga sangat bersih. Bahkan cara menyediakannya juga sangat rapih dan bersih. Pengikut akun tersebut juga sangat banyak dan semua orang memuji wanita itu walaupun tidak pernah melihat wajahnya.
Raqeef membuka unggahan terbaru Menur Kitchen dan melihat satu foto masakan beserta resep dan caption di bawah fotonya.
'Nasi Ayam penyet. Video akan di upload kemudian iya. Bagaimana? Apakah anda berselera melihatnya?'
Raqeef menelan liyur. Lalu perutnya berkriuk. Di setiap kali dia melihat masakan dari si pemilik akun itu, pasti akan membangkitkan seleranya. Sukar untuk Raqeef mendapatkan selera makan jika melihat makanan di mana mana warung atau restoran. Di dalam kepalanya akan berfikir macam macam. Namun, berbeda dengan Menur Kitchen, Raqeef sangat berpuas hati dengan cara mempersiapkan wanita itu.
"Bunda Menur kalau masak pasti enggak pernah enggak best. Bersih dan rapih juga. Love you bunda menur ! Semoga lebih banyak resep masakan setelah ini!"
"Kamu sangat jujur dan ikhlas kalau berbagi resep masakan dan cara penyajiannya. Terimakasih sudah berbagi ilmunya iya!"
Kali ini Raqeef membaca komen komentar juga. Rata-rata pengikutnya banyak yang memujinya Raqeef menarik nafas panjang lalu mengklik icon messenger untuk mengirim pesan kepada akun itu.
'Hallo, Bunda Menur.'
'Jika, Bunda baca pesan saya. Tolong balas iya karena saya ada satu tawaran buat anda.'
Raqeef menutup ponselnya setelah mengirim pesan tersebut. Dia berharap wanita itu akan membalas secepatnya.
Dalam beberapa menit ponselnya bergetar memberitahu satu notifikasi masuk ke ponselnya. Raqeef penasaran dan segera membuka ponsel tersebut.
'Hallo. Maafkan saya, tawaran apa iya..?'
Raqeef segera mengetik untuk membalas
'Kita harus bertemu untuk berbincang. Saya ada tawaran pekerjaan. Sebagai chef atau tukang masak. Saya sudah lama menjadi follower anda. Saya berminat untuk memberikan anda pekerjaan.'
Raqeef mengirim pesan tersebut dan menunggu balasan. Dia yakin wanita itu tidak bekerja, karena dia pernah membaca komennya, kalau wanita itu mengatakan dia hanya seorang ibu rumah tangga saja yang suka memasak, bukannya seorang profesional. Jadi, masaknnya adalah dari hati yang ikhlas untuk keluarga.
Tersentuh dengan ayat itu, sampai hari ini terus menempel di ingata Raqeef.
Ting !!
Pesan terbaru masuk. Raqeef segera membukanya.
'Maafkan saya... Saya sebenarnya seorang ibu rumah tangga. Saya tidak ada pengalaman untuk menjadi tukang masak. Saya juga kayanya mustahil untuk bekerja.'
'Saya tau. Tidak bisa kah kamu mempertimbangkannya kembali ? Jika kamu berubah fikiran, bisa hubungi saya. Saya seseorang yang bisa di percaya.'
'Terimakasih atas tawaranya.'
Raqeef mengeluh apabila pesan itu untuk mengakhiri perbualannya. Dia berharap wanita itu akan berubah fikiran.
"Come on, Raqeef. Kamu harus makan untuk meneruskan hidup..."
*****
Teddy duduk di dalam ruang kerja pada malam itu sambil membaca sebuah buku yang sangat tebal. Sebuah buka yang mengisahkan tentang perjalanan seorang Nabi Allah, Muhammad SAW.
Ketika di usia muda Teddy banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku tentang Dunia Usaha, ketika di usianya yang sudah senja dia mulai mengubah bacaannya lebih mengurus tentang ke agamaan.
Tok tok !
Pintu kamar itu di ketuk dari luar lalu muncul seorang wanita muda di depan pintu.
"Papah.." Sapa Lovena dengan senyuman manis. Dia berjalan menuju kemeja bapak mertuanya itu.
"Ya, ada apa Love..?" Teddy membuka kacamatanya.
Lovena mengambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Teddy.
"Makan malam sudah siap. Mamah nyuruh memanggil papah."
"Baiklah..."
Lovena tidak tau bagaimana untuk memulai obrolan karena Bapak mertuanya itu sangat serius orangnya. Garang dan tegas.
"Ada sesuatu yang mau di bicarakan sama papah, kah..?" Tanya Teddy
Lovena berubah menjadi gemetar tetapi dia harus juga mengatakannya.
"Papah, tau kenapa Qeef enggak datang malam ini..?"
"Sejak kapan kamu perduli sama Qeef..?"
Lovena malu sendiri. Bukan mudah mau mengambil hati Teddy, bisa bisa meneriaki diri sendiri karena kesalahan. "Bukan seperti itu, papah. Saya rasa papah harus tau tentang ini."
"Enggak ada sesiapa yang ngasih tau papah kan? Sebenarnya, saya khawatir jika papah enggak tau. Barangkali hanya papah saja yang bisa menasehatin Qeef. Mamah merahasiakan soal ini karena enggak mau papah merasa khawatir. "
"Tentang apa...?"
"Qeef di rawat di rumah sakit, karena masalah gizi dia semakin buruk."
Berubah wajah Teddy saat itu juga.
"Bukannya dia bilang dia sudah oke..?"
Lovena menggeleng pelan.
"Enggak, Papah."
Teddy mengeratkan rahang. Apa yang akan terjadi dengan anak bungsunya itu? Seorang pewaris seharusnya tidak lemah.
"Sayangnya.... banyak klien mengeluh karena dia kurang sopan santun. Saat makan siang atau makan malam meeting. Dia enggak akan makan. Semua even dia hadir, dia tidak akan makan. Klien besar kita menganggap dia tidak menghargai undangan. Karena itu lebih banyak yang suka bertemu sama Rully." Lovena mengambil kesempatan itu untuk mengangkat suaminya.
"Tapi Qeef... Dia lebih cekatan..."
Lovena tercengang mendengar jawaban Teddy dengan ayat demikian. Satu kali lagi dia malu sendiri.
"Mungkin kita bisa bantu Qeef... mendapatkan perawatan di luar negri contohnya. " Lovena berpura-pura memberikan saran.
"Kamu bisa keluar dulu. Nanti papah turun."
"Papah, enggak memberi tahu mamah kalau Love kasih tau soal ini kan ? Mamah nantinya akan salah faham sama saya...."
"Kamu jangan khawatir. "
Lovena tersenyum. "Baiklah, saya turun dulu."
Teddy bersandar bersama satu keluhan berat lolos dari bibirnya setelah bersendirian.
"Papah kecewa sama kamu Qeef...sedangkan kamu lebih berpotensi dari kakak kamu yang lali itu. Dia mendapatkan pangkat juga karena pintar menyuap orang politik. Tapi, kamu bekerja dengan akal dan fikiran sendiri. Bagaimana papah mau menyerahkan perusahaan kepada kakak kamu..?"
*****
"Apa?! Mereka satu keluarga pergi ke Thailand..?" Keysa melongo dengan wajah yang merah padam. Tahap panas hatinya sudah meledak sepagi itu. Setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan sahabat baiknya Indah, hari itu, barulah mereka berkesempatan
"Mereka pergi kemarin. Kalau enggak, coba kamu fikir bagaimana aku sempat keluar ngopi seperti ini ? Hmmm... wangi kopi ini membuat aku hidup kembali." Indah memejamkan matanya sambil menghirup wangi kopi di cangkirnya.
"Memang tidak punya hati iya? Setiap kali pergi liburan pasti kamu enggak di ajak. Kalau enggak karena harus menjaga anak anak saudara kamu, beralasan harus menjaga rumah. Terus kenapa enggak ngambil ART saja !" Keysa marah dia menyilangkan kedua tangannya.
Nasib baik hanya mereka berdua saja di warung kopi itu karena masih awal pagi. Indah hanya tenang, dia benar-benar mau menikmati hari harinya tanpa ahli keluarga mertuanya.
"Aku oke... seenggak enggaknya aku bisa me taime seperti ini." Indah mengukir senyuman pehit. Lalu dia menyruput kopi latte di dalam cangkirnya. Pahit.... sepahit hidupnya.
Keysa menyibak rambutnya ke belakang. Dia merenung wajah sahabatnya itu yang kelihatan seperti tidak bermaya. Bukan seperti yang dia kenal dulu.
"Indah ... sampai kapan kamu mau hidup seperti ini? Kamu harus mengubah hidup kamu. Aku serius nih. Kamu ada ijazah, kau aslinya cantik. Paket lengkap untuk orang mengambil kamu bekerja."
"Hairi enggak mengizinkan..." Kata Indah menghentikan argumen Keysa.
Keysa terus mengeluh berat. "Hairi juga satu hal. Waktu masih kuliah dulu bersemangat banget ngejar kamu. Bersemangat ngajak kamu nikah setelah berbincang karena takut kamu bertemu dengan orang lain. Iyalah .... kan pacar dia paling cantik di kampus. Setelah dia mendapatkannya.... membuat kamu enggak cantik lagi seperti ini. Eh... aku enggak mengerti lah."
"Itulah realitanya jika sudah menikah, Keysa. Aku juga enggak bilang kalau aku menyesal,tapi... aku enggak menyangka hidup aku akan sadis seperti ini. Semua teman teman aku sudah sukses, ada kehidupan yang bagus biarpun mereka sudah menikah. Mungkin nasib yang baik enggak menyebelahi aku..."
"Belum terlambat Indah. Kamu masih muda. Baru berusia 27 tahun. Masih ada harapan Indah. Kamu harus melakukan apa yang kamu suka. Persetan dengan keluarga mertuamu yang dari neraka itu. Ini hidup kamu!!" Tegas Keysa.
"Mereka enggak membolehkan aku bekerja, karena tidak ada sesiapa yang bisa membereskan rumah. Mereka enggak percaya sama ART. Aku pernah mendapatkan penawaran kerja tapi gajinya hanya kecil saja. Mereka hanya Mentertawakan aku."
"Kurang ajar banget iya, eh.... aku. Eee.... seperti teringin ngomong. Tapi aku nanti dosa juga." Keysa mengetapkan bibir.
Indah tersenyum. "Kamu mau ngomong apa ? Nyuruh aku cerai..?"
Keysa hanya terdiam. Mukanya masih tertekan sedangkan Indah yang menanggung semuanya beban itu.
"Apa kamu sudah lupa, aku sudah melakukan 2 tahun yang lalu. Aku kabur dari rumah dan pergi kerumah almarhum kakek nenek aku. Habis pokonya aku di marahin sama paman dan dia mengusir aku. Kamu tau aku tidur dimana waktu itu? Aku tidur di gubug gubug. Aku tidak ada uang sepeserpu. Aku kelaparan. Dan akhirnya aku kembali pulang kerumah itu... kamu enggak faham Keysa. Perempuan yang tidak punya apa-apa seperti aku, tidak bisa membuat keputusan terburu buru."
Keysa terdiam ketika mendengar kata-kata Indah sungguh menusuk jiwa, biarpun dia sudah tau kisah itu, mungkin Indah hanya ingin mengingatkannya kembali.
"Jadi... Aku butuh persiapan."
Keysa membawa badannya kedepan. Dia memandang wajah serius Indah.
"Apa maksud kamu..?"
"Kalau aku mau bercerai, aku harus ada tempat yang harus aku tuju. Aku harus ada uang, aku harus ada pekerjaan yang bisa menjamin masa depan aku. Tapi bukan mau bekerja kantoran seperti kamu. Aku sudah biasa kerja rumahan mengeluarkan banyak tenaga. Aku harus melakukan sesuatu yang aku suka. Sesuatu yang bisa mendapatkan keuntungan. " Jelas Indah sambil memandang jauh kedepan.
"Wow... Ho My God. Sudah lama aku enggak melihat kamu semangat seperti ini, Indah ! Jadi apa rencana kamu..?"
"Aku masih mencari cari peluang. Aku juga sudah lelah Key. Selama ini aku hidup hanya untuk kepentingan orang lain. Aku lupa dengan cita-cita aku. Aku lupa siapa diri aku."
Keysa lekas menggenggam kedua tangan Indah. Air matanya mengalir.
"Aku akan menysuport kamu 100 persen. Kamu harus bangkit Indah. Benar kata kamu, kamu harus ada persiapan. Apapun yang akan terjadi dengan masa depan kamu nanti. Seenggak enggaknya kamu tidak goyah. Aku enggak menyangka kamu cerdas, Indah !!"
"Waktu zaman belajar dulu, siapa yang selalu nyontek assignment, siapa..?" Indah bergurau.
"Iyaaa lah... Kamu memang dari dulu sudah cerdas. Hanya si Hairi saja lah yang menyebabkan kamu menjadi seperti ini. Aku yakin kalau waktu itu kamu enggak nikah sama dia, sekarang kamu pasti sudah jauh lebih sukses daripada aku."
"Kan semuanya bermula terlambat..?"
"Ya... masih ada harapan,Indah. Aku mendukung kamu."
BERSAMBUNG..
Anda Mungkin Juga Suka





